I Am No King

I Am No King
Chapter 34 – Pertimbangan


__ADS_3

"Jadi, ada pertanyaan?"


 


Setelah makan malam, kami duduk di ruang keluarga. Aku duduk di ujung sedangkan Emir dan Inanna di sofa panjang, di kiriku.


 


Aku menceritakan ulang apa yang dikatakan Raja Fahren dan Raja Arid. Saat ini, setelah selesai, Emir membuang pandangan sementara Inanna masih memandangku dengan mulut setengah terbuka.


 


Kesimpulannya, tampaknya, Emir merasa bersalah sedangkan Inanna terkejut.


 


"Apa itu berarti, tidak peduli apa yang terjadi, Paduka Raja akan tetap memberikanku padamu?"


 


Jadi, Inanna tidak terkejut pada kemampuanku? Dia lebih fokus pada keputusan Raja Arid?


 


"Kemungkinan besar."


 


Aku tidak berani memberi kepastian pada dugaan Inanna. Kenapa? Karena ada kemungkinan Raja Arid akan memberi putrinya yang lain, bukan Inanna.


 


"Inanna, kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kamu menceritakan apa yang kamu lakukan hingga kamu bertarung melawan Emir, di jalan tol, saat itu?"


 


"Saat itu–"


 


"Inanna, apa kamu akan menceritakan misimu pada Lugalgin?" Emir memotong. "Kamu adalah agen Gugalanna, misimu adalah rahasia kerajaan kan?"


 


"Aku tidak peduli!" Inanna membalas. "Aku tidak peduli dengan kerajaan yang telah menipu dan memperdayaku sejak aku lahir!"


 


Dan, sebuah pertikaian kecil muncul.


 


"Emir," aku memanggil.


 


Emir sontak menoleh ke arahku. Aku melihat matanya sudah berkaca-kaca. Bahkan dia menggigit bibirnya.


 


"Kamu sudah mendengar ceritaku kan. Bisa dibilang Raja Arid dan Raja Fahren berbeda pendapat denganku, dan aku tidak ada niatan untuk menerima pendapat mereka."


 


Aku tidak akan mengatakan musuh. Risikonya terlalu besar kalau aku blak-blakan mengklaim Raja Fahren dan Raja Arid adalah musuh.


 


"Tapi, Gin..."


 


Emir tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia menundukkan kepala dan meremas tangan.


 


"Ke depannya, akan banyak konflik dan perselisihan antara aku dan keluargamu. Saat ini, kamu memiliki tiga pilihan. Pertama, berada di pihakku. Kedua, berada di pihak keluargamu. Atau ketiga, kamu tidak berada di pihak siapa pun tapi aku melarangmu untuk ikut campur."


 


"Itu..." Emir tidak mampu memberi konfirmasi. "Aku butuh waktu untuk memikirkannya."


 


Tanpa aku minta, Emir sudah berdiri dan meninggalkan kami. Dia pergi ke lantai dua, mungkin kembali ke kamar.


 


Melihat reaksi Emir, aku bisa menduga perasan sayangnya padaku adalah benar, bukan sebuah tipuan untuk menjalankan misi. Namun, untuk saat ini, aku belum bisa sepenuhnya percaya pada Emir. Sekarang, kembali ke Inanna.


 


"Baiklah, Inanna, bagaimana kalau kamu jelaskan kenapa kamu bertikai dengan Emir saat itu?"


 


Inanna menceritakan semuanya. Beberapa minggu sebelum pertemuan itu, Inanna sudah diutus untuk menjadi mata-mata di Bana'an. Tujuan utamanya adalah mencari informasi personal seluruh keluarga kerajaan dan orang-orang bukan bangsawan yang berhubungan dengan Kerajaan.


 


Namaku muncul dalam laporan orang bukan bangsawan yang berhubungan dengan kerajaan. Namun, informasi yang bisa didapat Inanna hanyalah aku pedagang barang antik dan aktif di pasar gelap. Dia tidak mampu mendapatkan informasi lain.


 


Tidak lama kemudian, Inanna mendapatkan perintah untuk mengeliminasi Emir, yang saat itu juga memiliki misi di kota Haria, kota ini. Raja Arid menyatakan kalau Emir adalah ancaman bagi kerajaan Mariander, oleh karena itu, dia harus dieliminasi.


 


Meski sebenarnya Inanna memiliki beberapa pertanyaan, tapi dia tidak memiliki hak untuk berpendapat atau bersuara. Dan lagi, dia hanya ingin mendapatkan pengakuan dan keinginannya dikabulkan. Oleh karena itu, Inanna menyerang Emir.


