I Am No King

I Am No King
Chapter 341 – Orang Jahat


__ADS_3

Gawat! Ira adalah kabar buruk! Tanpa kotak arsenal, aku tidak akan bisa menang. Aku harus kabur secepat mungkin!


Dengan sepasang pisau, yang bisa kulakukan hanyalah memastikan pedang Ira tidak memotong tubuhku. Kalau menggunakan pistol bayonet, aku bisa menahan serangan Ira sambil melepas tembakan. Di saat seperti ini, aku sadar betapa istimewanya senjata di dalam peti arsenal.


"Lugalgin, kalau kamu mau meminta maaf dan bersujud pada Yang Mulia Paduka Ratu, aku akan membiarkanmu pergi."


"Hei! Aku tidak menghina Ibu Amana. Aku hanya mengatakan dia tidak layak menjadi Ratu kalau menggunakan ucapan Inanna."


"Bukan itu! Kamu bilang Yang Mulia Paduka Ratu mengutamakan nyawa orang tidak dikenal daripada nyawa Tera. Aku mau kamu meminta maaf karena mengatakan itu."


"Hah?"


Tiba-tiba saja Ira berhenti memantul di udara dan menghadapiku di atas tangga. Sambil terus bertukar serangan denganku, kami mulai menuruni tangga dengan perlahan.


Sambil menuruni tangga, aku memikirkan ucapan Ira baik-baik. Yang membuat Ira marah bukanlah karena aku menganggapnya tidak layak menjadi Ratu, tapi karena ucapanku yang mengasumsikan kalau dia mengorbankan Tera.


"Mana niat membunuh dan aura haus darah yang kau banggakan itu, Lugalgin?"


"Hah?"


"Kau sendiri kan yang bilang bisa kabur dari istana ini dengan bermodalkan niat membunuh dan aura haus darah?"


"Kalau kamu lebih kuat dari Ibu Amana, aku ragu niat membunuh dan aura haus darah bisa menghentikanmu."


"Tidak perlu menghentikanku. Dengan memancarkannya, setidaknya, kamu bisa menghambat pergerakanku. Kamu sadar akan hal ini, kan?"


Yah, Ira tidak salah.


"Kamu pasti menyadari kalau sisi utara istana adalah panti asuhan, kan? Makanya kamu tidak memancarkan aura haus darah dan niat membunuh."


"... oke, aku tidak mengira akan mendengar itu darimu, Ira. Dan kenapa kamu tiba-tiba membawa topik baru?"


Aku menghalau serangan Ira terus menerus sambil menuruni tangga. Gerakan kami yang saling menyerang dan menghindar mungkin tampak seperti koreografi tarian kalau dilihat orang normal.


"Reformasi kerajaan Bana'an, aku yakin kamu pasti akan melakukan sesuatu dari balik layar untuk menekan korban jiwa seminim mungkin, kan?"

__ADS_1


"..."


"Kamu bertanya kenapa aku membawa topik lain, kan? Ini jawabannya. Kamu dan Yang Mulia Paduka Ratu sama saja! Dari generasi ke generasi, kenapa sih kalian inkompeten sangat suka bermain jadi orang jahat?"


"..."


Oke, kejanggalan yang kurasakan mulai hilang.


"Kalau kalian inkompeten mau mengatakan seluruhnya, tanpa berpikir untuk memikul beban seorang diri, semua tragedi ini bisa dihindari. Yang Mulia Paduka Ratu tidak perlu bermusuhan dengan Tuan Putri Rina."


"... ibu Amana tidak membunuh Tera dengan sukarela, kan? Atau, jangan-jangan, ibu Amana sama sekali tidak menginginkan kematian Tera, kan?"


Ketika mendengar tebakanku, tebasan Ira semakin cepat dan kuat. Tampaknya, dia marah.


"Kalau sudah mengetahui hal itu, kenapa kamu terus mengatakan Yang Mulia Paduka Ratu membunuh Tera di depannya tadi? Kamu berkali-kali mengatakan kalau Rina dendam pada Yang Mulia Paduka Ratu karena beliau membunuh Tera. Apa kamu sengaja melakukannya?"


"Ya, aku sengaja."


"Kamu!"


Ira yang termakan emosi tidak lagi menebaskan pedangnya dengan elegan dan tajam. Kini, dia mengayunkan dengan kuat.


"Kenapa?"


Ira menjulurkan pedang ke arahku dengan pandangan haus darah. Sejak datang ke istana, ini adalah aura haus darah pertama yang kurasakan. Atmosfer udara terasa begitu berat, seolah menekanku. Aura haus darah ini memang tidak separah yang bisa aku pancarkan. Namun, aku tidak akan bilang kecil.


"Kenapa aku sengaja mengatakan semua itu pada Ibu Amana?"


Ira mengangguk.


"Karena aku ingin tahu motif Ibu Amana yang sebenarnya."


"Motif yang sebenarnya?"


"Tadi, saat mabuk dan tertidur, Ibu Amana menyebut nama Rina dan Tera dengan penuh kasih sayang. Seorang ibu yang bengis, tega membunuh putra dan memusuhi putrinya, tidak akan memanggil mereka dengan penuh kasih sayang di tidurnya. Bukan hanya kasih sayang. Dari suara ibu Amana, aku juga merasakan kesedihan. Karena itulah aku membahas pembunuhan Tera berkali-kali, mencoba mencari tahu yang sebenarnya."

__ADS_1


"Dan?"


"Ibu Amana selalu terdiam ketika aku membahas Tera yang dibunuh olehnya. Bahkan dia tidak mau memalsukan ekspresi atau sekedar berbohong. Hal ini membuktikan kalau dia benar-benar merasa bersalah."


Setelah mendengar analisisku, aura haus darah yang dipancarkan oleh Ira menghilang. Tampaknya, analisisku benar. Ada cerita lain di balik tewasnya Tera dan dendam Rina. Bahkan, cerita Ibu Amana tentang keluarga utama tidak bisa sepenuhnya aku percaya. Ada kemungkinan dia meletakkan kebohongan di beberapa bagian, demi meneguhkan posisinya sebagai ibu jahat.


Aku bisa menebak jalan pikiran ibu Amana setelah Ira memberi petunjuk mengenai bermain sebagai orang jahat. Kenapa aku bisa menebak jalan pikir ibu Amana? Karena aku melakukan hal yang sama. Seperti ucapan Ira, meski di mulut mengatakan akan jatuh banyak korban, aku sebenarnya sudah menyiapkan rencana di balik layar untuk menekan angkanya.


Untukku, cara ini adalah yang paling efektif dan efisien untuk mengalihkan pandangan orang. Kalau aku bilang akan menekan jumlah korban sekuat tenaga, orang akan menganggapku naif kalau gagal. Kalau berhasil, aku akan dianggap pahlawan. Namun, keduanya sama-sama membuatku menjadi pusat perhatian. Dan, aku benci menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, bermain menjadi orang jahat adalah pilihan yang aman.


Apakah ibu Amana memiliki jalan pemikiran yang sama denganku? Mungkin ya, mungkin tidak. Bisa saja ada alasan lain yang mendorong ibu Amana. Atau mungkin, sifat keibuannya yang muncul. Entahlah, aku tidak yakin. Selama ini, kiblatku dalam penentuan sifat Alhold adalah diriku, Etana, Ami, dan Rina. Ada kemungkinan pemikiran seseorang akan berubah setelah memiliki anak. Dan, belum ada seorang pun dari kami yang memiliki anak.


Sejauh perbincangan tadi, reaksi Ibu Amana yang kontradiksi hanyalah saat aku membahas kematian Tera. Respons ketika aku menceritakan rencana reformasi Bana'an dan juga filosofi Raja oleh Inanna terlalu jelas, terlalu gamblang. Seorang Ratu, kepala kerajaan, tidak mungkin menunjukkan semua reaksi dan emosi itu dengan jelas. Apalagi dia seorang Alhold. Bisa dibilang, menurutku, hampir semua reaksinya sudah direncanakan. Ya, hampir.


"IRA! BERHENTI!"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2