
Aku terdiam sejenak, mencari jawaban yang tepat. Aku terbiasa bernegosiasi tanpa membawa urusan personal, jadi jawaban normal dan rasional sangat mudah keluar. Namun, hal ini justru membuatku sedikit tumpul ketika harus membawa perasaan. Aku juga tidak mungkin membawa soal Alhold, kan?
"Sederhana. saya tidak mau dipisahkan dari Rina."
Aku berhenti sejenak, memperhatikan reaksi para Feodal Lord. Dan, sesuai dugaanku, mereka tertegun dengan mulut setengah terbuka. Tampaknya, mereka tidak mengira jawabanku.
"Seperti yang dijelaskan oleh Lord Susa, kalau Rina menjadi Ratu, mau tidak mau dia harus menceraikanku. Status sebagai warga Kerajaan Bana'an juga harus dicabut ketika dia resmi menjadi Ratu. Namun, kalau Rina hanya menjadi Ratu dalam nama, tanpa kuasa berarti, tidak akan ada yang protes dimana dia tinggal dan apa yang dilakukan.
"Saat ini, setelah menjadi suami istri, aku melihat banyak sisi Rina yang sebelumnya tidak kuketahui. Hari demi hari adalah sebuah pengalaman baru. Melihatnya tersenyum dan bersenda gurau dengan kedua istriku yang lain, saya tidak akan pernah bosan dengan pemandangan ini. Apalagi ketika Rina, sesekali, mengelus perutnya, berbicara pada anak pertama kami.
"Kalau Rina menjadi Ratu, kami akan terpisah. Bagiku yang sekarang, sulit membayangkan untuk menjalani hari-hari tanpa melihat Rina."
Entah sejak kapan, pandanganku tidak lagi fokus pada para Feodal Lord. Pandanganku tidak fokus pada apa pun di ruangan ini. Yang memenuhi pandangan ini adalah bayangan Rina, Emir, dan Inanna.
Tanpa disadari, aku sudah melamun dan terdiam beberapa saat.
"Ah, maaf. Ini adalah pertama kalinya saya membawa urusan personal ke meja negosiasi, jadi agak kaku."
"Tidak apa, Lugalgin," Lord Susa merespons. "Justru kamu membuat kami yakin kalau kamu masih manusia dengan moral."
Hey! Hanya karena nilai moral yang kupegang berbeda, bukan berarti aku tidak punya moral! Dan apa maksudmu aku masih manusia? Tentu saja aku manusia!
Lord Susa mengambil alih. "Sekali lagi. Ke depannya, kalau sistem Perserikatan atau Federasi ini diterapkan, Tuan Putri Rina sebagai Ratu hanya memiliki wewenang dan kuasa di sekitar hubungan internasional dan jika ada masalah antar Feodal Lord. Mungkin Tuan Putri Rina juga akan datang di konferensi seperti ini.
"Namun, kalau kita menunjuk pemimpin baru, Tuan Putri Rina akan lebih jarang di Kerajaan Nina. Bahkan, dia hampir tidak memiliki wewenang. Tuan Putri Rina hanya akan datang sebagai saksi dan mediator jika ada konferensi seperti ini."
Terlihat para Feodal Lord mengangguk. Meski tidak menunjukkan senyum lebar, aku bisa melihat ujung bibir mereka meliuk ke atas. Mereka tampak bahagia.
Tentu saja mereka bahagia. Setelah ini, mereka akan menjadi pemimpin wilayah sepenuhnya. Kekuasaan dan wewenang mereka akan bertambah jika dibanding sebelumnya. Dan jika gelar Ratu yang akan disandang Rina hanyalah hiasan, mereka bisa meletakkan orang kepercayaan di pusat pemerintahan.
"Jadi, bagaimana, ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian?"
***
"Wow, tempat ini sepi sekali ya."
__ADS_1
Sosok ini, Ibla, memberi komentar sambil mengikutiku.
Setelah aku pergi meninggalkan istana, Yang Mulia Paduka Ratu memberhentikan beberapa pelayan lain. Tidak sedikit juga pelayan yang memilih untuk mengundurkan diri. Namun, bukan itu alasan kenapa istana ini sepi. Alasan kenapa istana sepi adalah karena ini malam. Berbeda dengan Kerajaan lain, pelayan di istana Kerajaan Nina mendapatkan waktu istirahat untuk pulang atau kembali ke asrama di malam hari. Jadi, mereka hanya bekerja ketika matahari bersinar.