 


Setelah gagal, Inanna mundur dan mendapatkan informasi baru. Dia diminta mengumpulkan informasi mengenaiku. Dan, sayangnya, tidak ada informasi tambahan selain yang sudah dia kumpulkan sebelumnya. Akhirnya, Inanna dipanggil pulang untuk menemani Jeanne dalam kunjungannya.


 


"Dan, begitulah cerita lengkapnya."


 


Hmm... begitu ya. Kalau dari cerita Inanna, ada kemungkinan Raja Arid sudah mengetahui kalau aku memiliki hubungan bisnis dengan beberapa anggota keluarga kerajaan, terutama Emir. Ada kemungkinan informasi ini disuplai oleh Raja Fahren.


 


Tanpa informasi dari Emir, aku hanya bisa menerka-nerka langkah Raja Fahren. Seperti misal apa yang dilakukan Emir di kota ini, dan kenapa Emir berada di jalan tol itu tepat di saat aku pulang. Menurutku, Raja Fahren sudah mengetahui jadwal dan kebiasaanku. Dan, dengan alasan ada agen Gugalanna yang menyelinap, dan adanya perang dingin, Emir pun diperintahkan untuk mencari agen Gugalanna itu.


 


Kalau orang luar sepertiku mendengar informasi ini, sudah pasti kami akan berpikir kalau ini adalah teori konspirasi yang tidak benar-benar terjadi. Namun, sayangnya, ini benar-benar terjadi.


 


"Apa ini berarti, ibu dan Ninshubur tidak memiliki wilayah lagi karena rencana Paduka Raja?"


 


"Sebentar," aku menghentikan Inanna. "Yang itu adalah saranku."


 


"Eh? Kenapa?"


 


Inanna memandangku dengan tatapan kosong. Aku bisa merasa kalau dia bingung mau marah atau kecewa.


 


"Hukuman yang dijatuhkan pada Selir Filial gara-gara pengkhianatan adikmu sudah tidak terhindarkan. Jadi, daripada menjadi selir dengan kekuatan militer yang kecil dan berada di zona musuh, aku berpikir akan lebih aman bagi ibumu untuk dipindah ke Bana'an.


 


"Dengan ibumu menjadi Duta Besar, maka Bana'an, mau tidak mau, harus memberi pengamanan. Selain itu, akan sulit bagi bangsawan dan selir Mariander jika ingin mencelakai ibumu karena mereka harus pergi ke Bana'an dulu. Untuk adikmu, aku bersyukur karena ibumu mau menitipkannya pada keluargaku. Dengan begitu, keamanan adikmu pun terjamin."


 


"Ah, begitu ya."


 


Cahaya dan kehidupan kembali ke mata Inanna. Senyum pun terkembang. Dia sesenggukan, berusaha mencegah agar tidak menangis.


 


Keamanan Ninshubur sudah tidak perlu dipertanyakan karena dia bersama ibu. Ibu adalah pengamanan tertinggi yang mungkin di dapat. Untuk Selir Filial, aku sudah mengutus orang terpercayaku untuk mengamankannya. Namun, aku tidak perlu mengatakannya pada Inanna.


 


"Dalam kondisi ini," aku menambahkan. "Setelah kita menikah, aku bisa mengubah kewarganegaraanmu dan Ninshubur menjadi warga Bana'an. Untuk ibumu, aku bisa mengaturnya. Intinya, kalau pun True One berhasil mengubah Mariander menjadi Republik, maka ibu dan adikmu tidak akan menjadi korban."


 


Di saat itu, Inanna kembali terdiam. Tampaknya, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


 

__ADS_1


"Apa ada hal lain yang ingin kamu bicarakan?"


 


"Ah, itu, meski aku senang karena keamanan ibu dan Ninshubur sudah terjamin, tapi aku tetap khawatir pada beberapa temanku." Inanna tersenyum masam. "Tapi, kamu menyelamatkan keluargaku adalah sebuah kemewahan. Aku tidak mungkin berharap sesuatu yang lebih lagi."


 


Ya, aku tidak memungkiri selain keluarganya, teman-teman Inanna mungkin akan menjadi korban.


 


"Ya, nanti kita akan membicarakan hal itu ketika waktunya datang. Saat ini, setidaknya, aku sudah memastikan kalau kamu berada di pihakku."


 


"Ya, aku berada di pihakmu, Lugalgin."


 


***


 


Keesokan harinya.


