
Sementara aku ditarik oleh Emir secara perlahan perlahan-lahan, menara api bermunculan, memenuhi pandangan dengan warna merah. Suara menggelegar bermunculan, bergantian, seolah saling menyahut. Tidak ada satu titik pun yang luput. Semuanya dilahap oleh api. Bukan hanya bangunan utama, seluruh kompleks permukiman Alhold telah dilahap oleh api.
"Kena,"
Aku merasakan kepalaku mendarat pada sesuatu yang lembut. Tanpa perlu melihat, aku tahu benar kalau kepalaku mendarat di dada Emir. Kenapa aku bisa tahu? Aku meraba dan merasakannya hampir setiap malam. Tentu saja aku tahu.
Emir menangkapku di udara, melayang.
Aku melihat tangan Emir yang melingkar di dadaku. Dia mengenakan sarung tangan, mencegah kekuatan pengendaliannya menghilang.
"Lain kali, bisa tolong jangan memberi tahu mendadak seperti tadi? Kalau aku terlambat sedikit saja, kamu bisa mati tahu."
Aku tidak menjawab, diam. Bukan tidak mau menjawab, tapi tidak bisa. Tanpa melihat ke belakang, aku menunjuk selendang Emir yang melilit leherku.
"Ah, Maaf. Aku lupa."
"Ahh..... akhirnya aku bisa bernafas lagi." Aku membuka mulut lebar-lebar, membiarkan oksigen memasuki paru-paru dengan segera. "Hampir saja aku mati. Kalau kamu menarik selendangmu terlalu kuat, leherku bisa patah dan aku akan mati."
"Hehehe. Tapi tidak kan? Siapa dulu."
Perempuan ini tidak merasa bersalah, malah merasa bangga. Ah, sudahlah.
"Kembali ke pertanyaanmu. Kalau aku mengatakannya lewat earphone, Enlil bisa mendengarnya. Kalau hal itu terjadi, dia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikanku kabur. Iya, kan?"
"Iya, sih, tapi...."
"Aku kira kamu percaya diri dengan kemampuanmu."
"Ah.....ini ya ini. Itu ya itu. Beda urusan."
Kami berdua menjauhi lautan api. Begitu aku sudah di dekapan Emir, lima buah turret tank ikut membombardir tempat ini, menambah intensitas ledakan dan bola api.
Di dalam bola api itu, Keluarga Alhold yang telah berjaya sejak beberapa ratus tahun, malam ini, runtuh dan hancur. Penyebab runtuh dan hancurnya keluarga Alhold, tidak lain dan tidak bukan, adalah anggota keluarganya sendiri, aku, Lugalgin Alhold.
Akhirnya, Emir dan aku kembali ke daratan. Kami sudah berada cukup jauh dari kediaman Alhold. Hingga saat ini, Emir dan Inanna masih belum menghentikan bombardir.
Apa aku sudah bisa menganggap urusan dengan keluarga Alhold selesai?
"Inkompeten brengsek! Sini lawan aku kalau berani!"
Ah, ternyata belum. Urusanku belum selesai.
Aku meletakkan tombak tiga mata ke atas tanah lalu mendatangi Ninlil.
"Hei, Ninlil, kamu tahu kan kalau kamu sedang dalam efek pencucian otak?"
"Apa aku peduli? Selama kamu tewas, aku tidak peduli apakah berada di bawah efek pencucian otak atau tidak."
__ADS_1
Ah, logikanya sudah terbalik ya. Normalnya, orang akan berpikir tujuan yang dia miliki adalah palsu karena mengalami pencucian otak. Namun, untuk Ninlil, yang terjadi justru sebaliknya. Dia berpikir tujuan utamanya adalah membunuhku dan pencucian otak hanyalah alat untuk membantunya mencapai tujuan itu.
Aku meludah ke arah Ninlil. Namun, dengan sigap, dia menggulingkan badan.
"Hah, kamu tidak akan menghilangkan pengendalianku begitu saja."
Karena luka yang kualami cukup parah, air ludahku bercampur dengan darah. Kalau darahku menempel di tubuhnya, aku akan merasa lebih aman. Apa ada cara lain?
"Inanna, kamu mendengar cerita Enlil, kan?"
"Ya, aku mendengarnya."
"Apa ada cara untuk melemahkan pencucian otaknya tanpa menunggu. Obat yang kubawa di peti arsenal sudah dihancurkan oleh Ninlil, jadi aku tidak bisa menghilangkan pencucian otaknya dengan mudah."
"Ah, ada cara mudah," Inanna menjawab sambil membombardir kediaman Alhold. " Kita beruntung pencucian otak yang dia alami baru sehari. Karena Ninlil juga dicuci dalam keadaan setengah tidur dan di bawah tekanan dan ketakutan. Jadi, mungkin, kalau kamu melakukan sesuatu yang bisa membuatnya melupakan tekanan dan ketakutan yang dia alami, Ninlil bisa kembali normal."
Untuk menghilangkan ketakutan, ada beberapa cara. Pertama, memberinya sesuatu yang lebih menakutkan. Kedua, memberinya sesuatu yang membahagiakan. Ketiga, membuatnya marah pada hal lain. Keempat, membuatnya terkejut setengah mati. Empat alternatif itu memiliki kemungkinan untuk membuatnya lupa.
Aku mendatangi Ninlil dan memegang wajahnya. Seketika itu juga, Ninlil meludahi wajahku.
"Gin, apa yang akan kamu lakukan?"
Ayah bertanya. Dan aku mengabaikan.
"Maafkan kakak ya, Ninlil."
"Hah?"
Namun, meski demikian, aku tahu kalau cara ini cukup efektif. Ninlil tidak lagi meronta seperti sebelumnya. Berdasar cerita Suen dan Nanna, Ninlil tidak memiliki pengalaman dalam hal seperti ini. Meski kami tidak benar-benar berciuman, hal ini akan membuatnya terkejut, membuatnya melupakan semua ketakutan dan tekanan yang sudah dia alami.
Setelah beberapa detik, aku mengangkat kepala. Di depanku, terdapat wajah Ninlil yang memerah dan bernafas dengan cepat.
"Ka, kakak...."
Ninlil memanggilku.
Untuk berjaga-jaga lebih, aku mengusap kepala dan menempelkan sebagian darahku ke pipi Ninlil. Aku tidak mau pengendaliannya tiba-tiba lepas kendali.
"Gin! Apa yang sudah kamu lakukan? Dia adikmu! Adik kandungmu!" Ayah protes.
"Aku tidak menciumnya. Aku meletakkan tanganku di antara bibir kami. Tidak terjadi apa-apa di antara kami."
Setidaknya, itu lah yang muncul dari mulutku. Sebenarnya, aku tahu, bagi orang yang tidak berpengalaman, mereka akan menganggap ini sebagai ciuman. Ayah tahu Ninlil tidak berpengalaman, oleh karena itu dia panik.
Dan, Ninlil, mungkin akan menganggapku telah merenggut ciuman pertamanya. Aku yakin dia akan marah besar nanti. Namun, yang penting, efek pencucian otaknya hilang.
Jadi, dengan ini, kurasa urusan Alhold sudah sel-
__ADS_1
"Ahk,"
Tiba-tiba saja, sebuah gumpalan darah keluar dari mulutku.
"Uhuk, uhuk, uhuk."
Tidak berhenti di situ. Aku langsung batuk-batuk hebat. Setiap kali aku batuk, darah keluar dari mulut.
"Gin!"
"Gin!"
"Kak!"
Aku ingin mengangkat tangan dan menutup mulutku. Namun, saat ini, bahkan tanganku tidak mampu bergerak. Aku merasa seolah tanganku tengah dipelintir. Bukan hanya itu, seluruh tubuhku terasa seperti diinjak-injak berkali-kali, nyeri dan sakit di semua tempat.
"Ah, sial! Sudah kuduga hal ini akan terjadi!"
Ayah mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku celana. Di dalamnya, aku melihat syringe gun.
"Inanna, Emir, tolong tahan tubuh Lugalgin. Pastikan dia tidak melawan?"
Melawan? Bagaimana aku bisa melawan ketika seluruh tubuhku terasa sakit seperti ini.
"Maafkan kami, Gin!"
Inanna meminta maaf lalu menekan tubuhku ke tanah.
Sementara Inanna menahan bagian kanan tubuhku, Emir menahan bagian kiri tubuhku. Seketika itu juga, aku merasakan jarum syringe masuk ke leherku.
"Baiklah, dengan begini, dia bisa tidur untuk sementara waktu."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya