I Am No King

I Am No King
Chapter 279 – Kondisi Peperangan


__ADS_3

"Informasi itu sudah mencapai telingamu?"


"Gin," Ibla menyela. "Aku mendapat kabar bahwa informasi ini tidak hanya beredar di kalangan intelijen, tapi juga di militer. Dan, menurutku, cepat atau lambat informasi ini pun akan menyebar ke kepolisian dan bangsawan."


"...serius?"


"Ibla benar." Zortac mengangguk. "Gosip ini sudah menyebar di kalangan militer. Melihat dari kecepatan informasi ini beredar, aku bisa menduga ada yang sengaja membocorkannya. Dan, melihat dari responsmu, aku simpulkan kamu bukan dalang di baliknya, kan?"


Bukan! Aku bukan dalang di balik penyebaran informasi ini!


Jika dipikir-pikir, orang yang mungkin memberi perintah untuk membocorkan informasi ini dengan sengaja adalah Yuan. Namun, dia adalah asistenku. Dia tidak akan membocorkan informasi ini begitu saja. Satu-satunya orang yang terlintas di pikiranku adalah–


"Emir." Aku menepuk dahi. "Emir yang sudah emosional semakin emosional karena sedang sakit. Ya, aku tidak bisa menyalahkannya sih. Saat ini, tampaknya, dia benar-benar menaruh dendam pada ibunya."


Ibla masuk. "Menurut rumor, kunjungan ini adalah ide Permaisuri Rahayu. Dan kebetulan karena petinggi militer di ibukota tidak melihat ada yang salah dari ide tersebut, mereka pun melayangkan permintaan ini ke kamu. Kamu sudah tahu hal ini, kan?"


Aku mengangguk.


"Maaf ya Gin kalau nanti anak buahku di lapangan melihatmu dengan pandangan iba dan kasihan. Mereka juga pasti sudah menduga kalau kehadiranmu ke sini adalah usaha permaisuri untuk memisahkanmu dari kedua calon istrimu."


Jujur, aku tidak tahu harus senang atau sedih dengan kondisi ini. Di satu sisi, aku senang karena mendapat simpati sekaligus pendukung di pihakku. Di lain pihak, sekarang, semua orang tahu mengenai perselisihan calon istri dan calon mertuaku.


Kita di tengah perang! Jangan bawa-bawa drama keluarga ke peperangan!

__ADS_1


"Baiklah, mari kita abaikan informasi itu untuk saat ini. Meski sudah membaca laporan mengenai progres peperangan, aku ingin mendengarnya langsung darimu."


"Baik,"


Zortac mulai memberi penjelasan mengenai kondisi di Front Mein. Pada awalnya, Front Mein adalah front yang paling berbahaya. Namun, seiring berjalannya waktu, front peperangan mulai menyebar. Di barat, front perang melawan Nina menyebar, mengikuti sungai Kharier. Di timur, front perang melawan Mariander mengikuti sungai Or'ait. Sementara itu, di utara Danau Mein, ada satu front perang antara Mariander melawan Nina di sepanjang sungai Osier.


Garis pertahanan di sungai Or'ait sudah maju, bergerak ke utara. Front perang di sepanjang sungai Osier juga sudah bergerak ke timur. Garis pertahanan di kedua front telah berada di wilayah Mariander. Hal ini terjadi karena Mariander diserang dari dua arah.


Untuk melawan Nina, Bana'an hanya bisa mengirim angkatan udara dan darat. Sesekali, angkatan laut di danau ikut berpartisipasi, tapi jumlahnya bisa diabaikan. Hal ini juga terjadi ketika Nina mengirim serangan ke Bana'an.


Di lain pihak, Bana'an dan Nina sama-sama bisa mengirimkan kekuatan penuh untuk melawan Mariander, angkatan darat, udara, dan laut. Sementara Bana'an mengirimkan kapal perang melalui laut di timur benua Ziggurat, Nina menyerang dari utara. Karena Bana'an tidak mengirim angkatan laut ke Nina, begitu juga sebaliknya, kedua kerajaan bisa mengerahkan seluruh armada perang ke Mariander.


Mariander, yang berada memiliki kontak jalur laut dengan Nina dan Bana'an, harus membagi kekuatan angkatan lautnya di utara dan di timur. Dan, tentu saja, setengah kekuatan militer laut Mariander tidak bisa mengimbangi seluruh armada Nina dan Bana'an.


Angkatan laut Bana'an dan Nina tidak hanya menghancurkan angkatan laut Mariander, tapi juga mengirim misil ke daratan, menghancurkan pangkalan militer di sepanjang perbatasan. Mariander tidak bisa melakukan hal ini karena angkatan laut mereka hanya memiliki setengah kekuatan untuk melawan Bana'an dan Nina di kedua sisi. Secara tidak langsung, Bana'an dan Mariander seolah bekerja sama untuk menyerang Mariander.


Lalu, ada faktor tambahan lagi yang membuat garis pertahanan Mariander terus dan terus mundur. Hal itu adalah senjata penghilang pengendalian. Dari tiga kerajaan yang berperang, hanya militer Mariander yang tidak memiliki akses ke senjata penghilang pengendalian. Bahkan, lebih buruk, senjata penghilang pengendalian di wilayah Mariander jatuh ke tangan Revolusioner, True One.


Kondisi cukup buruk bagi Mariander. Pada titik ini, akan lebih baik bagi Mariander untuk menyerah pada Nina atau Bana'an dan bersatu untuk menyerang musuh. Dan, sebenarnya, Mariander juga sudah mencoba langkah ini. Namun, sayangnya, hal ini selalu dicegah.


Untuk mencegah lawan bersekutu dan menyerang, Intelijen Bana'an dan Nina terus melancarkan serangan secara diam-diam. Ketika ada utusan Mariander berusaha menemui Bana'an, intelijen Nina akan ikut campur dan melancarkan serangan, menggagalkan pertemuan. Hal yang sama juga akan dilakukan oleh intelijen Bana'an ketika Mariander berusaha menemui Nina. Hal ini, tentu saja, memperburuk keadaan Mariander.


Hanya tinggal tunggu waktu sampai Mariander menyerah tanpa syarat melalui siaran televisi. Menyerah tanpa syarat memiliki sisi positif dan negatif. Misal Mariander menyerah pada Bana'an. Saat hal ini terjadi, Bana'an bisa melewati daerah Mariander untuk mencapai Nina. Selain itu, militer Mariander pun akan mendapat bantuan dari Bana'an.

__ADS_1


Sisi negatif dari hal tersebut adalah Mariander harus mengikuti semua keinginan Bana'an. Beberapa diantaranya, misal, sistem pemerintahan Mariander akan direkonstruksi oleh Bana'an. Militer Mariander pun akan mendapat hal yang sama. Tentara Mariander akan disebar dan diletakkan di bawah militer Bana'an. Dan, pada akhirnya, Mariander tidak lagi menjadi kerajaan, tapi hanya sebatas wilayah di bawah Bana'an.


Hal yang sama juga akan terjadi jika Mariander menyerah pada Nina. Walaupun tidak menyerah dan terus melawan hingga titik darah penghabisan, ending Mariander pun tidak akan lebih baik. Wilayah Mariander akan terbagi, sebagian menjadi milik Bana'an, sebagian milik Nina. Dengan kata lain, tidak peduli langkah apa yang Mariander pilih, kerajaan tersebut akan hilang dari peta.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2