 


Hari ini adalah hari Sabtu. Di hari Sabtu, aku dan ayah setuju untuk mempertemukan Selir Filial, Inanna, dan Ninshubur. Di Sabtu pertama, dua minggu yang lalu, kami pergi ke kota Karia, mengunjungi Selir Filial bersama Ninshubur dan Inanna. Minggu lalu, kami bertemu di rumah ayah dan ibu. Jadi, minggu ini, jadwalnya adalah bertemu di sini, di rumahku.


 


Di lain pihak, kami belum pernah bertemu dengan keluarga Emir sejak mereka mengantar Emir ke rumahku. Kenapa? Karena keluarga Emir adalah keluarga kerajaan. Aku malas menempuh prosedural hanya untuk menemui keluarga Emir. Di lain pihak, keluarga Emir pun tampaknya tidak ada niatan untuk mengunjungi Emir. Beberapa kali aku mendapati mereka hanya menelepon Emir.


 


Faktor lain adalah hubungan keluargaku dengan keluarga Emir, bisa dibilang, kurang baik. Ketiga saudara Emir memandang keluargaku sebelah mata. Ibu pun memandang Emir sebelah mata. Jadi, ya, seperti ini lah hasilnya.


 


Meskipun Emir adalah yang mendatangiku pertama, dengan kondisi saat ini, Inanna akan menjadi istri pertama dan Emir menjadi istri kedua. Namun, tentu saja, ibu lebih menyarankan agar aku hanya mengambil Inanna.


 


Ya, kalau Emir menyatakan dia tidak bisa berada di pihakku, aku pun akan melaksanakan saran ibu. Aku tidak mau tiba-tiba ditusuk dari belakang.


 


Saat ini, aku dan Inanna sedang mengubah tatanan rumah. Televisi kami geser ke ujung ruangan sementara sofa dan meja pendek di ruang tamu kami pindah ke ruang keluarga.


 


Emir masih tertidur di kamar. Aku tidak menyuruh Inanna untuk membangunkannya.


 


Semalam, setelah percakapan kami, aku pergi ke kamar Emir untuk mengecek keadaannya. Aku melihat dia sudah tertidur masih dengan kaos dan celana pendek, belum berganti ke piama. Pipinya lembap dan matanya pun bengkak. Tampaknya, Emir menangis hingga akhirnya tertidur.


 


Ya, aku bisa maklum kalau dia bimbang. Aku pun hanya menutup tubuh Emir dengan selimut dan membiarkannya tidur.


 


Dengan adanya Inanna, aku tidak perlu mengangkat sofa dan meja di ruang tamu. Inanna, tinggal memindahkan sofa dan meja dengan pengendalian, membuatnya melayang di udara.


 


Di saat seperti ini, aku benar-benar iri dan ingin memiliki kekuatan pengendalian. Kalau aku memiliki kekuatan pengendalian, aku bisa mengambil benda apapun di rumah ini tanpa perlu bergerak.


 


Ding dong


 


Suara bel berbunyi. Sementara aku masih memindahkan camilan dan hidangan ke ruang keluarga, Inanna membuka pintu.


 


"KAKAK!"


 


Suara Ninshubur terdengar.


 


Sebelum datang ke sini, mereka menjemput Selir Filial dulu di bandara. Jadi, saat ini, keluarga Selir Filial dan keluarga Barun Alhold sudah berkumpul di rumah ini.


 


 


Ketika aku berjalan membawa nampan berisi minuman, Ninlil memelukku dari belakang.


 


"Baru minggu lalu kan kita bertemu?"


 


"Ah, kakak gak seru ah! Ninshubur dan kak Inanna saja bisa bahagia sekali ketika bertemu."


 


"Ya, mau bagaimana lagi. Sebelum aku pindah, kita masih satu rumah, kan? Di lain pihak, Inanna sudah masuk sekolah militer, hidup di asrama, dan sering menjalankan misi. Mereka jarang bertemu."


 


"Ah! Kakak!"


 


"Daripada itu, bantu kakak memindahkan hidangan di dapur. Aku pakai aluminium untuk nampannya."


 


"Iya, deh...."


 


Ninlil, yang tampak kecewa, memindahkan hidangan yang ada di dapur ke ruang keluarga.


 


Selama beberapa jam ke depan, kami pun mengobrol. Seperti layaknya sanak famili, bahan obrolan kami merambah ke semua hal. Mulai dari sekolah Ninlil dan Ninshubur, keseharianku dan Inanna, keseharian ayah dan ibu, dan keseharian Selir Filial.


 


Akhirnya, ibu pun menanyakan satu hal yang cukup krusial.


 


"Ngomong-ngomong, dimana Emir? Kok aku tidak melihatnya?"


 


Aku dan Inanna saling melempar pandang. Aku berpikir mungkin mereka patut mengetahuinya juga.


