
~Ibla POV~
"Berani-beraninya!"
Beberapa orang berdiri dan menjulurkan tangan ke depan. Namun, tidak terjadi apa pun.
"Hah?"
Mereka terkejut. Bukan hanya mereka, aku pun terkejut. Saat ini, normalnya, akan ada puluhan benda tajam, yang adalah senjata ornamental, melayang ke arahku. Sekali lagi, normalnya, mereka akan menggunakan pengendalian untuk menyerangku. Namun, saat ini, tidak ada satu pun benda yang melayang.
Meski aku juga terkejut, aku tidak menunjukkannya. Aku tetap menunjukkan sebuah senyum seolah sudah mengetahui semua ini. Aku menerima tabung kecil dari Lugalgin yang berisi racun. Dia bilang, campurkan racun tersebut ke minuman atau makanan, dan orang yang mengonsumsinya akan kehilangan pengendaliannya.
"Percuma saja. Aku sudah memberi racun di minuman kalian yang akan menghilangkan pengendalian. Dan, semua orang di ruangan ini telah meminumnya."
Lugalgin bilang, kalau dicampurkan dengan minuman akan lebih efisien karena jumlah racun yang sedikit. Kalau dicampur pada makanan, dia khawatir tidak semua orang akan mengonsumsinya.
Di lain pihak, ketika aku bertanya berapa lama pengendalian orang itu akan hilang, dia tidak bisa menjawab. Lugalgin bilang karena biasanya lawan yang terkena racun ini akan segera dibunuhnya dalam waktu singkat, dia tidak pernah mencoba berapa lama hingga pengendalian orang tersebut akan kembali lagi.
"TIDAK MUNGKIN!"
"PENJAGA! PENJAGA!"
Mereka mulai panik. Beberapa orang berusaha keluar ruangan, tapi pintu terkunci. Mengetahui mereka terkunci di dalam sini bersamaku, mereka berteriak, mencoba memanggil orang-orang yang ada di luar.
"Percuma. Rekanku sudah menghabisi penjaga di depan pintu ini. Saat ini, dia sedang berkeliling ke seluruh tempat ini, membungkam siapa pun yang ada."
Aku bilang membungkam, tapi mereka sadar kalau yang aku maksud adalah membunuh.
"Dan, sekarang, giliran kalian."
Aku mengangkat tangan kanan, mengendalikan semua senjata ornamental di ruangan ini. Saat menyamar menjadi pelayan, aku berputar-putar ke seluruh ruangan, memastikan material senjata ornamental yang dipajang, yang sebagian besar adalah besi. Meskipun besi bukan material utama yang bisa kukendalikan, kalau hanya membuatnya melayang, aku bisa melakukannya.
"Berbahagialah, karena kali ini aku sedang berbaik hati."
Aku menjentikkan jari. Bersamaan dengan jentikan jari, semua senjata ornamental yang melayang melesat, menusuk bagian vital tubuh mereka. Meskipun senjata itu hanyalah ornamental, benda tajam tetap mematikan.
Sebenarnya, aku menyarankan pada Lugalgin agar tidak membunuh mereka. Aku bisa menyiksa mereka dan mendapatkan informasi yang lebih banyak daripada yang sekarang. Namun, Lugalgin tidak menginginkannya.
Lugalgin mengatakan karena ini adalah pembantaian pertama, dia perlu membuat orang-orang ini sebagai contoh kalau ada oposisi lain yang ingin bertindak. Selain itu, Lugalgin bilang, dia ingin berbaik hati pada orang-orang ini karena telah bersedia bersuara paling awal, yaitu dengan memberi hadiah. Dan hadiah yang dimaksud, tentu saja, kematian tanpa rasa sakit.
Saat ini, mereka semua telah tewas. Dengan aku menusuk bagian vital dan kepala, mereka sama sekali tidak merasakan sakit. Daripada disiksa olehku, Lugalgin benar-benar berbaik hati pada mereka.
Aku berjalan pelan menuju ke pintu lalu mengetuknya beberapa kali dengan nada tertentu. Dalam waktu singkat, pintu itu pun terbuka.
__ADS_1
"Sudah selesai?"
"Sudah."
Seorang perempuan berambut ungu dan memakai baju pelayan, maid, sedikit memasukkan kepala ke dalam. Spontan, aku sedikit mundur, memberi jarak antara diriku dan dirinya. Aku tidak mau menghalangi pandangannya.
"Uh, Umma kemana?"
"Ah, tadi di tengah pekerjaan, dia tiba-tiba ditelepon Lugalgin. Dia bilang, Lugalgin membutuhkan orang untuk berjaga di rumahnya."
Lugalgin meminta Umma berjaga? Tidak salah? Persepsi dan insting Lugalgin adalah sesuatu yang tidak normal, bagaikan hewan liar. Dia tidak perlu bantuan atau penjagaan oleh siapa pun. Kalau pun dia menginginkan penjagaan, kemungkinan dia ingin melakukan sesuatu dan tidak ingin diganggu.
Ahh.... aku paham. Dia ingin melakukannya dengan Emir dan Inanna. Oke. Aku paham.