Pada malam hari, hanya aku dan beberapa pelayan elite yang tetap bekerja pada malam hari. Namun, selain aku, pelayan yang lain sudah pulang sekitar jam 8 atau 9 setelah makan malam dan alat makan dicuci. Hanya aku yang tetap menjaga Yang Mulia Paduka Ratu dan tuan Bilad selama 24 jam.
Mengikuti rencana Lugalgin, saat ini aku membawa pengganti Yang Mulia Paduka Ratu. Untuk memudahkan pekerjaan, Lugalgin membiarkan salah satu anak buahnya, Ibla, untuk membantuku. Sementara aku berjalan di depan, menunjukkan jalan, Ibla mengikuti dengan membawa pengganti Yang Mulia Paduka Ratu di bahu, di dalam karung.
Si pengganti ini tentu saja belum siap. Bana'an hanya memiliki fasilitas untuk mengubah wajah. Mereka tidak memiliki fasilitas pencucian otak yang memadai, tidak seperti Kerajaan Nina. Jadi, aku harus mencuci otak si pengganti di istana Kerajaan Nina.
Di lain pihak, meski Bana'an tidak memiliki fasilitas pencucian otak, aku benar-benar kagum pada topeng wajah silikon yang mereka produksi. Laki-laki ini, Ibla, beberapa kali muncul di depanku tapi tidak pernah menggunakan wajah yang sama. Awalnya, dia muncul sebagai laki-laki sipit, kemudian bangsawan berambut hitam, kemudian orang tua, dan kali ini dia tampil sebagai laki-laki tua petinggi militer kerajaan Nina.
Aku tidak tahu wajah asli laki-laki ini. Satu-satunya yang membuatku yakin dia adalah Ibla adalah aura keberadaannya. Kalau seandainya aku tidak bisa membedakan orang dari aura keberadaan, bisa dipastikan dia bisa mengelabui dengan mudah.
"Ah, kepala pelayan? Anda kembali?"
Seorang pelayan perempuan mendatangiku, bergegas.
"Helena? Kamu belum pulang?"
"Ah, begitu ya."
"Selamat malam, Tuan Aron. Maaf karena saya tidak memberi segera hormat."
Pelayan ini langsung membungkukkan badannya 90 derajat.
"Ah, tidak apa-apa. Aku sendiri, sebenarnya, hanya menemani Kepala Pelayan Ira."
"Helena," aku menyela. "Kembali ke dapur dan sampaikan pada yang lain kalau kamu dan yang lain sudah boleh pulang. Biar aku yang mengurus Yang Mulia Paduka Ratu."
"Eh? Tapi–"
"Tidak apa." Aku menyela. "Aku akan memastikan Yang Mulia Paduka Ratu tidak memarahimu. Tapi, mungkin, besok aku akan meminta bantuan kalian untuk membersihkan botol minuman di ruang makan."
"Baik!"
__ADS_1
Setelah membungkuk, memberi hormat, Helena pun pergi meninggalkan kami.
"Ternyata informasinya benar, ya. Kalau aku menggunakan sosok ini, tidak ada seorang pun yang mempertanyakanku walaupun membawa karung besar yang mencurigakan."
"Para pelayan hanya akan berpikir kau meringkus penyusup. Penampilan seorang Jenderal Mayor berkunjung dan kebetulan meringkus penyusup, seperti sekarang, bukanlah yang pertama."
Yah, biasanya aku yang meringkus para penyusup. Namun, itu tidak penting.
Aku berjalan, bergegas ke ruang makan. Begitu tiba, aku benar-benar tidak mampu memercayai mataku. Terlihat Tuan Bilad yang sudah tidak sadarkan diri di atas lantai bersama beberapa botol anggur. Di lain pihak, Yang Mulia Paduka Ratu masih menenggak anggur dari botol dengan penuh semangat. Pasti Yang Mulia Paduka Ratu mencekoki Tuan Bilad dengan botol anggur.
"Ah, Ira, hai! Kamu kembali!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1