
Eh? Kok?
"Aku pulang,"
Aku berteriak, memberi tahu kedatanganku pada penduduk rumah, yang seharusnya tidak ada. Namun, entah mengapa, aku merasakan kehadiran mereka. Bukan hanya mereka, tapi semua anggota elite Agade ada di tempat ini.
"Selamat datang, Lugalgin,"
Biasanya, hanya suara Inanna yang akan menyambutku di pagi hari. Namun, pagi ini, ada sebanyak delapan suara yang berbeda menyambutku. Selain delapan orang yang menyambutku, ada empat orang memutuskan untuk tidak menyambutku.
Aku sama sekali tidak marah mereka tidak membalas ucapanku. Maksudku, mungkin mereka sedang meletakkan sesuatu di mulut mereka atau mereka sekedar malas. Ya, kami sama-sama cowok, jadi aku paham kalau mereka memilih untuk tidak memberi balasan.
Tapi, daripada itu.
"Kenapa kalian semua ada di sini?" tanyaku ketika sampai di ruang utama.
Namun, tidak ada yang menjawab. Mereka hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatan mereka.
Sementara para cowok menonton televisi, para cewek sedang berada di dapur. Meja dan kursi sudah dipinggirkan. Di tempat meja dan kursi, di tengah ruangan, sebuah tikar sudah terpasang, memberi ruang yang cukup untuk tiga belas orang.
Di dekat kamar mandi, aku melihat sosok Mulisu yang menggerak-gerakkan tangan, memanggilku.
Aku pun berjalan ke belakang dan masuk ke kamar mandi. Sekarang, di dalam kamar mandi, hanya ada aku dan Mulisu. Tidak, aku tidak akan melakukan hal aneh-aneh. Aku tahu Mulisu hanya ingin berbicara tanpa didengar yang lain.
Ah, ngomong-ngomong, kamar mandiku tidak kecil. Kamar mandiku berukuran 3 x 2 meter dengan shower dan bathtub. Jadi, posisiku dan Mulisu tidak berdekatan. Kami memberi jarak.
"Bisa tolong jelaskan ada apa?"
"Inanna cerita kalau pagi adalah momen dimana kamu terasa paling jauh. Dan, kami semua juga setuju."
Aku terdiam, memberi kode pada Mulisu agar dia meneruskan.
"Dari kami semua, hanya Emir dan Ur yang tidak tahu tentang kebiasaanmu di pagi hari karena mereka selalu bangun siang. Dan, kami berharap, dengan melakukan ini kamu bisa lebih terbuka pada kami semua, terutama dua calon istrimu itu."
Aku masih belum memberi jawaban. Aku berusaha mencerna ini semua.
"Bahkan, Inanna cerita kalau kamu sempat marah karena dia mengikutimu beberapa kali."
Ah, tunggu dulu, apa aku pernah marah pada Inanna? Apa yang membuatku marah pada perempuan selunak dan sepenurut..... ah, iya, aku ingat. Beberapa minggu lalu, atau sudah lewat satu bulan ya?
Ya, intinya, ada momen ketika aku sempat memperingatkan Inanna untuk tidak mengikutiku di pagi hari. Sebenarnya, niatku saat itu adalah berkata "kalau kamu penasaran, tanya saja langsung atau minta ikut saja. Tidak usah berusaha mengikuti.". Tampaknya, niatku tidak tersampaikan.
"Itu bukan niatku memarahinya. Tapi," aku terdiam sejenak. "Kurasa aku harus minta maaf. Mengingat sifat Inanna yang lunak dan penurut, dia pasti berpikir telah membuatku marah saat itu."
Mulisu tersenyum, "kamu benar-benar mengenal calon istrimu ya."
Aku mendengus, "Ya, cukup lah. Dan lagi, kamu sendiri tahu kan aku tidak akan marah hanya karena hal seperti itu. Ya, mungkin kalau itu orang yang tidak kukenal atau tidak dekat, seperti Fahren atau Rahayu, aku akan sedikit marah. Namun, kalau Inanna atau Emir bertanya, atau kalian, aku tidak akan segan-segan untuk menjawab."
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Pasti, saat itu, niatmu adalah mengisyaratkan 'kalau penasaran ayo ikut saja, tidak usah sembunyi-sembunyi'. Aku bisa menebak jalan pikirmu, tapi, aku tidak mau mengatakannya. Aku mau kamu mengatakannya pada Inanna langsung. Ya, kalau yang memergokimu Emir mungkin akan lain ceritanya."
Mulisu berhenti sejenak, lalu dia melihat ke arah bathtub yang kosong. "Kami sendiri juga sadar kalau ingin tahu, yang kami perlukan hanyalah bertanya langsung. Kita mungkin sudah mengetahui masa lalu mereka untuk berjaga-jaga. Namun, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui masa lalumu. Dan, jujur, kalau disuruh bertanya, kami belum siap."
Aku terdiam sejenak.
Di pasar gelap, kami memiliki aturan tidak tertulis 'kalau kamu ingin mendapatkan sesuatu, kamu harus memberi sesuatu yang sama bernilainya'. Dalam hal ini, kalau mereka ingin mendapatkan informasi, atau sekedar cerita mengenai masa laluku, mereka harus memberikan kisah mereka juga padaku.
Aku dan Mulisu sudah mengetahui masa lalu masing-masing anggota elite. Namun, mereka belum menceritakannya secara langsung. Jadi, yang kami miliki hanya sebatas informasi yang MUNGKIN salah.
Sebenarnya, kalau aku mau, aku bisa saja memberikan masa laluku begitu saja tanpa mereka perlu menceritakan masa lalunya. Namun, kalau aku melakukannya, mereka semua akan merasa hutangnya bertambah. Kalau itu terjadi, bisa-bisa mereka semakin seperti anjing yang akan menuruti semua ucapanku, dan aku tidak menginginkannya. Oleh karena itu, aku akan menahan diri.
Di saat itu, aku merasa otot-otot di wajahku merenggang, lemas. Bahkan, tanpa aku sadari, aku sudah tertawa kecil mendengar ucapan Mulisu.
"Kenapa kamu malah tertawa?"
"Haha, bagaimana ya." Aku berusaha menghentikan tawa. "Entahlah. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin, merasa lucu saja melihat kalian."
"Apanya yang lucu? Kami serius tahu."
"Iya, iya." Aku akhirnya mampu menghentikan tawa yang muncul. "Kalau suatu ketika mereka ingin mendengar ceritaku, atau ingin menguping ketika aku bercerita pada Emir atau Inanna, silakan saja. Aku sama sekali tidak keberatan.”
Sebentar, apa Emir sudah bercerita? Aku tidak yakin apa dia yang bercerita langsung atau aku mendengarnya dari orang lain. Lebih spesifik, Tuan Putri Yurika. Ya, intinya sama lah. Aku sudah mengetahui masa lalu mereka. Akan tidak adil kalau aku tidak menceritakan masa laluku.
"Kamu tidak merasa masa lalumu sepenting itu?"
"Masa laluku adalah hal yang penting. Tanpa masa laluku, aku yang sekarang tidak akan tercipta."
"Aku tidak bertanya filosofimu!"
"Hahaha, iya, iya," aku menanggapi Mulisu dengan enteng. "Maksudku adalah, masa laluku memang penting, tapi, itu semua hanya masa lalu. Aku tidak ingin hal itu menjadi penghalang untukku lebih dekat dan mendapat kepercayaan kalian. Kalau hanya dengan menceritakan masa lalu aku bisa mendapatkan kepercayaan kalian, maka harganya sangat murah.
"Terutama kamu, Mulisu. Kita sudah saling mengenal hampir empat tahun, atau lima tahun? Ya, sudahlah." Aku mengabaikan waktu kami bertemu. "Dari semua orang di sini, kamu adalah yang paling mengenalku. Aku tidak mungkin menjaga jarak darimu hanya karena tidak ingin masa laluku diketahui. Aku ingin kamu percaya padaku, dan aku ingin mempercayaimu. Sesederhana itu."
Ya, aku ingin mempercayaimu, Mulisu.
Mulisu terdiam ketika mendengar jawabanku. Dia tidak memberi respon dan hanya membuang muka.
"Kamu sudah berubah, gin."
"Eh? Apa benar?"
"Dulu, kalau melakukan sesuatu, keinginan pribadimu pasti menang. Kamu akan selalu mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari semua hal. Dan, pilihan yang kamu ambil pasti lah pilihan yang paling menguntungkan bagimu. Atau setidaknya, paling sedikit merugikan. Kamu kira aku tidak tahu kalau kamu memiliki alasan lain di balik berdirinya Agade?"
Aku terdiam sejenak, menggaruk kepala.
__ADS_1
"Jangan khawatir," Mulisu menambahkan. "Aku tidak marah kok walaupun kamu memiliki alasan lain. Kalaupun mereka mengetahuinya, mereka justru akan lebih senang. Mereka akan berpikir telah memenuhi tujuan mereka, yaitu berguna untukmu."
Aku memberi respon. "Aku masih belum berubah. Aku masih memikirkan semua keuntungan dan kerugian yang mungkin akan kualami di masa depan. Dan, saat ini, pilihan ini relatif adalah yang paling menguntungkan, atau setidaknya paling sedikit merugikan, untukku."
Mulisu menatapku dalam-dalam. "Matamu lebih condong mengatakan paling sedikit merugikan."
Aku tersenyum. Perempuan ini, meski tidak seahli aku dalam membaca emosi dan pikiran orang, masih cukup berkompeten. Dia bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikiranku.
"Lugalgin! Mulisu! Sarapan sudah siap."
Suara Emir terdengar kencang, menggema di seluruh penjuru rumah.
"Ya, mari kita akhiri sampai di sini." Aku mengakhiri percakapan kami. "Untuk masa laluku dan masa lalu kalian, tidak usah terlalu dipikirkan. Waktunya akan tiba dengan sendirinya."
Aku membuka pintu kamar mandi dan keluar.
"Ya, kami datang,"
Di saat itu, mungkin Mulisu tidak berniat agar aku mendengar kata-katanya. Dia hanya berbisik. Namun, karena pendengaranku cukup peka, dan kami berada di ruang hampir tertutup, aku sempat menguping.
Meskipun kalimat Mulisu bukanlah sesuatu yang bisa kuabaikan begitu saja, aku berpura-pura tidak mendengarnya dan menjaga ketenanganku.
"Tasha tidak salah sudah memilihmu."
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload Sabtu malam.
Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.
Untuk post note, tidak banyak yang bisa dibicarakan. Hanya memberi informasi kalau ini adalah chapter terakhir untuk Arc 3. Besok, minggu, akan libur dulu. Senin akan mulai Arc baru, dan sudut pandang bukan dari Lugalgin. Arc depan akan memiliki peran vital untuk I am No King.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1