
"AAHHHHHH!!!!!!"
Teriakan terdengar dari luar. Aku penasaran apa yang dilakukan Inanna ke Maila.
Aku menggendong tubuh Illuvia di depanku, menahan punggung dan lututnya.
"Apa kamu harus membawanya dengan cara princess carry?"
Aku bisa merasakan tekanan dan aura dingin dari suara ini.
Aku tersenyum. "Hanya ini penghormatan yang bisa kulakukan padanya."
Aku sampai di depan Emir. Dia masih belum bangkit, masih duduk di lantai.
"Apa dia lebih penting dariku? Aku juga terluka!"
Dalam keadaan normal, aku akan berusaha membujuk Emir untuk memberi penghormatan pada yang tiada. Namun, saat ini, dia terluka. Dan, setelah tadi memarahi aku, aku khawatir kecemburuannya akan mengambil alih.
"Begini saja,"
Aku meletakkan Illuvia sejenak dan membuka peti arsenal palsu yang dia miliki. Setelah membuang semua senjata yang ada di dalamnya, aku memasukkan tubuh Illuvia ke dalam. Kini, aku membawa tiga buah peti arsenal, dua terikat di pinggang dan satu di punggung.
Selain itu, aku juga memutuskan untuk menggendong Emir dengan teknik princess carry. Tanpa memberi aba-aba, tiba-tiba wajah Emir mendekat. Tentu saja aku tidak menghindar. Aku membiarkan Emir memberi ciuman tepat di bibir.
"Terima kasih ya, Gin."
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Kamu adalah calon istriku. Sudah selayaknya aku menyelamatkanmu."
"Bukan," Emir menolak. "Terima kasih kamu tidak menerima ciuman perempuan itu."
Saat ini aku merasa damai dan tenang ketika mendengar ucapan Emir. Tidak ada aura haus darah atau niat membunuh di baliknya. Benar-benar murni. Namun, di lain pihak, aku tidak mau tahu apa yang akan terjadi kalau tadi tidak menghindari ciuman Illuvia. Dan, aku tidak mau membayangkannya.
Orang normal mungkin akan berpikir sebenarnya aku bisa saja menerima ciuman Illuvia dan masih bisa meredam amukan Emir setelahnya. Meskipun bisa meredam amukan Emir, menurut kalian, berapa banyak kerusakan yang akan disebabkan oleh Emir? Dia bisa membuat turret tank dan artileri. Kalau mau, dia bisa menghancurkan bangunan apa pun dengan mudah.
Ya, itu alasan logisnya. Alasan yang sebenarnya hanyalah aku tidak mau membuat Emir marah, mengamuk, atau bersedih. Ketika kamu peduli pada seseorang, sebenarnya, semua alasan logis yang muncul hanyalah pembenaran atas perasaanmu, tidak lebih.
Emir tersenyum ketika aku membawanya keluar, menemui Inanna. Sambil berjalan, aku mendengar cerita Emir kenapa dia bisa terluka dan apa saja yang dia lakukan hingga akhir. Aku sangat terkejut ketika dia mengatakan menendang organ vital Illuvia. Apa dia tidak keterlaluan?
__ADS_1
Namun, ketika mengingat apa yang terjadi pada Lili, aku tidak bisa banyak protes. Di pasar gelap, tidak ada aturan seperti perang antar negara. Setidaknya Illuvia langsung tewas. Dia tidak akan menderita.
Ketika tiba di pinggir taman, aku tidak mengira akan melihat pemandangan ini.
"Ini....."
Aku melihat sebuah tubuh terbaring di atas rumput. Tidak! Daripada terbaring, lebih tepatnya terpatri. Terlihat pedang dan pisau menancap di lengan dan paha tubuh itu, membuatnya menempel ke tanah.
"Ah, Lugalgin. Selamat datang. Seperti permintaanmu, aku tidak membunuhnya."
Inanna menyambutku dengan senyum lebar yang sangat hangat dan cerah, kalau kamu mengabaikan cipratan darah yang menempel di wajah dan tubuhnya.
"Apa ini tidak berlebihan?"
"Menurutku tidak," Inanna menjawab. "Awalnya aku ingin memotong kedua tangan dan kakinya. Namun, aku khawatir dia akan mati karena shock berat yang dialami. Jadi, aku hanya menusuk kedua paha dan lengannya."
Memotong kedua tangan dan kakinya?
Calon istri pertamaku, Emir, menendang organ vital lawan. Lalu, calon istri kedua, Inanna, ingin memotong kedua tangan dan kaki lawan. Apakah dua calon istriku memang sebengis ini? Tampaknya, aku belum mengenal dua calon istriku sepenuhnya. Masih banyak hal yang harus kupelajari tentang dua calon istriku ini.
Di lain pihak, fix, aku tidak akan pernah mengirim mereka berdua ke medan peperangan internasional. Mereka terlalu kejam dan bengis. Kalau terjun ke medan peperangan internasional, meski menang, mereka tetap akan diadili atas kejahatan perang. Ya, mereka memang lebih cocok bekerja di pasar gelap dan intelijen dimana tidak ada aturan mengenai kejahatan perang.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu menginginkan perempuan ini hidup?"
"Ada dua hal. Pertama," aku mengalihkan pandangan ke Maila. "Maila, dimana Fahren?"
"Fahren?"
Maila tidak langsung menjawab. Perlahan, tubuhnya mulai bergetar pelan. Tidak lama kemudian, sebuah tawa keras terdengar dari mulutnya.
Apa yang terjadi? Apa perempuan ini sudah gila karena lukanya?
"Hahahahaha! Lugalgin, saat ini, Fahren pasti sudah mencapai istana. Dia pasti sudah bertemu Permaisuri Rahayu. Dengan kamu berada di tempat ini, Permaisuri Rahayu tidak perlu takut lagi atas ancamanmu. Begitu Yang Mulia Paduka Raja dan Permaisuri membongkar rencanamu untuk mengkudeta kerajaan ini, semua ini sudah selesai. Aku, menang."
Ah, begitu ya. Ternyata ini yang membuatnya tertawa begitu senang.
"Ah, tidak kusangka endingnya akan antiklimaks seperti ini."
__ADS_1
"Antiklimaks untuk kita. Tapi untuk ayah, ini adalah sebuah plot twist."
"Yap. Sebuah plot twist untuk Fahren. Mind blown."
Aku, Emir, dan Inanna mengobrol santai seolah ini adalah film dimana Fahren dan Rahayu adalah tokoh utama. Di lain pihak, tawa Maila tidak lagi terdengar. Dia terdiam. Wajahnya yang sebelumnya sempat berwarna, kini kembali pucat. Bahkan, jauh lebih parah dari sebelumnya.
"Antiklimaks? Plot twist? Tidak mungkin...."
"Well, tidak heran sih kamu tidak menyadarinya. Orang normal pasti akan mempercayainya. Maksudku, dia bahkan membuatku mematahkan tangannya. Hanya orang ekstrem yang akan menduga sebaliknya."
Orang normal akan menggunakan logika, "tidak mungkin Permaisuri Rahayu di balik ini semua. Dia juga korban. Tangannya patah. Tidak mungkin dia akan menyakiti dirinya sendiri kan?". Kalau hanya sekedar lecet, mungkin orang masih bisa ragu. Namun, karena sampai patah, sulit diragukan.
"Maila, biar aku mengatakan sebuah plot twist untukmu. Yang merencanakan kudeta bukanlah aku, tapi Permaisuri Rahayu. Permaisuri Rahayu adalah dalang dibalik tewasnya anggota keluarga kerajaan."
"Tidak.....mungkin......"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1