I Am No King

I Am No King
Chapter 367 – Fall of Muir pt 10


__ADS_3

Aku dan Inanna berjalan pelan ke arah Rina.


"Jadi, tinggal mengeksekusinya, ya?"


"Benar, Gin."


Rina menjawab dengan nada girang. Kalau dia tidak mengenakan masker, mungkin aku bisa melihat wajahnya menyeringai.


Tiba-tiba ledakan muncul di dinding kanan. Berkat ledakan tersebut, sebuah lubang muncul. Dari balik asap di sekitar dinding berlubang, muncul tembakan, bertubi-tubi. Rina mengangkat peti arsenal, melindungi dirinya dan Emir. Aku melakukan hal yang sama dan melindungi Inanna. Jadi, tidak satu pun dari kami berempat yang terluka karena serangan mendadak ini. Namun, hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Ratu Amana.


Ratu Amana yang sebelumnya roboh di lantai menerima beberapa peluru tambahan.


"Ibu!"


Aku mengambil assault rifle yang telah ditambah pelontar granat dari peti Arsenal. Tanpa aba-aba, Inanna meluncurkan pasak dan tombak ke balik dinding, memunculkan beberapa ledakan. Tembakan dari balik asap terhenti sejenak, memberi kesempatan untukku dan Inanna berlari ke dinding, berlindung di bawah lubang. Sesekali, kami bangkit dan melepas tembakan ke luar. Ketika peluru habis dan kami berlindung, muncul tembakan dari luar.


Sementara aku dan Inanna membalas tembakan, Emir dan Rina berhasil keluar dari jalur tembakan. Tentu saja mereka membawa Ratu Amana yang sudah setengah mati.


"Ibu! Kamu tidak boleh mati di sini! Kamu harus mati di depan umum! Di platform, dieksekusi." Rina berteriak kesal.


Di lain pihak, Ratu Amana tidak mengatakan apa pun. Ketika dia membuka mulut, hanya darah yang keluar.


"Emir!" Aku berteriak. "Apakah Ratu Amana masih bisa diselamatkan?"


"Kalau mendapat pertolongan pertama, mungkin. Tapi harus cepat atau dia akan mati kehabisan darah."


Sesuai rencana.


"Rina! Kamu memiliki 2 pilihan. Pilihan pertama bertaruh militer Bana'an bisa menghentikan serangan ini sebelum ibumu tewas dan melakukan eksekusi sesuai rencana. Pilihan kedua adalah bunuh ibumu sekarang juga."


Rina melihat ke arahku ketika mendengar pilihan ini.


Aku tidak menggubris pandangan Rina terlalu lama dan kembali melepas tembakan ke luar.


"Kalau ibumu tewas karena kehabisan darah, yang membunuhnya bukanlah kamu, tapi militer Nina. Apa kamu rela membiarkan dendammu direnggut begitu saja?"


"Tapi ... ibu ... eksekusi ...."


"Keputusan di tanganmu, Rina!"


Rina memegang kepalanya, bingung.


Sebenarnya, pilihan Rina sudah ditentukan. Siapa yang menentukan? Aku!


Yang membuat lubang dan menyerang adalah Ibla dan orang yang kupekerjakan. Instruksi yang kututupkan pada Ira adalah setelah 20 menit berlalu, Ibla meledakkan dinding lalu setengah membunuh Ratu Amana. Setelah kondisi Ratu Amana tampak buruk, aku dan Inanna melepaskan tembakan ke luar. Dengan pengendalian timah Inanna, jalur peluru bisa diatur agar tidak melukai kami.


Jadi, saat ini, baku tembak yang kami lakukan hanyalah sandiwara, main-main, tidak lebih. Namun, tentu saja, semua ini tampak nyata. Dengan melakukan sandiwara ini, aku membuat Rina terdesak, memaksanya untuk membunuh Ratu Amana.

__ADS_1


Rina berusaha menekan luka di tubuh Ratu Amana. Namun, lubang di tubuh Ratu Amana terlalu banyak sehingga usaha Rina sia-sia.


Beberapa menit berlalu dan kami masih melanjutkan sandiwara ini.


"Emir, berapa lama Ratu Amana bisa bertahan?"


