
"Jadi? bagaimana?"
"Aku salah paham. Dia memang
sepertiku...."
Seorang laki-laki, berambut coklat panjang
dikuncir dan dagu lebar, memberi jawaban. Dia adalah Etana. Saat ini, Etana
sedang melihat video di ruang utama.
Kelompok pemberontak memiliki markas yang
terletak di kota mati, reruntuhan. Kota mati itu disulap sehingga memiliki
bangunan bawah tanah. Bangunan bawah tanah inilah yang menjadi markas True One.
Desain markas tersebut memiliki banyak pintu, memastikan
mereka tidak terjebak jika diserang.
Di samping Etana, seorang perempuan dengan
warna dan model rambut yang sama, ikut melihat video. Shera melihat ke video
yang diputar, tapi belum bisa memahami ucapan rekannya.
"Bisa tolong jelaskan? Maksudku,
bagaimana dia seperti kamu? Aku tidak paham jalan pikiran kalian, orang-orang
yang rela melakukan operasi demi menghilangkan kekuatan orang lain."
Cerita yang diberikan Etana pada
rekan-rekannya adalah dia mampu menghilangkan kekuatan orang ketika orang
tersebut berada di pandangannya. Jadi, Etana menyatakan kalau mata yang
dimilikinya adalah mata palsu. Namun, hal itu tidak mengganggu penglihatannya.
Meskipun rekan-rekannya ragu, tapi mereka
tidak memiliki pilihan selain percaya ketika menyadari ucapan Etana, mengenai
pengendalian yang hilang, benar. Dan, secara kebetulan, cerita yang
diberikan Etana dan Lugalgin, yang diberikan pada Inanna, adalah benar.
"Coba kamu lihat pada bagian ini."
Etana mengambil remote televisi dan memutar
balik video yang mereka tonton. Video yang mereka tonton adalah rekaman
pertandingan Lugalgin di battle royale, yang tersebar luas di internet.
Akhirnya, rekaman berhenti ketika Lugalgin melepaskan sarung tangannya, sebelum
menghadapi Ufia.
"Baik, coba lihat baik-baik di sini. Aku
akan menjalankannya pelan-pelan."
Video tersebut kembali berjalan maju, tapi
hanya seperempat kecepatan normal. Semua gerakan di dalam video menjadi sangat lambat.
Shera melihat baik-baik momen
ketika Lugalgin menekan Ufia ke tanah dan melepaskan tembakan.
Etana menghentikan rekaman.
"Sudah paham?"
"Uuu...belum..." Shera menggelengkan
kepala.
"Ah.... ya sudah, biar aku
jelaskan," Etana memutar balik lagi video hingga Lugalgin melepas sarung
tangan. "Di sini, apa yang Lugalgin lakukan?"
"Ung, melepas sarung tangan?"
"Ya, melepas sarung tangan. Menurutmu
kenapa itu?"
"Um.... karena dia mulai serius?
Maksudku, beberapa orang menganggap bertarung dengan sarung tangan adalah tanda
ketidakseriusan kan?"
"Setengah benar. Bagian dia mulai serius
benar, tapi bukan karena tanda ketidakseriusan. Biar aku jalankan lagi."
Etana menjalankan video tersebut. Kali ini,
videonya berhenti ketika Lugalgin menekan Ufia ke tanah.
"Baik, di sini, apa kamu melihat ada yang
aneh?"
Shera terdiam. Dia melihat ke rekaman tersebut
dengan saksama. Namun, tidak peduli selama apapun dia melihat ke rekaman
tersebut, dia tidak bisa menemukan keanehan di rekaman itu.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Ahh..." Etana mendengus. "Coba
lihat baik-baik ke tangan perempuan itu. Apa kamu tidak merasa aneh ketika
pedangnya terjatuh? Sebelumnya, dia tampak mengangkat pedang besar itu dengan
mudah. Namun, di sini, kenapa kok seperti pedangnya menjadi begitu berat,
seolah-olah dia...."
Etana tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia
menunggu, berharap Shera mampu melanjutkan ucapannya.
"Tapi, bukankah itu normal? Maksudku,
tampaknya, konsentrasi perempuan itu pecah ketika laki-laki itu, Lugalgin,
menekan kepalanya hingga ke tanah."
"Tidak, tidak, tidak...." Etana
mengoreksi Shera. "Kalau perempuan itu adalah orang yang tidak terbiasa
bertarung, mungkin benar. Namun, dia adalah Regal Knight, kesatria elite di
Bana'an. Bahkan, dia sudah menjadi juara pertandingan itu satu kali. Kamu
sendiri tidak langsung kehilangan konsentrasi ketika lawanmu menerjang
kan?"