 


"Ninlil, bisa tolong kamu bawa Ninshubur ke kamarku atau kamar Inanna?"


 


Tanpa banyak bertanya, Ninlil pun membawa Ninshubur ke lantai dua.


 


Setelah Ninlil dan Ninshubur pergi, aku menceritakan pada ayah, ibu, dan Selir Filial, mengenai apa yang telah terjadi.


 


***


 


"Aku tidak mengira Arid akan melakukan hal itu."


 


"Maafkan aku, Selir Filial.” Aku merespon Selir Filial. “Aku tidak akan bilang kalau Raja Arid adalah musuhku, tapi, yang jelas, kami tidak sependapat. Dan, aku tidak tahu apa yang mungkin dia rencanakan untuk memaksaku menjadi Raja."


 


"Tidak! Justru seharusnya aku yang meminta maaf. Karena Arid, kamu sudah kerepotan. Dan, gara-gara Arid juga, hidupmu terbebani dengan Inanna. Namun, setidak–"


 


"Maaf, Selir Filial, tampaknya Anda salah pengertian." Aku menyela selir Filial. "Aku tidak menganggap Inanna sebagai beban. Dalam dua minggu ini, aku sudah menerima Inanna sebagai anggota keluarga. Jadi, sudah selayaknya aku melindunginya dan kalian."


 


Aku meletakkan tanganku di kepala Inanna dan membelainya dengan lembut. Inanna pun menyandarkan kepalanya ke bahuku.

__ADS_1


 


Di saat itu, aku bisa melihat Selir Filial tersenyum lebar. Bahkan, bahunya tidak terlihat kaku lagi. Dia menjatuhkan bahunya, lega. Bukan hanya Selir Filial, ibu pun melakukan hal yang sama.


 


"Kalau begitu, kita mendapatkan alasan untuk mempercepat upacara pernikahan kalian."


 


Tiba-tiba saja, ibu mengatakan sesuatu yang tidak terduga. Kami semua pun sontak mengarahkan pandangan ke ibu.


 


Ibu melanjutkan, "kalau kita menunda upacara pernikahannya, ada kemungkinan Raja Arid akan menarik kembali Inanna dan Ninshubur ke Mariander. Saat itu terjadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kita menolaknya, maka Mariander pun akan menganggap Bana'an sebagai musuh.


 


"Lugalgin tidak akan memiliki pilihan selain menjadi Raja kedua kerajaan kalau ingin mendapatkan Inanna kembali. Skenario ini harus kita hindari, kan? Tapi, kalau Lugalgin dan Inanna menikah, maka Inanna pun akan menjadi warga negara Bana'an. Dan di saat itu, kita bisa mendaftarkan Ninshubur pada kartu keluarga Lugalgin atau kartu keluargaku. Dengan demikian, Raja Arid tidak akan memiliki banyak pilihan selain bekerja sama dengan Raja Fahren."


 


Kami semua terdiam mendengar pernyataan Ibu.


 


"Wow," Inanna mengucapkannya dengan santai. "Semalam, Lugalgin mengatakan hal yang serupa."


 


"Aku tidak terkejut." Ibu merespon enteng. “Aku bisa bilang dia menuruni itu dariku.”


 


"Baiklah! Jadi, mari kita buat skala prioritas." Ayah masuk ke pembicaraan. "Pertama, upacara pernikahan Lugalgin dan Inanna. Kedua, mendaftarkan Ninshubur pada kartu keluarga Lugalgin atau kartu keluargaku. Ketiga, mencari cara untuk mengubah Filial menjadi warga negara Bana'an."


 


"Eh?" Selir Filial tersentak.


 


"Filial, jangan kamu pikir kami akan meninggalkanmu begitu saja." Ibu kembali menyetir perbincangan. "Aku yakin putraku ini pasti memikirkan hal yang sama, tapi dia masih memikirkan caranya makanya  belum bilang. Aku mengenal kebiasaannya, kebiasaan baik dan buruknya."


 


Yup. Benar sekali.


 


Aku mengangguk.


 


"Tapi, selain itu, kita juga memiliki masalah lain." Ibu menambahkan. "Kita tidak tahu rencana Raja Arid dan Raja Fahren. Bisa saja mereka sudah membuat rencana lain untuk membuat Lugalgin menjadi Raja. Dan, untuk memperburuk keadaan, keluarga Alhold juga merasa terusik dengan pencapaian Lugalgin."


 


"Ung? Ibu belum mendengar kalau Enlil berusaha memaksaku menemuinya? Bahkan, kemarin, tiga orang mendatangiku."


 


"HAH?"


