I Am No King

I Am No King
Chapter 162 – Serangan Balik


__ADS_3

[Gin target pertamamu ada di barat, 700 meter.]


Aku menuruti instruksi Inanna, pergi ke barat.


Saat ini, dia bisa memonitor pergerakanku dan Mari karena kami mengirim live location ke smartphonenya. Dengan pengendalian timah, dia bisa memperkirakan lokasi peluru dan memberi arahan padaku.


[Gin! Tembakan dari jam 10 mu!]


Beberapa kali suara tumpul dan kaca pecah terdengar sepanjang perjalanan. Tampaknya mereka mencoba menjatuhkanku. Mungkin, orang berpikir menaiki sepeda motor di tengah peluru seperti ini adalah ide yang bodoh. Dan memang bodoh.


Namun, dengan informasi dari mana peluru meluncur, dai Inanna, aku bisa melakukan manuver, berbelok, dan menikung, membuat tembakan lawan meleset.


[Gin, kira-kira 10 rumah di depan kirimu, mungkin ada dua orang.]


Inanna mengatakan mungkin karena dia hanya merasakan kumpulan peluru. Dia tidak benar-benar tahu apakah kumpulan peluru itu milik dua orang atau bukan.


Aku bisa melihatnya, dua orang di atas atap rumah. Tanpa berhenti, aku lewat dan melepaskan beberapa tembakan dengan pistol di tangan kiri. Melepaskan tembakan dari atas sepeda motor sangat sulit. Beberapa tembakan meleset.


Akhirnya, satu tewas, tapi masih ada satu orang lagi. Dia melepaskan tembakan padaku yang baru lewat.


[Gin, tembakan dari tempat itu.]


Aku tidak terlalu khawatir.


Terdengar suara logam bertabrakan di punggung. Tampaknya dia berusaha menembus peti arsenal, tapi gagal.


Aku berbelok, memutar, menggunakan dinding pagar sebagai perlindungan. Aku membuang pistol yang kehabisan peluru dan mengambil pistol lain dari kompartemen depan. Pada putaran ini, aku berhasil membunuh satu orang yang tersisa.


Meski berhasil mengeliminasi dua orang, aku terus bergerak, mengambil rute yang acak.


"Selanjutnya?"


[Yang terdekat kira-kira satu kilometer di selatanmu.]


Aku mengikuti instruksi Inanna dan mengarah ke selatan. Namun, belum ada seratus meter, aku merasakan niat membunuh datang dari belakang atas. Di spion, aku melihat ada dua orang terbang sambil membawa tombak.


Karena senjata mereka tombak, bukan timah, maka Inanna tidak bisa mendeteksinya. Aku menginjak rem belakang dan menarik rem depan bersamaan, membuat tombak yang mereka lempar meleset. Karena mereka cukup dekat, aku dapat menyarangkan peluru di tubuh mereka dengan mudah.


Krak


Terdengar suara patah cukup keras. Tampaknya, yang membunuh mereka bukan peluruku, tapi karena jatuh dengan posisi kepala di bawah.


Aku melanjutkan perjalanan ke selatan.


[Gin, tiga orang di jalan.]


Sesuai ucapan Inanna, tiga orang muncul di tengah jalan dan menodong assault rifle ke arahku.


Aku memiringkan sepeda motor. Dengan kecepatan tinggi, meskipun roboh, motor ini tidak akan berhenti, tapi berseluncur di jalan. Sementara tembakan melintas di atas, beberapa peluru meluncur dari pistol di tangan kiriku, bersarang di tubuh ketiga orang itu.


Mereka roboh, tapi aku tidak memastikan mereka tewas atau tidak dengan segera. Aku memutar, melewati satu rumah, setelah muncul di belakang mereka, aku melepas tembakan tepat ke kepala.


[Gin, jam 9!]

