
"Ibu ...."
Akhirnya, begitu tenang, Maru sadar kalau yang menenangkannya bukanlah ibunya.
"Lord Susa, Maru adalah putrimu. Anda harus menyayanginya sepenuh hati. Saya tidak mau Anda lebih mendahulukan tugas sebagai Feodal Lord daripada sebagai ibu."
"... Terima kasih, Tuan Putri Rina.
Melihat kebimbangan Lord Susa, Rina berusaha meyakinkannya. Saat ini, jika Lord Susa memilih untuk mengutamakan tanggung jawab sebagai Feodal Lord, secara tidak langsung, sama saja dengan Rina adalah seorang hipokrit. Kenapa? Karena ibunya, Ratu Amana, melakukan hal itu.
Ratu Amana mengutamakan tugas dan tanggung jawab sebagai Ratu Kerajaan Nina dan Alhold. Dia membunuh putranya, adik Rina, untuk mencapai tujuan itu. Bagi Ratu Amana, peran sebagai ibu adalah nomor sekian.
Aku membiarkan Lord Susa menggendong Maru.
"Sayang, sayang .... ibu di sini."
Saat melihat Lord Susa yang menenangkan Maru, Rina tersenyum simpul. Mungkin dia berharap ibunya, Ratu Amana, memperlakukannya dan Tera seperti itu. Namun, tidak lama kemudian, senyum di wajah Rina menghilang, cemberut. Dia mengelus perutnya. Apa dia khawatir kalau akan menjadi seperti ibunya? Bisa jadi.
"Tampaknya pertemuan kita ditentang banyak orang." Lord Susa, sambil menggendong Maru, melihat ke peluru yang mengepung. "Peluru artileri dengan sistem navigasi tipe AA-01, mampu mencapai jarak 35 Km. Namun, yang mengejutkan adalah, peluru ini datang dari semua sisi, mengepung. Berarti, tampaknya, kesetiaan militer wilayah ini adalah untuk Kerajaan Nina, bukan untuk Anshan."
Tampaknya, militer Anshan telah mengetahui kalau instingku bisa mendeteksi keberadaan sniper. Oleh karenanya, mereka memilih menggunakan amunisi artileri yang jaraknya puluhan kilo untuk menghindari deteksi.
"Maaf kalau aku lancang, Lord Susa. Namun, kalau boleh bilang, tampaknya bukan hanya militer yang meninggalkan Anda, tapi juga suami Anda."
"... dari mana kau mengetahuinya?"
__ADS_1
Lord Susa tidak terkejut. Dia lebih tertarik pada caraku mengetahuinya.
"Tadi, saat menjemput, dia mengatakan terima kasih karena sudah mengantar Rina. Dengan kata lain, bagi suami Anda, Banesh, Rina adalah paket yang kami antar dan dia siap menerimanya."
"Tampaknya dia ceroboh." Lord Susa menghela napas. "Pernikahan kami hanyalah pernikahan politik. Aku membutuhkannya untuk bisa mengendalikan militer dan dia membutuhkanku untuk memperkuat posisi keluarganya. Sejak dulu, Banesh tidak pernah melihatku dengan tulus. Bahkan hingga Maru lahir, dia tetap memandangku sebagai objek. Ada alasan kenapa aku tidak mau meninggalkan putriku bersamanya."
Well, aku tidak terkejut. Keadaan Lord Susa adalah normal untuk sebuah pernikahan politis.
"Lalu Lord Susa," Rina masuk. "Apa yang membuat Anda membawa Maru saat ini?"
"Hanya insting. Entah kenapa, meskipun akan menemui Tuan Putri Rina, aku tidak ingin meninggalkan Maru di rumah meskipun tahu kalau membaca anak-anak ke negosiasi adalah tindakan licik, membuat lawan lengah. Namun, tampaknya, instingku tepat."
Kalau Militer juga berkhianat, maka, tempat paling aman bagi Maru dan Lord Susa adalah bersama kami.
Rina tersenyum. "Lord Susa, saya sebagai tuan putri dan calon Ratu Nina, bangga karena diundang oleh Anda. Dan lagi, secara tidak langsung, keputusan Anda untuk membawa Maru juga menyelamatkan kami."
Tanpa perlu diberi penjelasan, Lord Susa sudah paham. Gelar Feodal Lord yang dia sandang jelas bukan hiasan.
Ini hanya dugaanku. Sebenarnya, militer Anshan memang sejak awal tidak mau menerima Rina. Walaupun Lord Susa mengirim undangan, ada kemungkinan kalau hal tersebut adalah bagian dari jebakan. Jadi, militer tidak bisa langsung bergerak.
Banesh, yang mungkin sejak lama ingin berkuasa, melihat ini sebagai kesempatan. Dia mungkin tahu kalau Lord Susa tidak berencana menjebak kami. Namun, dia juga tidak bisa langsung bergerak. Banesh membutuhkan bukti. Bukti itu adalah foto Lord Susa menemui kami.
Namun, tidak semudah itu. Foto yang dijadikan bukti harus menunjukkan kalau Lord Susa menemui kami bukan untuk tujuan menjebak, tapi memang berkhianat. Dan, di sinilah Maru berperan. Keberadaan Maru akan menunjukkan bahwa Lord Susa memang mengkhianati Kerajaan Nina. Membawa anak adalah salah satu strategi dasar membuktikan ketulusan pada lawan.
Kondisi saat ini sangatlah ideal bagi Banesh. Selain mendapatkan bukti kuat pengkhianatan Lord Susa, Banesh juga bisa membunuh Maru, calon Feodal Lord masa depan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dan, semua kondisi itu, mencegah militer Anshan menembak jatuh helikopter kami. Jadi, di lain pihak, kondisi ideal Banesh adalah hal yang baik untuk kami.
__ADS_1
Tiba-tiba, beberapa ledakan terdengar dari bawah. Tampaknya militer Anshan sadar kalau serangan mereka sia-sia. Oleh karenanya, mereka mengalihkan serangan ke gedung ini.
"Sial!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1