I Am No King

I Am No King
Chapter 340 – Pelayan Terkuat


__ADS_3

"Ira! Hentikan!"


Ira si pelayan istana tidak mengindahkan peringatan Bapak Bilad. Dia terus melancarkan serangan ke arahku. Awalnya melempar pisau, kini dia menghadapiku dengan tebasan pedang satu sisi.


Di lain pihak, aku terus menghalau dan menahan serangan Ira dengan sepasang kayu. Kursi yang digunakan pada ruang makan cukup berat, jadi aku mematahkan kaki kursi dan menggunakannya sebagai senjata.


"Lugalgin, perlu aku ingatkan kalau material penyusun pedang yang digunakan Ira adalah campuran. Keluarga Ira telah mendapat pelatihan khusus bertarung tanpa pengendalian. Jadi, walaupun kamu menggunakan darahmu untuk menghilangkan pengendaliannya, tidak akan ada bendanya. Dia adalah orang terkuat di kerajaan ini."


"Cukup merepotkan."


Sementara Bapak Bilad panik, Ibu Amana hanya duduk dengan kedua tangan di depan wajah. Dia hanya menonton.


Sesuai omongan Ibu Amana, Ira tidak menggunakan pengendalian. Pergerakan pedangnya mengikuti hukum parabola fisika normal, jalurnya tidak terganggu atau diubah oleh pengendalian. Bahkan, Ira bisa menyaingiku, yang menggunakan dua senjata, dengan satu bilah pedang. Selain Ira, yang pernah aku lawan, hanya Jin dan Lacuna yang memiliki kemampuan fisik seperti sehebat ini. Kecepatan tangan dan tebasannya bukan main.


Seharunya, aku akan memiliki keunggulan dengan dua senjata karena bisa menahan sambil membalas serangan Ira. Namun, setiap kali serangannya ditahan, Ira akan langsung menarik pedangnya dan melancarkan serangan dari arah lain. Kalau aku memiliki senjata dengan panjang memadai, mungkin aku bisa menyainginya. Yah, tidak ada gunanya berharap.


Pedang memotong kayu padat dengan satu tebasan hanya terjadi di dunia fantasi. Di dunia nyata, pedang tidak akan pernah mampu memotong kayu padat dengan satu tebasan, apalagi kayu furnitur. Kayu furnitur sudah mengalami proses pengerasan dan pengisian pori dengan minyak, meningkatkan kekerasannya. Meski demikian, kayu ini tetap terpotong dan teriris secara perlahan. Dan, saat ini, tinggal tunggu waktu sampai kayu ini terpotong seluruhnya.


Aku maju menerjang Ira, menggunakan dua kaki kursi untuk menahan sekaligus menyerang. Ira bergerak cepat. Dia melompat mundur dan melepaskan dua tebasan. Namun, tujuanku bukanlah menyerang. Setelah mencapai jarak yang diinginkan, aku melempar dua kaki kursi ini dan mengambil sepasang pisau lempar yang tadi digunakan Ira.


Sekarang, waktunya kabur!


"Sampai jumpa, Ibu Amana, Bapak Bilad."


Aku berlari meninggalkan ruang makan tanpa melihat ke belakang, menyusuri lorong dengan lampu kuning. Sejauh mata memandang, aku sama sekali tidak melihat ada senjata sebagai hiasan tembok atau sekedar dipegang baju zirah kosong. Normalnya, istana atau rumah bangsawan pasti memiliki senjata dekorasi. Terkadang, senjata yang diletakkan pun bukan dekorasi, berjaga-jaga kalau tuan rumah diserang dan harus membela diri.


Lorong kosong tanpa senjata menunjukkan kalau Ibu Amana, atau Ira, sudah berjaga-jaga kalau aku melawan.

__ADS_1


"Kamu tidak diperkenankan meninggalkan gedung ini tanpa bersujud minta maaf, Lugalgin!"


"Tidak akan!"