"Iya juga ya...." Akhirnya, Shera
mulai dapat menyamakan pendapat dengan Etana. "Jadi, menurutmu?"
"Berbeda denganku yang mengganti mata,
tampaknya dia mengganti tangannya. Hal ini lah yang membuat pengendalian
perempuan itu menghilang ketika dia menyentuhnya."
"Ah, begitu ya." Shera terdiam
sejenak. Dia mencoba mencerna ucapan Etana dengan baik. "Lalu, sekarang,
apa yang akan kita lakukan? Dia sudah menggagalkan rencana kita satu kali. Dan
sekarang, dengan Putri Inanna menjadi calon istrinya, ada kemungkinan dia akan
kembali menggagalkan rencana kita kalau Putri Inanna memintanya, kan?"
"Ah, iya. Soal itu..."
***
Seorang laki-laki tua terduduk di balkon. Dia
melihat ke pemandangan laut yang tersebar di belakang mansion bergaya klasik.
Dengan sebuah cerutu, laki-laki tua itu menambah kenikmatan kopi yang baru
diminum. Meski tidak terlihat sehelai rambut di kepalanya, tapi janggut dan
kumisnya menjalar panjang tidak menyambung, menunjukkan kalau dia memiliki
nenek moyang dari barat. Laki-laki tua itu adalah Enlil Alhold, kepala keluarga
Alhold saat ini.
Umurnya sudah hampir 70 tahun, tapi
belum terlihat tanda-tanda dia akan melepaskan posisi kepala keluarga pada
Barun, yang di masa depan akan diteruskan pada Ninlil. Untuk laki-laki dengan
usia lanjut, badannya terlihat cukup fit, bahkan atletik.
"Paman,"
Seorang laki-laki datang dari dalam mansion,
menuju ke Enlil.
"Ada apa?"
"Inkompeten itu kembali masuk
berita."
"Kali ini berulah apa lagi dia?"
"Berita bilang, berkat jasanya di
Mariander, Raja Arid memberikan salah satu putrinya kepada Lugalgin sebagai
istrinya."
Laki-laki itu menekankan kata "berita
bilang" untuk memperjelas kalau itu bukanlah ucapannya.
Enlil mengambil cerutunya dari mulut,
membiarkannya di tangan.
"Lalu, apa perempuan itu sudah ada di
Bana'an."
"Dari info yang kami dapat, perempuan itu
__ADS_1
sudah berada di rumah inkompeten itu."
"Kalau inkompeten itu menerima perempuan
itu, berarti Barun dan Yueni sudah menyetujuinya. Dasar, mereka benar-benar
tidak memiliki niatan untuk menurutiku hingga akhir ya." Enlil terdiam.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak memiliki sehelai pun rambut. "Segera
panggil inkompeten itu. Aku mau dia menemuiku."
"Tapi, paman, kalau kita langsung
memanggilnya tanpa melalui Barun dan Yueni, apa ini tidak akan memantik
masalah?"
"Aku tidak peduli!" Enlil
mengabaikan peringatan keponakannya. "Panggil inkompeten itu! Aku mau dia
sudah ada di depanku minggu ini juga!"
****
Satu minggu setelah kasus penyerangan pada
Provinsi Afee, Selir Filial tidak lagi memiliki wilayah kekuasaan. Semua
wilayah kekuasaannya dialihkan ke Selir yang lain. Hal ini
disebabkan oleh pengkhianatan putranya.
Sebagai gantinya, Selir Filial beserta
putrinya, Ninshubur, dikirim ke Bana'an sebagai duta besar. Pemasukan yang dia
terima pun menurun drastis. Jika dibandingkan dengan pemasukan ketika dia
memiliki wilayah kekuasaan, kurang dari sepersepuluh.
Ketika Raja Arid mengumumkan akan memberikan
Inanna pada Lugalgin, sebagai hadiah atas kerja keras menekan
pemberontakan, bangsawan dan selir lain menganggap Selir Filial sudah tidak
memiliki harta tersisa untuk mempertanggungjawabkan pengkhianatan putranya.
Dengan kata lain, mereka meyakini Inanna dijual oleh Selir Filial sebagai
pertanggujawaban.
Malam itu, perempuan dengan rambut hitam
berkilau panjang, Sellir Filial, pulang dari kantor kedutaan. Dia menaiki kendaraan umum ke
rumah yang disediakan oleh pemerintah Mariander. Tempat yang dia tinggali
hanyalah rumah sederhana dengan dua kamar tidur. Namun, hanya satu kamar yang
terisi.
Setelah mandi dan berganti ke gaun tidur,
Selir filial mengambil handphone dan pergi ke ruang tamu. Sebenarnya, dia
ingin berada di rumah itu bersama kedua putrinya, Inanna dan Ninshubur. Namun,
kini, Inanna dan Ninshubur tinggal dengan orang lain. Inanna bersama Lugalgin
sedangkan Ninshubur bersama orang tua dan adik Lugalgin.
Karena masalah pemberontakan, dan perebutan
posisi permaisuri, nyawa Selir Filial tidak serta merta aman begitu dia
meninggalkan Mariander. Sebagian selir masih memiliki dendam karena usaha
mereka merebut posisi permaisuri digagalkan oleh Selir Filial. Tanpa ada
pengawal dan keamanan pribadi, akan sangat mudah mengincar nyawa Selir Filial.
Lugalgin memberi saran agar Ninshubur
dititipkan pada orang tua dan adiknya. Dengan demikian, keamanan Ninshubur
dapat dijaga.
Selir Filial pun menyetujui saran Lugalgin.
Sayangnya, mereka terpaksa berpisah rumah karena tempat tinggal orang tua
Lugalgin dan Selir Filial berbeda kota.
Sebuah alunan musik blues terdengar dari
handphone di tangan Selir Filial. Telepon yang dia nantikan setiap malam.
Selir Filial mengangkat telepon itu, membuat
proyeksinya menempel pada tembok seolah-olah dia melihat layar televisi.
Proyeksi itu menunjukkan dua gambar, anak-anak dan remaja.
Selir Filial, Inanna, dan Ninshubur memiliki
fitur wajah yang sangat mirip. Bahkan, kalau foto mereka dijajarkan, orang akan
mengira ketiga foto itu adalah perubahan usia seseorang.
[Ibuuu.....]
"Malam, Ninshubur. Bagaimana sekolah
tadi?"
[Sekolah menyenangkan. Hari ini kami
tadi.]
Pada proyeksi telepon, Ninshubur menarik buku
gambar dan membukanya. Di dalamnya, terlihat gambar kucing dengan warna putih
dan kuning bermain di taman, lazim seperti gambar anak-anak pada umumnya.
"Wah, bagus gambarnya," Selir Filial
memuji Ninshubur. "Lain kali coba gambar ibu ya."
[Ung.....] Ninshubur mengangguk.
"Lalu, bagaimana denganmu, Inanna?"
[Haha...] Inanna tertawa kecil. [Entah kenapa,
hari ini Emir menantangku memasak, ingin melihat siapakah di antara kami yang
bisa menghidangkan makanan lebih enak untuk Lugalgin.]
"Lalu, hasilnya?"
[Aku menang.]
[KAMU BELUM MENANG! AKU CUMA MENGALAH TADI!]
Tiba-tiba saja, seorang perempuan terlihat di
belakang Inanna. Belum sempat perempuan itu melakukan hal lain, seorang
laki-laki sudah muncul dan menariknya, keluar dari pandangan.
[Emir, diam! Inanna sedang telepon! Maaf ya
Na~~~~, aku melepaskan pandanganku dari perempuan ini sebentar dan dia sudah
membuat ulah.]
[Tidak apa-apa.] Inanna memberi respon ringan
pada laki-laki itu.
Bukan hanya Inanna, Selir Filial dan Ninshubur
ikut tertawa ketika mendengar suara perempuan dan laki-laki itu.
Sebenarnya, Selir Filial sudah diberi tahu
oleh Raja Arid tentang memberi Inanna pada Lugalgin jauh sebelum penyerangan
provinsi Afee. Jadi, tidak peduli apakah putra Selir Filial, Papsukkal, terbukti
bersekongkol atau tidak, Inanna akan tetap dilepaskan ke Lugalgin.
Meski Raja Arid tidak menjelaskan alasannya,
Selir Filial tidak memiliki hak untuk menolak. Sudah menjadi kewajiban
orang-orang yang lahir sebagai bangsawan untuk menikahi orang pilihan orang
tuanya.
Pada awalnya, Selir Filial menaruh harapan
besar pada Lugalgin. Putrinya, Inanna, yang jarang membicarakan laki-laki,
terlihat berbeda ketika menceritakan Lugalgin. Namun, harapannya sempat hancur
ketika Lugalgin menyandera Ninshubur.