 


Urat nadi muncul di pelipis ibu dan mata kirinya terbelalak. Tampaknya, dia benar-benar marah.


 


"Aku sudah mengatakan mereka harus melaluiku kalau ingin berurusan dengan Lugalgin dan Ninlil, tapi mereka masih berani mendatangimu secara langsung? Cari mati mereka?"


 


Di lain pihak, ayah hanya tersenyum masam. Dia melemparkan pandangan padaku. Tanpa berbicara, aku bisa menduga ayah bilang, "Gin, kenapa kamu ngomong ke ibumu? Aku ini berusaha menanganinya sebelum ibumu tahu. Kalau sudah seperti ini, bakal repot jadinya."


 


Aku juga tidak berani melawan ibu. Bukan hanya karena dia adalah ibu kandungku, tapi karena hal lain.


 


Aku membutuhkan pengalih perhatian. Apa ya, apa ya.


 


"Ung, maaf menyela."


 


Sebuah suara muncul. Kami semua menoleh ke arah tangga. Di depan tangga, terlihat Emir berdiri. Rambutnya sudah turun, tidak mekar seperti singa. Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Ninlil dan Ninshubur tidak terlihat bersamanya.


 


Bagus, Emir. Kamu datang di saat yang tepat.


 


"Ya, ada apa Emir?"


 


Aku segera menjawab Emir. Kalau ibu yang pertama menjawab, bisa menjadi masalah.


 


"Gin, mengenai semua ini, aku ingin bertemu dengan ibu dan Kak Yurika untuk membicarakannya."


 


Aku terdiam sejenak. Dia hanya mengatakan ibu, Permaisuri Rahayu, dan Tuan Putri Yurika. Apa dia tidak berencana membicarakan hal ini dengan Raja Fahren? Kalau dia melakukan hal ini, hanya berbicara pada ibu dan kakak perempuannya, ada kemungkinan Raja Fahren dan saudaranya yang lain akan tersinggung. Aku jadi khawatir.


 


Koreksi. Bukan Raja Fahren, tapi ketiga saudaranya.


 


"Baiklah. Tapi, aku dan Inanna akan ikut juga."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo Semua.


 


Chapter ini diupload kamis malam karena kerja lagi hectic total. Ditambah badan dah sakit-sakitan. Tubuh author bisa dibilang aneh. Kalau minum suplemen atau multi vitamin, justru makin sakit. Jadi, ga bisa juga menjalankan saran teman yang bilang “minum suplemen biar ga sakit”. Hehe. Jadi, karena beberapa hal itu, baru sempat upload kamis malam.


 


Ditambah lagi, sistem mangatoon yang baru annoying. Jadi, Author tidak bisa langsung copas dari ms word, tapi harus lewat notepad dulu baru ke mangatoon. Selain itu, Author juga harus menghapus jumlah enter antar paragraf yang entah kenapa selalu nambah di platform mangatoon. Belum lagi gagal upload sampe berapa kali. Kalo dah gagal upload, harus copas ke notepad, copas ke mangatoon, hapusin enter lagi deh. dan, bisa gagal lagi.


 


Untuk chapter yang sebelumnya, 32 dan 33, sebenarnya sudah diupload sabtu dan selasa, tapi baru rilis di hari rabu. Jadi, kemarin rabu dobel rilis deh. Yah. Sudahlah. Tidak apa-apa. Sekali lagi, Author penasaran, apa sih yang sebenarnya direview oleh admin?


 


Oh, untuk cerita, Chapter ini menyambung dari ch 30 – interlude. Jadi, interlude yang dipasang bisa dibilang sebuah foreshadowing terhadap cerita yang akan datang di masa depan.


 


Kemarin Author iseng jalan-jalan di grup komis Indonesia dan nemu (eah, nemu dia bilang) artist yang style artnya bagus dan cocok dengan author, yaitu pokarii. Jadi, Author pun langsung submit komis ke artis yang bersangkutan. Kalau gambarnya sudah jadi, akan dijadikan sebagai cover novel yang akan dijual dicomifuro.


 


Author tidak dibayar untuk mention nama pokarii. Namun, ga ada salahnya lah ya berbuat baik, semoga melancarkan rejekinya.


 


Kalau ada ilustrator yang mau kolaborasi komik atau bikin ilustrasi untuk I am No King, bisa hubungi author di instagram @renigad.sp.author atau facebook ren.igad.33. Atau kalau mau open commis, bisa juga kontak lewat dua itu. Untuk harga, yah nanti diobrolin. Sebagai catatan, artist yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah pixiv artis, 千夜 atau QYS3.


 


Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di . Dua-duanya juga bisa.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 


:D


__ADS_2