
Oke, kembali ke masalah utama.
"Jadi, ibu, sebenarnya, rencanaku membangkitkan Agade hanyalah untuk mencari inkompeten lain dan membantu tugasku di Intelijen Kerajaan."
"Untuk mencari inkompeten lain, ibu paham. Untuk membantu tugasmu di intelijen kerajaan, bisa tolong detailnya?"
"Sederhananya," aku menjelaskan. "Aku ingin membuat intelijen kerajaan menjadi pihak yang dianggap di pasar gelap. Dengan demikian, peraturan mengenai kuota transaksi ilegal maksimal setiap bulan dapat diberlakukan kembali."
"Dan, apa yang akan kamu gunakan untuk meyakinkan enam pilar mau menerima aturan itu?"
"Sederhana saja. Pertama, aku akan meningkatkan kekuatan tempur Intelijen Kerajaan. Kedua, aku akan membuat agar intelijen berperan sebagai pengatur dan mediator semua aktivitas di pasar gelap."
"Oke, masih terlihat mudah. Kalau tujuan yang pertama berhasil tercapai, maka tujuan yang kedua bisa tercapai. Apalagi, kalau satu dari enam pilar, yang adalah Agade sudah setuju, tinggal masalah lobi dan negosiasi dengan enam pilar yang lain. Dan, kalau tujuannya itu, aku bisa membuat Akadia bekerja sama juga."
Saat ini, hanya aku dan ibu yang berbicara. Ayah, Emir, dan Inanna terdiam. Mereka tidak berani menyela. Daripada ibu dan anak, saat ini, pembicaraan kami lebih seperti negosiasi antara pemimpin Agade dan pemimpin Akadia. Dan, di dalamnya, posisi Intelijen Kerajaan hanya seperti bagian atau divisi dari Agade.
"Kalau Akadia, yang sebagian besar transaksinya adalah transaksi resmi, jelas tidak akan memiliki masalah. Yang repot adalah organisasi seperti Apollo dan Orion. Sebagian besar transaksi mereka adalah transaksi tidak resmi, ilegal. Oleh karenanya, aku yakin mereka akan menolak hingga titik darah penghabisan."
"Kalau itu terjadi, ibu dan kamu hanya cukup menghancurkan mereka, kan? Dengan sumber daya Akadia, Agade, dan Intelijen Kerajaan, ibu rasa hal itu bukanlah hal yang sulit."
Ya, memang benar sih. Sebelum aku melanjutkan perbincangan dengan ibu lebih jauh, aku menjelaskan mengenai Akadia ke Emir dan Inanna.
Meski Akadia adalah organisasi yang bergerak di pasar gelap, mereka tidak banyak melakukan transaksi ilegal. Yang dilakukan Akadia hanyalah sebatas pengaturan mengenai pekerjaan pembangunan atau pekerjaan lain yang didanai oleh Kerajaan. Terkadang ada pekerjaan lain seperti menyelundupkan atau menjual barang tanpa cukai, tapi jumlahnya tidak seberapa.
Semisal ada proyek pembangunan jalan antar kota, Akadia akan bermain di balik layar untuk menentukan siapa peserta dan pemenang tender. Semua pemimpin perusahaan yang terlibat adalah penanggung jawab langsung di organisasi Akadia.
Kalau dilihat sekilas, Akadia lebih seperti kepada lingkar atau perkumpulan orang-orang yang berpengaruh di perusahaan dan pemerintah. Yang memastikan posisi Akadia sebagai organisasi pasar gelap adalah mereka memiliki personil keamanan. Personil keamanan ini bukanlah orang-orang yang bisa diabaikan. Aku bisa bilang mereka sekuat Agade, atau lebih kuat.
Meski tidak ada bukti tertulis, tapi semua pemimpin perusahaan tahu dan meyakini kalau ibu adalah salah satu pendiri dan supervisor bayangan. Dengan demikian, ibu akan memiliki suara dalam setiap pembuatan keputusan.
Kalau seandainya ada perusahaan yang tidak puas dengan pembagian proyek tanpa alasan yang jelas atau kuat, dan mereka mengancam membelot, perusahaan itu pun akan dihancurkan oleh Akadia, baik secara legal maupun ilegal.
Di saat itu aku terdiam sejenak.
Ibu tersenyum "Hehe, kamu baru menyadarinya ya, Gin?"
"Ya, aku baru menyadarinya. Tidak aku duga akan seperti ini. Apel memang jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Ah, ibu bangga deh!"
Tiba-tiba saja ibu kembali memelukku.
Iya, ibu, aku paham kalau ibu bangga. Bisa tolong lepaskan pelukannya? Aku malu dilihat Emir. Kali ini, tanpa aku perlu mengatakannya, ibu sudah melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Apa maksud kalian?" Ayah bertanya.
"Biar aku saja, bu,"
Aku menjelaskan mengenai isi pikiranku pada Ayah, Emir, dan Inanna. Sederhananya, apa yang kuinginkan dari Intelijen Kerajaan adalah sama seperti Akadia. Kalau Akadia mengawasi, mengatur, dan membagi pemenangan lelang dan proyek kerajaan, aku ingin Intelijen Kerajaan mengawasi, mengatur, dan membagi transaksi ilegal yang terjadi di pasar gelap.
"Kalau begitu, secara tidak langsung, kita bisa menekan angka kriminalitas, kan?" Emir merespon dengan semangat.
[Emir benar. Secara tidak langsung, hal ini dapat menekan angka kriminalitas. Tapi, itu kalau semuanya lancar.]
"Eh?" Emir sedikit tersentak ketika mendengar respon Inanna.
"Seperti kata Inanna, ini sama sekali tidak mudah," Ayah menambahkan. "Sebelum Intelijen Kerajaan bisa mencapai titik itu, berapa banyak orang yang akan menjadi korban?"
Ucapan ayah benar. Pada dasarnya, nanti ketika aku mendeklarasikan Intelijen Kerajaan sebagai pengawas dan pengatur transaksi, pasar gelap akan terpisah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu yang tidak keberatan, seperti Akadia dan Agade, dan kubu kedua adalah kubu yang menentang, seperti Apollo dan Orion.
Di antara dua kubu tersebut, perang gangster tidak akan terhindarkan. Dan, tentu saja, collateral damage atau kerusakan tambahan akan terjadi. Kerusakan tambahan yang aku maksud tentu saja adalah orang normal yang tidak terlibat dalam pasar gelap.
Anggap serangan Agade pada Apollo beberapa hari lalu terjadi di kota, tidak terhitung berapa banyak rumah dan orang yang akan terseret. Dan, saat itu, kami hanya menyerang orang-orang bawah Apollo sehingga pertarungan terlihat berat sebelah. Kalau Apollo berencana menurunkan orang-orang terbaiknya, kerusakan yang terjadi karena pertarungan Apollo dan Agade akan semakin parah.
"Hah, seandainya saja mafia di kerajaan ini menganut kebijakan yang mewajibkan semua perselisihan diatasi oleh mercenary, maka perang gangster bisa dihindari."
"Ya, kamu benar juga sih Gin." Tiba-tiba saja ibu mengatakan hal yang di luar topik. "Oke, kembali ke topik. Jadi, dengan begini, Agade tidak akan menyerang Akadia, kan?"
"Selama Akadia tidak menarik ucapannya, maka ya, Agade tidak akan menyerang Akadia."
Setelah aku mengatakan itu, ibu menghembuskan nafas panjang. Tampaknya dia lega karena tidak perlu berseteru denganku. Bukan hanya ibu, aku juga lega karena tidak perlu berseteru dengannya.
"Lalu, ucapanmu mengenai membasmi semua kriminalitas termasuk Akadia itu?"
"Aku hanya mencoba memenuhi komplain ayah."
"Tidak, ayahmu tidak komplain. Iya, kan?" Ibu melirik ke ayah.
"I, iya, ayah tidak komplain."
Ayah benar-benar tunduk pada ibu. Aku tidak mengatakan hubungan ayah dan ibu adalah hubungan yang normal dan umum di kerajaan ini. Salah satu hal yang membuat perempuan memiliki kekuatan lebih, di kerajaan ini, adalah perempuan memiliki hak untuk menolak negosiasi sedangkan laki-laki tidak.
Syarat itu hanya berlaku untuk orang yang sudah menikah. Jadi, di masa depan ketika aku sudah menikah, kalau ada bangsawan datang ke rumahku, yang memiliki hak untuk menolak dan bernegosiasi adalah Emir dan Inanna, bukan aku.
Untuk keluarga yang memang perempuannya memegang kuasa, seperti ibu dan ayah, kebudayaan ini sangat membantu. Namun, kebudayaan ini tidak membantuku di masa depan dimana otak keluarga adalah aku, bukan Emir atau Inanna.
__ADS_1
Tampaknya aku harus mengagendakan untuk mendidik Emir dan Inanna dalam hal negosiasi dan sebagainya.
"Oke, jadi, masalah pasar gelap sudah selesai. Lugalgin, apa yang akan kamu lakukan mengenai Kerajaan ini, Mariander, dan juga keluarga Alhold?"
Ah, aku sedang tidak ingin memikirkan beberapa hal itu. Kenapa ibu harus membawanya sih?
Aku hanya terdiam sambil memegangi kepala.
"Oya, putra ibu kok tiba-tiba begini. Kamu tidak seperti Sarru yang terkenal selalu memikirkan dan merencanakan segalanya."
"Sayangnya, Sarru belum berusia 20 tahun. Hah...." Aku hanya bisa menghela nafas sambil menjelaskan semua progres. "Untuk Kerajaan ini, aku akan memikirkannya setelah Intelijen sudah mencapai tujuan. Untuk Mariander, aku baru bisa mengetahui progresnya bulan depan. Untuk Keluarga Alhold–"
[Eh? Apa maksudmu dengan progres Mariander?]
"Inanna, maaf, aku berencana akan menjelaskannya padamu bulan depan, sekalian saat aku mendengar laporan progres dari yang bersangkutan. Sementara ini, tolong bersabar ya."
[....]
Inanna tidak memberi respon. Aku paham kekhawatirannya, tapi aku tidak mau memberi penjelasan untuk saat ini karena informasi yang kuterima masih belum penuh.
"Untuk keluarga Alhold...."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1