
Masih chapter bonus. Untuk katapel tradisional yang dimaksud, kalian bisa search di google “David vs Goliath Slingshot”.
\============================================================
Hooo... berbeda dengan Emir. Inanna tidak gegabah. Dia tidak melancarkan serangan seperti Emir dan mengungkap keberadaannya. Aku terpaksa harus mengikuti jejak Inanna dengan sabar.
Beberapa kali, aku merasakan ada sesuatu yang agak aneh. Sambil berjalan, aku memperhatikan sekitar. Sesekali, aku melihat beberapa logam tersebar. Kenapa aku bisa tahu? Mudah. Karena logam itu masih memantulkan cahaya dengan cukup sempurna. Kalau logam bekas, pasti sudah berkarat atau sudah terkubur.
Dengan kata lain, logam-logam itu adalah benda yang baru saja ada. Kemungkinan besar, Inanna memisah proyektil kecil yang dia bawa dan menyebarkannya ke seluruh hutan.
Inanna terus bergerak. Jejak yang ditinggalkan pun berputar-putar. Bahkan, setidaknya, sudah 10 menit sejak aku mulai mengejarnya.
Namun, aku harus memikirkan cara untuk mengatasi proyektil besar milik Inanna. Berbeda dengan turret Emir yang menghasilkan suara berisik. Proyektil Inanna bergerak cepat dan tanpa suara. Kalau aku sadar terlambat, nyawaku akan terancam.
Baiklah, kalau begitu. Sambil berjalan pelan. Aku mengumpulkan akar dan dahan, untuk dijadikan tali. Kemudian, aku mengambil beberapa daun, supaya tebal. Sambil berjalan, aku membuat katapel putar tradisional.
Hmm? Akhirnya.
Normalnya, meskipun orang berusaha siaga dan bergerak secara acak agar tidak mampu dilacak, ketika mereka melakukannya untuk waktu yang agak lama dan di bawah tekanan, alam bawah sadar mereka akan mengambil alih. Di saat itu, meski tampak acak, sebenarnya gerakan mereka sudah mengikuti satu pola.
Saat ini, pola jejak Inanna adalah bergerak zig-zag sambil menjauh dariku, gerakan ke kanan lebih jauh dari ke kiri. Jadi, perlahan, kami berputar ke kanan. Karena Inanna sudah menunjukkan pola gerakannya, aku bisa memperkirakan kemana dia akan pergi.
Aku berhenti sejenak dan melihat ke pepohonan, merencanakan rute yang akan aku ambil. Setelah rute pasti, aku langsung menggunakan tombak sebagai galah dan menuju ke atas pohon. Aku mulai berlari lurus, menuju ke tempat yang mungkin akan dia datangi.
Baru saja aku mau bergerak cepat, sesuatu muncul di pandanganku, di langit.
Eh? Apa dia serius? Dia terbang? Apa dia mau menjadi sasaran empuk? Aku harus memberinya sedikit pelajaran.
__ADS_1
Aku melepaskan tembakan, dan mengganti selongsong peluru. Inanna mampu menghindar dengan mudah, tentu saja.
Setelah itu, aku kembali turun ke atas tanah.
Hah, padahal aku berencana menggunakan katapel putar ini untuk senjata Inanna, tidak kukira dia akan terbang. Aku pun melempar batu degan katapel putar ke arah Inanna.
Hoo. Instingnya bagus juga. Padahal katapel putar ini tidak menghasilkan suara, tapi dia bisa menghindar. Berbeda dengan Emir, gerakan Inanna tampak jauh lebih rapi. Kesimpulannya, instingnya sudah terlatih.
Mengingat reaksi Inanna sebelum mengambil tes ini, aku yakin kalau dia berpikir dirinya tidak berbakat. Dan, aku tidak memungkirinya. Namun, latihan dan pengalaman bisa menutupi kekurangan itu.
Aku melempar batu lain dan Inanna mampu menghindar lagi. Akhirnya, dia kembali ke darat. Tampaknya dia sudah mengerti betapa buruknya ide pergi ke langit.
Sekarang sudah saatnya aku mengalihkan perhatian Inanna ke sesuatu yang lain.
Aku berkali-kali melempar batu ke arah proyektil Inanna yang terbang di langit. Sangat sulit untuk bisa menghantamnya. Namun, tampaknya, keberuntunganku masih cukup bagus. Aku bisa menghantam proyektil-proyektil itu dengan cepat.
Dan, seperti yang kukhawatirkan, beberapa proyektil Inanna melesat ke arahku, dan meleset. Tampaknya dia hanya mengira-ngira lokasiku berdasarkan sumber batu. Namun, aku tidak mau diam saja dan menguji keberuntungan. Aku berlari, sambil melemparkan batu ke langit.
Suara semak terdengar cukup jelas dibalik suara ledakan. Tampaknya Inanna sudah panik dan lupa menghilangkan suara pergerakan. Sebenarnya, kalau dia mau, dia tinggal memilih terbang di antara pepohonan, bermanuver. Atau alternatif lain, dia melayang dan bersembunyi di antara pepohonan. Ada banyak hal yang kupertanyakan, tapi, biar kusimpan itu untuk lain kali.
Eh? Suara ledakan sudah berhenti? Kenapa?
Ah, biar nanti kupikir. Inanna sudah ada di pandanganku. Jarak kami tidak terlalu jauh. Mungkin hanya beberapa puluh meter. Apa dia belum menyadari posisiku? Ya, sudahlah.
Aku membuang katapel, mengambil ancang-ancang, dan melempar tombak. Bukan ke arah Inanna, tapi ke pohon yang akan dia lewati. Dan, tepat sasaran! Tombakku menancap di pohon, membuat kepala Inanna terantuk.
Aku memanfaatkan kesempatan ini, melompat dari pohon ke pohon. Aku tidak langsung melompat ke tubuh Inanna dari pohon. Akan berbahaya bagi Inanna kalau aku melakukannya. Jadi, aku turun dulu ke tanah, baru melompat ke arah Inanna, menindihnya, dengan laras pistol menodong kepala.
__ADS_1
"Jadi?"
"Hah..." Inanna menghembus nafas berat dan menunjukkan raut wajah masam.
Aku bisa melihat kekecewaan dari raut wajahnya.
"Ya, aku menyerah."
\============================================================
Chapter ini diupload Rabu sore.
Seperti yang ditulis di awal, chapter ini adalah sebuah keisengan. Jadi post note nya ga banyak.
Author ingin mengucapkan terima kasih atas semua dukungan yang diberi. Kalau mau melihat gambar-gambar tokoh, bisa cek di ig author di @renigad.sp.author. Sebagian besar gambar cari di internet. Karena copyrightnya bukan punya author, makanya tidak diupload di sini.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1