I Am No King

I Am No King
Chapter 304 – Semakin Parah


__ADS_3

"Aku pulang."


"Gin!"


Inanna menjemputku di pintu. Namun, dia tidak tampak bahagia, panik. Baru saja aku melepas sepatu, Inanna sudah menarikku.


"Ada apa?"


"Rina, Gin! Rina!"


"Ada apa dengan Rina?"


Inanna tidak memberi jawaban. Dia hanya menarikku tanpa jawaban. Kami masuk ke kamar di lantai satu. Di dalam, terlihat Emir yang berusaha merengkuh Rina, tapi gagal. Semua usaha digagalkan oleh Rina yang berontak.


"Tera! Tera!"


Namun, yang repot adalah, Rina tidak sadar, matanya terpejam. Ini adalah kasus histeris Rina yang paling parah sejak Tera tewas.


Aku masuk begitu Inanna melepas tanganku. Dengan paksa, aku menahan tangan kanan Rina dan langsung merengkuhnya, memeluknya erat.


"Tidak apa, Rina. Tidak apa."


Rina tidak langsung tenang. Dia masih berontak. Namun karena aku memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih besar dari dirinya, Rina tidak bisa melepaskan diri. Perlahan, Rina semakin tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya, Rina tidur dengan tenang. Dia kembali tertidur dengan pipi lembap, bekas tangisan.


Rina adalah inkompeten sehingga dia memiliki fisik yang lebih kuat dari orang normal. Ditambah lagi Rina juga mendapat latihan berat dari ibunya. Jadi, tidak heran kalau dia bisa menggagalkan usaha Inanna dan Emir untuk menenangkannya.


Aku menggendong Rina di depan badan, princess carry. Bersama Inanna dan Emir, kami pun keluar dari kamar. Angin segar akan lebih bermanfaat untuk Rina daripada ruang ber-AC.


Tanpa menunggu instruksi, Inanna dan Emir sudah bergerak. Sementara Inanna menyiapkan bantal di sofa, Emir membuka jendela.


"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi?"


"Tadi malam adalah giliranku menemani Rina." Emir menjawab. "Tadi malam, dia juga histeris. Namun, histerisnya seperti biasa, aku masih bisa menenangkannya. Pagi ini, dia tidak bangun awal seperti biasa. Aku kira mungkin dia kelelahan dan butuh tidur lebih. Jadi, aku tidak terlalu ambil pusing. Namun, saat aku dan Inanna memasak untuk sarapan, tiba-tiba kami mendengar suara Rina."


"Saat mendengarnya, kami langsung berhenti memasak. Awalnya aku mencoba menenangkannya, tapi gagal. Kemudian, Emir juga melakukannya, tapi gagal juga. Saat itulah kamu datang."

__ADS_1


"Begitu ya..."


Repot juga. Kalau fase histeris Rina sudah sampai pada pergerakan fisik, otomatis, hanya aku yang bisa menenangkannya. Inanna dan Emir tidak akan bisa melakukan apa-apa.


"Tera ... Tera ..." Rina memanggil Tera dalam tidurnya.


Aku membelai rambut Rina dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Kalian bisa lanjutkan masak. Biar aku yang akan menangkannya."


"Tolong ya gin."


"Iya. Jujur, kami tidak tega melihatnya yang seperti ini."


Emir dan Inanna mengungkapkan kekhawatiran mereka sebelum pergi ke dapur. Aku ingin membantu, tapi Rina membutuhkan perhatian lebih saat ini.


Di lain pihak, tiba-tiba saja sebuah ingatan melintas di benakku. Belum ada setahun yang lalu, aku mengajari Emir memasak. Aku teringat ketika dia menangis saat memotong bawang, atau bagaimana jarinya penuh luka gara-gara tidak piawai memotong.


Lalu, sekarang, kalau membuka lemari Emir, kamu tidak akan menemukan pakaian dalam mahal. Dulu, pakaian dalam Emir memiliki harga dan kualitas top. Namun, repotnya, pakaian dalam ini harus dicuci menggunakan tangan dengan air hangat. Ketika dicuci dengan mesin cuci kain menjadi rusak. Sejak saat itu, dia ganti pakaian dalam menjadi yang normal. Kini, dia sudah bisa memasak, bersih-bersih, dan mencuci sendiri.


Kalau dilihat di kalender, waktu yang kami habiskan, tinggal satu rumah, belum mencapai satu tahun. Namun, melihat perkembangan Inanna dan Emir, semua itu terasa begitu jauh, seolah terjadi bertahun-tahun yang lalu.


Rina, sekarang, kami masih tertutup dan histeris. Aku penasaran, ke depannya, akan jadi seperti apa kamu.


"Gin, makan sudah siap."


"Oke."


Ketika bernostalgia, tidak terasa waktu sudah berjalan lama.


"Ah, Gin?"


Suara pelan terdengar.


"Ah, Rina, kamu sudah bangun."

__ADS_1


Rina adalah tipe yang setelah bangun langsung aktif, seperti Inanna. Dan, karena itu, tidak heran kalau dia langsung lompat, melepaskan diri dari pelukanku.


"Kenapa aku tidur di sini? Dan kenapa kamu memelukku?"


Aku menghela nafas. "Rina, ada yang perlu kita bicarakan."


Rina memandangku dalam, menahan nafas. Dia menanti kata yang akan muncul dari mulutku.


"Tapi, sebelumnya, kita sarapan dulu."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2