Di lain pihak, terima kasih, Lugalgin! Kamu telah memberiku kesempatan untuk berduaan dengan Ninmar.
"Orang-orang yang menurutmu dan Lugalgin masih berfungsi sedang diangkut oleh karyawan pelabuhan di depan."
Ya, benar. Tidak semua orang kami bunuh. Orang-orang yang menurutku terpaksa bekerja di tempat ini, seperti anak sebatang kara atau keluarganya butuh uang atau sejenisnya, tidak kubunuh. Ada juga beberapa anak keluarga bangsawan.
Kalau menurutku mereka bisa diarahkan, aku tidak membunuhnya. Mereka bisa dimanfaatkan untuk sekolah mata-mata yang akan didirikan oleh Lugalgin. Minimal sebagai tukang bersih-bersih.
"Bomnya?"
Ninmar, dengan entengnya, memberiku sebuah kotak kecil yang berbentuk seperti remote AC. Meski aku bilang seperti remote AC, hanya ada dua tombol di atasnya, tombol berwarna merah dan biru. Tombol merah untuk meledakkan bom, tombol biru untuk mematikan bomnya.
Sebenarnya, aku ingin protes kenapa Ninmar membawa remote yang ini. Tombol ini digunakan kalau memang ada kemungkinan aku tidak jadi meledakkan bangunan ini. Namun, kalau keputusan sudah bulat, cukup menggunakan remote dengan satu tombol merah, yang harganya lebih murah. Tapi, entah kenapa, aku tidak bisa protes. Tidak. Lebih tepatnya, aku tidak ingin protes.
"Kenapa? Kamu mempertanyakan kenapa aku membawa remote yang ini?"
"I... itu..."
Meski aku bisa berbohong dengan amat sangat lancar, seperti Lugalgin, aku berusaha tidak melakukannya ketika berbicara dengan anggota Agade, terutama pada perempuan di depanku ini.
"Aku hanya berpikir, mungkin saat aku berjalan-jalan akan menemukan sesuatu yang menarik, yang mungkin akan membuatmu berpikir ulang agar tidak meledakkan bangunan ini. Namun, sayangnya tidak. Maksudku, bangunan ini adalah milik bangsawan. Bisa saja dia memiliki sesuatu, kan?"
Well, dokumen-dokumen yang menurutku akan berguna untuk Lugalgin sudah kuamankan sih. Meski sebenarnya usaha yang dilakukan Ninmar adalah sia-sia, aku mengucapkan terima kasih karena dia telah berpikiran demikian.
Di lain pihak, tampaknya, judgementku terhadap Ninmar agak terlalu longgar. Tidak boleh, aku tidak boleh seperti ini.
Dengan pikiran yang seperti itu, aku dan Ninmar berjalan, keluar dari rumah ini. Meski aku bilang rumah, sebenarnya kata vila atau mansion lebih cocok untuk bangunan ini. Maksudku, ada rumah besar di tengah, kebun di beberapa tempat, bahkan ada kolam renang. Biasa lah, tempat tinggal bangsawan.
Begitu kami sudah cukup jauh, aku pun menekan tombol merah, meledakkan bangunan ini.
__ADS_1
***
[Semalam, telah terjadi kebocoran gas di distrik Nerichac, Kota Mundus. Kebocoran gas ini menyebabkan sebuah ledakan yang merenggut nyawa keluarga Count Susek]
Aku menonton berita sambil minum teh herbal hangat. Sebenarnya, aku ingin membawakan sarapan ke lantai dua, ke Emir dan Inanna, tapi Umma bersikeras agar dia yang membawakannya. Akhirnya, aku pun membiarkannya. Sesekali, aku mendengar suara tawa dan teriakan dari lantai dua, tapi aku mengabaikannya.
Kembali ke berita. Karena aku yang mengatur intelijen di kerajaan ini, aku pula yang memutuskan berita apa yang akan muncul. Ya, aku tidak benar-benar memerintahkan secara langsung pada media-media.
Saat ini, karena aku belum sepenuhnya percaya pada agen schneider, aku lebih memercayakan pengaturan informasi ke Agade. Yang kulakukan adalah memerintahkan anggota Agade untuk menyebarkan rumor dan menyabotase infrastruktur di beberapa tempat, terutama ke agen schneider. Dengan melakukan hal ini, informasi yang akan muncul ke media pun bisa diatur.
Aku belum menyebut Agade ke Shu En atau agen schneider lain. Menurut rencana, aku akan membawa topik Agade dan Akadia siang ini, sekalian merencanakan lokasi dan jadwal rekrutmen. Ibu bilang akan mengirimkan satu orang sebagai perwakilan Akadia. Aku penasaran siapa yang akan ibu kirim.
"TIDAK! JANGAN PEGANG DI SITU!"
"JANGAN!"
"TIDAK APA-APA! TENANG SAJA! INI AKAN MEMBUATMU LEBIH RILEKS."
Sementara itu, aku meminum teh hangat di pagi ini, mengabaikan apapun yang dilakukan tiga perempuan itu di lantai dua.
Teh herbal memang yang terbaik.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1