I Am No King

I Am No King
Chapter 230 – Selamat Tinggal


__ADS_3

Halo, Mari. Maaf aku baru sempat datang.


Jujur, aku belum bisa percaya kalau kamu sudah tewas. Namun, apa yang bisa kulakukan selain percaya ketika melihat jasadmu di depanku?


Saat ini, Hurrian masih dioperasi oleh ayah. Ada banyak organ di tubuhnya yang harus diganti. Namun, meskipun selesai, Hurrian akan kesulitan dalam menggunakan pengendaliannya. Bukan hanya itu, keseimbangan tubuhnya pun sudah rusak. Dia setengah cacat, bahkan lebih parah dariku yang inkompeten.


Mulisu mengatakan yang membuat Hurrian hidup adalah lukanya mendapat tekanan dari benda yang menghantamnya. Jadi, dia tidak kehilangan darah terlalu lama. Sayangnya, hal ini tidak berlaku untukmu. Sebagian besar lukamu adalah luka sayat dan lubang, tanpa ada benda apapun yang menekan atau menyumbat darah, kamu tewas kehilangan darah adalah hal yang lumrah.


Namun, meski mengatakan semua itu, baik Mulisu, Emir, maupun Inanna, mereka tidak mengatakan siapa yang membuatmu tewas atau melukai Hurrian hingga seperti itu. Mereka tidak mau memberi tahu padaku siapa lawan kalian. Mereka bilang yang memiliki hak untuk mengatakannya hanyalah Hurrian, orang yang bertarung di sampingmu hingga akhir hayatmu.


Mari, apa aku salah karena telah melatihmu? Apa aku salah membiarkanmu masuk ke Agade? Apa aku–tidak. Percuma saja aku menanyakan ini semua sekarang. Kamu lah yang bersikeras dan aku harus menghargai pilihanmu. Kalau aku mempertanyakan hal ini sekarang, sama saja aku meludahi resolusimu.


Maafkan aku ya, Mari.


Kamu akan dimakamkan besok pagi. Kamu akan disemayamkan bersama Tasha dan yang lain. Kamu tidak akan sendirian.


Aku terdiam, tidak ada apa pun lagi yang terlintas di pikiranku. Pikiranku benar-benar kosong.


Aku melihat ke Mari yang terpejam. Perlahan, aku membelai rambut putihnya yang sudah mengeras karena berada di ruangan dingin ini. Wajahnya tidak lagi mulus. Terlihat banyak luka gores dan sayatan.


Saat ini, aku berada di ruang pendingin rumah sakit. Di depanku, sebuah meja terpasang dengan tubuh Mari di atasnya. Tubuh Mari ditutupi oleh selimut putih. Hanya wajahnya yang tidak, kubuka.


Aku bangkit dari kursi, dan mempertemukan dahiku dan Mari.


"Mari, terima kasih karena kamu sudah membantuku mencari yang lain. Terima kasih karena kamu memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Dan, terima kasih karena kamu telah terlahir. Besok, aku akan mengantarkanmu menemui Tasha."


 


 


***


 


 


"Inanna, apa kamu tidak apa-apa mengikuti pemakaman ini?"

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa Gin. Aku sudah baik-baik saja," Inanna terdiam sejenak. "Justru, aku harus mengikuti pemakaman ini. Aku ingin memberikan penghormatan terakhir pada Mari."


Aku mengalihkan pandangan ke Emir. Dia tidak mengatakan apapun. Pandangannya ke sana ke sini, tidak mampu menemui mataku.


Aku tidak mengejar pandangan Emir lebih jauh dan kembali mengarahkan pandangan ke peti mati di depanku.


Kami bertiga menaiki mobil panjang yang membawa peti mati berisi jasad Mari. Ur ada di depan, mengemudikan mobil ini.


"Gin?"


"Ya?"


Aku mendongakkan kepala, mengarahkan pandangan ke Emir.


"Aku dengar Quetzal, Orion, dan Ukin menyatakan gencatan senjata selama 14 hari ke depan. Bahkan, mereka menyatakan akan mengawal pemakaman ini. Apa ini serius? Apa ini bukan tipuan mereka dan lalu menyerang ketika kita lengah??"


Inanna langsung menoleh ke arahku dan mengangguk, menunjukkan dia juga memiliki pertanyaan yang sama.


"Ah, itu," aku merespons enteng. "Jangan khawatir, ini bukan tipuan. Mereka hanya tidak ingin berhutang pada Agade."


