
~Yuan POV~
"Terima kasih, Yuan."
Emir mengangkat Lugalgin sementara Mulisu mendorong kasur baru dari luar yang aku pesan. Di belakang Mulisu, terlihat sosok bapak-bapak berambut hitam. Dia mengenakan pakaian formal dan jas dokter putih.
Emir dan Mulisu langsung mengangkat Lugalgin ke atas ranjang. Mereka pun mendorong ranjang Lugalgin dan Inanna agar bersebelahan. Setelah selesai, Emir kembali menuntun Inanna ke atas ranjang, di sebelah Lugalgin.
"Jadi, ada yang bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?"
"Jadi," aku memberi laporan, "rumah Lugalgin diserang, membuat Inanna terluka parah. Di lain pihak, Lugalgin pergi, entah bagaimana caranya, menghentikan serangan itu. Dan, dalam prosesnya, membunuh hampir seluruh petinggi Apollo."
"Hampir seluruh?" Pak Barun menyela sejenak.
"Ya, hampir seluruh." Aku mengambil smartphone dari saku baju. "Ada Karla dan anak buahnya yang kebetulan tidak berada di lokasi. Namun, waktu mereka tidak lama lagi. Saat ini, aku menggunakan jaringan informasi intelijen kerajaan untuk memberi informasi pada Agade, Akadia, dan Guan. Tiga organisasi ini sedang dalam proses meringkus dan mengambil alih semua usaha dan bangunan vital milik Apollo.
"Di lain pihak, Quetzal juga bergerak, melakukan hal yang sama dengan kita. Karena Quetzal mencoba mengambil alih apa yang tersisa dari Apollo, Orion tidak akan mampu memercayai mereka lagi, kekuatan oposisi pun terpecah. Dengan hal ini, ada dua kemungkinan. Pertama, perangnya akan semakin intensif karena menjadi 3 arah. Kedua, perangnya mulai meredup karena kekuatan mereka berserakan."
Aku menyelesaikan laporanku pada Pak Barun secara singkat dan padat. Normal untuk aku bersikap formal dan sopan padanya pada ayah atasanku. Namun, hasilnya tidak seperti yang kuinginkan.
Pak Barun... tidak! Semua orang di ruangan ini, Emir, Inanna, Mulisu, dan Pak Barun terdiam dengan mulut menganga.
"Ah, maaf. Mungkin aku salah karena sudah meminta penjelasan," Pak Barun merespon sambil memijat keningnya.
Mulisu masuk, "ah, Yuan, mungkin kamu bisa berbicara dengan tempo yang lebih singkat dan juga beri detail lebih banyak?"
"Eh? Aku yakin Lugalgin selalu meminta format laporan oral seperti ini."
"Ah....."
Semua orang memijat kening, tidak terkecuali Inanna yang wajahnya sudah setengah hancur. Aku terkejut Inanna masih bisa memberi respon pada laporanku mengingat dia mengalami luka separah itu.
"Maaf, tapi, mungkin, yang bisa menerima laporan oral secepat dan sepadat itu hanya Lugalgin dan istriku."
"Ah, benarkah demikian? Maafkan saya kalau begitu."
Aku sedikit menundukkan kepala.
"Tidak, tidak. Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu adalah asisten Lugalgin, jadi normal kalau mengikuti standarnya," Pak Barun berkomentar. "Setelah kupikir-pikir, mungkin aku tidak perlu terlalu tahu soal ini. Biar pihak internal kalian saja yang tahu. Aku pergi dulu ya."
"Eh, Om Barun, bagaimana dengan Lugalgin?"
Emir menghentikan Pak Barun yang akan keluar.
"Jujur, aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada Lugalgin saat ini. Kalau aku melihat baik-baik tubuhnya, tidak ada satu pun luka luar di tubuhnya, bahkan memar pun tidak tampak. Dan, seperti yang aku bilang sebelumnya, tidak banyak yang bisa kulakukan karena kecepatan pemulihan Lugalgin akan mengatasi semuanya tanpa bantuan. Yang dia butuhkan hanya istirahat. Dan, aku juga tidak ingin melihat kondisi tubuh Lugalgin."
Ketika mendengar Pak Barun, aku merasa dia tidak mengatakan semuanya. Di lain pihak, Emir dan Inanna menundukkan kepala ketika mendengarnya. Pasti mereka membicarakan hal yang rahasia.
"Ditambah, aku tidak tahu apa yang membuat Lugalgin menjadi seperti ini. Jadi, aku tidak bisa berbuat banyak. Dan aku tidak yakin kalian tahu apa yang Lugalgin lakukan, kan?"
__ADS_1
Pak Barun melempar pandangan padaku dan Mulisu. Namun, tidak kami tidak mampu menjawab pandangan Pak Barun.
"Maaf, Pak Barun. Lugalgin berjanji akan memberi penjelasan setelah semua ini berakhir."
Mulisu memberi sebuah penjelasan, yang menurutku, menghindar.
Tadi, saat aku mencoba mengakses video dan citra satelit di tempat itu, tiba-tiba semua visual menghilang. Aku menelisik dan mendapati ada virus di dalam jaringan. Virus itu baru, tapi aku beruntung karena infeksi tidak parah. Tidak! Lebih tepatnya, infeksi virus itu hanya terjadi di sekitar tempat kejadian perkara dan citra satelit, tidak di tempat lain. Karena ini, aku bisa menghilangkannya dan mengembalikan visual dengan cepat. Namun, sayangnya, pertarungan sudah selesai.
Di saat itu, hanya Mulisu yang bersama Lugalgin di tempat kejadian perkara. Setidaknya, seharusnya, dia bisa memberi sebuah keterangan atau kesaksian singkat. Namun, tampaknya dia sendiri tidak mau melewati wewenang dan menarik kesimpulan tanpa persetujuan Lugalgin.
