I Am No King

I Am No King
Chapter 235 – Pangeran dan Tuan Putri


__ADS_3

Brengsek! Cepat sekali mereka mengirim laporan! Belum ada 15 menit sejak aku menyuruh militer dan kepolisian untuk mundur, tapi Yuan sudah menerima email berisi laporan permintaan ganti rugi. Dan, tentu saja, nilainya tidaklah kecil.


Hanya untuk menurunkan dan menarik semua personil itu, aku harus mengganti rugi hingga beberapa juta Zenith. Dan lagi, nilai ganti rugi yang mereka minta pastilah lebih tinggi dari nilai sesungguhnya. Namun, aku tidak bisa protes karena serangan ini terjadi di gedung intelijen.


Kami pindah ke ruangan sebelah yang adalah ruangan Yuan. Ruangan ini benar-benar berbeda jika dibandingkan ruanganku. Di tempat ini tidak ada meja dan kursi tinggi seperti yang kugunakan, hanya ada sofa set dan meja rendah di tengah. Di ujung ruangan, selain lemari arsip, terlihat kulkas, lemari camilan, dan peralatan membuat minuman.


Aku duduk di sofa dan Pangeran Tera di seberang. Di belakangku, Emir dan Inanna berdiri dengan membawa assault rifle. Yuan duduk di ujung sofa dengan laptop di depannya. Di ujung ruangan, Tuan Putri Rina diikat di kursi dengan mata dan mulut diikat kain. Dengan mata tertutup, Tuan Putri Rina tidak akan bisa menghilangkan kemampuan siapa pun. Di belakangnya, Mulisu berdiri dengan sebuah pistol.


"Baik, nilai perkiraan untuk ganti rugi sudah kukirimkan ke emailmu, Gin. Silakan kamu lanjutkan ke Pangeran Tera."


Setelah selesai, Yuan langsung menutup laptopnya dan menyeruput kopi panas yang ada di atas meja.


Meski sebenarnya Yuan bisa langsung mengirim tagihan ini ke Pangeran Tera, dia tetap mengirimnya ke aku, memastikan aku sudah membacanya dan melakukan acc. Aku melihat ke smartphone dan membaca nilai perkiraan yang dikirim oleh Yuan. Wah! Total akhirnya benar-benar tinggi.


Aku meneruskan email itu ke Pangeran Tera. Tentu saja dia sudah memberi emailnya padaku baru saja.


Pangeran Tera melihat ke layar smartphone, mengecek email yang masuk. Seketika itu juga, wajahnya langsung pucat. Tampaknya, dia sama sekali tidak menduga nilainya akan setinggi itu.


Aku juga tidak. Kenapa? Karena nilai yang kuperkirakan mungkin hanya setengah nilai itu. Yuan melakukan mark up pada nilainya untuk mendapatkan keuntungan lebih. Dan, aku tidak mempermasalahkannya.


"Maaf, apa saya bisa mendapat potongan?"


"Bi–"


"Tidak bisa," Yuan menyela. "Apa Pangeran Tera pikir biaya penurunan personel militer dan kepolisian murah. Apalagi militer juga sempat mengirim helikopter tempur. Belum lagi karena kami meminta mereka mundur begitu saja, sekaligus memberi penjelasan ke media, militer dan kepolisian lah yang akan menanggung malu. Justru, menurutku, harga ini masih terlalu rendah dibandingkan masalah yang mungkin akan muncul karena permintaan kami hari ini."


Tera tersenyum masam mendengar penjelasan Yuan. Meski dia menoleh ke arahku, meminta belas kasihan, aku hanya bisa angkat tangan. Maksudku, salah sendiri mereka tiba-tiba menyerang, kan? Di siang bolong dan fasilitas umum lagi.


"Aku menunggu pembayarannya. Nomor rekening tujuan sudah ada di email tersebut."


Pangeran Tera menarik nafas berat, seolah setengah nyawanya hilang. Dia pun menekan smartphonenya beberapa kali.