Tidak berhenti di situ, Karla dan anak buahnya pun menyerang rumah sakit yang adalah tempat umum, yang didominasi oleh orang non pasar gelap. Saat penyerangan ini, Apollo belum sepenuhnya punah. Dan, karena waktunya terlalu cepat, belum ada pengumuman atau pernyataan dari masing-masing organisasi kalau aliansi mereka bubar. Jadi, akhirnya, tanggung jawab masih jatuh di tangan mereka.


Seharusnya yang menghabisi Karla dan anak buahnya karena melanggar aturan adalah mereka, Aliansi yang tersisa, Orion, Quetzal, dan Ukin. Namun, yang terjadi, justru kita, Agade, yang melakukan hal ini. Kalau tidak memberi gencatan senjata dan memberi penjagaan pada pemakaman agar organisasi lain tidak merecoki, secara resmi mereka akan berhutang budi pada kita. Dan, hutang budi bukanlah sesuatu yang kamu inginkan di pasar gelap.


"Begitu ya...."


Emir dan Inanna merespons pelan, secara bersamaan.


Tidak lama kemudian, akhirnya, kami tiba di tujuan. Sebuah gunung kecil di pinggir kota, pemakaman. Sebelum turun dari mobil, Inanna dan Emir semua mengenakan jubah hitam dan topeng serigala. Aku sudah mengenakan jubah, tapi topengnya belum.


Aku mengamati Mari dalam-dalam. Dia tampak begitu tenang. Dengan pakaian favoritnya, atasan kemeja militer dengan rok mini dan jubah hitam Agade, Mari tampak seolah dia hanya tertidur.


Dulu, saat masih di panti asuhan, aku sering memberi kecupan di kening pada anak-anak panti asuhan, mengantar mereka tidur siang. Setelah menemukan Mari, aku kembali melakukannya. Dia bilang kecupanku membantunya tidur. Namun, tidak lama kemudian, Mari memintaku berhenti karena aku, sebagai pemimpin Agade, tidak semestinya meletakkannya sebagai anggota favorit.


Sekarang, untuk terakhir kalinya, sebelum menutup peti, aku memberi kecupan di kening Mari, mengantarkannya tidur, untuk selamanya.


Akhirnya, aku mengenakan topeng dan turun dari mobil. Mobil kami berhenti tepat di depan gerbang sementara mobil anggota lain berada di sekitarnya. Setelah turun dari mobil, tiga laki-laki datang ke mobil ini. Tiga laki-laki itu adalah Ibla, Simurrum, dan Uru'a. Bersama denganku, kami mengangkat pati mati Mari.

__ADS_1


Kami berempat mengangkat peti mati Mari karena tinggi kami hampir sama. Ur terlalu pendek sedangkan Elam terlalu tinggi. Kami berada di paling depan, diikuti anggota elite dan anggota biasa Agade. Sementara Anggota Agade biasa hanya mengenakan topi dengan kelambu penutup wajah, anggota Elite mengenakan jubah hitam dan topeng anjing.


Kami tiba di sebuah titik yang telah disediakan di sisi kiri pemakaman. Tempat peristirahatan Mari tidak benar-benar di samping Tasha. Lebih tepatnya, dia di bawah kanan Tasha. Di kanan, kiri, atas, dan bawah makam Tasha sudah terisi oleh yang lain, anak panti asuhan yang pergi sebelum Mari. Bahkan, ada tiga makam yang sebenarnya kosong, tanpa jasad. Namun, aku tetap membuat nisan mereka di sini.


Kami meletakkan Peti Mari di atas liang yang kosong. Di liang itu, sudah terpasang alat penurun peti.


Berbeda dengan pemakaman normal dimana akan ada satu orang yang memberi semacam pidato penutupan mengenai hidup yang telah ditempuh Mari atau kesan-kesan orang yang mengenalnya, pemakaman anggota organisasi pasar gelap selalu sunyi. Semua orang terdiam, sunyi seribu bahasa. Kami mengucapkan semua keinginan dan ucapan kepada pihak yang meninggal di dalam hati.


Hal ini disebabkan dalam dunia pasar gelap, setiap orang memiliki rahasia yang ingin mereka bawa hingga ke liang lahat. Salah-salah, rahasia itu bisa terbuka di saat pengucapan kesan. Oleh karena itu, cara ini lah yang ditempuh.


Sambil melihat peti yang membawa Mari turun secara, aku hanya bisa menggumam pelan, mengucapkan doa dan keinginanku.


"Selamat tinggal Mari. Semoga kamu bisa bertemu dengan Tasha dan yang lain."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2