Harapan Selir Filial kembali muncul ketika dia
melihat Lugalgin tidak ada niatan menyakiti Ninshubur. Bahkan, Lugalgin mencoba
mencari keuntungan di balik kekacauan itu. Dari situ, Selir Filial yakin, siapa
pun yang menjadi keluarga laki-laki itu akan mendapatkan jaminan keamanan, baik
keamanan fisik maupun materi. Dan kini, hal itu dibuktikan dengan Ninshubur
berada di rumah orang tua Lugalgin.
Kalau seandainya, skenario terburuk terjadi
yaitu keluarga Lugalgin disakiti atau bahkan tewas, Selir Filial yakin kalau
Lugalgin akan membalas dendam berkali-kali lipat. Di mata Selir Filial,
Lugalgin adalah seekor singa tidur. Oleh karena itu, walaupun sedih, Selir
Filial mendapatkan ketenangan ketika mengetahui kedua putrinya telah bersama
laki-laki dan keluarga yang hebat.
Selir Filial pun meneruskan perbincangan
dengan kedua putrinya. Dia memiliki rutinitas tersebut sejak dirinya menjadi
duta besar.
***
"Emir, memangnya nanti Lugalgin mau
membicarakan apa? Kok kelihatannya serius?"
Seorang perempuan berambut hitam panjang dan
mata hijau, Inanna, bertanya pada perempuan berambut dan mata merah di
sampingnya, Emir. Mereka berdua sedang menyiapkan makan malam untuk calon suami
mereka.
"Entahlah." Emir menggelengkan
__ADS_1
kepala.
"Apa mungkin ini berhubungan dengan
penyerangan itu?"
"Tidak, menurutku bukan," Emir
menolak dugaan Inanna. "Dia bilang, dia mendapatkan imbalan yang sangat
besar dari penyerangan kemarin. Terakhir kali aku melihat Lugalgin seserius itu
adalah ketika aku memintanya menjadi Regal Knight. Mungkin... dia memiliki memasalah
dengan ayah."
"Eh? Dengan Yang Mulia Paduka Raja?"
"Ya," Emir membenarkan. "Aku
khawatir ayah tidak bisa memenuhi janjinya dengan Lugalgin."
"Sebentar," Inanna mematikan kompor
dan berjalan menuju meja makan, menyiapkan piring. "Maksudmu, Lugalgin
akan mempermasalahkan kalau Yang Mulia Paduka Raja tidak memenuhi janjinya?
Maksudku, apa dia bermaksud melawan Yang Mulia Paduka Raja? Apa dia ingin mati?"
"Jangan salah. Dia pernah mengancamku,
bahkan membuatku sampai meng—" Emir terhenti. Dia hampir saja mengatakan
mengompol, tapi dihentikan oleh harga dirinya. "Sampai membuatku
gemetaran. Bahkan, waktu aku mengancam akan melaporkan tanda ketidaksetiaan
Lugalgin, dia malah mengancam akan kabur ke luar negeri."
"Hmm... aku bisa membayangkannya. Dia
sudah menentang kapten operasi penyelamatan provinsi Afee saat akan
menyelamatkan ibuku. Tapi, rasanya, masih sulit untukku percaya kalau dia akan
mengancam keluarga kerajaan."
Tanpa Inanna ketahui, ibunya telah menjadi
salah satu korban ancaman Lugalgin.
"Aku mendengar rumor kalau
Lugalgin membenci bangsawan dan keluarga kerajaan. Dan, aku bisa
bilang kalau rumor itu benar. Ketika Lugalgin berhadapan dengan orang normal,
rakyat jelata, dia tampak menunjukkan kebaikan dengan tulus, tanpa niat
tersembunyi.
"Namun, ketika dia berbicara dengan
bangsawan, aku merasa dia hanya melihat lawannya sebagai rekan bisnis, tidak
lebih. Dulu, aku sempat mendapat pandangan itu. Aku kembali melihat pandangan
itu ketika Jeanne datang ke sini."
Emir selesai memasak dan mematikan kompor. Dia
membawa panci berisi sop ke meja makan, memindahkannya ke tiga mangkok yang
berjajar.
"Aku setuju dengan itu. Aku juga
sempat merasakan pandangan itu ketika aku mengobrol dengan Lugalgin." Inanna memindahkan mangkuk yang telah diisi sup ke dekat piring.
"Memangnya apa yang sudah dilakukan bangsawan negeri ini?"
Emir menggeleng. "Aku tidak tahu.
Informasi agen Schneider tidak menyebutkan apapun mengenai Lugalgin memiliki
masalah dengan bangsawan. Aku tidak tahu apakah informasi yang kami miliki
tidak lengkap atau—"
"Aku pulang!"
