I Am No King

I Am No King
Chapter 30 – Interlude


__ADS_3

"Jadi? bagaimana?"


"Aku salah paham. Dia memang


sepertiku...."


Seorang laki-laki, berambut coklat panjang


dikuncir dan dagu lebar, memberi jawaban. Dia adalah Etana. Saat ini, Etana


sedang melihat video di ruang utama.


 


Kelompok pemberontak memiliki markas yang


terletak di kota mati, reruntuhan. Kota mati itu disulap sehingga memiliki


bangunan bawah tanah. Bangunan bawah tanah inilah yang menjadi markas True One.


Desain markas tersebut memiliki banyak pintu, memastikan


mereka tidak terjebak jika diserang.


Di samping Etana, seorang perempuan dengan


warna dan model rambut yang sama, ikut melihat video. Shera melihat ke video


yang diputar, tapi belum bisa memahami ucapan rekannya.


 


"Bisa tolong jelaskan? Maksudku,


bagaimana dia seperti kamu? Aku tidak paham jalan pikiran kalian, orang-orang


yang rela melakukan operasi demi menghilangkan kekuatan orang lain."


Cerita yang diberikan Etana pada


rekan-rekannya adalah dia mampu menghilangkan kekuatan orang ketika orang


tersebut berada di pandangannya. Jadi, Etana menyatakan kalau mata yang


dimilikinya adalah mata palsu. Namun, hal itu tidak mengganggu penglihatannya.


Meskipun rekan-rekannya ragu, tapi mereka


tidak memiliki pilihan selain percaya ketika menyadari ucapan Etana, mengenai


pengendalian yang hilang, benar. Dan, secara kebetulan, cerita yang


diberikan Etana dan Lugalgin, yang diberikan pada Inanna, adalah benar.


"Coba kamu lihat pada bagian ini."


Etana mengambil remote televisi dan memutar


balik video yang mereka tonton. Video yang mereka tonton adalah rekaman


pertandingan Lugalgin di battle royale, yang tersebar luas di internet.


Akhirnya, rekaman berhenti ketika Lugalgin melepaskan sarung tangannya, sebelum


menghadapi Ufia.


"Baik, coba lihat baik-baik di sini. Aku


akan menjalankannya pelan-pelan."


Video tersebut kembali berjalan maju, tapi


hanya seperempat kecepatan normal. Semua gerakan di dalam video menjadi sangat lambat.


Shera melihat baik-baik momen


ketika Lugalgin menekan Ufia ke tanah dan melepaskan tembakan.


Etana menghentikan rekaman.


"Sudah paham?"


"Uuu...belum..." Shera menggelengkan


kepala.


"Ah.... ya sudah, biar aku


jelaskan," Etana memutar balik lagi video hingga Lugalgin melepas sarung


tangan. "Di sini, apa yang Lugalgin lakukan?"


"Ung, melepas sarung tangan?"


"Ya, melepas sarung tangan. Menurutmu


kenapa itu?"


"Um.... karena dia mulai serius?


Maksudku, beberapa orang menganggap bertarung dengan sarung tangan adalah tanda


ketidakseriusan kan?"


"Setengah benar. Bagian dia mulai serius


benar, tapi bukan karena tanda ketidakseriusan. Biar aku jalankan lagi."


Etana menjalankan video tersebut. Kali ini,


videonya berhenti ketika Lugalgin menekan Ufia ke tanah.


"Baik, di sini, apa kamu melihat ada yang


aneh?"


Shera terdiam. Dia melihat ke rekaman tersebut


dengan saksama. Namun, tidak peduli selama apapun dia melihat ke rekaman


tersebut, dia tidak bisa menemukan keanehan di rekaman itu.


"Maaf, aku tidak tahu."


"Ahh..." Etana mendengus. "Coba


lihat baik-baik ke tangan perempuan itu. Apa kamu tidak merasa aneh ketika


pedangnya terjatuh? Sebelumnya, dia tampak mengangkat pedang besar itu dengan


mudah. Namun, di sini, kenapa kok seperti pedangnya menjadi begitu berat,


seolah-olah dia...."


Etana tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia


menunggu, berharap Shera mampu melanjutkan ucapannya.


"Tapi, bukankah itu normal? Maksudku,


tampaknya, konsentrasi perempuan itu pecah ketika laki-laki itu, Lugalgin,


menekan kepalanya hingga ke tanah."


"Tidak, tidak, tidak...." Etana


mengoreksi Shera. "Kalau perempuan itu adalah orang yang tidak terbiasa


bertarung, mungkin benar. Namun, dia adalah Regal Knight, kesatria elite di


Bana'an. Bahkan, dia sudah menjadi juara pertandingan itu satu kali. Kamu


sendiri tidak langsung kehilangan konsentrasi ketika lawanmu menerjang


kan?"


"Iya juga ya...." Akhirnya, Shera


mulai dapat menyamakan pendapat dengan Etana. "Jadi, menurutmu?"


"Berbeda denganku yang mengganti mata,


tampaknya dia mengganti tangannya. Hal ini lah yang membuat pengendalian


perempuan itu menghilang ketika dia menyentuhnya."


"Ah, begitu ya." Shera terdiam


sejenak. Dia mencoba mencerna ucapan Etana dengan baik. "Lalu, sekarang,


apa yang akan kita lakukan? Dia sudah menggagalkan rencana kita satu kali. Dan


sekarang, dengan Putri Inanna menjadi calon istrinya, ada kemungkinan dia akan


kembali menggagalkan rencana kita kalau Putri Inanna memintanya, kan?"


"Ah, iya. Soal itu..."


***


Seorang laki-laki tua terduduk di balkon. Dia


melihat ke pemandangan laut yang tersebar di belakang mansion bergaya klasik.


Dengan sebuah cerutu, laki-laki tua itu menambah kenikmatan kopi yang baru


diminum. Meski tidak terlihat sehelai rambut di kepalanya, tapi janggut dan


kumisnya menjalar panjang tidak menyambung, menunjukkan kalau dia memiliki


nenek moyang dari barat. Laki-laki tua itu adalah Enlil Alhold, kepala keluarga


Alhold saat ini.


 


Umurnya sudah hampir 70 tahun, tapi


belum terlihat tanda-tanda dia akan melepaskan posisi kepala keluarga pada


Barun, yang di masa depan akan diteruskan pada Ninlil. Untuk laki-laki dengan


usia lanjut, badannya terlihat cukup fit, bahkan atletik.


"Paman,"


Seorang laki-laki datang dari dalam mansion,


menuju ke Enlil.


"Ada apa?"


"Inkompeten itu kembali masuk


berita."


"Kali ini berulah apa lagi dia?"


"Berita bilang, berkat jasanya di


Mariander, Raja Arid memberikan salah satu putrinya kepada Lugalgin sebagai


istrinya."


Laki-laki itu menekankan kata "berita


bilang" untuk memperjelas kalau itu bukanlah ucapannya.


Enlil mengambil cerutunya dari mulut,


membiarkannya di tangan.


"Lalu, apa perempuan itu sudah ada di


Bana'an."


"Dari info yang kami dapat, perempuan itu

__ADS_1


sudah berada di rumah inkompeten itu."


"Kalau inkompeten itu menerima perempuan


itu, berarti Barun dan Yueni sudah menyetujuinya. Dasar, mereka benar-benar


tidak memiliki niatan untuk menurutiku hingga akhir ya." Enlil terdiam.


Dia menggaruk kepalanya yang tidak memiliki sehelai pun rambut. "Segera


panggil inkompeten itu. Aku mau dia menemuiku."


"Tapi, paman, kalau kita langsung


memanggilnya tanpa melalui Barun dan Yueni, apa ini tidak akan memantik


masalah?"


"Aku tidak peduli!" Enlil


mengabaikan peringatan keponakannya. "Panggil inkompeten itu! Aku mau dia


sudah ada di depanku minggu ini juga!"


****


Satu minggu setelah kasus penyerangan pada


Provinsi Afee, Selir Filial tidak lagi memiliki wilayah kekuasaan. Semua


wilayah kekuasaannya dialihkan ke Selir yang lain. Hal ini


disebabkan oleh pengkhianatan putranya.


Sebagai gantinya, Selir Filial beserta


putrinya, Ninshubur, dikirim ke Bana'an sebagai duta besar. Pemasukan yang dia


terima pun menurun drastis. Jika dibandingkan dengan pemasukan ketika dia


memiliki wilayah kekuasaan, kurang dari sepersepuluh.


Ketika Raja Arid mengumumkan akan memberikan


Inanna pada Lugalgin, sebagai hadiah atas kerja keras menekan


pemberontakan, bangsawan dan selir lain menganggap Selir Filial sudah tidak


memiliki harta tersisa untuk mempertanggungjawabkan pengkhianatan putranya.


Dengan kata lain, mereka meyakini Inanna dijual oleh Selir Filial sebagai


pertanggujawaban.


Malam itu, perempuan dengan rambut hitam


berkilau panjang, Sellir Filial, pulang dari kantor kedutaan. Dia menaiki kendaraan umum ke


rumah yang disediakan oleh pemerintah Mariander. Tempat yang dia tinggali


hanyalah rumah sederhana dengan dua kamar tidur. Namun, hanya satu kamar yang


terisi.


Setelah mandi dan berganti ke gaun tidur,


Selir filial mengambil handphone dan pergi ke ruang tamu. Sebenarnya, dia


ingin berada di rumah itu bersama kedua putrinya, Inanna dan Ninshubur. Namun,


kini, Inanna dan Ninshubur tinggal dengan orang lain. Inanna bersama Lugalgin


sedangkan Ninshubur bersama orang tua dan adik Lugalgin.


Karena masalah pemberontakan, dan perebutan


posisi permaisuri, nyawa Selir Filial tidak serta merta aman begitu dia


meninggalkan Mariander. Sebagian selir masih memiliki dendam karena usaha


mereka merebut posisi permaisuri digagalkan oleh Selir Filial. Tanpa ada


pengawal dan keamanan pribadi, akan sangat mudah mengincar nyawa Selir Filial.


Lugalgin memberi saran agar Ninshubur


dititipkan pada orang tua dan adiknya. Dengan demikian, keamanan Ninshubur


dapat dijaga.


Selir Filial pun menyetujui saran Lugalgin.


Sayangnya, mereka terpaksa berpisah rumah karena tempat tinggal orang tua


Lugalgin dan Selir Filial berbeda kota.


Sebuah alunan musik blues terdengar dari


handphone di tangan Selir Filial. Telepon yang dia nantikan setiap malam.


Selir Filial mengangkat telepon itu, membuat


proyeksinya menempel pada tembok seolah-olah dia melihat layar televisi.


Proyeksi itu menunjukkan dua gambar, anak-anak dan remaja.


Selir Filial, Inanna, dan Ninshubur memiliki


fitur wajah yang sangat mirip. Bahkan, kalau foto mereka dijajarkan, orang akan


mengira ketiga foto itu adalah perubahan usia seseorang.


[Ibuuu.....]


"Malam, Ninshubur. Bagaimana sekolah


tadi?"


[Sekolah menyenangkan. Hari ini kami


tadi.]


Pada proyeksi telepon, Ninshubur menarik buku


gambar dan membukanya. Di dalamnya, terlihat gambar kucing dengan warna putih


dan kuning bermain di taman, lazim seperti gambar anak-anak pada umumnya.


"Wah, bagus gambarnya," Selir Filial


memuji Ninshubur. "Lain kali coba gambar ibu ya."


[Ung.....] Ninshubur mengangguk.


"Lalu, bagaimana denganmu, Inanna?"


[Haha...] Inanna tertawa kecil. [Entah kenapa,


hari ini Emir menantangku memasak, ingin melihat siapakah di antara kami yang


bisa menghidangkan makanan lebih enak untuk Lugalgin.]


"Lalu, hasilnya?"


[Aku menang.]


[KAMU BELUM MENANG! AKU CUMA MENGALAH TADI!]


Tiba-tiba saja, seorang perempuan terlihat di


belakang Inanna. Belum sempat perempuan itu melakukan hal lain, seorang


laki-laki sudah muncul dan menariknya, keluar dari pandangan.


[Emir, diam! Inanna sedang telepon! Maaf ya


Na~~~~, aku melepaskan pandanganku dari perempuan ini sebentar dan dia sudah


membuat ulah.]


[Tidak apa-apa.] Inanna memberi respon ringan


pada laki-laki itu.


Bukan hanya Inanna, Selir Filial dan Ninshubur


ikut tertawa ketika mendengar suara perempuan dan laki-laki itu.


Sebenarnya, Selir Filial sudah diberi tahu


oleh Raja Arid tentang memberi Inanna pada Lugalgin jauh sebelum penyerangan


provinsi Afee. Jadi, tidak peduli apakah putra Selir Filial, Papsukkal, terbukti


bersekongkol atau tidak, Inanna akan tetap dilepaskan ke Lugalgin.


Meski Raja Arid tidak menjelaskan alasannya,


Selir Filial tidak memiliki hak untuk menolak. Sudah menjadi kewajiban


orang-orang yang lahir sebagai bangsawan untuk menikahi orang pilihan orang


tuanya.


Pada awalnya, Selir Filial menaruh harapan


besar pada Lugalgin. Putrinya, Inanna, yang jarang membicarakan laki-laki,


terlihat berbeda ketika menceritakan Lugalgin. Namun, harapannya sempat hancur


ketika Lugalgin menyandera Ninshubur.


Harapan Selir Filial kembali muncul ketika dia


melihat Lugalgin tidak ada niatan menyakiti Ninshubur. Bahkan, Lugalgin mencoba


mencari keuntungan di balik kekacauan itu. Dari situ, Selir Filial yakin, siapa


pun yang menjadi keluarga laki-laki itu akan mendapatkan jaminan keamanan, baik


keamanan fisik maupun materi. Dan kini, hal itu dibuktikan dengan Ninshubur


berada di rumah orang tua Lugalgin.


Kalau seandainya, skenario terburuk terjadi


yaitu keluarga Lugalgin disakiti atau bahkan tewas, Selir Filial yakin kalau


Lugalgin akan membalas dendam berkali-kali lipat. Di mata Selir Filial,


Lugalgin adalah seekor singa tidur. Oleh karena itu, walaupun sedih, Selir


Filial mendapatkan ketenangan ketika mengetahui kedua putrinya telah bersama


laki-laki dan keluarga yang hebat.


Selir Filial pun meneruskan perbincangan


dengan kedua putrinya. Dia memiliki rutinitas tersebut sejak dirinya menjadi


duta besar.


***


"Emir, memangnya nanti Lugalgin mau


membicarakan apa? Kok kelihatannya serius?"


Seorang perempuan berambut hitam panjang dan


mata hijau, Inanna, bertanya pada perempuan berambut dan mata merah di


sampingnya, Emir. Mereka berdua sedang menyiapkan makan malam untuk calon suami


mereka.


"Entahlah." Emir menggelengkan

__ADS_1


kepala.


"Apa mungkin ini berhubungan dengan


penyerangan itu?"


"Tidak, menurutku bukan," Emir


menolak dugaan Inanna. "Dia bilang, dia mendapatkan imbalan yang sangat


besar dari penyerangan kemarin. Terakhir kali aku melihat Lugalgin seserius itu


adalah ketika aku memintanya menjadi Regal Knight. Mungkin... dia memiliki memasalah


dengan ayah."


"Eh? Dengan Yang Mulia Paduka Raja?"


"Ya," Emir membenarkan. "Aku


khawatir ayah tidak bisa memenuhi janjinya dengan Lugalgin."


"Sebentar," Inanna mematikan kompor


dan berjalan menuju meja makan, menyiapkan piring. "Maksudmu, Lugalgin


akan mempermasalahkan kalau Yang Mulia Paduka Raja tidak memenuhi janjinya?


Maksudku, apa dia bermaksud melawan Yang Mulia Paduka Raja? Apa dia ingin mati?"


"Jangan salah. Dia pernah mengancamku,


bahkan membuatku sampai meng—" Emir terhenti. Dia hampir saja mengatakan


mengompol, tapi dihentikan oleh harga dirinya. "Sampai membuatku


gemetaran. Bahkan, waktu aku mengancam akan melaporkan tanda ketidaksetiaan


Lugalgin, dia malah mengancam akan kabur ke luar negeri."


"Hmm... aku bisa membayangkannya. Dia


sudah menentang kapten operasi penyelamatan provinsi Afee saat akan


menyelamatkan ibuku. Tapi, rasanya, masih sulit untukku percaya kalau dia akan


mengancam keluarga kerajaan."


Tanpa Inanna ketahui, ibunya telah menjadi


salah satu korban ancaman Lugalgin.


"Aku mendengar rumor kalau


Lugalgin membenci bangsawan dan keluarga kerajaan. Dan, aku bisa


bilang kalau rumor itu benar. Ketika Lugalgin berhadapan dengan orang normal,


rakyat jelata, dia tampak menunjukkan kebaikan dengan tulus, tanpa niat


tersembunyi.


"Namun, ketika dia berbicara dengan


bangsawan, aku merasa dia hanya melihat lawannya sebagai rekan bisnis, tidak


lebih. Dulu, aku sempat mendapat pandangan itu. Aku kembali melihat pandangan


itu ketika Jeanne datang ke sini."


Emir selesai memasak dan mematikan kompor. Dia


membawa panci berisi sop ke meja makan, memindahkannya ke tiga mangkok yang


berjajar.


"Aku setuju dengan itu. Aku juga


sempat merasakan pandangan itu ketika aku mengobrol dengan Lugalgin." Inanna memindahkan mangkuk yang telah diisi sup ke dekat piring.


"Memangnya apa yang sudah dilakukan bangsawan negeri ini?"


Emir menggeleng. "Aku tidak tahu.


Informasi agen Schneider tidak menyebutkan apapun mengenai Lugalgin memiliki


masalah dengan bangsawan. Aku tidak tahu apakah informasi yang kami miliki


tidak lengkap atau—"


"Aku pulang!"


