
Suara muncul dari depan, dari Lord Susa. Di belakang kaki Lord Susa, Maru kecil berdiri. Dan, tiba-tiba saja, Maru kecil mendatangi Inanna.
"Kakak sakit?"
Inanna tersenyum dan mengusap kepala Maru kecil. "Kakak tidak apa-apa. Hanya kecapekan."
"Kalau kakak?"
"Sama, kak Emir juga hanya kecapekan."
"Maru," Lord Susa masuk. "Tolong kabari pelayan untuk menyiapkan makanan di kamar kakak-kakak ini ya."
"Baik bu!"
Maru kecil berlari, meninggalkan kami dengan penuh semangat. Apa dia semangat karena bisa membantu ibunya? Atau karena bisa membantu kami? Ah, tidak penting itu.
"Aku benar-benar kagum. Kalian bisa menghibur istri terakhir dengan sepenuh hati bahkan tidak menunjukkan kekhawatiran. Normalnya, di kondisi seperti ini, istri pertama dan kedua akan saling menunjukkan kesengsaraan, ingin memamerkan betapa pentingnya sang suami bagi mereka. Berusaha menunjukkan kalau mereka adalah yang paling layak untuk sang suami."
Sambil memuji, Lord Susa melilitkan kabel perak ke tubuh kami. Dia membantu kami berdiri dan berjalan.
Aku beruntung Lord Susa tidak membuat kami melayang dengan kabel perak. Jujur, itu akan sangat memalukan.
"Kami tidak mungkin melakukan hal itu," Inanna menjawab. "Saat ini, hanya Rina yang sudah hamil. Sebagai istri yang belum hamil, kami harus membantunya sepenuh hati. Kalau Rina melihat betapa hancurnya kami, pikirannya bisa terbebani, menyalahkan dirinya. Kalau terlalu banyak tekanan, ada kemungkinan dia akan keguguran. Kami tidak mau dia keguguran."
"Dan, tanpa perlu diperlihatkan, sudah jelas kalau yang paling terpukul dengan kondisi saat ini adalah Rina. Dia benar-benar panik. Bahkan, Rina yang biasanya menggunakan logika pedas justru menggunakan emosi, bahkan sampai dia menggunakan kata 'intinya'. Di lain pihak, justru aku dan Inanna yang memaksanya dengan logika pedas. Dan, aku benci menggunakan logika pedas."
Ya, benar. Menurutku, Rina adalah yang paling terpukul. Ketika kami mengatakan Lugalgin menghilang, dia sekuat tenaga bersikeras kalau Lugalgin bisa mati, seolah-olah dia akan mati ketika hal itu terjadi.
Rina, mungkin di mulut kamu bilang kalau pernikahan dengan Lugalgin hanyalah pernikahan diplomasi. Namun, menurutku tidak. Aku bisa melihat kalau Rina telah menjadikan Lugalgin sebagai tumpuan hidupnya. Bahkan, di hari pernikahan, aku bisa melihat Rina yang terentak ketika Lugalgin memisahkan kening, seolah dia tidak mau momen itu berakhir.
Di lain pihak, kami benar-benar beruntung karena Mulisu menggerakkan militer dan pasar gelap Bana'an kemarin malam. Berkat Mulisu, kami bisa memberi bualan soal Lugalgin membuka jalan dan peluang untuk semua orang. Well, memang sih Lugalgin umumnya seperti itu. Namun, aku tidak yakin dia melakukan hal itu kali ini.
Di lain pihak, Mulisu layak mendapat tepuk tangan dan ucapan terima kasih. Dia berhasil menjadi kepala kerajaan yang jauh lebih baik dari ibu.
"Dan karena itulah aku bilang kagum. Kalian benar-benar tidak mementingkan diri sendiri seperti keluarga kerajaan pada umumnya."
__ADS_1
***
"Aduh, Lugalgin, kamu apa-apaan sih. Bikin repot saja."
Sudah 24 jam lebih sejak Lugalgin menghilang. Dalam 24 jam ini, semua pihak bergejolak. Ibla merasa bersalah. Dia beranggapan dirinya gagal sebagai ketua Agade. Untuk mengalihkan Ibla dari pikiran negatif, aku memberi perintah untuk Agade menjalankan semua sabotase di perbatasan. Dengan sabotase Agade, militer Bana'an bisa melaju mulus.
Di lain pihak, Akadia dan Quetzal justru marah. Aku tidak mau mereka membuat keonaran di Bana'an karena emosional. Jadi, aku perintahkan mereka untuk menyabotase militer Ursia. Dan ya, tentu saja aku sudah tahu kalau Quetzal dan Akadia sudah menyelinap ke Ursia sejak beberapa minggu lalu.