Uang segitu tidaklah sedikit. Kalau karyawan normal dengan gaji 8.000 Zenith per bulan diberi tagihan tersebut, bahkan hingga mati belum tentu dia bisa membayarnya. Namun, karena laki-laki di depanku ini adalah pangeran, aku yakin uang tabungan, atau bahkan uang sakunya, lebih besar dari itu.


"Sudah saya transfer."


Yuan mengambil smartphone dari kantung. "Baik, ganti rugi sudah masuk. Sekarang, silakan mulai perbincangan kalian."


Dari luar, terlihat Yuan adalah atasan dan aku hanya bawahan. Dia yang mengatur perbincangan di ruangan ini. Di lain pihak, aku terkejut Tera tidak marah karena Yuan yang berbicara meskipun bukan aku yang berada di posisi tertinggi, apalagi Yuan adalah perempuan.


Aku jadi teringat saat Yurika berdebat dengan pangeran, Karisma? Charisma? Charles? Entahlah. Aku lupa namanya. Dia sudah tewas dan semua panti asuhannya sudah dikelola oleh ibu. Jadi namanya tidak penting. Intinya, saat itu, pangeran tersebut membentak Yurika dan bahkan menyebut "dasar perempuan!". Mungkin karena negara Nina dipimpin oleh Ratu, jadi supremasi perempuan adalah hal yang normal di mata Tera.


"UUNGGG!!!!! UNGGG!!!"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari ujung ruangan. Terlihat Tuan Putri Rina yang berontak dan ingin bicara tapi tidak bisa.

__ADS_1


"Ung, maaf, apa Anda berkenan melepaskan kakak saya? Saya tidak tega melihatnya diikat seperti itu."


"Maaf, tapi aku terpaksa menolak. "Aku menepis keinginan Pangeran Tera. "Tidak seperti kau yang tampak memiliki kepala dingin, kakakmu terkesan impulsif. Salah-salah, dia langsung menyerang seseorang di ruangan ini. Aku tidak mau mengambil risiko. Dan lagi, aku tidak mau kakakmu–"


"UUNGGG!!! UNGGG!!! UUNGGG!!!"


Teriakan Rina semakin keras, seolah dia tahu kalau aku mau mengatakan "menghilangkan pengendalian." Yah, sebagai sesama inkompeten, dan sesama Alhold, aku bisa bilang dasar pikiran kami sama.


"Tera, katakan, kenapa dia begitu bersikeras agar aku tidak mengatakan hal ini?"


"Ah, um, maaf, saya sendiri tidak bisa memberi jawaban untuk yang ini. Meskipun saya dididik dan diperintahkan untuk selalu di samping kakak, ada momen ketika ibu memberi pelajaran secara personal ke kakak. Dan lagi, ini menyangkut Kakak secara langsung. Jadi, aku merasa tidak memiliki hak."


Pangeran Tera berputar-putar, tidak memberi jawaban. Dia tampak menghindar.


Di lain pihak, aku penasaran dengan pelajaran personal dari Ratu ke calon Ratu ini. Apakah urusan inkompeten? Atau urusan kerajaan? Yah, intinya hampir sama kalau ratu mereka inkompeten. Ah, sekalian saja aku pastikan.


"Apa ibu kalian inkompeten?"


"Ibu–"


"UUNGGG!!!!"


Dan, sekali lagi, Rina mencoba berteriak, memotong percakapan kami.


Aku menghela nafas berat.


"Dengan senang hati."


"Tidak! Tunggu, aku mohon jangan sakiti kak Rina."


Akhirnya anak ini membuang formalitasnya. Dia tidak lagi menggunakan saya dan berganti ke aku.


"Lalu apa yang kau inginkan? Dia terus berteriak dan mengganggu perbincangan ini. Sudah untung aku tidak membunuh kalian."


Tera terdiam ketika mendengar ucapanku. Dia menggertakkan gigi. Namun, dia melakukannya tidak lama. Dalam waktu singkat, Tera bangkit lagi.


"Kau mau membunuh kami? Pangeran dan calon Ratu Kerajaan Nina? Jangankan membunuh. Kalau kau menyakiti kami sedikit saja, deklarasi perang bisa dibuat oleh Kerajaan Nina. Apa itu yang kau inginkan? Perang?"


Akhirnya, laki-laki ini menunjukkan sosoknya yang sebenarnya. Sejak awal, aku bisa melihat dia berusaha menahan diri karena sadar berada di pihak yang salah. Namun, tampaknya, ucapanku telah membuatnya berpikir kalau aku sudah kelewatan.


Sebenarnya, aku bisa saja mengelak segala klaim yang menyatakan Pangeran Tera dan Tuan Putri Rina berada di Bana'an. Karena berjalan-jalan dengan topeng silika, mereka tidak pernah menunjukkan wajah aslinya pada umum, atau cctv. Jadi, tidak ada bukti kuat kalau mereka berada di tempat ini. Namun, aku ingin mengatakan hal yang lain.


"Bukankah itu yang kakakmu inginkan? Perang."


"Dan kau akan menurutinya?"

__ADS_1


Tera benar-benar berubah 180 derajat. Seolah-olah sebelumnya Tera adalah bawahan yang menurut dan sekarang karena sudah dipecat, dia berbicara semaunya. Dan, seperti karyawan yang sudah dipecat, dia tidak memiliki kekang lagi. Jadi, mungkin, aku alihkan saja topik bahasannya sambil mencari informasi lain.


"Kalau begitu biar aku ganti pertanyaannya." Aku melihat ke mata Tera dalam-dalam. "Apa yang kalian lakukan di Bana'an?"


"Kami datang untuk mengawasimu, Lugalgin Alhold."


Tera menjawab dengan cepat, tanpa jeda. Di lain pihak, Rina tidak berteriak lagi. Tampaknya, pertanyaan ini bukanlah sesuatu yang dirahasiakan. Dan bahkan, mungkin, mereka sudah mengira aku akan menanyakan hal ini.


"Mengawasiku? Untuk apa?"


"Apa Raja kerajaan ini tidak mengatakannya padamu?"


"Tentang menjadikanku Raja dan menyatukan lima kerajaan? Aku tidak tertarik, terima kasih."


Tera tersenyum. "Kalau begitu, aku harus bilang, kau tidak beruntung. Tampaknya, Ratu kami, ibu, dan juga kakakku, ingin agar kau mewujudkan ambisi itu, menyatukan lima kerajaan dan menjadi Raja baru."


Aku hampir berdiri dan mencengkeram kaos Tera. Namun, aku beruntung karena kesabaranku belum habis. Kenapa aku bisa semarah ini ketika mendengar rencana mereka? Mudah saja. Karena Fahren.


Keluarga Alhold di kerajaan ini bukanlah inkompeten. Jadi mereka tidak dianggap penting oleh Fahren. Namun, janji Raja pertama membuat Fahren tidak bisa berkutik melawan keluarga Alhold. Dengan kata lain, keluarga Alhold adalah halangan bagi kerajaan ini. Karenanya, Fahren ingin menyingkirkan keluarga Alhold. Oleh karena itu, dia pun mengadu domba keluarga Alhold denganku, sekaligus memberiku ujian calon Raja.


Tentu saja aku tidak mendengar ini secara langsung dari Fahren. Aku mendapatkan informasi ini dari agen schneider yang aku siksa. Selain agen schneider, informasi dari Permaisuri Rahayu membenarkan hal ini. Permaisuri Rahayu berkali-kali melihat Fahren yang mengeluh karena keluarga Alhold semaunya saja tanpa mengindahkan peraturan. Bahkan, mereka lebih arogan daripada bangsawan.


Dan, sebagai efeknya, keluarga Nanna dan Suen terseret dan Tewas. Jadi, ya, aku memiliki pengalaman buruk dengan orang lain memaksaku menjadi Raja. Kalau Ratu Kerajaan Nina adalah seorang inkompeten dan ingin memaksaku menjadi Raja dan menyatukan lima kerajaan, sama saja kami memulai lagi tradisi keluarga Alhold ratusan atau bahkan ribuan tahun silam, saling melempar anggota keluarga Alhold lain untuk menjadi Raja.


Di lain pihak, aku ingin mendengar hal lain.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2