
Kembali ke masalah utama.
"Saat ini, terdapat beberapa kemungkinan,"
Aku memberi penjelasan mengenai beberapa skenario yang mungkin terjadi dari kondisi ini.
"Pertama, opsi tidak menjatuhkan hukuman pada bangsawan yang membantai rakyat jelata. Berita yang disebarkan adalah terjadi ledakan gas atau kecelakaan teknis yang membunuh rakyat. Jika opsi ini diambil, para pengkhianat itu akan berpikir keluarga kerajaan tidak mampu melakukan apapun. Dan, akan sangat mungkin, mereka melakukan hal ini lagi.
"Kedua, opsi menjatuhkan hukuman pada keluarga bangsawan yang membantai rakyat jelata. Jika pilihan ini diambil, kemungkinan besar keluarga para bangsawan yang terlibat merasa terhina. Hal ini akan membuat mereka membentuk aliansi dan melancarkan kudeta, yang bisa berakibat pada perang saudara.
"Ketiga, opsi aku yang menjatuhkan hukuman. Jika opsi ini diambil, tidak bisa dipungkiri, kebencian mereka padaku akan semakin besar. Dan, seperti penjelasan Emir dan Inanna, perhatian mereka akan fokus ke arahku. Padahal, sebelumnya, mungkin, mereka bertindak hati-hati karena Emir masih memiliki hubungan darah dengan Raja. Namun, kalau opsi ini diambil, mereka tidak akan peduli lagi.
"Opsi ketiga juga memiliki efek yang mirip dengan opsi kedua. Karena Emir adalah keluarga kerajaan, dan penunjukanku adalah titah Fahren, maka pihak bangsawan akan menyatakan itu semua adalah salah Raja. Dan setelah itu, mereka akan mencoba mengkudeta Fahren, yang berakibat pada perang saudara juga.
"Ah...sebentar,"
Aku merasa ada yang kurang. Terutama dari opsi pertama. Setelah kupikirkan sebentar, akhirnya aku tahu apa yang kurang.
"Revisi, untuk opsi pertama, kalau para pengkhianat berpikir Raja tidak memiliki kekuatan, apa yang mencegah mereka melakukan kudeta? Meskipun kita mengambil opsi pertama dan aku mampu menghentikan serangan mereka terus menerus, efeknya pun sama. Karena aku ditunjuk oleh Fahren, mereka akan menyalahkan Fahren. Dan, sekali lagi, tidak peduli opsi mana yang diambil, perang saudara mengancam."
Setelah aku pikir-pikir, semua opsi itu tidak ada yang bagus.
Kalau seandainya ditelusuri, aku penasaran, penyebab awal semua ini berada di titik mana ya? Apakah ketika Keluarga Cleinhad menyarankan metode suplai anak-anak? Atau ketika aku membantai mereka? Ya, itu tidak penting.
Kalau melihat semua pilihan yang tersedia, rute yang aman adalah aku membersihkan semua pengkhianat, termasuk anak-anak.
"Gin, aku tidak mengizinkanmu melakukan pembersihan."
"Apa Permaisuri Rahayu sadar kalau terjadi kudeta, semua itu adalah salah Anda? Kalau hanya kehilangan gelar kerajaan tidak masalah. Namun, kalau keluarga kerajaan dibunuh, atau dijadikan budak seks? Apa itu berarti Permaisuri Rahayu tidak masalah dengan risiko ini?"
"CUKUP!" Fahren membuka mulut. "Dari tadi aku hanya mendengarmu mengeluh hanya karena tidak diizinkan melakukan pembersihan. Kamu seperti anak-anak yang keinginannya tidak dikabulkan, tahu? Tidak semuanya akan berjalan seperti yang kau inginkan. Terima fakta!"
Ada apa dengan Fahren? Ucapannya tidak jelas. Apa Fahren sudah kehilangan akal sehatnya? Daripada aku, harusnya kau melontarkan kata-kata itu pada dirimu sendiri.
__ADS_1
Namun, baiklah. Aku akan melayani ucapan Fahren.
"Kalau semua hal berjalan seperti yang kuinginkan, aku tidak mungkin duduk di mobil ini sekarang berbicara dengan Raja tidak becus, yang melemparkan tanggung jawab ke orang lain. Ah, tunggu dulu. Kalau semua berjalan seperti yang kuinginkan, mungkin aku tidak pernah terlibat dengan pasar gelap. Dan, aku tidak akan pernah bertemu Emir dan Inanna.
"Oh, atau mungkin, kalau semua berjalan seperti yang kuinginkan, aku memiliki pengendalian dan tidak terlahir di keluarga Alhold. Jadi, ya, aku sudah menerima fakta kalau banyak sekali hal tidak berjalan seperti yang kuinginkan. Daripada aku, apa bukan kau, Fahren, yang menolak fakta bahwa hidup ini tidak berjalan seperti yang diinginkan?"
***
Tidak lama kemudian, kami pun sampai di rumah. Sejak aku membalikkan ucapan Fahren, tidak seorang pun berbicara. Mereka pergi setelah aku mengambil peti arsenal dari bagasi belakang mobils.
"Emir, menurutmu, apa ayahmu tidak aneh?" Aku bertanya sambil membuka pintu.
"Jujur, aku juga merasa ada yang aneh dengan ayah. Aku merasa, mungkin, ayah terdesak oleh sesuatu.."
"Ya, aku juga berpikir demikian. Di lain pihak, belum ada komunikasi dari Arid sama sekali. Aku jadi–"
Baru aku membuka pintu, sebuah bau anyir tercium. Bukan hanya bau anyir, sebuah bagian tubuh bersimbah darah pun terlihat di depan rak sepatu.
Ninlil langsung menutup mulut, menahan isi perut yang kosong. Kalau dia sudah sarapan, mungkin saat ini dia sudah muntah. Di lain pihak, tiga perempuan yang lain bisa menerimanya dengan cukup tenang. Mereka sedikit terentak, tapi tidak ada reaksi berlebihan seperti Ninlil.
Tanpa perlu aku perintahkan, aku yakin saat ini Emir dan Inanna sudah bersiap mengendalikan timah dan silikon yang tersebar di setiap sudut rumah.
Aku berbisik, "Emir, Inanna, kalian masuk lewat jendela. Aku akan masuk lewat ruang tamu. Shinar, tetap di sini dan jaga Ninlil."
"Baik," mereka menjawab dengan berbisik.
Aku melangkah perlahan, memastikan kakiku tidak mengeluarkan suara. Darah bersimbah dimana-mana disertai dinding retak dan beberapa furnitur rusak. Bukan hanya darah yang dapat ditemukan dimana-mana. Terlihat juga beberapa organ tubuh manusia yang tercecer.
Tampaknya baru terjadi pertarungan. Dugaanku, entah agen yang kurumahkan atau keluarga Alhold berseteru dengan anggota Agade yang berjaga. Dan, dugaanku tepat.
Di ruang utama, di depan televisi, tampak sebuah sosok duduk. Sosok itu duduk memegangi kedua kaki yang terlipat di atas sofa. Pakaiannya sudah tidak berbentuk lagi. Robek dimana-mana. Rambutnya yang dicat hijau tua kini bercampur merah darah. Satu fitur yang paling menjelaskan sosok ini adalah dadanya yang rata.
"Yarmuti?"
__ADS_1
"Gi, gin... a... aku....Al.... Alhold...."
Perlahan, Yarmuti menoleh. Mata hijaunya menangis. Dia tidak mampu mengatakan apa pun dengan baik. Tampaknya, dia bertikai dengan keluarga Alhold.
Yarmuti bangkit dari sofa. Perlahan, dia berjalan ke arahku. Atau tidak. Dia tidak bisa melakukan semua itu. Sebelum berdiri, Yarmuti roboh.
Aku bergerak cepat dan menangkap Yarmuti sebelum menghantam laintai. Ketika aku perhatikan baik-baik, pergelangan kaki kirinya mengeluarkan darah, berlubang. Selain itu, telapak tangan kanannya pun penuh dengan lubang.
"Maaf...kan...aku...Lugalgin...Aku...."
"Shh..... kamu tenang saja. Ini bukan salahmu. Ini bukan salahmu."
Aku memeluk Yarmuti erat, mengelus-elus rambutnya dengan perlahan dan lembut.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1