
Mulisu pun berhenti bergerak dengan liar. Baju pasien yang dia kenakan sudah basah kuyup oleh keringat. Bahkan hampir transparan. Namun, dia masih berusaha mengejar nafasnya dengan tersengal-sengal.
Aku menyingkirkan tanganku agar dia bisa bernafas lebih mudah. Bukan hanya Mulisu yang mengejar nafas, aku juga sama. Pakaianku pun juga basah kuyup oleh keringat. Padahal, aku hanya menahan kepala dan mulut Mulisu. Aku tidak menyangka akan selelah ini. Aku tidak yakin apakah aku lelah fisik, atau mental, atau keduanya.
“Ibla, tolong kamu ambilkan tembaga. Kita harus segera mengecek apakah serum ini berhasil atau tidak.”
“Ti, tidak perlu,” Mulisu menyela. “Aku... bisa... aluminium.”
Mungkin Mulisu ingin mengatakan “aku juga bisa mengendalikan aluminium”. Meski aluminium bukan pengendalian utamanya, selama Mulisu sudah memelajarinya, dia pasti bisa melakukannya.
Aluminium di ruangan ini adalah.... banyak. Ada sendok, garpu, rangka jendela, tiang infus, dan lainnya. Kalau begitu, aku tidak perlu mencari lagi.
Mulisu menoleh ke kanan, ke tiang infus. Tanpa pemberitahuan apapun, tiang itu melayang.
“Kekuatan....ku.... kembali.”
Setelahnya, tiang infus tersebut langsung terjatuh dengan suara keras.
Aku melihat ke wajah Mulisu dari atasnya. Dia masih bernafas, hanya menutup matanya. Entah dia tidak sadarkan diri, atau pingsan, atau hanya tertidur setelah melewati satu menit rasa sakit itu. Namun, melihat wajahnya yang tersenyum, aku berani bertaruh dia hanya tidur.
“Gin, boleh aku bertanya?”
“Ya?”
“Kenapa kamu menyuruh yang lain keluar? Padahal, kalau ada mereka, kita berdua tidak akan terlalu kerepotan menahan tubuh Mulisu.”
“Ibla, jangan lupa kalau Mulisu adalah orang terkuat di Agade. Apa menurutmu kita bisa menunjukkan pemandangan ini, dimana Mulisu sedang lemah, pada orang lain?”
Aku tersenyum sambil menyeka air mata di pipi Mulisu. Aku harus memastikan tidak ada bekas air mata di wajahnya.
“Sekarang, kamu boleh membiarkan mereka masuk.”
Aku melepas jaket dan menggulung lengan baju. Bagian bawah tangan kiriku sudah agak bengkak. Darah pun mengalir dengan cukup deras. Aku melihat ke lengan jaket. Dan, benar saja, bagian yang digigit Mulisu sudah robek, bahkan hampir terlepas.
Aku mencoba memegang tangan kiri dan merasakan rasa sakit yang menjalar. Namun, aku masih bisa menggerakkan tanganku. Skenario paling buruk, retak. Skenario paling baik, hanya memar. Yang jelas, sudah terjadi pendarahan.
“GIN!”
Emir dan Inanna langsung menghampiriku. Mereka melihat tangan kiriku dengan wajah yang tertekuk.
Di lain pihak, Illuvia hanya melihat ke arah Mulisu. Dia pasti ingin berteriak dan mencaci makiku. Namun, tampaknya dia terdiam karena melihat Mulisu yang tertidur dengan senyum dan tanganku yang mengeluarkan darah.
“Tidak usah perhatikan tanganku. Yang penting pengendalian Mulisu sudah kembali.”
“EH?”
Ekspresi Emir dan Inanna berubah drastis ketika mendengar ucapanku.
“Ibla, segera minta seseorang untuk mengganti perban di tangan Mulisu dan pasang kembali infusnya. Aku ingin kamu mengantarku ke kota.”
Aku berjalan meninggalkan ruangan ini dengan diikuti Emir, Inanna, dan Ibla. Tanpa aku mengatakan apapun, Inanna sudah mengambil jaketku yang tergeletak di lantai.
“Gin, kamu mau masuk kerja?” Emir bertanya.
“Bagaimana kalau kamu istirahat dulu, gin? Tanganmu butuh dirawat. Dan lagi, pakaianmu sudah basah kuyup oleh keringat, kan?”
__ADS_1
Inanna memeriksa seluruh tubuhku yang tidak mengenakan jaket. Di balik kemejaku, masih ada satu lapis kaos. Namun, tampaknya, kaos ini tidak mampu menahan keringatku agar tidak menyentuh kemeja.