"Aku tidak yakin, Gin! Yang jelas, tidak lama."


Tanpa Emir sadari, dia juga sudah berpartisipasi dalam rencanaku. Dengan menjelaskan kondisi Ratu Amana yang kritis, secara tidak langsung, dia juga mendesak Rina.


"Tampaknya dendammu padaku sangat dangkal, Rina. Tampaknya, aku akan mati di tangan militer Kerajaan Nina."


Tiba-tiba saja suara yang tidak kusangka muncul, suara Ratu Amana.


Entah apa yang melintas di benak Rina, tiba-tiba dia mengambil assault rifle dengan bayonet.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan orang lain merenggut dendam ini."


Rina mengangkat assault rifle dan menariknya ke bawah, menusukkan bayonet ke dada Ratu Amana.


Tubuh Ibu Amana kejang untuk sesaat ketika dadanya ditusuk. Akhirnya, Ratu Amana tewas di tangan Rina.


Samar-samar, aku bisa melihat ujung bibir Ratu Amana naik. Di akhir hidupnya, dia tersenyum, bahagia karena Rina membunuhnya, sesuai rencana. Ratu Amana pasti merasa telah berhasil menebus kesalahannya atas kematian Tera. Hingga akhir hayat, dia tidak mengetahui kalau kepribadian dan semua ingatannya adalah palsu.


Sosok yang digeret untuk menjadi pengganti Ibu Amana, aku mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam.


Aku melempar granat asap ke luar. Granat asap ini adalah sinyal untuk menghentikan serangan 2 menit lagi.


"Rina, apa yang kamu lakukan?"


"Lepaskan aku, Emir!"


"Tidak akan!"


Sejenak saja aku mengalihkan pandangan dari Rina, suasana berubah keruh. Rina memegang sebuah belati dan berusaha menusuk dadanya sendiri. Dia berusaha bunuh diri. Berkat Emir, usaha Rina belum membuahkan hasil. Ya, belum. Perlahan, aku bisa melihat pisau itu semakin mendekati dadanya.


Aku meninggalkan dinding, berlari ke Rina.


Darah segar menyembur. Pisau di tangan Rina menancap. Namun, pisau itu tidak menancap di dada Rina, melainkan di tanganku. Aku memeluk Rina dari belakang dan meletakkan tangan di depan dadanya, menerima tusukan pisau.


"Kenapa, Gin?"


"Karena kamu istriku! Kamu keluargaku! Tentu saja aku tidak mau kamu bunuh diri!"


"Tapi, aku, terpaksa membunuh ibu di sini, sekarang juga. Aku tidak mendapat kesempatan untuk menunjukkan pada Kerajaan Nina kalau dia adalah ibu yang buruk, pantas dieksekusi."


"Kita tidak bisa serakah, Rina. Terkadang, kita harus merasa cukup dengan yang kita miliki. Pada kasus ini, kamu harus merasa cukup dengan mengakhiri hidup Ratu Amana dengan tanganmu sendiri. Dan lagi, semua orang tahu kalau dia adalah ibu yang buruk, pantas dieksekusi."

__ADS_1


"Tapi ... tapi ... aku tidak merasakan bahagia. Aku tidak merasa ekstasi. Aku justru merasa hampa, Gin. Bukankah ini berarti dendamku gagal?"


Meski tidak menunjukkannya di wajah, saat ini, aku sangat bahagia ketika mendengar Rina.


"Memang seperti ini lah balas dendam. Pada akhirnya, yang kamu rasakan bukanlah ekstasi atau kebahagiaan. Yang kamu rasakan hanyalah kehampaan karena tujuan hidupmu sudah hilang. Itulah yang kurasakan setela membantai keluarga Cleinhad 6 tahun lalu."


"Tujuan hidup? Lalu, sekarang, apa tujuan hidupku?"


Ya. Pertanyaan itu juga lah yang terlintas di benakku 6 tahun lalu. Kalau bukan karena anak-anak panti asuhan Sargon, mungkin aku juga mencoba bunuh diri, seperti yang dilakukan Rina.


"Hidup bahagia, bersama-sama denganku, Emir, Inanna, dan putra-putri kita."


Bersambung


 


 


 


 


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


 

__ADS_1



__ADS_2