I Am No King

I Am No King
Chapter 88 – Persiapan Sebelum Menyerang


__ADS_3

Sudah lama juga aku tidak melakukan misi bersama anggota elite Agade. Sekarang, aku, Emir, dan Inanna, berada di dalam bus yang dikemudikan oleh Ibla. Kami akan berkumpul di markas Agade, di pelabuhan.


 


Aku turun di salah satu gudang sebelum markas, mengambil kotak arsenal. Kotak Arsenal yang berada di rumah tidak memiliki senjata berat untuk menyerang, hanya senjata sederhana untuk bertahan. Jadi, aku mengambil kotak arsenal lain.


 


Karena lokasi gudang juga berada di kompleks perumahan, Inanna dan Emir turun bersamaku sementara Ibla lanjut ke markas.


 


Kalau dilihat dari luar, kamu tidak akan tahu kalau isi gudang ini berbeda. Hal ini karena aku tidak mengubah eksterior gudang ini sama sekali.


 


Aku menekan tombol di dinding dan memunculkan sebuah keyboard. Aku menjalankan beberapa aplikasi secara berurutan dan memasukkan password sebanyak 6 kali.


 


Emir berujar, "ini adalah kesekian kali aku melihat kamu melakukannya. Tapi, aku masih terkejut dengan semua keamanan itu."


 


"Kalau salah membuka aplikasi atau salah memasukkan password, satu saja, apa yang akan terjadi?" Inanna mengajukan pertanyaan lain.


 


"Kalau aplikasi tidak boleh salah. Kalau password, boleh salah tapi maksimal dua kali. Kalau gagal, akan muncul pelontar api dan senapan mesin yang akan memberondong siapa pun di depan keyboard."


 


"...” Inanna terdiam sejenak, “Aku tidak akan mencoba membuka ruangan ini tanpa kamu."


 


"Jangan khawatir," aku mencoba meredam ketakutan Inanna. "Aku akan mengajari kalian urutan software dan passwordnya."


 


Aku menekan enter dan pintu terbuka. Kami bertiga masuk ke dalam gudang senjataku. Di bagian kanan ruangan, terlihat berbagai senjata api tertata. Ketika aku bilang berbagai, maksudku berbagai macam dan tipe. Ada senapan, sub machine gun, pistol, shotgun, senapan mesin, pelontar roket, pelontar api, mini gun, gatling, dan lain sebagainya. Lengkap dengan magasin peluru tentu saja.


 


Di sebelah kiri, terdapat berbagai macam senjata jarak dekat seperti toya, pedang, golok, sai, katar, rantai, pisau, cambuk, dan lain sebagainya. Di belakang bangunan, terdapat peralatan dan perlengkapan seperti kevlar, kaca mata thermal, teropong, helm, penjebol pintu, dsb. Dengan tinggi gudang yang mencapai 10 meter, aku membuat koridor tambahan sebanyak dua tingkat.


 


Di balik pintu, di tengah ruangan, terdapat dua sepeda motor dan satu mobil. Tentu saja, kendaraan ini adalah barang antik yang kubuat sendiri, tidak memerlukan pengendalian untuk mengemudikannya. Di antara kendaraan dan pintu masuk, terdapat tiga peti arsenal berjajar.


 


"....wow,"


 


"Benar-benar lengkap, kan?"


 


Inanna mengagumi isi gudang sementara Emir menyombong seolah semua ini adalah miliknya.


 


Aku mendatangi peti arsenal. Ketiga peti arsenal ini memiliki bentuk yang sama, peti mati. Yang membedakan ketiga peti ini adalah isinya.


 


Peti di kanan lebih didominasi senjata dengan ledakan seperti granat, pelontar roket, pelontar granat, ranjau. Selain senjata dengan ledakan, ada empat assault rifle, satu shotgun, sepasang pistol, tiga buah golok. Arsenal ini adalah yang dulu kubawa ketika menjadi pengawal Jeanne.


 


Peti di kiri lebih didominasi dengan senjata jarak dekat seperti toya, tombak, perisai, pedang, pistol, dan lain sebagainya. Senjata jarak jauh yang dimiliki oleh peti ini hanyalah gatling. Sebagai catatan, aku menganggap pistol sebagai senjata jarak pendek. Peti ini adalah yang kubawa ketika melatih Ufia.


 


Dan lalu, untuk yang tengah, perpaduan antara keduanya. Dengan varian yang lebih banyak, jumlah masing-masing senjata pun lebih sedikit, begitu juga dengan magasin peluru. Perlu kuingatkan bahwa tombak dan tongkat yang kusiapkan di dalam arsenal adalah senjata rakit atau senjata multi fungsi seperti toya yang bisa menjadi triple stick.


 


Tentu saja, isi ketiga peti ini tidak paten. Aku bisa menggantinya kapan pun aku mau, sesuai misi dan selera. Karena kali ini aku hanya melihat, mungkin sedikit ikut serta kalau bosan, aku memutuskan untuk mengambil peti yang di tengah.


 


"Gin," Inanna memanggil, "Berapa banyak sepeda motor yang kamu miliki? Maksudku, di garasi rumah juga ada, kan?."


 


"Di rumah dua, di sini dua. Total hanya empat." Aku menjawab Inanna.


 

__ADS_1


"Eh?" Emir terentak. "Lalu, yang lainnya? Bukannya kamu beberapa kali membuat sepeda motor juga ya?"


 


Aku tidak membuatnya, aku hanya merakitnya. Suku cadangnya aku pesan khusus dari beberapa pabrik. Namun, aku tidak menjelaskan hal itu. Repot.