“Tidak apa,” aku menjawab singkat. “Inanna, tolong ambilkan handphoneku di dalam jaket.”
“Tapi Gin....”
Meski Inanna tampak ingin protes, dia masih memberikan handphoneku.
Dengan handphone ini, aku membuat panggilan.
“Halo, Shu En, aku ingin kamu menyiapkan perawatan untukku di kantor.”
[Hah? Perawatan? Ada apa? Kok tiba-tiba sekali?]
“Karena agen schneider dan intelijen negara tidak akan dirawat di fasilitas publik, anggap aku ingin melihat perawatan yang akan didapat.”
[Ah.... baiklah?]
“Bagus. Jemput aku di taman dekat rumahku dalam waktu 30 menit.”
***
Aku memasukkan handphone yang baru saja menerima telepon dari Lugalgin. Saat ini aku, Ur, Mari, Simurrum, dan Uru’a sedang memilah-milah dokumen. Kami mencoba mencari siswa SMA atau SMP yang mungkin berpotensi menjadi agen schneider. Menurut Lugalgin, memulai pendidikan mata-mata setelah mereka lulus pendidikan setingkat SMA kurang efektif.
“Siapa itu?”
Ur, laki-laki pendek berambut hitam, bertanya padaku. Aku selalu ingin bertanya nama keluarga Ur, tapi Lugalgin melarangku. Kalau dari peringatan Lugalgin, aku memperkirakan Ur sudah dibuang oleh keluarganya, mungkin setelah kalah dalam perebutan warisan.
“Lugalgin,” aku menjawab. “Dia bilang ingin melihat perawatan non publik yang akan didapatkan oleh agen schneider.”
“Ka–Lugalgin mengatakan itu? Apa dia terluka?”
“Entahlah, aku tidak yakin. Bisa saja dia hanya membawa orang lain yang terluka, atau mungkin hanya ingin melihat-lihat.”
“Ah, untunglah.”
Entah berapa kali Mari membenarkan panggilannya pada Lugalgin. Perempuan pendek ini selalu hampir memanggil Lugalgin dengan kak atau kakak. Aku rasa, tidak akan ada yang keberatan kalau kamu memanggil Lugalgin dengan Kak.
“Ngomong-ngomong, kenapa dia meneleponku? Kenapa bukan kalian?”
“Lugalgin tidak tahu kalau hari ini kami di sini.”
“Hari ini, kami mengatakan pada Ibla, yang mungkin dilanjutkan pada Lugalgin, kalau kami pulang.”
Simurrum dan Uru’a saling melanjutkan kalimat. Mereka seperti partner saja.
“Kalian lanjutkan pencariannya ya. Aku mau mengurus permintaan Lugalgin.”
__ADS_1
“Oke!”
Mereka berempat menjawabku bersamaan sementara aku pergi meninggalkan ruangan.
Sebelumnya, aku hanya bisa berbicara akrab dengan Mulisu. Namun, setelah melalui beberapa hari bersama, aku mendapati mereka berempat mudah diajak berbicara. Bahkan, Simurrum dan Uru’a yang tampilannya seperti berandal jalanan adalah orang yang mudah diajak berbicara.
Namun, aku masih belum tahu asal mereka semua. Ketika aku bertanya pada Mulisu, dia hanya menjawab, “Anggap saja kami kenalan Lugalgin di pasar gelap. Dan, mereka berhutang nyawa pada Lugalgin,”.
Sejauh yang aku periksa, Lugalgin hanya aktif di pasar gelap sebagai penjual barang antik. Tidak ada info lain. Namun, aku melihat nama Lugalgin sebagai satu orang yang dekat dengan salah satu perempuan yang dijual oleh keluarga Cleinhad.
Aku kekurangan data, tapi instingku mengatakan dia memiliki hubungan dengan pembantaian keluarga Cleinhad. Mungkin dia meminta bantuan keluarga Alhold atau membayar mercenary untuk melakukannya. Entahlah, aku tidak yakin.
Namun, aku bisa bilang kalau dia tidak lemah. Dia mampu menyelamatkan Selir Filial tanpa luka parah. Dia, sendirian, melawan puluhan orang di gedung itu. Dia sama sekali tidak lemah.
Aku sangat penasaran dengan Lugalgin. Namun, instingku mengatakan lebih baik aku tidak mencari informasi lebih jauh. Oleh karena itu, aku menanti hingga Lugalgin menceritakannya padaku secara langsung. Ya, aku hanya bisa berharap.
Untuk sekarang, aku hanya perlu menyiapkan perawatan yang dia minta.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1