Sebuah suara laki-laki muncul, menghentikan
perbincangan Emir dan Inanna.
***
Seorang laki-laki berambut hitam keabu-abuan
duduk di balik meja kerja. Meski matahari sudah terbenam, matanya masih tajam
melihat dokumen-dokumen di depannya. Dia mengecap dan menandatangani beberapa
dokumen. Di sebelah kirinya, terdapat dokumen yang bertumpuk cukup tinggi,
bahkan bisa menutupi orang di baliknya. Namun, berbalikan, di sebelah kanan
meja terdapat satu dokumen yang hanya berisi beberapa puluh halaman.
"Akhirnyaaa......"
Laki-laki tersebut, Raja Fahren, mengangkat
kedua tangannya tinggi-tinggi, mencoba melemaskan otot bahu yang kaku. Dia
menyandarkan punggung dan menyeruput teh yang ada di atas meja.
"Sayang, apa kamu sudah selesai?"
Seorang wanita dengan rambut merah muda
lembut, panjang terburai, masuk ke dalam ruang kerja. Dia memandang Raja Fahren
dengan lembut. Dengan dagu lancip dan wajah tanpa keriput, orang akan
percaya kalau dia mengatakan baru berusia 30 tahun, meskipun angka yang
sebenarnya jauh di atas. Wanita itu adalah Permaisuri Rahayu Falch Exequeror.
"Iya, sudah selesai." Raja Fahren
menjawab Permaisuri Rahayu dengan nada bahagia.
Permaisuri Rahayu berdiri di samping meja dan
melihat dokumen kecil yang ada di kanan meja. Dia membuka-buka dokumen
tersebut.
"Dokumen mengenai tragedi keluarga
Cleinhad? Dokumen ini yang diminta Lugalgin?"
"Iya, benar. Dan, hanya untuk menyusun
dan memperbolehkan dokumen ini mencapai tangan Lugalgin, aku harus menyetujui
dan menstempel dokumen-dokumen ini."
Raja Fahren memukul dokumen yang ada di kiri
meja dengan lembut. Dia tidak mau tiba-tiba menjatuhkan dan membuat
dokumen-dokumen tersebut berantakan.
"Akan digunakan untuk apa dokumen
ini?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang
diinginkan Lugalgin. Yang jelas, dia meminta dokumen ini sebagai imbalan
menjadi pengawal Jeanne."
Permaisuri Rahayu membuka-buka dokumen itu,
memperhatikan isinya sekilas.
"Kalau saja tragedi itu tidak menimpa
keluarga Cleinhad, mungkin pasar gelap kerajaan ini masih bisa ditekan, dan
kamu tidak akan kekurangan orang untuk menjadi agen Schneider."
"Ya, apa yang terjadi biarlah terjadi.
Masa lalu tidak bisa diubah."
Mata Permaisuri Rahayu sedikit berkaca. Dia
tidak mampu memendam kesedihannya ketika memikirkan anak-anak yang menjadi
yatim piatu karena tragedi yang ada di tangannya.
"Aku berharap, anak-anak keluarga
Cleinhad yang masih hidup tidak ditimpa tragedi yang sama. Aku kasihan pada
mereka. Setelah seluruh keluarganya tewas, hanya menyisakan anak-anak, mereka
masih harus disebar di panti asuhan yang berbeda-beda."
Bersambung
\============================================================
Halo Semua. Minggu lalu, author mencoba fitur
baru dari Mangatoon, yaitu mature content. Berbeda dengan platform lain dimana
mature content diaplikasikan pada semua chapter, tampaknya mangatoon hanya
diaplikasikan pada satu chapter. Menurut Author, this is nice.
Lalu, untuk beberapa komentar yang berharap
novel ini dipromosikan agar diangkat menjadi komik, author juga berharap
demikian. Hehe.... tapi, yah, itu semua kembali ke admin. Atau mungkin ada
ilustrator atau pembuat komik yang tertarik? Kalo ada, bisa hubungi author di instagram
@renigad.sp.author atau facebook ren.igad.33
Untuk versi cetak, well, wacana untuk sementara hanya dijual di comifuro. Namun, yah, entahlah. Haha. Masih bingung karena tiba-tiba real life menyerang.
Sekedar info, chapter ini diupload ke
mangatoon selasa siang.
Dan, seperti biasa, pada bagian akhir ini,
author ingin melakukan endorse pada artist yang gambarnya author jadikan cover,
yaitu 千夜 atau QYS3. Kalian bisa membuka pixiv
pagenya di .
Dua-duanya juga bisa
Terima kasih :D
__ADS_1