 


"Itu adalah pesanan klien. Untuk apa aku memiliki sepeda motor banyak-banyak, kan? Bahkan, sejak kalian datang, aku hanya mengendarai sepeda motor di malam hari, untuk sekedar jalan-jalan, berkeliling kota kalau sedang bosan."


 


Tin tin


 


Sebuah suara klakson terdengar. Kami menoleh dan melihat sebuah mobil hitam 4wd bak terbuka berhenti di depan gudang.


 


Mulisu menampakkan wajah dari jendela yang terbuka, "Gin, sudah selesai pilih senjatanya?"


 


"Sudah," aku menjawab Mulisu lalu menoleh ke Inanna dan Emir. "Ayo."


 


"Ya!"


 


Setelah kami keluar, aku menekan tombol di samping pintu, menutup gudang. Kami bertiga naik ke bak belakang mobil.


 


Mobil melaju menuju kantor, yang tidak sampai satu menit. Di kantor, semua anggota elite Agade sudah bersiap. Total ada empat mobil 4wd bak terbuka, termasuk yang kami naiki. Mereka semua sudah siap dengan senjata masing-masing, yang tidak terlihat tentu saja.


 


Setiap orang mengenakan jubah yang sangat besar, menutupi barang apapun yang dibawa. Di bawah jubah, selain senjata, mereka semua tentu saja mengenakan pakaian igni.


 


Ninmar mendatangi kami. "Inanna, Emir, ayo masuk dulu, ganti baju. Pakaian dan jubah kalian sudah disiapkan."


 


 


Mereka pergi, masuk ke kantor.


 


Mulisu keluar dari mobil.


 


Aku melihat ke sekitar. Dinding tinggi di sekitar membuat tidak seorang pun bisa melihat ke dalam sini. Satu-satunya cara orang bisa melihat adalah dengan naik ke crane atau menara pengawas pelabuhan dan lalu menggunakan teleskop.


 


"Jangan khawatir," Mulisu menjelaskan. "Kantor kami bukan hanya mengurus jual beli barang, tapi juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan pelabuhan. Jadi, seluruh karyawan pelabuhan ini, seperti pengguna crane dan menara pengawas, adalah bawahan kami."


 


Mulisu langsung menjawab dari dalam mobil tanpa aku bertanya. Mungkin dia menyadari pandanganku yang merambah kejauhan.


 


Belum lima menit, Emir dan Inanna sudah kembali. Mereka mengenakan jubah yang sama dengan yang lain, hitam dengan garis merah. Di bawahnya, mereka mengenakan pakaian igni yang dibalut dengan celana kargo dan jaket penuh kantung.


 


Hanya aku yang tidak mengenakan pakaian igni. Aku hanya mengenakan celana kargo, kaos, dan jaket kulit.


 


Semua orang mengenakan jubah yang sama. Selain jubah, kami juga akan mengenakan topeng.


 


Dulu, di awal, topengku dan Mulisu tetap, tidak pernah berganti. Di lain pihak, anggota elite Agade mengganti-ganti topeng mereka, tergantung giliran siapa yang memilih. Beberapa saat sebelum aku pergi meninggalkan Agade, aku dan Mulisu pun ikut berganti-ganti topeng.


 


"Jadi, kali ini, giliran siapa yang menentukan topeng?"


 


"Kali ini giliranku," Elam, mengangkat tangan. "Dan, tema yang kupilih adalah topeng serigala."

__ADS_1


 


Laki-laki macho ini mengambil sebuah topeng dari kardus dan mengenakannya, menutupi rambut hitam yang hanya ada di tengah kepala. Beberapa karyawan pun berkeliling, membiarkan kami mengambil topeng kepala serigala dari dalam kardus itu.


 


Tanpa kusadari, organisasi yang dulu berawal dari dua orang, aku dan Mulisu, telah menjadi sangat besar. Saat ini, Agade memiliki anggota elite, karyawan, dan bawahan yang senantiasa bekerja tanpa kenal lelah. Namun, tentu saja, mereka tetap diberi istirahat yang layak. Bekerja secara terus menerus akan menurunkan efisiensi dan produktivitas seseorang.


 


Aku melihat ke sekitar, melihat bagaimana topeng serigala ini memiliki sedikit variasi. Ada yang lidah topengnya menjulur, ada yang memiliki tanda X, ada yang mulut terbuka, ada yang mulut tertutup, dan lain sebagainya. Kalau orang melihat, mereka pasti hanya akan berpikir kami sedang pesta kostum.


 


"Gin, tombak dan shotgunmu."


 


Sebuah sosok pendek mendekat ke mobil. Selain aura kehadirannya, berdasar tinggi badan dan suaranya, aku tahu kalau dia adalah Mari.


 


Aku menerima kedua benda tersebut. "Terima kasih."


 


Karena tombak ini memiliki panjang dua setengah meter, lebih panjang dari peti arsenal yang hanya satu setengah meter dan satu-satunya tombak yang bukan rakitan, aku pun tidak menaruhnya di dalam peti. Hanya shotgun yang kumasukkan ke peti arsenal.


 


Setelah selesai, Mari menyodorkan sebuah topeng kepala serigala dengan tanda X di dahi dan jubah.


 


Aku mengenakan topeng kepala serigala itu dan melihat ke sekitar. Rasanya, seperti sebuah grup band saja.


 


Aku memberi aba-aba, "Baiklah. Agade, meluncur!"


 


"SIAP!"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author. Author juga meminta maaf kalau arc Lacuna sempat merusak pace dan mood.


 


Ok, untuk post note pada chapter ini, mungkin author akan menuliskan inspirasi topeng Agade. Topeng yang dikenakan Agade kali ini adalah topeng serigala atau anjing. Author mendapatkan inspirasi ini dari grup band “man with a mission” yang mengenakan topeng kepala serigala di konsernya. Hehe.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2