
Ukin berhenti sejenak lalu mengambil dua pedang lain di udara dan memegangnya di tangan kanan. Dia tidak menggenggam ketiga pedangnya dengan kepalan, melainkan di antara jari. Ukin mengayunkan assault rifle ke arahku tapi berhasil kuelak. Namun, ternyata, Ukin tidak mengayunkan assault riflenya. Dia melemparnya dan mengambil tiga pedang lain. Kini, Ukin memegang enam pedang di kedua tangan.
Aku melempar assault rifle di tangan kiri dan mengambil senapan laras panjang dengan bayonet. Gerakanku lebih cepat, jadi aku bisa menusuknya dengan bayonet dengan segera walaupun terlambat. Namun, Ukin bergerak cepat dan memasukkan bayonetku di antara tiga pedang di tangan kanan. Dengan putaran tangan, dia mencoba melempar bayonetku. Namun, aku menahannya.
Karena Ukin berusaha melempar bayonetku, aku bergerak ke samping kiri untuk mengimbanginya. Tidak mau aku berputar ke belakangnya, Ukin juga mengikuti pergerakanku. Kami pun mulai bergerak ke samping. Kami berdua sudah melayang di atas ketinggian stadium, jadi tribune tidak langsung hancur. Namun, aku lupa dengan tubuh lipan raksasaku. Begitu aku yang di kepalanya keluar stadium, tubuh lipan menghantam dan menghancurkan stadium. Kini, kami bertarung di jalanan.
Sementara satu tangan terkunci, satu tangan yang lain masih saling menyerang dan mengelak serangan lawan. Selama waktu ini juga, tebasan-tebasan lain mendarat di tubuh kami. Jalan pikiran kami sama. Kalau hanya luka gores kecil, tidak usah dielak atau dihindari, tapi kalau luka yang fatal, harus.
Jubah anti peluru mulai hancur dan mengganggu pandangan. Aku meluncurkan beberapa senjata tajam dari kepala lipan dan juga pedang di tangan kananku ke arah Ukin. Sementara dia mengelak senjata yang kuluncurkan, aku membuang jubah ini dan mengambil senjata lain dari kepala Lipan. Ukin melempar jubahnya ke arahku, bermaksud menghalangi pandanganku. Namun, aku berhasil menebasnya.
Walaupun jubah yang dikenakan Ukin adalah anti peluru, dengan ketajaman pedang dan sudut menebas yang tepat, aku bisa memotongnya dengan mudah.
"Jadi, apa kamu sudah bisa menyimpulkan kenapa aku membenci Lugalgin?"
"Ya. Sangat bisa. Jawabannya sederhana, kamu iri."
Ukin tidak menolak ucapanku mentah-mentah, dia masih tersenyum sambil bertukar serangan.
Semua bangunan di tempat ini tidak ada yang lolos dari kerusakan. Pilihannya adalah hancur karena terkena hantaman lipan raksasa, berlubang oleh gerakan pedang Ukin, menjadi tempat mendarat peluru, atau terkena ledakan granat.
"Aku tidak mengelaknya. Aku memang cemburu."
Aku mengerahkan tenaga di tangan kiri, membuat bayonetku dan tiga pedang Ukin terlepas. Pedang lain meluncur dari kepala lipan ke tanganku dan Ukin mengambil pedang lain yang melayang. Kami kembali bertukar serangan.
"Lugalgin, dengarkan aku. Ukin dan aku adalah keluaran Panti Asuhan Sargon."
[...]
Lugalgin tidak memberi respon, tapi aku akan mengasumsikan dia mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukannya di tengah pertarungan? Kenapa tidak nanti saja setelah pertarungan kita selesai?"
"Karena belum tentu aku masih hidup nanti. Sedangkan sebelum pertarungan terakhir ini, aku sibuk dengan persiapan Agade."
Ukin melompat mundur dan meluncurkan puluhan pedang ke arahku. Aku meluncurkan puluhan pedang dari kepala Lipan. Sebagian pedang masih lolos, membuatku terpaksa mengelaknya dengan pedang di tangan.
Ukin kembali mendekat. Namun, kali ini, dia yang mendorongku mundur.
"Begitu ya. Namun, jangan salahkan aku kalau konsentrasimu sempat buyar karena berbicara di tengah pertarungan. Aku tidak akan ragu-ragu."
"Benarkah demikian?"
Aku membuat kepala lipan ini terburai menjadi ratusan senjata. Jika dilihat dari jauh, kepala lipan ini seolah menjadi butiran pasir. Namun, aku hanya melakukannya sejenak untuk menjatuhkan tubuhku ke bawah, memberi jarak, sambil melakukan serangan. Sementara kepalanya hancur, ekor lipan bergerak ke samping, menghancurkan gedung yang menghalangi dan menuju Ukin. Sabetan ekor sukses membuat Ukin terpental dan menembus tiga dinding gedung.
"Nama Ukin yang sebenarnya adalah Arya. Kami sama-sama anak panti asuhan Sargon."
Sebuah gedung terangkat dan terlempar ke arahku. Namun, karena lipan ini tersusun atas ribuan senjata, gedung yang dilempar Ukin tidak memberi efek yang berarti. Lipan ini terburai untuk sesaat, membiarkan gedung terjatuh, dan kembali terbentuk.
Tidak berhenti pada satu gedung. Dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ukin terus melempar gedung ke arahku. Dengan pengendalian besi, dia mengangkat kerangka gedung dan melemparnya.
Aku tidak ingin menguraikan dan membentuk lipan ini berkali-kali. Ketika menguraikannya, aku harus menghentikan peluru yang meluncur dari tubuh lipan. Kalau begitu, sama saja pertahananku akan terbuka untuk sejenak. Oleh karena itu, aku memilih menghancurkan gedung yang datang dengan sabetan ekor lipan.
"Aku tiga tahun lebih tua dari Tasha. Arya lebih tua setahun dari Tasha. Jadi, sebenarnya, kami berdua sama-sama lebih tua darimu, gin. Aku tidak pernah bertemu denganmu langsung karena saat berumur 12 tahun, aku sudah keluar panti asuhan. Arya, di lain pihak, keluar sebelum aku."
Aku tidak mau hanya menerima serangan. Lipan ini pun turun ke atas jalan dan bergerak cepat. Kali ini, aku tidak menghancurkan gedung yang datang, hanya menghindarinya.
Melihatku yang bergerak di jalan, di antara gedung, Ukin pun merobohkan dua gedung untuk menguburku. Karena material yang terbuat dari aluminium dan ferum sedikit jika dibandingkan semennya, Ukin tidak bisa menggerakkan gedung dengan cepat seperti aku menggerakkan lipan raksasa. Oleh karenanya, aku masih bisa memukul gedung itu dengan ekor lipan dan membuatnya roboh ke tempat lain.
"Arya memiliki pengendalian ferum dan aluminium. Dan, kebetulan, sebagian besar alat rumah tangga terbuat dari ferum dan aluminium. Gara-gara ini, dia tidak mengikuti aturan panti asuhan yang mengharuskan kita tidak bergantung pada pengendalian. Tidak jarang dia merasa spesial dibandingkan anak panti asuhan yang lain."
__ADS_1
Aku menebaskan pedang ke samping kiri. Tepat di sebelah kiriku, Ukin tiba-tiba muncul dengan tebasan pedang. Tubuh Ukin sudah penuh luka. Bahkan, di beberapa bagian tubuh, terlihat kaca yang menancap. Pertukaran serangan menjadi jarak pendek kembali. Dan, tentu saja, di sekitar kami masih ada ribuan peluru beterbangan setiap menitnya, membuat lawan siaga.
"Selama di panti asuhan, karena pengendaliannya, Arya mengundang rasa iri anak lain. Mereka ingin Arya juga tidak menggunakan pengendalian untuk kegiatan sehari-hari, sama seperti mereka. Ditambah dengan sifat Arya yang congkak dan arogan, hubungannya dengan anak panti asuhan pun semakin memburuk. Bahkan–"
Ukin memotong, "aku hanya menggunakan apa yang aku miliki sejak lahir! Apakah aku salah?"
"Menggunakan apa yang kamu miliki sejak lahir tidak salah. Yang salah adalah kesombongan dan sikapmu yang merendahkan anak panti asuhan lain. Dulu, kamu selalu menganggap semua orang di bawahmu. Bahkan sifat ini masih awet beberapa tahun ketika aku bertemu denganmu, ketika kamu menjadi murid Lacuna."
Serangan Ukin semakin intensif. Aku pun harus meningkatkan intensitas serangan untuk mengimbanginya.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya