I Am No King

I Am No King
Chapter 104 – Membangkitkan Pengendalian, Percobaan


__ADS_3

“Kenapa kamu memiliknya, Gin? Dan, kenapa kamu meletakkannya di dalam peti arsenal?”


“Rahasia,” aku menjawab Mulisu dengan sebuah senyum.


Meskipun aku menjawab Mulisu dengan nada enteng, aku berani menjamin pikirannya sudah merambah semua tempat. Bahkan, pertanyaannya memberi indikasi kalau dia sudah mulai menduga kenapa aku memiliki serum pembangkit ini.


“Ibla, tolong beberapa sabuk. Ikat kepala, dada, bahu, perut, dan pangkal paha Mulisu. Tambah juga sumpal mulut. Lepaskan infus di tangannya dan ganti dengan perban dan kapas.”


“Hah?”


“Siap!”


Sementara Mulisu masih bingung, Ibla melaksanakan perintahku dengan cepat.


Untuk yang lain....


“Selain aku dan Ibla, segera tinggalkan ruangan ini!”


Meski baru datang, Inanna dan Emir menurut dan berjalan menuju luar ruangan. Di lain pihak, Illuvia protes.


“Tunggu dulu! Apa yang akan kamu lakukan, Gin?”


“Kamu tidak perlu tahu. Cepat keluar!”


Aku menjawab Illuvia dengan kasar. Bahkan, aku menepuk bahu kirinya, membuatnya merintih kesakitan.


“Nerva, bawa dia keluar sebelum aku berbuat lebih kasar.”


“Ba, baik...”


Nerva langsung membawa Illuvia yang merintih kesakitan. Dia hanya melempar pandangan ke arahku untuk sejenak.


Ibla menutup pintu. Kini, yang ada di dalam ruangan ini hanya kami bertiga.


“Kenapa kamu berlaku kasar pada Illuvia?”


“Menurutmu?”


Mulisu hanya tertawa kecil setelah mendengar jawabanku.


Aku tidak akan mengatakannya, tapi aku berhutang pada Illuvia, seperti aku berhutang pada Arde dan Maila. Mereka memberi masa SMA ku ingatan yang indah, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Aku bersyukur karena masih bisa merasakan yang disebut sebagai ‘masa muda’.


Kalau Illuvia terus menaruh hati padaku, dia akan terlibat pada perang mafia yang akan terjadi antar enam pilar dan intelijen negara. Yang akan terseret bukan hanya dia, tapi juga keluarganya, dan juga dua teman baiknya yang adalah Arde dan Maila. Setidaknya, dengan dia menjauh dariku, kemungkinan untuk dia terlibat di perang ini akan lebih kecil.


Dan, alasan lain adalah, aku tidak mau menambah istri. Praktik poligami adalah hal yang lumrah di Mariander dan Bana’an. Bahkan, kalau aku mau, aku bisa memiliki istri lebih banyak dari Fahren. Tidak ada yang melarangnya. Namun, aku rasa, mentalku tidak akan bisa menanganinya. Emir dan Inanna sudah lebih dari cukup bagiku.


Akhirnya, Mulisu sudah terikat dengan rapat di ranjang pasien. Kalau kakinya tidak lumpuh dan kemampuan motorik tangannya berkurang drastis, Ibla sudah aku suruh mengikatnya juga.


“Kamu tidak menanyakan kenapa aku tampak terburu-buru?”


“Jadi, kenapa?”


Dan dia baru menanyakannya.


“Kasus orang dewasa kehilangan pengendalian sangat langka. Serum pembangkit pun tidak memberi jaminan. Beberapa gagal dibangkitkan, beberapa berhasil.”


“Jadi, ada kemungkinan serum itu tidak akan berfungsi?”


“Ya. Untuk menekan kemungkinan gagal, tampaknya, serum ini harus diberikan ketika kondisi orang itu belum prima atau sakit. Dengan kata lain, obat ini hanya akan bekerja kalau aku memberinya padamu ketika kamu lemah. Semakin dekat dengan kematian, persentase keberhasilan akan meningkat.”


Hasil penelitian yang kubaca menyatakan semakin lemah tubuh seseorang, semakin mudah tubuh orang itu menerima efek benda asing. Dalam hal ini, serum pembangkit adalah benda asing. Kalau tubuh orang itu sudah sehat, antibodinya akan menangkal serum ini.

__ADS_1


“Hooh, jadi kalau kamu memberinya padaku kemarin, kemungkinan berhasilnya masih sangat tinggi ya?”


“Iya, benar,” aku mengonfirmasi ucapan Mulisu. “Saat aku datang, sebenarnya aku berharap kamu masih belum sadarkan diri. Dengan demikian, persentase keberhasilan masih cukup tinggi. Karena kamu sudah sadarkan diri, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi atau kamu akan sehat duluan.”


“Lalu, kenapa aku diikat seperti ini?”


“Menurut hasil penelitian, kamu akan merasakan rasa sakit yang amat sangat. Jadi, kami harus mengikat tubuhmu agar kamu tidak melukai dirimu sendiri. Semakin sehat, rasa sakitnya akan semakin tinggi karena penolakan dari tubuh.”


Aku penasaran, apakah rasa sakit yang mereka rasakan sama dengan rasa sakit yang kuterima?


“Ini Gin.”


Ibla memberiku sebuah kotak. Aku membuka kotak ini dan melihat sebuah kayu yang di ujungnya terpasang tali. Benda ini adalah kayu yang biasa digunakan untuk menyumpal mulut.


“Kamu tidak ada yang terbuat dari besi dilapisi kain tebal? Kalau kayu, ada kemungkinan Mulisu akan menghancurkannya. Pecahan kayu bisa melukai mulut atau tenggorokannya. Kalau masuk ke tenggorokan, bisa membunuhnya.”


“Sayangnya tidak ada. Penyumpal mulut yang aku miliki hanya untuk penyiksaan.”


Oke. Kita tidak bisa menggunakannya. Aku melempar kotak ini dan membiarkan Ibla menangkapnya.


“Kalau hanya kain, masih kurang. Kamu bisa melukai bibirmu. Darah yang masuk ke tenggorokan bisa mencegahmu bernafas, menewaskanmu. Jadi...”


Aku berdiri di belakang kasur, di atas kepala Mulisu.


“Mulisu, tolong buka mulutmu,”


Mulisu membuka mulut.


Aku meletakkan tangan kiri, yang berlapis jaket kulit, di mulut Mulisu. Di tangan kananku, sebuah syringe sudah siap. Namun, syringe itu diambil oleh Ibla.


“Biar, aku yang melakukannya. Aku merasa bertanggung jawab karena tidak segera melaporkan ini padamu.”


Aku tersenyum, “baiklah. Tolong ya Ibla.”


“Mulisu, ini akan sangat menyakitkan. Tolong tahan ya.”


“Mmm, mmm mmm.”


Aku tidak tahu dia mengatakan apa. Mungkin dia ingin berkata “baik, tenang saja,”.


Setelah kami bertukar pandangan untuk sejenak, Ibla menusukkan syringe itu ke leher kanan Mulisu. Perlahan-lahan, aku melihat serum berwarna perak itu berkurang. Dalam waktu beberapa detik, semua serum di dalam syringe itu pun habis.


Beberapa saat berlalu, aku masih menekan tanganku di mulut.


“Mmm?”


Mulisu mengeluarkan suara sejenak. Dia tampak bertanya-tanya. Namun, baru dia mengeluarkan respon seperti itu, sebuah suara sudah terdengar.


“NNGGGGG!!!!!”


Mulisu berteriak sekeras mungkin. Namun, aku terus menekan tanganku di mulut Mulisu. Bukan hanya di mulut Mulisu, aku mencoba menahan kepala Mulisu agar dia tidak bergerak meskipun sudah diikat ke ranjang. Kalau dia bergerak secara liar, lehernya bisa patah.


Seluruh ranjang bergetar hebat. Badan dan pinggang Mulisu yang masih normal pun bergerak liar, meronta. Bahkan, sabuk yang mengikat Mulisu tampak mulai melar.


“IBLA! TAHAN TUBUH MULISU!”


“BAIK!”


Ibla mengikuti ucapanku dan menahan tubuh Mulisu.


Entah beruntung atau apa, karena kaki dan tangan Mulisu tidak bisa bergerak, kami berdua sudah cukup untuk menahannya. Kalau tidak, mungkin akan butuh empat orang lain untuk menahannya.

__ADS_1


Karena aku mengenakan jaket kulit, tidak terlihat perubahan warna. Namun, darah sudah menetes dari lengan jaket. Bahkan, aku bisa merasakan gigitan Mulisu hingga ke tulang. Aku harap dia tidak mematahkan tulangku.


Mulisu terus mencoba berteriak, tapi tanganku mencegahnya. Matanya terus membelalak, mencoba menahan rasa sakit itu. Air mata mengalir dengan deras dari kedua matanya.


“GIN? ADA APA?”


Tiba-tiba pintu digedor.


“JANGAN MASUK! TETAP DILUAR!”


Aku tidak tahu dan tidak peduli siapa yang mengedor pintu. Aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.


Di tengah proses, benda-benda di ruangan ini juga ikut bergetar. Kasur, jendela, alat makan logam, dan lain sebagainya. Bahkan, mungkin, ruangan ini yang memiliki rangka baja juga ikut bergetar. Tampaknya, serum pembangkit memaksa pengendalian Mulisu keluar.


Dari laporan penelitian, harusnya rasa sakit ini hanya terjadi kurang dari satu menit. Dan benar, aku melihat jam dinding belum bergerak. Bahkan, aku melihat detiknya bergerak sangat lambat.


Tik tik tik


Seharusnya, aku tidak mendengar suara jam berdetik di balik suara teriakan Mulisu. Tapi, entah kenapa, suara itu muncul. Saat ini, suara dan pergerakan jarum jam terdengar dan terlihat begitu lambat. Aku terus dan terus menahan Mulisu, sambil melihat ke arah jam.


Akhirnya, waktu satu menit pun berlalu. Aku tidak lagi merasakan gigitan Mulisu di tangan. Benda-benda pun berhenti bergetar.


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1


 



__ADS_2