"Cukup siapkan saja makanan sebanyak mungkin. Kita tidak mau Lugalgin tiba-tiba jalan ke kantin karena kelaparan saat bangun."
Akhirnya, Pak Barun keluar dari ruangan.
"Baik, aku menginginkan penjelasan detail."
"Iya, aku juga."
Emir menyuarakan pendapat yang sama dengan Mulisu.
"Baiklah, kalau begitu."
Kami bertiga duduk di sofa, di antara jendela dan ranjang Inanna. Inanna masih bangun dan duduk di atas ranjang.
Orang yang pertama memulai adalah Mulisu.
"Jadi, saat ini, Agade, Akadia, Guan, dan Quetzal sedang meringkus dan mencoba mengambil alih objek vital milik Apollo?"
"Ya, benar sekali."
"Aku tidak memiliki informasi yang pasti, hanya rumor karena saat ini informasi di pasar gelap sedang berantakan. Bagaimana?"
"Tidak apa."
"Baiklah. Pertama, ada yang mengatakan sejak awal Quetzal memang tidak ada niatan bergabung ke oposisi. Hal ini diduga karena saat pertemuan sebelumnya, Quetzal menyatakan dia hanya ingin menjadi penyeimbang kekuatan antara kedua fraksi. Dengan hancurnya Apollo, keseimbangan ini hancur. Karena sudah hancur, Quetzal melakukan apa yang normal untuk organisasi pasar gelap, mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari keadaan."
"Bisa juga...."
Mulisu termenung setelah mendengar kemungkinan yang pertama. Setelah Mulisu, Emir yang meminta penjelasan.
"Lalu, kemungkinan kedua?"
"Kemungkinan kedua adalah sejak awal Quetzal memang masuk untuk menghancurkan Apollo. Bukanlah sebuah rahasia lagi kalau Apollo suka bermasalah dengan organisasi lain. Jadi, alasan mengenai Quetzal menjadi penyeimbang hanyalah kebohongan. Alasan yang sebenarnya adalah mereka ingin membalas dendam pada Apollo."
"Masuk akal juga."
Setelah Emir, ganti Inanna yang masuk.
"Lalu, yang ketiga?"
"Yang ketiga, Quetzal memang sejak awal tidak memiliki rencana untuk berpartisipasi dalam perang pasar gelap ini. Mereka hanya mencari keuntungan di keadaan, layaknya organisasi pasar gelap normal."
Sebelum menjadi asisten Lugalgin, pekerjaanku adalah jual beli informasi di pasar gelap. Mengetahui informasi-informasi itu adalah hal yang mudah. Bahkan, aku bisa bilang Ibla yang dikabarkan sumber informasi terhebat Agade tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku.
__ADS_1
Namun, meskipun aku lebih baik dari Ibla, bukan berarti aku lebih layak mengelola Agade. Memiliki informasi dan mengetahui apa yang harus dilakukan dengannya adalah dua hal yang amat sangat berbeda. Dalam hal ini, aku bisa bilang Ibla lebih baik dariku.
Di saat itu, smartphone di genggaman bergetar. Aku memeriksa notifikasi dan melihat ada informasi baru masuk.
"Dan, tiba-tiba, Orion juga ikut melakukan hal yang sama. Yah, tidak heran sih. Kalau masih ingin melanjutkan perang pasar gelap ini, dia membutuhkan suplai dan sumber daya sebanyak mungkin, mengingat Orion akan seorang diri melawan tiga raksasa."
Mereka tidak menerima penjelasanku mentah-mentah. Tampak ada keraguan di wajah mereka. Yang mereka ragukan tentu saja bukan aku, tapi sumber informasi yang simpang siur. Jangankan mereka, aku saja meragukannya.
Namun, yang membuatku terkesima adalah, mereka masih mampu berpikir dengan tenang padahal baru saja diserang dan bahkan pimpinan mereka sedang terbaring di rumah sakit. Normalnya, organisasi lain akan terguncang untuk beberapa jam atau bahkan hari. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar kompeten atau hanya keberadaan Lugalgin yang bisa diabaikan.
Di saat itu, Mulisu mengambil smartphone dari saku. Karena tidak terdengar suara, pasti dia membuat smartphonenya dalam mode senyap, sama sepertiku.
"Yuan."
"Ya?"
"Mari mengajukan pertanyaan. Apakah nama Weidner dan Shanna ada di daftar yang tewas atau yang bertahan?"
"Sebentar,"
Aku mengetik nama yang dicari sementara Mulisu mendikte huruf per huruf.
"Mereka berdua adalah anak buah Karla. Jadi, sayangnya, mereka berdua ada di daftar yang bertahan,"
"Begitu ya...."
Mendengar jawabanku, Mulisu mengetik dan mengirim pesan.
"Ah, ngomong-ngomong soal Karla, ada kemungkinan tambahan. Karena Apollo dihancurkan oleh Lugalgin, dan penyebab semua ini adalah Lugalgin, ada kemungkinan dia akan mencari informasi mengenai keberadaannya dan menyerang."
"Menyerang? Ke sini? Tapi ini tempat umum. Banyak orang yang tidak terlibat dengan pasar gelap di sini." Mulisu meragukan ucapanku.
"Dan, apa menurutmu Karla akan memedulikannya? Selama ini, yang mengekang dia, adalah Apollo. Dengan hancurnya Apollo, tidak ada lagi yang mengekangnya. Dan lagi, dia bisa saja berdalih, 'ada orang umum di lapangan golf, tapi Lugalgin membunuhnya,'."
"Sial!"
"Jadi, menurutku, lebih baik kita bersiap untuk serangan dari Karla dan anak buahnya."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya