
"Ah ... ibu-ibu ini benar-benar membuatku capek."
"Hahahaha. Kalau bukan teman dari putra salah satu ibu-ibu ini, aku bisa menjamin kepalamu sudah melayang."
"Ya, aku sadar."
Aku dan Pak Marlien duduk di lobi sambil menikmati kursi pijat otomatis dan segelas susu dingin.
Beberapa hari lalu, tiba-tiba saja pemimpin Akadia, Bu Yueni, mengatakan akan mengadakan pertemuan penting. Dia memintaku melakukan reservasi penginapan dengan pemandian air panas di kota Abu. Sebenarnya tidak benar-benar reservasi sih karena penginapan ini milik anggota Agade yang dulunya bangsawan.
Yang membuatku lebih terkejut adalah partisipan pertemuan penting ini adalah petinggi Quetzal dan Ningal, dua dari empat pilar. Kenapa yang diundang hanya mereka? Kenapa Agade tidak diundang juga? Apa Tiga Pilar ini ingin melawan Agade.
Ketika abu bingung, sosok laki-laki yang mengaku sebagai Ibla, pelaksana tugas pimpinan Agade, menemuiku. Dia memberi pesan bahwa Agade sudah tahu mengenai pertemuan ini dan tidak mempermasalahkannya. Aku mencoba menghubungi Lugalgin, pemimpin Agade yang sebenarnya, untuk memastikan.
"Ah, itu bukan pertemuan antar organisasi. Itu hanyalah ajang kumpul ibu-ibu. Ibu sudah memberi tahuku. Dan lagi, ada undangan untuk orang luar organisasi, kan?"
Aku bernapas lega ketika mendengar jawaban Lugalgin. Ternyata acara ini hanya ajang kumpul ibu-ibu. Jujur, mungkin kalau tiga ibu-ibu ini bukan pemimpin Tiga Pilar, aku tidak akan setegang ini. Tamu orang luar yang dimaksud adalah dua VVIP dengan pengawal bekas pemimpin Guan, Jin.
Karena kami melakukan reservasi pada seluruh penginapan. Jadi, ajang kumpul ibu-ibu ini berubah menjadi rekreasi tiga organisasi besar pasar gelap beserta tamu. Aku penasaran apakah suatu saat nanti aku bisa mencapai level para pemimpin ini?
__ADS_1
Ketika aku memikirkan semua itu, smartphone bergetar. Aku mengambil smartphone dari saku celana pendek dan melihat tulisan di layar.
"Pak Marlien, aku jawab telepon dulua ya."
"Ya."
Aku bangkit dari kursi pijat dan berjalan menjauhi keramaian, ke luar bangunan.
"Halo, Maila?"
[Jadi, bagaimana rasanya rekreasi dengan ibu pembunuh teman baikmu?]
Aku menghela napas berat.
[Jadi kamu mau menyalahkanku? Jadi kamu lebih memilih Illuvia depresi di kamarnya setelah mendengar berita Lugalgin yang akan menikah?]
"Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya mengungkapkan fakta. Dan lagi, setidaknya, kalau Illuvia hanya depresi, waktu dan psikolog bisa menyembuhkannya. Tapi, kalau sudah mati, sudah selesai. Tidak ada lanjutan cerita lagi."
[....]
__ADS_1
Tidak ada respons dari Maila. Tampaknya dia kesal dengan ucapanku.
Meskipun buruk, aku tetap berusaha menjalin hubungan dengan Maila. Aku mengira Maila akan mengabaikanku begitu saja. Di luar dugaan, dia masih mau meladeniku. Namun, yah, setiap kami telepon, yang terlontar adalah hinaan dan kata-kata kasar seperti ini. Terkadang aku berpikir kenapa kami masih tetap menjalin hubungan walaupun jelek.
Kalau boleh bilang, takdirku bermusuhan dengan Maila, dan Illuvia kalau dia masih hidup, memang tidak terhindarkan. Orang tuaku bekerja di Akadia sedangkan orang tua Maila dan Illuvia bekerja di Orion. Cepat atau lambat, kami akan berkonfrontasi.
Lugalgin memang berperan vital sebagai penyebab perang pasar gelap, karena dia membersihkan keluarga Cleinhad. Namun, melihat dasar Akadia yang menentang perdagangan anak dan Orion yang mendukung, cepat atau lambat, kami akan berkonfrontasi. Lugalgin hanya mempercepat proses itu.
Lugalgin mengatakan Maila dan ibunya, seharusnya, sudah hidup kaya di luar negeri. Aku juga mencari informasi menggunakan identitas baru mereka dan mendapati mereka sudah menjadi konglomerat. Terkadang, aku penasaran kenapa Maila masih terus protes.
"Lalu, apa kamu menelepon hanya untuk mengatakan hal itu."
[Tentu saja tidak!] Maila membentak. [Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Semoga lancar sampai Hari-H]
"... terima kasih."
__ADS_1