I Am No King

I Am No King
Chapter 131 – Bisikan Iblis


__ADS_3

Tiga orang yang tersisa masih hidup, tapi, entahlah, tubuh mereka penuh dengan lubang. Hal yang membuat mereka masih hidup adalah peluru yang melayang tidak bersarang di organ vital. Ada kemungkinan kecil mereka bertahan hidup. Namun, kemungkinan itu hanya terjadi kalau mereka dilarikan ke rumah sakit dalam waktu setengah jam.


 


Jaga-jaga, aku mengambil satu senapan di jalan dan melepaskan tembakan ke tangan mereka, mencegah kemungkinan peluru lain melayang.


 


"AAHHHH"


 


"KYAAHHHH"


 


Sebenarnya, kalau sedang berbaik hati, aku sudah melepaskan tembakan ke kepala mereka. Namun, sayangnya, aku sedang tidak ingin berbaik hati. Jadi, aku biarkan saja mereka mati perlahan, tersiksa.


 


Tiga orang tersisa, dua perempuan dan satu laki-laki. Aku melihat ke sekitar, tampaknya sebagian besar laki-laki sudah kubunuh duluan.


 


Aku berjalan ke satu perempuan.


 


Tubuh perempuan ini tergeletak. Mata menangis. Aku mengingat wajah dan rambut bob pendeknya. Nama perempuan ini adalah Nammu, putri dari Chez. Chez adalah adik pertama ayah. Dengan kata lain, Nammu adalah sepupuku.


 


"Nammu, kalau kamu di sini, apa berarti aku bisa mengasumsikan om Chez yang mengirimmu."


 


"Kamu tidak perlu tahu, inkompeten."


 


"Hooh, meski sudah di ambang kematian, kamu masih bisa memandangku rendah ya. Aku suka orang yang masih sombong meski berada di pintu kematian."


 


Aku meletakkan pedang di samping dan duduk di atas perut Nammu.


 


"Gahhh."


 


Nammu langsung memuntahkan darah ketika aku mendudukinya.


 


Aku tidak duduk dengan dua kaki mengapit tubuh Nammu, tapi menghadap ke samping.


 


"Kalau kalian masih sombong bahkan di ambang kematian, rasanya, dadaku sangat lega."


 


"Inkompeten, jauh-jauh kau dari Nammu!"


 


Laki-laki yang mengingatkanku adalah saudara jauh, namanya Lyo.


 


"Apa kamu mau kukirim ke dunia lain lebih cepat?"


 


"LAKUKAN SAJA! LEBIH BAIK KAMI MATI DARIPA–"


 


Dor


 


Satu kepala pecah. Dengan begini, enam peluru di dalam shotgunku pun habis.


 

__ADS_1


Yang baru saja aku tembak bukan Lyo, tapi saudara lain yang masih hidup, yang adalah perempuan. Kini, tersisa dua orang yang masih hidup, Nammu dan Lyo.


 


"Aku masih berbaik hati pada kalian, jadi aku belum mau membunuh kalian. Jangan salah gunakan kebaikanku."


 


Tentu saja tidak. Aku berbohong. Justru aku berbaik hati pada saudara yang baru saja tewas. Kalian berdua? Tentu saja tidak. Aku hanya memberi harapan palsu pada kalian. Sudah beberapa menit berlalu sejak kalian terkena ledakan. Waktu kalian semakin sempit.


 


"Jadi, aku tanya lagi. Apa benar om Chez yang mengirim kalian? Kalau kalian tidak memberi jawaban, aku anggap benar om Chez yang menyuruh. Kalau benar dia yang menyerang, maka tidak salah kalau aku menyerang keluarga om Chez, kan?"


 


"Tidak! Hentikan! Ayah tidak ada hubungannya dengan serangan ini!"


 


Nammu langsung panik begitu aku membahas serangan balik.


 


"Adikmu, Corba, masih duduk di kelas tiga SD ya? Aku penasaran, kira-kira bagaimana reaksinya saat beberapa hari lagi dia pulang dan mendapati ayah dan ibunya sudah tewas? Tidak. Tidak usah repot-repot beberapa hari lagi. Aku penasaran, besok, bagaimana reaksi adikmu ketika menyadari kakaknya telah tiada?"


 


"Ti, tidak.... tidak.... Corba."


 


"Tidak berhenti di situ. Ketika dia mengetahui fakta kalau aku yang membunuhmu, dia pun akan menyerangku. Di saat itu, yah, aku pun terpaksa membunuhnya."


 


Setelah aku mengucapkan nama adiknya, Nammu akhirnya rusak. Air mata mengalir deras. Bahkan, kini, dia merengek memanggil nama adiknya.


 


"Corba... maafkan kakak. Kakak tidak bisa pulang malam ini. Maafkan kakak besok tidak bisa mengantar Corba ke sekolah."


 


Aku jadi teringat dengan Ufia yang tiba-tiba rusak saat Jeanne menyebutnya beban.


 


 


"Kau! Berani-beraninya!"


 


"Lalu, kau, Lyo, apa kau tidak peduli dengan keluargamu?"


 


"Justru sebaliknya. Keluargaku akan bangga. Berkat serangan ini, aku akan membangkitkan kemarahan mereka. Lebih baik kau bersiap saat mereka membalas dendam. Walaupun kami tewas, kepala kami akan tetap tegak. Kami tidak akan pernah sudi memiliki satu nama denganmu."


 


"Ah, begitu ya."


 


Aku bangkit dan mendekati Lyo.


 


"Apa yang mau kau lakukan, HAH?"


 


Tanpa memberi peringatan, aku menancapkan pedangku ke perut Lyo.


 


"GAH!"


 


Aku menarik, lalu menancapkan pedang, menariknya lagi, menancapkannya lagi. Pedangku tidak menancap terlalu dalam, jadi dia tidak akan mati cepat-cepat. Aku hanya menyiksanya. Namun, kali ini, dia sudah tidak memiliki kemungkinan hidup lagi walaupun sekarang dilarikan ke rumah sakit.


 


"KAUU....."

__ADS_1


 


Ternyata laki-laki ini belum rusak juga ya. Tampaknya, keluarganya bukanlah hal yang terpenting. Jadi, aku tidak bisa merusaknya dan membuatnya berubah pikiran.


 


Aku meninggalkan Lyo dan kembali ke Nammu. Kali ini, aku duduk di sampingnya, tidak di atas perutnya.


 


"Uwahhh.... Brutal."


 


Aku mengabaikan komentar Shu En. Selain Shu En, aku bisa merasakan kehadiran Emir dan Inanna.


 


Pandanganku fokus ke Nammu.


 


"Nammu, kalau kau tidak ditangani dalam waktu dua puluh menit, kematianmu adalah pasti. Kalau kau bersumpah untuk meninggalkan keluarga Alhold, setidaknya hingga mendapat izin dariku, aku akan membiarkanmu hidup. Yah, tapi, aku tidak bisa janji siapa saja anggota yang masih hidup ketika kau mendapat izin itu, sih."


 


"Se, setidaknya..... tolong.... jangan bunuh.... Corba."


 


Yang membuat kalimatnya putus-putus bukanlah karena rasa sakit, tapi tangisan.


 


"Kalau hanya Corba, aku bisa berjanji. Jadi, kau bersumpah?"


 


"A, aku...."


 


"Jangan coba-coba!"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2