
Halo semuanya.....
Hari ini adalah tanggal 7 Juni 2020. Jadi, sudah 1 minggu berlalu sejak pengumuman di atas. Dan, tidak banyak perubahan vote sejak minggu lalu.
Author mengingatkan Give Away Perioder 3 hanya sampai 14 Juni, yaitu tinggal 1 minggu, Jangan sampai kelewatan ya.....
Tapi, melihat antusias votenya, kelihatannya para reader pada menahan diri dan bersimpati ke Angel Syahfitri Fitri ya? Yah, kalau memang benar demikian, author tidak akan melarang. Itu hak kalian. wkwkwkwk
Lalu, sekalian sedikit curcol mengenai promo.
Dalam beberapa minggu terakhir, sebenarnya, sudah ada 2 user yang menghubungi Author untuk Promo. Namun, sayangnya, author tidak meloloskan keduanya. Kenapa? Well, to be frank, naskah mereka tidak memenuhi standar penulisan yang benar. Author tidak bilang harus sempurna, tidak ada yang sempurna.
Untuk yang pertama, author tidak terlalu antusias ya karena base ceritanya cultivation, you know lah. Untuk yang kedua, author sempat antusias karena base cerita bukan cultivation. Bahkan, awalannya cukup menjanjikan. Sayangnya, baru berapa paragraf, fail.
Secara konsep, dua cerita tersebut memang fantasi, berada di hit target author. Namun, ada hal lain yang membuat author memilih untuk tidak mempromosikannya.
So, here's the thing. Dua author ini (dan juga banyak author pemula lain), terlalu fokus dengan menulis. Kalau sekedar "fokus", oke. Tapi aku menulis kata "terlalu fokus". Sesuatu hal yang sudah terlalu tidak pernah baik. Hal ini membuat mereka melupakan satu hal yang membuat orang nyaman membaca, editing.
Bagi yang mengikuti IG author, kalian mungkin sudah membaca post mengenai self edit atau swasunting. Sederhananya, kalau sudah selesai menulis, jangan langsung publish. Ada proses yang namanya self edit atau swasunting. Kenapa? Kalau proses ini tidak dilalui, hampir bisa dijamin tatanan kalimat berantakan. Naskah kalian masih di tingkat draf mentah.
Self edit adalah fase atau proses yang sangat krusial. Semua author, ketika baru selesai menulis, pasti merasa "wah, tulisan terbaik ini" atau "mantep dah". Hah! Pikir lagi! Coba kalian tinggalkan naskah itu selama seminggu atau lebih. Lebih lama lebih baik. Dalam waktu itu, kalian jangan pegang naskah tersebut. Entah buat naskah baru sambil baca novel lain yang sudah cetak.
__ADS_1
Novel cetak sudah melalui proses editing. Kalau kalian sering membaca novel ini, kalian akan terbiasa dengan tata dan kaidah penulisan yang tepat, membuat pembaca nyaman. Setelah itu, kalian baca lagi naskah yang sudah selesai. Di saat itu, kalian akan mungkin akan berpikir "*****, naskahku jelek banget" atau "buset berantakan banget" atau "aku bikin naskah ini?".
Author, aku, juga mengalami fase ini. Dulu, aku juga berpikir "yang penting konsep dan cerita bagus, kan?" Namun, setelah bertahun-tahun membaca buku dan belajar, aku menyadari sekedar konsep dan cerita bagus. Penulisan (eksekusi) juga sangat lah penting. Tanpa eksekusi yang tepat, konsep dan cerita tidak akan berguna.
Author bahkan pernah mendapat sumpah serapah dan hinaan karena penulisan yang berantakan. Kalau alasan sumpah serapah dan hinaan itu tidak jelas, author mah peduli setan. Tapi kalau semua sumpah serapah dan hinaan itu disertai dengan penjelasan dan penunjukkan lokasi kesalahan penulisan? Nyesek *****. Di situ, aku marah dan ikut menghina diri ini sendiri. Bahkan aku malu sudah mempublikasi tulisan tersebut. Bahkan, gara-gara ini, aku langsung mengganti nama pena, memulai baru.
But, aku yakin akan ada yang berdalih seperti ini.
"Tapi, aku kan pengarang, author. Editing itu pekerjaan editor, bukan pekerjaanku."
Pekerjaan Editor memang benar melakukan editing naskah. Namun, editor tidak akan menerima editing naskah yang penulisannya berantakan. Anggap saja begini. Naskah yang baru selesai (draft), umumnya memiliki nilai kurang dari 40. Setelah self edit, bisa bertambah antara 10 - 30. Jadi, nilai maksimal bisa 70. Nah, editor, hanya akan menerima pekerjaan yang naskahnya memiliki nilai minimal 60. Tugas editor adalah meningkatkan nilai dari 60 menjadi setinggi mungkin.
Hanya dengan melakukan edit sendiri atau swasunting, kalian bisa menghemat uang lebih dari 50 persen.
Ketika kalian mengirim naskah kalian untuk author baca dan memberi arahan kenapa naskah kalian tidak lolos, secara tidak langsung, author sudah menjadi beta reader untuk kalian. Apa kalian tahu kalau beta reader juga memiliki rate? Sebenarnya rate ini murah, hanya 10 rupiah per kata. Namun, kalau kalian mengirim 3 chapter dengan total kata 6000, normalnya, kalian sudah harus membayar 60 rbu rupiah untuk membuat author membacanya.
Namun, tidak! Author tidak meminta kalian membayar! Author memberi kalian jasa beta reader cuma-cuma.
Kenapa aku tiba-tiba mention rate beta reader? Karena salah satu author yang minta ceritanya dipromosikan meminta arahan untuk ceritanya lebih baik. Namun, setelah diberi arahan untuk perbaikan, tidak ada perubahan di naskahnya, baik yang lama maupun yang baru. Terus ngapain minta arahan? Kalau begitu, dah terima aja keputusanku kalo ga promosi naskahmu. Gak usah minta arahan dan saran perbaikan.
Untuk yang satunya, dia sudah berhenti menulis untuk sementara waktu. Aku penasaran dia melakukan self edit atau cuma istirahat sejenak atau bahkan berhenti total menjadi penulis. Yah, aku berharap dia melakukan self edit sih. Yah, itu hanya harapan. Kalau ternyata nasibnya sama seperti author yang lain, ya sudah. Mau bagaimana lagi.
__ADS_1
Mungkin kalian penasaran kenapa author agak aktif soal promo ini. Awalnya, author diam saja mengabaikan komentar-komentar promo. Namun, sayangnya, hal itu sudah tidak bisa dibiarkan. Kenapa? Begini penjelasannya.
Sebagai author, tentu saja, author juga tergabung di beberapa forum dan lingkar penulis. Dan, ada salah satu kenalan author yang juga merupakan beta reader dan rekan menulis author membahas soal aku yang diam saja dengan komentar promo.
Diam saja memang bisa dikategorikan sebagai tidak peduli. Namun, ternyata, akhir-akhir ini diam saja juga bisa dianggap sebagai hal yang lain, tidak keberatan. Kalau aku membiarkan komentar promo yang ada, sama saja aku tidak keberatan dengan orang promo.
Dan, kalau aku tidak keberatan dengan komentar promo, secara tidak langsung, aku juga merekomendasikan tulisan yang di promo itu dong. Ketika ada author lain yang melihat komentar promo tersebut, ada kemungkinan mereka akan membacanya.
Kalau ternyata tulisannya tidak rapi, berantakan, dan memiliki nilai publish rendah, author tersebut akan menyalahkan aku sebagai pemilik lapak karena membiarkan mereka promo. Kalau menggunakan analogi kejadian di I am No King, sama saja aku membiarkan keluarga kerajaan lain terbunuh di wilayahku. Apapun yang terjadi di wilayahku, adalah tanggung jawabku. Yah, begitulah.
Dan, apa yang akan terjadi kalau dibiarkan lebih lama? Reputasi yang telah aku bangun sejak lama akan hancur oleh orang-orang yang aku diamkan saja. Dan, aku tidak mau reputasiku hancur. Karena itulah author pasti reply komen promo dengan "F**K OFF". Setidaknya ini bisa menunjukkan ke author lain kalau aku tidak mendukung atau membiarkan komentar promo ini berseliweran begitu saja.
Lalu, sekali lagi, author cantumkan prosedur mengenai promo di I am No King.
Sebagai catatan, mungkin agak ironis, tapi pengumuman ini tidak melalui proses self edit. Hanya naskah dan chapter cerita yang melalui proses self edit. Kenapa tidak self edit? Karena pengumuman macem ini cuma pengen curcol, gak lebih.
Dan, sekali lagi, tidak lupa author sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah membaca I am No King. Terus nantikan kisahnya ya :D
__ADS_1