
Setelah sampai di lantai baru, Ira berjalan menelusuri lorong ditemani satu orang sementara aku duduk di dekat pintu masuk. Namun, sayangnya, kriminal di lantai ini juga tidak ada yang sesuai dengan proporsi Ratu Amana.
"Kalau boleh tahu, Ira, kenapa kamu mencari orang yang proporsi tubuhnya mirip dengan Ratu Amana? Maksudku, normalnya orang tidak terlalu peduli karena mereka akan dibunuh, kan?"
"Karena Tuan Putri Rina membenci Yang Mulia Paduka Ratu Amana."
"Karena Rina membencinya?"
Ira mengangguk. "Tuan Putri Rina yang membenci Yang Mulia Paduka Ratu pasti telah hafal semua fitur fisik beliau. Intinya, perlu usaha ekstra untuk mengelabui Tuan Putri Rina."
Ah, ya, aku paham. Memang, tanpa orang sadari, kebencian lebih mudah membuat orang memperhatikan pihak lain. Ketika membenci seseorang, pasti kamu akan memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan seperti kebiasaan, fitur fisik, dsb. Sebagian besar mengatakan supaya bisa melancarkan balas dendam dengan lebih mudah. Namun, hingga kini, tidak ada alasan pasti.
"Tampaknya wanita ini cocok."
Di kejauhan, Ira berhenti di depan salah satu sel.
"Silakan, Permaisuri."
"Terima kasih."
Aku merasa bersalah karena agen ini harus membawa tab dan kursiku.
Aku menerima tab yang disodorkan dan melihat foto tahanan yang didatangi oleh Ira. Seorang perempuan paruh baya dengan rambut ... hitam? Bangsawan?
Perempuan paruh baya ini dulunya bangsawan yang dihukum penjara seumur hidup karena penggelapan dana besar-besaran. Penggelapan dana yang dilakukan membuat gelar bangsawan keluarganya diturunkan oleh Raja. Selain dihukum penjara seumur hidup, keluarganya juga resmi memutus tali hubungan.
Yang membuatku menyeringai adalah fakta kalau perempuan ini tidak memiliki keturunan. Selain itu, ada keuntungan lain. Keluarga bangsawan perempuan ini termasuk ke dalam keluarga bangsawan yang pergi "berlibur" ke luar Bana'an. Yah, mengingat mereka asal memutus tali hubungan keluarga, aku tidak akan terkejut kalau keluarganya bukanlah bangsawan baik-baik.
Tidak ada catatan orang yang menjenguknya juga selama beberapa tahun terakhir. Tanpa keluarga atau koneksi dengan siapa pun di luar penjara, tidak akan ada yang mencarinya kalaupun dia dijadikan dobel. Di saat ini, aku jadi penasaran apa yang membuat perempuan ini masih tetap hidup.
Sementara aku membaca keterangan di tab, Ira dan satu agen masuk ke dalam sel. Karena duduk di ujung lorong, aku tidak tahu apa yang dilakukan Ira. Namun, aku bisa memperkirakan kalau dia memegang dan mengukur tubuh kriminal itu baik-baik, memastikan fitur dan ukuran tubuh kriminal itu memang mirip dengan Ratu Amana.
Tidak lama kemudian, Ira dan agen keluar dari sel.
"Bagaimana, Ira?"
"Perempuan ini sedikit lebih kurus dari tubuh Yang Mulia Ratu Amana. Namun, perbedaannya terlalu kecil, jadi, menurut saya, perempuan ini bisa digunakan."
__ADS_1
***
"Bagaimana keadaanmu, sayang?"
"Tidak baik. Aku –"
Rina tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia kembali memuntahkan makanan ke kloset. Sementara itu, aku mengelus punggungnya secara perlahan, mencoba membuatnya nyaman.
Terkadang ada perempuan yang tidak mengalami mual atau morning sickness saat hamil. Aku sempat mengira Rina adalah satu dari perempuan anomali itu karena sejak awal tidak ada tanda-tanda. Namun, kini, aku harus menarik ucapanku.
Aku pun sempat berkonsultasi dengan Ibu, Ibu Filial, dan Lord Susa. Mereka bilang sebisa mungkin hindari pedas dan manis. Namun, yang repot, Rina ngidam manis. Lalu, apa yang harus kulakukan?
Inanna sempat mengatakan morning sickness umumnya keturunan. Saat mendengar penjelasan Inanna, aku sangat mengharapkan keberadaan ibu Amana di sini. Sebagai Ibu, dia pasti bisa memberi nasihat berdasarkan pengalamannya, kan?
"Oke, tampaknya sudah."
"Kamu yakin."
Tiba-tiba saja Rina membentak dan bergegas keluar dari kamar mandi.
Umm, salah apa aku? Entahlah.
Aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan kloset. Dan, seperti biasa, Rina langsung meminum kuah sup yang dibuat oleh Emir dan Inanna setelah mual.
Ding dong
Bel berbunyi. Aku pun bergegas mengambil tas di ruang tamu dan membuka pintu.
"Ah, Om Lugalgin. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Maru."
Maru bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sampai saat ini, aku penasaran kenapa Maru memanggilku dengan sebutan om. Padahal dia memanggil Emir, Inanna, dan Rina dengan sebutan kak. Secara umur, aku ini lebih muda dari ketiga istriku. Seharusnya aku yang lebih cocok dengan panggilan kak.
"Emir, Inanna, Rina, aku berangkat dulu ya!"
"Ya..."
Ketiga istriku menjawab bersamaan dari dalam rumah. Namun, tidak seorang pun mengantarku. Di satu sisi, aku sedih. Namun, aku juga tidak bisa protes karena perhatian mereka sedang fokus pada Rina.
"Belum ada dua bulan menikah, sudah berangkat kerja ga diantar. Aku ga tahu kalian akrab banget atau malah ga akur."
"Sudahlah..."
Lord Susa, tentu saja, hanya menjahiliku.
Seperti biasa, aku masuk ke dalam mobil untuk menuju kantor. Orang mungkin berpikir aku bisa bekerja dari rumah karena tugasku hanya memberi arahan dan menerima laporan. Namun, tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Jalur komunikasi militer yang aman, yang dibuat oleh Bana'an, adalah ke kantor, bukan ke rumahku.
Well, alasan itu setengah benar sih. Alasan yang sebenarnya adalah aku tidak mau keceplosan membicarakan tentang Ibu Amana dan Tera di depan Rina. Dan lagi, hari ini aku harus pergi ke kantor karena ada pertemuan penting.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1