I Am No King

I Am No King
Chapter 216 – Overpowered


__ADS_3

~??? POV~


 


 


"Dia benar-benar menggunakan serum pembangkit pengendalian."


"Bagus! Sekarang kita memiliki masalah lain!"


Memalui teropong monokuler, pandanganku masih fokus pada ledakan di kejauhan.


Inkompeten kerajaan ini, Lugalgin, benar-benar merepotkan. Dia menjuarai kompetisi kerajaan, menggaet tuan putri kerajaan lain, menempati posisi kepala intelijen, lalu mendeklarasikan perang dengan pasar gelap, dan juga membuat dua kerajaan berperang. Sebenarnya apa yang ingin dia capai?


Seharusnya, Alhold adalah orang yang malas, tidak mau repot, ataupun muncul ke permukaan. Namun, yang dilakukan laki-laki ini justru sebaliknya. Aku tidak percaya di dalam tubuh kami mengalir darah yang sama, darah Alhold.


Dan, setelah kejadian ini, semua pihak pasti akan mengawasi kami, inkompeten. Bahkan, ada kemungkinan kami akan menjadi kelinci laboratorium.


Aku tidak mau menjadi kelinci percobaan. Tidak! Aku tidak mau!


"Tera, seperti yang kuinstruksikan sebelumnya, tolong kamu retas semua kamera keamanan di sekitar sini. Matikan semuanya."


"Sudah kulakukan...."


"Satelit?"


"Juga sudah..."


Seperti biasa, adik laki-lakiku ini bekerja sangat cepat. Bahkan, dia bisa melakukan itu semua hanya dengan satu tangan di atas laptop sementara tangan yang lain makan donat.


"Jadi, apa Kak Rina akan pergi ke sana?"


"Sekarang? Tentu saja tidak? Kamu ingin aku menerjang hujan peluru dan ledakan di lapangan golf itu dan mati? Tidak terima kasih."


"Lalu?"


"Aku akan menunggu hingga peluru dan ledakannya mereda. Setelah itu, saat hanya dia yang tersisa, aku akan masuk."


 


 


***


 

__ADS_1


 


~Lugalgin POV~


 


 


AAAAHHHHHH!!!!!!


Ruangan ini tidak membantu!


Mumpung tubuh ini masih bisa digerakkan, aku berlari keluar. Namun, baru beberapa langkah keluar dari gudang senjata sesuatu yang sangat aku benci terjadi. Tiba-tiba saja kepalaku seperti ditekan dari segala arah.


Di saat itu, indraku bertambah satu. Kini, aku bisa merasakan semua logam atau benda non organik yang ada di sekitarku. Tidak! Bukan hanya sekitarku. Aku bisa mengetahui lokasi detail setiap benda yang ada di seluruh pelabuhan ini dan sekitarnya. Bahkan, aku bisa merasakan dan mengetahui lokasi setiap cincin, liontin, atau perhiasan lain yang sedang dikenakan. Semua informasi itu muncul dan masuk ke kepalaku dengan bersamaan. Hanya gudangku beserta isinya yang tidak tampak.


Tubuhku terjatuh di atas tanah, terjerembap. Karena semua informasi itu, tampaknya, otakku memilih untuk mematikan fungsi motorik tubuhku. Kini, hanya fungi dasar tubuh yang masih berfungsi seperti bernafas dan melihat. Ya hanya dua ini. Aku bahkan tidak dapat membuka mulut untuk berteriak melampiaskan rasa sakit.


Untuk membantu dalam penggunaan pengendalian, aku membayangkan semua benda yang ada di sini adalah miniatur, sebuah model. Aku mengambil beberapa benda yang berserakan di ujung pelabuhan, mengubahnya menjadi baju zirah, dan memasangkannya pada tubuhku. Dengan begini, aku bisa bergerak dengan menggunakan pengendalian.


Di waktu sempit ini, aku jadi teringat pada Enlil yang mengonfrontasiku walau kehabisan stamina. Dia menggunakan pengendalian pada baju zirah untuk menggerakkan badannya, mirip sepertiku. Jadi, tidak terelakkan lagi, aku memang cucu dar Enlil.


Menurut laporan tertulis, dan yang dilihat langsung oleh ayah, ibu, dan dokter yang terlibat, sebenarnya ada tanda-tanda pengendalianku akan bangkit ketika menggunakan serum. Tanda-tanda itu adalah benda-benda di ruangan bergetar, seolah ada orang yang berusaha mengendalikannya. Normalnya, kesakitan yang kualami hanya bertahan beberapa menit lalu setelah itu pengendalian akan muncul.


Namun, hal yang tidak normal terjadi padaku. Kesakitan yang kualami tidak berhenti walaupun 10 menit berlalu, bahkan 1 jam. Hingga akhirnya, selama 7 hari, rasa sakit itu terus muncul. Sayangnya, walaupun sudah menahan rasa sakit selama 7 hari, pengendalianku tidak juga muncul.


Dan, hal yang paling tak terduga adalah, aku tidak memiliki pengendalian utama. Aku mampu mengendalikan dan mengubah semua benda hanya dengan memikirkannya. Di saat itu, aku paham kenapa nama leluhur kami adalah Alhold.


Meski bisa mengendalikan semua material, aku tidak bisa mengendalikan kekuatan ini dengan baik. Hampir semua yang kulakukan akan memiliki kekuatan yang terlalu besar. Aku bisa membentuk benda seperti baju zirah.


Namun, aku tidak bisa mengendalikan benda-benda kecil seperti keyboard dan sejenisnya. Kalaupun aku mencoba mengetik sesuatu pada papan keyboard, tombol yang aku ketik pasti langsung hancur. Dengan kata lain, kekuatan yang kumiliki terbatas pada perubahan bentuk material dan pengendalian.


Sayangnya, hal ini juga lah yang menjadi ketakutan utamaku. Jika orang tahu aku mampu mengendalikan semua material dan benda, kehidupanku akan selesai. Orang-orang akan waspada bahkan berusaha membunuhku. Satu-satunya cara untuk menghindari hal itu adalah membiarkan peneliti melindungiku atau tidak menggunakan serum ini lagi. Dan, aku mengambil pilihan kedua.


Dan, saat ini, aku tidak lagi mengindahkan ketakutan tersebut. Aku harus menyelamatkan Emir dan Inanna.


Aku membayangkan mengangkat baju zirah ini dan lalu melemparkannya sekuat tenaga, ke arah utara. Kini, aku pun melayang, menembus langit.


Aku terus dan terus melemparkan tubuh ini ke arah rumah. Dalam waktu singkat, rumah sudah ada di pandangan. Aku melemparkan tubuh ke atas, mendatangi semua peluru artileri yang datang.


Begitu peluru-peluru artileri yang berdatangan masuk ke radar otak, aku langsung mengendalikannya. Aku melakukannya sambil terus melemparkan badan ini ke arah utara, ke lapangan golf Emeza. Sepanjang perjalanan, semua peluru akan terhenti lalu mengikutiku. Kini, kalau orang melihat, seolah-olah aku sedang terbang cepat, berusaha kabur dari peluru.


Lapangan golf dengan asap terlihat di pandangan. Asap itu tidak berasal dari pohon atau bangunan yang terbakar, tapi dari ujung laras artileri yang tidak henti-hentinya melepaskan tembakan. Namun, sayangnya, peluru-peluru itu tidak akan pernah bisa mencapai rumahku lagi. Semua peluru yang mereka tembakkan kini sudah kembali bersamaku.


Makan senjata kalian sendiri!

__ADS_1


Aku berhenti di udara sementara peluru-peluru yang mengikutiku masih melanjutkan perjalanan. Dalam waktu singkat, pemandangan abu-abu logam dan hijau rumput menghilang. Ledakan demi ledakan terdengar, menghancurkan artileri dan menghujani rerumputan.


"AHH!!!"


"GAAHHH!!!!"


"KYAAA!!!!"


Teriakan demi teriakan terdengar. Orang-orang berlari kalang kabut. Namun, baru saja mereka bergerak, sebuah peluru artileri sudah mendarat di dekat atau bahkan tepat di tubuh mereka, menghancurkan dan menghamburkan anggota tubuh mereka.


Dari langit, aku melihat api yang bermunculan, tanah yang penuh dengan lubang karena ledakan, dan anggota tubuh manusia yang berserakan.


Aku merasakan ada beberapa bom dan bahan peledak lain di beberapa ruangan taman golf. Aku meledakkan semuanya, menghancurkan bangunan yang normalnya digunakan wisatawan untuk mendaftar.


Sayangnya, ledakan dari peluru artileri dan bahan peledak belum membersihkan kelompok yang berada di tempat ini. Ratusan peluru sudah mendatangiku dari berbagai arah. Peluru ini tidak hanya ditembakkan dari senapan sniper, tapi juga dari assault rifle, pistol, bahkan senapan mesin.


Semua peluru yang menuju ke tubuhku berhenti di udara. Bahkan, peluru itu masih melayang beberapa meter dari sumbernya. Jadi, tidak terlihat satu pun peluru di dekatku.


Aku mengembalikan semua peluru itu ke sumbernya, membunuh siapa pun yang menembakkannya. Tidak berhenti sampai situ, aku mengendalikan semua senjata api dan melakukan pembersihan pada orang yang masih hidup. Aku tidak suka menyiksa orang, jadi aku langsung menyarangkan peluru ke kepala mereka.


Sementara itu, tubuhku hanya diam di udara, melihat semuanya terjadi. Ketika melakukan pengendalian secara membabi buta seperti ini, entah kenapa, rasa sakit yang kurasakan sedikit berkurang. Semakin banyak pengendalian yang kulakukan, semakin berkurang pula rasa sakitnya.


Namun, masih kurang. Aku ingin meredakan rasa sakit ini.


Meski tidak ada tujuan, aku memorak-porandakan tempat ini. Di pikiranku, aku berlaku seperti anak-anak yang menghancurkan miniatur bangunan. Asal melempar dan mengubah benda apa pun di sini, demi mengurangi rasa sakit.


Tiba-tiba saja, sebuah suara terdengar dari pengeras suara.


"Lugalgin Alhold, sudah cukup! Sudah waktunya kamu berhenti!"


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2