__ADS_1


Ya, aku tahu. Ada peluru meluncur dari samping. Dengan satu putaran kenop gas, aku menghindar. Mereka tidak akan bisa membunuhku kalau tidak bisa mengontrol niat membunuh atau aura haus darah. Di saat seperti ini, aku beruntung Emir, yang tidak bisa memancarkan niat membunuh atau aura haus darah, bukanlah musuh.


[Gin! Ada beberapa kumpulan timah mengarah ke tempatmu! Setidaknya ada 10 orang mendekat!]


Ya, setidaknya. Namun, dari sumber niat membunuh yang kurasakan, setidaknya adalah 23 orang mendekat. Dengan kata lain, ada 13 orang tidak membawa senjata api.


[Gin, kamu terkepung. Aku hanya bisa memberi informasi dari mana tembakan berasal, menggunakan arah jam. Dua belas adalah utara.]


"Itu sudah lebih dari cukup."


Aku turun dari sepeda motor tepat di tengah perempatan. Ada tujuh orang yang terlihat menggunakan senjata langsung seperti tombak, atau pedang. Seharusnya ada 13, sisa 6 orang yang lain bersembunyi di sekitar.


Tidak ada satu pun yang bergerak, baik mereka maupun aku. Kami sama-sama menunggu. Sementara itu, aku bisa mendengar Inanna terus memberi instruksi ke Mari.


[Kyaa!]


[Itu hanya teriakan Nanna. Emir dan Ninlil mampu melumpuhkan orang yang masuk ke rumah.]


Inanna memberi laporan, memastikan aku bisa melanjutkan pembantaian dengan tenang.


Ngomong-ngomong, aku baru sadar kalau nama Nanna dan Inanna adalah mirip. Ok, informasi itu tidak penting untuk saat ini.


[Gin, Lima!]


Aku melompat ke kiri, menghindari tembakan dari belakang kanan.


[Dua belas!]


Belum sempat aku mendarat, instruksi lain sudah muncul. Untuk menghindarinya, aku tidak mendarat, tapi membiarkan tubuhku terjatuh ke tanah.


Aku berguling, menghindari serangan yang datang.


Aku terus bergerak ke sana ke sini, menghindari semua tembakan yang datang. Terkadang membiarkan peluru dihadang oleh peti arsenal. Kalau seorang diri, aku tidak akan pernah melakukan hal ini. Normalnya, aku akan menyerang dengan berpindah dari satu rumah ke rumah lain, menggunakan apa pun di sekitar sebagai pelindung.


Jujur, saat berurusan dengan pasar gelap, aku tidak pernah melibatkan warga sipil di tengah pertarungan seperti ini. Mungkin terdengar aneh, tapi organisasi pasar gelap tidak pernah melibatkan warga sipil. Kalaupun ada perang antar organisasi, lokasi pasti berada di tempat terpencil.


Walaupun di tempat ramai seperti pelabuhan atau beberapa kompleks perumahan atau kompleks pertokoan, bisa dibilang, orang-orang yang berada di tempat itu adalah orang yang berkecimpung di pasar gelap. Jadi, ya, ini adalah pertama kalinya aku bertarung di tengah permukiman warga sipil. Atau bukan?


Aku baru ingat beberapa minggu yang lalu keluarga Alhold menyerangku begitu saja di tengah permukiman warga sipil. Selain itu, sejak aku bertemu dengan Fahren, agen schneider yang membangkang juga menyerangku di tengah permukiman warga sipil.


Sungguh sebuah ironi. Organisasi pasar gelap yang dibilang sisi hitam kerajaan justru tidak melibatkan warga sipil tidak bersalah, tapi intelijen dan keluarga Alhold yang seharusnya terpandang justru sebaliknya.


Di saat seperti ini, jika terdengar suara ledakan atau tembakan, setelah melapor pada kepolisian, warga diharapkan berkumpul di garasi, berlindung. Kenapa garasi? Karena garasi adalah ruang terakhir yang mungkin dimasuki oleh penyerang. Penyerang, normalnya, akan memasuki kamar atau ruang utama. Bagi mereka yang memiliki basemen, diharapkan berlindung di dalamnya.


