
"Hey, Gin, aliansi di bawahmu di ambang perpecahan. Kenapa kamu malah tersenyum bahagia seperti itu?"
"Ah? Apa aku tersenyum? Ahahaha, maaf."
Aku langsung menghilangkan senyum, mengikuti teguran dari laki-laki di sampingku ini.
"Gin, sebelum kita memulai pembicaraan mengenai penyerangan ini, alangkah baiknya kamu memperkenalkan laki-laki itu." Shu En angkat bicara.
Shu En melihat ke arah laki-laki yang berdiri di sampingku.
Laki-laki ini memiliki rambut hitam berantakan dengan potongan yang aneh. Apa mereka bilang? Model harajuku? Ya, harajuku. Selain rambut hitam, dia juga memiliki mata hitam. Kalau melihat fisiknya, dengan kulit wajah kencang bercahaya, impresi pertama yang muncul adalah dia cowok metropolitan.
"Ah, maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, nama saya adalah Jin."
Sambil memperkenalkan diri, Jin meletakkan tangan kanan di depan dada dan sedikit membungkuk.
"Saya jadi iri melihat Lugalgin yang memiliki asisten secantik kakak. Kalau kakak tidak keberatan–"
Sebelum Jin mengajak Shu En makan malam, aku meletakkan tangan di bahunya, menahannya.
"Jin, apa kamu tidak lihat cincin di tangan kanannya? Dia sudah menikah."
"..."
Jin masih tersenyum dan melihat ke arah Shu En. Meski matanya terbuka, pandangannya tampak kosong.
"Oke, cukup main-mainnya." Aku menghentikan komedi Jin. "Seperti yang dia bilang, mamanya Jin. Mungkin kalian tidak tahu, tapi dia adalah pemimpin Guan, satu dari enam pilar."
"Hah?"
Semua orang mengeluarkan respon yang sama. Bahkan, Marlien dan Ibla langsung melihat pada Jin, seolah perselisihan mereka yang sebelumnya tidak terjadi.
Jin mengenakan pakaian formal seperti biasa. Dia mengenakan kemeja merah lengan panjang, dasi, rompi hitam, celana formal hitam, dan sepatu kantor. Penampilannya memberi impresi kalau dia hanya orang kantoran.
Namun, jangan salah. Meski pakaiannya seperti itu, aku bilang kemampuan bertarungnya tidak bisa diremehkan. Bahkan, aku bisa bilang, kemampuan bela dirinya hampir sepadan denganku walaupun bertarung dengan mengenakan pakaian seperti ini. Sayangnya, kemampuan bela dirinya dia dapatkan dengan mengorbankan pengendalian.
Ketika aku maksud mengorbankan pengendalian, bukan dia menghilangkannya. Namun, dia tidak melatih pengendaliannya. Hal ini membuat pengendalian yang bisa dilakukan sangat sederhana, sebatas membuat benda melayang, bukan pekerjaan presisi. Bahkan, dia tidak bisa menggunakan pengendalian untuk menarik pelatuk. Kalaupun bisa, tembakannya pasti meleset.
Dengan pengendalian yang terbatas, dia lebih sering menggunakannya untuk mengangkat perisai. Dengan berlindung di balik perisai melayang di sekitarnya, dia bisa bertahan dari serangan jarak jauh dan menyerang lawan.
__ADS_1
Meski aku bilang pemimpin, dia tidak benar-benar memiliki posisi di Guan. Sebenarnya dia berbakat, tapi dia malas. Jadi, yang benar-benar mengatur Guan adalah anak buahnya. Dia hanya sebagai simbol pemersatu Guan. Meski demikian, kalau anak buahnya kerepotan dalam membuat keputusan, dia bisa memecahkan masalah dengan segera.
Pada suatu pertemuan, dia bercerita kalau awalnya dia hanyalah petarung jalanan dengan bakat berpikir. Lalu, suatu ketika, dia bertemu dan mengalahkan organisasi pasar gelap kelas teri. Siklus itu berulang.
Perlahan-lahan, level organisasi yang dia lawan semakin besar. Pada akhirnya, sebelum dia sadari, sebuah organisasi bernama Guan, satu dari enam pilar, sudah berdiri di bawahnya.
Mengingatkanku pada tokoh di beberapa novel barat.
"Kamu berteman dengan pemimpin Guan?" Marlien bertanya.
"Ya, aku berteman dengan pemimpin Guan. Dan, tidak. Aku tidak berteman dengannya hanya karena dia pemimpin Guan. Dulu, aku sudah berteman dengannya sebelum tahu kalau dia adalah pemimpin Guan. Anggap saja takdir."
"Gin, kamu cowok, jangan bilang takdir. Jijik. Bilang saja kebetulan." Jin mengoreksiku.
"Anggap saja kebetulan," aku menerima koreksi Jin dengan enteng.
"Oke, bagian perkenalanku sudah selesai. Jadi, sekarang, aku ingin bertanya satu hal padamu, gin."
"Masalah penambahan kuota? Aku sudah mengatakannya pada Shu En dan agen yang bertugas menjadi pengawas Guan. Jadi, aku sudah melaksanakannya."
Jin melihatku dengan pandangan yang berat, seolah-olah semua kulit di sekitar matanya ditarik ke bawah. Terakhir kali aku melihat reaksi ini adalah ketika ada perempuan yang kecewa denganku di SMA. Ya, benar, aku melihat reaksi macam ini di perempuan. Ketika melihatnya terpasang di wajah laki-laki, aku tidak tahu harus merespon apa.
Aku masih normal, suka perempuan, maaf. Harusnya aku yang bilang jijik, bukan kamu.
Namun, kembali ke bahasan serius. Jin bertanya kenapa aku menyimpan rahasia darinya. Dia, saat ini, membahas tentang rahasianya sebagai pemimpin Guan. Melihat dia baru saja mengamati pertemuan yang dihadiri Ukin, hanya ada satu kesimpulan yang bisa kutarik.
"Apa Ukin mengatakannya di pertemuan itu?"
Tanpa perlu aku menyebut identitas, Jin mengangguk.
"Ahh...."
Aku memegang kening ketika melihat respon Jin. Akhirnya, momen yang tidak diinginkan pun datang. Sejak aku mengetahui Ukin terlibat dalam kasus Illuvia, aku menyadari cepat atau lambat dia akan membeberkan identitasku sebagai Sarru. Yah, kondisi ini memang tidak terhindarkan, inevitable.
"Hah... maafkan aku, Jin. Bukan maksud. Ketika aku mengenalmu, sebenarnya, aku sudah tidak menggunakan identitas itu lagi. Aku menggunakan identitas itu lagi baru satu atau dua bulan ini."
"Bisakah kau mengatakannya dengan tegas padaku? Tidak hanya padaku. Kurasa semua orang di ruangan ini berhak tahu."
__ADS_1
Jin menatapku dalam-dalam. Aku bisa melihat matanya yang memantulkan wajahku.
"Baiklah. Karena pihak musuh sudah mengetahuinya, kurasa sudah saatnya aku buka kartu. Ibla, kamu sudah bisa menghentikan aktingmu."
"Baik," Ibla berlutut. "Maaf kalau aku tidak bisa mengantisipasi hal ini."
"Ah, tidak apa. Ukin memang adalah wild card. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi ketika tahu dia terlibat."
"Eh? Akting?"
"Ibla?" Shu En melihat ke arahku. "Gin, apa maksudnya ini?"
Baik Marlien dan Shu En langsung bergeming. Mereka melempar pandangan tajam ke arahku.
Aku memandang Jin sejenak, lalu melihat ke semua orang secara bergantian. Tidak kusangka aku akan mengatakan hal ini.
"Namaku adalah Lugalgin Alhold. Di pasar gelap, aku dikenal sebagai penjual barang antik yang cukup dikenal. Namun, selain penjual barang antik, aku juga memiliki identitas lain di pasar gelap. Aku adalah pendiri sekaligus pemimpin Agade, satu dari enam pilar, Sarru."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1