
"Aku pulang!"
"Jadi, ini calon istrimu yang baru?"
" ... Halo, bu."
Di balik pintu, berdiri sebuah sosok perempuan berambut panjang coklat dengan tangan menyilang di depan dada, ibu.
Aku sudah bisa merasakan aura keberadaan ibu ketika turun dari mobil. Jadi, aku tidak terlalu terkejut ketika melihat ibu. Bahkan, aku juga tahu kalau seluruh keluargaku, ditambah tante Filial dan Ninshubur juga ada di rumah. Namun, aku tetap terkejut karena mereka tiba-tiba datang. Ngomong-ngomong, tampaknya instingku semakin peka akhir-akhir ini. Atau aku baru sadar saja? Entahlah.
Di lain pihak, aku merasa kasihan dengan Emir dan Rina. Hanya mereka yang tidak bisa berkumpul dengan keluarganya lagi. Ya, mau bagaimana lagi. Tidak semua orang dilahirkan di keluarga ... normal? Tidak! Kalau aku pikir, keluargaku dan keluarga Inanna juga tidak normal, kami hanya sedikit lebih beruntung. Ya, sedikit lebih beruntung karena keluarga kami masih tahu diri.
"Oke, Rina, silakan masuk dan lewati proses wawancaranya."
"Hah? Wawancara?"
"Emir dan Inanna melalui hal yang sama. Jadi, akan tidak adil kalau kamu tidak melalui proses wawancara."
"Eh? Kamu tidak mengatakan apapun soal ini?"
" ... anggap aku lupa."
Aku mengabaikan Rina dan masuk, meninggalkannya dengan Ibu. Ketika masuk ke ruang keluarga, Ninlil dan Ninshubur menyambutku dengan riang. Selama Ninshubur di rumah, aku penasaran apa yang Ninlil katakan sampai dia tampak begitu senang setiap melihatku. Ya, aku tidak akan protes sih.
Ninlil, Ninshubur. Aku baru sadar kalau mereka memiliki nama yang hampir sama. Aku jadi penasaran apa yang terlintas di pikiran ibu dan tante Filial ketika memberi nama pada dua perempuan ini.
"Selamat datang, gin."
"Terima kasih, tante. Maaf, malah jadi merepotkan."
Tante Filial dan Inanna sedang memasak di dapur, menyiapkan makan siang. Hanya Emir dan ayah yang duduk di depan televisi.
"Tadi Emir ingin ikut memaksa juga. Jadi aku meminta om Barun untuk mengawasinya. Dia belum boleh banyak bergerak."
__ADS_1
Aku tersenyum masam ketika melihat Emir yang tampak kesal.
"Kamu kelihatan capek banget, Gin."
"Ya, begitulah." Aku merespons Inanna lemas. "Aku mau tidur sebentar, ya."
"Gin!" Emir memanggil. "Kalau mau tidur sebentar, ke sini saja. Tidur di sofa sama aku."
"Hah? Ada ayah. Aku tidak mau."
"Sudahlah! Sini! Aku bosan tahu disuruh istirahat terus!"
***
Samar-samar, aku mendengar bu Yueni mencecar Rina dengan pertanyaan. Berdasarkan laporan dari Lugalgin, Rina hanya ingin pernikahan diplomatis berdasarkan kontrak. Aku dan Inanna sudah menyiapkan diri kalau dia memang benar-benar jatuh hati pada Lugalgin. Namun, tampaknya persiapan kami tidak diperlukan. Kalau ikatan Lugalgin dan Rina hanya sebatas pernikahan diplomatis berbasis kontrak, kami tidak perlu khawatir.
Inanna berpendapat keputusan untuk Lugalgin menambah istri bukan hanya wewenangku dan dirinya. Kami harus menanyakan pendapat keluarga Lugalgin. Dalam prosesnya, keluarga Inanna ikut datang. Seandainya saja keluargaku juga ikut, pasti hari ini akan menjadi hari besar. Namun, sayangnya, hal itu tidak mungkin terjadi. Aku sedang tidak ingin melihat ibu. Aku bahkan terkejut Lugalgin bisa langsung pulang ke sini tanpa dihadang oleh ibu.
"Ninlil, Ninshubur, tolong bantu kami memindahkan makanan."
"Baik ... "
Ninlil dan Ninshubur memenuhi panggilan tante Filial dan pergi ke dapur. Makanan sudah mulai siap, tapi aku belum akan membangunkan Lugalgin. Nanti saja kalau makanan sudah siap sepenuhnya baru aku membangunkannya.
"Aku masih tidak menduga anak ini akan menikah. Bahkan, dia akan menikah dan mendapat 3 istri sekaligus." Om Barun tiba-tiba berbicara. "Kamu tahu, Emir, dulu aku sempat berpikir dia tidak akan mau menikah."
__ADS_1
"Tidak mau menikah? Kenapa?"
"Tasha?"
Ah, ya, aku paham. Ketika cinta pertamamu direnggut dengan keji seperti itu, akan normal untuk tidak ingin menikah. Banyak orang yang berpikir kalau mereka menikah, sama saja mengkhianati cinta pertamanya. Kalau di posisi Om Barun, aku juga akan berpikiran demikian.
"Kalau Lugalgin benar-benar tidak mau menikah, aku dan Yueni hanya bisa menyalahkan diri kami sendiri. Kami seharusnya bisa mencegah musibah itu terjadi. Namun, kami tidak melakukannya. Bahkan, kami tidak akan marah kalau Lugalgin juga menyalahkan kami. Meskipun memiliki hak, Lugalgin tidak menyalahkan kami. Dia terlalu baik. Dia lebih memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri."
Ya, benar, Lugalgin yang aku kenal bukanlah tipe orang yang suka menyalahkan orang lain. Dia lebih suka menyalahkan diri sendiri. Namun, hanya karena lebih suka menyalahkan diri sendiri, bukan berarti dia tidak bisa marah. Sekali dia marah, pertumpahan darah bisa dijamin. Bahkan, pertumpahan darah yang dilakukan oleh Lugalgin benar-benar keji.
Aku masih bisa ingat dengan sangat jelas ketika dia membunuh Liu di depan ibunya, Shu En. Bahkan, yang membuat adegan itu lebih keji, Liu dibunuh oleh anak SMP yang menjadi korban, Suen. Dengan kata lain, Lugalgin memberi hak membalas dendam pada sang korban.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1