[Gin, peluru mereka habis!]


Bersamaan dengan ucapan Inanna, lima orang muncul dari langit, mengarahkan tombak ke tubuhku. Aku melepaskan sebuah tembakan, membunuh satu orang. Namun, empat orang tombak masih meluncur.


Aku melompat mundur, menghindari semua tombak.


Tombak digunakan untuk menusuk dari udara? Apa mereka bodoh? Tombak itu digunakan untuk menusuk dari sekeliling, memastikan tidak ada ruang bagi target untuk menghindar. Kalau dari atas, tinggal lompat ke samping sudah selesai.


Dan, lagi, biar aku tunjukkan bagaimana cara menggunakan tombak yang benar. Dengan gerakan secepat kilat, aku melempar pistol ke dalam arsenal, merangkai tombak dan kapak menjadi satu menjadi satu, dan mengayunkannya. Dengan satu ayunan, tombak ini menebas dan menyayat tubuh mereka semua.

__ADS_1


Sebuah tombak sepanjang dua meter berwarna biru gelap siap di tangan. Meski aku mau bilang tombak, benda ini lebih tepat disebut dengan halberd. Di ujungnya, kapak dua sisi dan satu penusuk.


Seolah bisa membaca pikiranku, kini, delapan orang menyerang dari semua arah. Yah, dengan ini, mereka sedikit pintar. Sedikit.


Aku melemparkan halberd ke salah satu orang dan lalu mengambil dua assault rifle dari dalam arsenal. Tembakan memutar pun membunuh mereka semua. Setelah peluru habis, sekali lagi sebuah serangan muncul dari atas. Aku tidak menghindar, tapi menghalau serangannya dengan assault rifle di tangan kiri.


Bagiku, senjata api tidak berhenti berfungsi walaupun pelurunya habis. Tangan kanan memegang handguard di dekat laras dan berayun. Aku menggunakan assault rifle ini sebagai senjata tumpul, tepat menghantam pelipis lawan. Di saat itu, sebuah granat nanas terjatuh.


Seriously?


Blarr


Sebuah ledakan terjadi. Tentu saja, aku tidak terluka. Hanya dengan menempelkan arsenal ke tanah, aku sudah mendapat perlindungan maksimum. Sementara aku lolos dari luka, orang-orang di sekitarku tidak. Bahkan, lawan yang seharusnya hanya mengalami luka tumpul di pelipis tewas gara-gara granat itu.


Granat juga tidak memiliki timah di dalamnya, oleh karena itu Inanna tidak bisa mendeteksinya.


Baiklah, total ada 14 orang tewas. Aku merasakan hanya tinggal lima niat membunuh. Kemana yang empat lagi? Apa mereka kabur? Atau berlindung ke dalam rumah warga? Yah, percuma aku memikirkannya.


Sementara itu, aku baru menyadari kalau orang-orang ini terus berusaha menyerangku walaupun melihat penyerang sebelumnya tewas. Padahal, kalau di pasar gelap, kamu pasti berhenti menyerang ketika penyerang pertama dapat dilumpuhkan dengan mudah.


Bukan hanya kali ini, penyerangan keluarga Alhold beberapa minggu yang lalu juga sama. Apa ini juga adalah efek dari pencucian otak pengendalian sama? Bisa jadi.


[Gin, butuh bantuan?]


Tampaknya, pertarungan ini sudah selesai.


Suara lain muncul di headset. Karena komunikasi ini dilakukan pada grup terbuka, semua anggota Agade bisa mengatakan apapun. Suara ini adalah milik Ninmar. Keberadaannya tidak terlalu dekat. Aku hanya bisa mengetahui lokasinya secara samar-samar.


"Lumpuhkan semua orang yang membawa senjata."


[Siap!]


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



 

__ADS_1


 


__ADS_2