Sebuah suara laki-laki muncul, menghentikan


perbincangan Emir dan Inanna.


***


Seorang laki-laki berambut hitam keabu-abuan


duduk di balik meja kerja. Meski matahari sudah terbenam, matanya masih tajam


melihat dokumen-dokumen di depannya. Dia mengecap dan menandatangani beberapa


dokumen. Di sebelah kirinya, terdapat dokumen yang bertumpuk cukup tinggi,


bahkan bisa menutupi orang di baliknya. Namun, berbalikan, di sebelah kanan


meja terdapat satu dokumen yang hanya berisi beberapa puluh halaman.


"Akhirnyaaa......"


Laki-laki tersebut, Raja Fahren, mengangkat


kedua tangannya tinggi-tinggi, mencoba melemaskan otot bahu yang kaku. Dia


menyandarkan punggung dan menyeruput teh yang ada di atas meja.


"Sayang, apa kamu sudah selesai?"


Seorang wanita dengan rambut merah muda


lembut, panjang terburai, masuk ke dalam ruang kerja. Dia memandang Raja Fahren


dengan lembut. Dengan dagu lancip dan wajah tanpa keriput, orang akan


percaya kalau dia mengatakan baru berusia 30 tahun, meskipun angka yang


sebenarnya jauh di atas. Wanita itu adalah Permaisuri Rahayu Falch Exequeror.


"Iya, sudah selesai." Raja Fahren


menjawab Permaisuri Rahayu dengan nada bahagia.


Permaisuri Rahayu berdiri di samping meja dan


melihat dokumen kecil yang ada di kanan meja. Dia membuka-buka dokumen


tersebut.


"Dokumen mengenai tragedi keluarga


Cleinhad? Dokumen ini yang diminta Lugalgin?"


"Iya, benar. Dan, hanya untuk menyusun


dan memperbolehkan dokumen ini mencapai tangan Lugalgin, aku harus menyetujui


dan menstempel dokumen-dokumen ini."


Raja Fahren memukul dokumen yang ada di kiri


meja dengan lembut. Dia tidak mau tiba-tiba menjatuhkan dan membuat


dokumen-dokumen tersebut berantakan.


"Akan digunakan untuk apa dokumen


ini?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang


diinginkan Lugalgin. Yang jelas, dia meminta dokumen ini sebagai imbalan


menjadi pengawal Jeanne."


Permaisuri Rahayu membuka-buka dokumen itu,


memperhatikan isinya sekilas.


"Kalau saja tragedi itu tidak menimpa


keluarga Cleinhad, mungkin pasar gelap kerajaan ini masih bisa ditekan, dan


kamu tidak akan kekurangan orang untuk menjadi agen Schneider."


"Ya, apa yang terjadi biarlah terjadi.


Masa lalu tidak bisa diubah."


Mata Permaisuri Rahayu sedikit berkaca. Dia


tidak mampu memendam kesedihannya ketika memikirkan anak-anak yang menjadi


yatim piatu karena tragedi yang ada di tangannya.


"Aku berharap, anak-anak keluarga


Cleinhad yang masih hidup tidak ditimpa tragedi yang sama. Aku kasihan pada


mereka. Setelah seluruh keluarganya tewas, hanya menyisakan anak-anak, mereka


masih harus disebar di panti asuhan yang berbeda-beda."


Bersambung


\============================================================


Halo Semua. Minggu lalu, author mencoba fitur


baru dari Mangatoon, yaitu mature content. Berbeda dengan platform lain dimana


mature content diaplikasikan pada semua chapter, tampaknya mangatoon hanya


diaplikasikan pada satu chapter. Menurut Author, this is nice.


Lalu, untuk beberapa komentar yang berharap


novel ini dipromosikan agar diangkat menjadi komik, author juga berharap


demikian. Hehe.... tapi, yah, itu semua kembali ke admin. Atau mungkin ada


ilustrator atau pembuat komik yang tertarik? Kalo ada, bisa hubungi author di instagram


@renigad.sp.author atau facebook ren.igad.33


 


Untuk versi cetak, well, wacana untuk sementara hanya dijual di comifuro. Namun, yah, entahlah. Haha. Masih bingung karena tiba-tiba real life menyerang.


Sekedar info, chapter ini diupload ke


mangatoon selasa siang.


Dan, seperti biasa, pada bagian akhir ini,


author ingin melakukan endorse pada artist yang gambarnya author jadikan cover,


yaitu 千夜 atau QYS3. Kalian bisa membuka pixiv


pagenya di .


Dua-duanya juga bisa


 


Terima kasih :D

__ADS_1


__ADS_2