Lugalgin, Lugalgin. Kebiasaanmu masih belum berubah dari dulu. Dimulai dengan meninggalkan Agade hingga sekarang kamu menghilang. Jujur, aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali harus membersihkan kekacauan yang kamu buat. Namun, tidak mungkin juga aku mengeluh. Lugalgin lah yang menuruti permintaan egoisku untuk menyelamatkan anak-anak korban perdagangan. Dia juga yang memberiku kesempatan menutup buku lama, Ukin.
Emir, Inanna, Rina, di masa depan, aku minta kalian bekerja ekstra keras agar Lugalgin tidak semakin merepotkanku. Apalagi, sekarang, posisiku bukan hanya pimpinan Agade, tapi kepala kerajaan juga. Tanggung jawabku jauh lebih besar dari yang dulu.
"Ibu, waktunya makan siang."
Suara anak laki-laki muncul dari balik pintu setelah ketukan.
"Iya, Bemmel, ibu datang."
Oke. Waktunya istirahat.
Aneh, sepengetahuanku, setelah Lugalgin membunuh keluarga kerajaan, Bemmel membenci ibunya karena ditelantarkan. Namun, aku tidak melihat hal itu sama sekali. Saat menemui Bemmel untuk pertama kali, dalam wujud permaisuri Rahayu, aku berpikir dia akan sengit, membenciku. Namun, entah kenapa, dia bisa menyambutku dengan senyum. Bahkan, dia langsung memelukku.
Apa dia begitu bahagia karena ibunya, yang selama ini tidak pernah memberi perhatian, kini menjadi peduli? Ya, bisa jadi. Namun, di lain pihak, aku merasa bersalah. Kalau Bemmel berharap ibunya menjadi baik, aku sudah mengkhianati keinginannya. Aku bukan ibu Bemmel, Permaisuri Rahayu. Aku hanyalah orang lain yang memiliki wujud Permaisuri Rahayu.
"Kalau boleh tahu, Ibu sedang mengerjakan apa sih? Kok rasanya sibuk terus?"
"Aduh, Bemmel. Banyak sekali yang harus ibu kerjakan. Mulai dari perlindungan Rina, lalu perang dengan Mariander dan Nina, dan yang terakhir persiapan implementasi tatanan baru kerajaan."
Bemmel terhenti. Laki-laki yang hampir seperti perempuan ini melihatku dalam.
"Pergantian tatanan kerajaan? Apa maksud ibu?"
Tampaknya, Rina dan peperangan tidak menarik perhatian Bemmel. Dia lebih tertarik pada urusan internal kerajaan.
"Bemmel tahu sendiri kan banyak bangsawan yang saat ini sedang berlibur ke luar kerajaan. Ketika berlibur, tidak sedikit bangsawan yang menelantarkan wilayahnya. Gara-gara ini, ibu terpaksa mengambil alih pekerjaan bangsawan di wilayah-wilayah tersebut agar warga tidak terlantar. Efeknya, pekerjaan ibu semakin menumpuk. Jadi, ibu berpikir untuk mengimplementasikan sistem baru di kerajaan yang bisa mengurangi pekerjaan ibu."
__ADS_1
"Caranya?"
"Ibu akan memberi rakyat kekuatan. Ke depannya, rakyat akan memiliki hak untuk memilih bangsawan yang berkuasa. Kalau tidak puas, rakyat berhak meminta pergantian bangsawan yang memerintah. Jadi, ke depannya, masing-masing wilayah tidak akan menerapkan sistem oligarki lagi, tapi aristokrasi semi demokrasi. Ya, rencana detailnya masih dalam proses. Ibu juga harus memastikan Bangsawan yang berkuasa tidak sekedar menjadi budak rakyat."
Bemmel membuka mulutnya lebar. Matanya tampak berkilau kagum.
"Wah, ibu jenius. Rencana ibu hebat. Dengan begitu, pekerjaan ibu tidak akan banyak lagi, kan? Jadi, ibu bisa menemani Bemmel lebih sering, kan?"
Aku tersenyum. "Sebenarnya, ini rencana kakakmu, Emir. Dia ingin agar kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama."
Tentu saja tidak. Rencana Emir tidak ada urusannya dengan Permaisuri Rahayu dan Bemmel. Dia hanya berusaha memastikan agar Lugalgin tidak menjadi Raja.
"Wah, setelah Kak Emir pulang dari bulan madu, Bemmel harus menyampaikan terima kasih."
Aku tersenyum melihat Bemmel yang loncat jingkrak-jingkrak. Meski bukan anak sendiri, aku masih bahagia melihat Bemmel yang senang. Jujur, kondisi ini mengingatkanku ketika masih di panti asuhan Sargon. Secara teknis, Bemmel sudah menjadi yatim piatu, tapi dia tidak tahu kalau ibunya sudah tiada.
Maafkan aku Bemmel karena telah merebut posisi ibumu. Namun, sebagai gantinya, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu.
"Sudah, Bemmel. Kita makan siang dulu yuk."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1