Aku memiliki rencana untuk menyusup ke istana Kerajaan Nina di masa depan. Oleh karenanya, aku sudah melihat desain dan denah bangunan kerajaan. Jadi, mencari jalan antara tempatku berdiri hingga ke pintu keluar adalah hal yang mudah. Namun, setelah itu, apa?


Istana Kerajaan Nina dan Wilayah Anshan berjarak ribuan kilometer. Walaupun mencuri kendaraan kerajaan, yang adalah barang antik, aku hanya bisa pergi untuk beberapa ratus kilometer. Kendaraan antik membutuhkan minyak untuk bergerak. Aku tidak yakin ada tempat yang menjual minyak dengan bebas. Begitu minyaknya habis, aku tidak bisa bergerak karena mobil lain pasti menggunakan pengendalian.


"Berhenti!"


"Sial!"


Tiba-tiba saja Ira melompatiku dan menghadang. Ira tidak bodoh. Saat bertarung dia memang tidak menggunakan pengendalian. Namun, untuk pengejaran, dia menggunakan pengendalian.


"Hei, Ira. Apakah ada kemungkinan kamu lebih kuat dari Ibu Amana? Sebagai inkompeten, bukankah seharusnya Ibu Amana adalah yang paling kuat?"


Oke. Alasan yang masuk akal. Logis. Ibu Amana juga mengatakan kalau Ira adalah orang terkuat di Kerajaan Nina. Dengan kata lain, dia menyatakan kalau Ira lebih kuat dari dirinya. Aku penasaran antara Ira dan Lacuna siapa yang lebih kuat.


Aku menggunakan pisau logam untuk menahan serangan Ira yang terus datang. Jadi, kali ini, aku tidak khawatir senjataku habis seperti kaki kursi tadi. Namun, tentu saja, pisau memiliki jangkauan yang lebih pendek dari pedang, jadi kemungkinan untukku melakukan serangan balik adalah kecil.


Awalnya, aku mengira akan unggul di lorong ini karena Ira kesulitan mengayunkan pedangnya di tempat sempit, tapi tidak! Untuk mengakomodasi lorong sempit, Ira akan menggerakkan tubuh ke kiri ketika menebaskan pedang ke kanan, begitu juga sebaliknya. Untuk ayunan atas dan bawah, Ira tidak perlu melakukan gerakan ekstra. Dengan kata lain, dia sudah terlatih untuk bertarung di lorong ini.


Aku mengapit pedang Ira dengan dua pisau dan maju, menyeruduk tubuh Ira dengan badan. Sekuat tenaga, aku berhasil mendorong Ira mundur. Akhirnya, aku berhasil keluar dari lorong dan tiba di tengah lantai. Bagian tengah lantai ini tersusun atas lorong di samping dan tangga besar di tengah, menghubungkan lantai atas dan bawah.


Aku melepas tendangan tapi Ira sudah melompat untuk menghindar. Setelah berputar di udara, Ira menjejakkan kaki di langit-langit dan menerjangku dengan cepat.


"Kamu pasti bercanda!"

__ADS_1


Aku melompat ke samping, menuju tangga, membuat tebasan pedang Ira menghantam lantai. Baru saja aku sampai tengah tangga, Ira sudah menerjang dari arah lain. Aku berhasil menghalau serangannya, tapi Ira kembali melompat dan menggunakan dinding atau langit-langit lain sebagai pijakan. Saat ini, Ira seperti memantul antara dinding, langit-langit, dan lantai.


Serius? Ira berputar di udara dan menggunakan langit-langit sebagai pijakan? Selain itu, dia juga bergerak zig-zag dengan sangat cepat. Gerakan Ira sudah mencapai tingkat fantasi, bukan dunia nyata lagi. Aku bahkan belum pernah melihat Lacuna melakukan gerakan itu. Di atas langit memang ada langit.


Gawat! Ira adalah kabar buruk! Tanpa kotak arsenal, aku tidak akan bisa menang. Aku harus kabur secepat mungkin!


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2