
~Inanna POV~
Aku dan Emir sama-sama terdiam. Kami tidak memberi balasan sama sekali.
Seperti yang ibu bilang, pada dasarnya, orang yang menjadi target kemarahan dan kekecewaan ini adalah kami sendiri. Selain alasan yang ibu katakan, alasan lain adalah kami tidak mampu menepati ucapan kami sendiri soal tidak masalah walaupun tidak menjadi nomor satu di hati Lugalgin.
[Yang kalian rasakan pada Lugalgin, mungkin, adalah iba. Kalian bersedih dan iba ketika melihat Lugalgin, yang tampak bahagia di depan kalian, masih tidak mampu menerima kepergian Tasha. Anggap saja seperti ketika kalian melihat ****** yang setia menunggu walaupun ajikannya sudah tidak ada. Atau ketika melihat anak korban perang yang tidur di samping makam orang tuanya. Sama seperti itu. Itu hanyalah sebuah perasaan iba. Tidak lebih. Kalian marah pada diri sendiri karena ingin melakukan sesuatu untuk menolong Lugalgin, tapi tidak tahu atau tidak bisa melakukannya.]
Aku cukup setuju dengan ucapan ibu. Namun, entah kenapa, aku merasa ibu menganggap perasaan iba ini bukanlah sesuatu yang penting.
[Kalau ini kasus normal, aku akan menyuruh kalian membawa Lugalgin ke psikolog atau psikiater. Dia membutuhkan bantuan untuk bisa menerima kematian perempuan itu dan menerima keberadaan kalian dengan lebih baik. Ya, sebuah terapi pasca trauma. Namun, karena kita di tengah peperangan, baik pasar gelap maupun internasional, hal ini tidak mungkin dilakukan.]
Ya, aku setuju. Kondisinya sedang tidak mendukung.
[Aku hanya bisa memberi saran agar kalian lebih aktif dan agresif untuk mendekatkan jarak dengan Lugalgin. Terus tempel dia, jangan mau dipisahkan. Kalau dia minta waktu sendiri, kalian mundur sedikit, tapi terus awasi dia. Kalau terlihat dia akan pergi ke makam itu lagi, langsung muncul dan peluk dia. Bahkan, kalau perlu, kalian memeluknya sambil menangis dan meneriakkan isi perasaan. Air mata dan teriakan adalah salah satu senjata kalian.]
"Ahh...."
[Ah, tidak. Koreksi. Aku sudah harus bersyukur karena kalian tidak langsung memarahi Lugalgin. Kalau melakukannya, aku bisa jamin hubungan kalian dengan Lugalgin sudah selesai pagi ini, tidak bisa diperbaiki lagi. Ya, benar.]
Ibu mengangguk-angguk. [Menurutku, kondisi Lugalgin di pagi tadi adalah saat paling rapuh bagi Lugalgin. Dengan kata lain, momen paling tepat untuk menyerang. Kalau jadi kalian, aku sudah memindahkan kepala Lugalgin ke pangkuanku ketika di makam, menantinya bangun. Lalu, ketika dia bangun, aku akan menatapnya dan mencurahkan perasaanku. Dan, tentu saja, dengan tangisan. Dengan meneteskan air mata di wajahnya, Lugalgin akan tersadar kalau ada orang lain yang masih memedulikannya. Di saat itu, hati Lugalgin sudah ada di genggamanku. Namun....hah....]
Ibu menghela nafas berat, seolah kecewa pada kami.
Di saat seperti ini, aku benar-benar mempertanyakan hubunganku dengan ibu. Apakah aku benar-benar putri kandung ibu? Ibu bisa membicarakan soal strategi menggoda dan menjerat hati lelaki dengan begitu mudahnya. Di lain pihak, sangat sulit bagiku untuk memulai pembicaraan. Lugalgin dan Emir lah yang lebih sering memulai percakapan.
Aku pernah mempertanyakan hal ini dan ibu menjawab, "tentu saja kamu putriku. Lihat wajah jelita dan memesona itu. Jelas sekali kalau kita ibu dan anak. Kamu benar-benar mirip dengan ibu saat muda. Yang membuat kita berbeda adalah kamu masuk sekolah militer sedangkan ibu dibesarkan di keluarga bangsawan. Kamu terbiasa menunggu perintah, terbiasa pasif. Di lain pihak, ibu dibesarkan dengan tujuan memikat laki-laki lain. Dan, kebetulan, yang menjadi sasaran adalah ayahmu, Raja Mariander,".
Dan, seperti ucapan ibu. Aku terbiasa pasif, mengikuti arus dan perintah. Seperti saat ini, dan sebelum-sebelumnya, aku selalu menanti Emir atau Lugalgin memberi arahan. Aku sadar kalau ada kepribadian lain dalam diriku yang muncul ketika bertarung. Yang aku maksud bukan kepribadian ganda, lebih kepada isi kepalaku baru aktif di pertarungan.
Jujur, aku harap, kepribadian yang satu ini bisa muncul kapan saja aku mau, bukan hanya dalam pertarungan. Lugalgin mengatakan aku tidak perlu memaksakan diri dan terima keadaan apa adanya. Namun, kalau aku tidak aktif, hubungan kami akan runtuh. Aku tidak menginginkannya!
[Ya, sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Setidaknya, harapan kalian tidak benar-benar kosong.]
"Maksud ibu?"
__ADS_1
[Kalian cerita kalau Lugalgin tidak bangun atau bahkan terganggu ketika kalian datang, kan? Menurutku, insting Lugalgin sudah tidak menganggap kalian sebagai ancaman dan memaksanya bangkit. Dengan kata lain, alam bawah sadar Lugalgin, di lubuk hatinya, dia sudah menerima kalian.]
Iya juga. Ibu benar. Bahkan, Mari sendiri tidak berani terlalu dekat dengan Lugalgin karena takut akan membangkitkan instingnya, membuat Lugalgin terbangun. Dengan kata lain, mungkin, posisiku dan Emir sudah lebih dekat dari anak-anak panti asuhan itu. Meski sedikit merasa kasihan pada mereka, tidak bisa aku pungkiri kalau aku juga sedikit bahagia.
[Jadi, apa yang kalian tunggu? Cepat pergi temui Lugalgin.]
"Eh?"
Aku dan Emir sama-sama terkejut.
[Sudah aku bilang, kalian harus lebih agresif dan proaktif! Jangan mau dipisahkan dari Lugalgin. Sekarang, kalian datangi Lugalgin, ceritakan semua kekhawatiran kalian, terutama pada bagian kalian kecewa dan marah pada diri sendiri karena tidak ada di sisinya ketika dia bersedih. Kalian bilang dia di gudang senjata, kan? Dinginnya logam dan senjata tidak akan bisa menghangatkan hatinya. Ini adalah salah satu momen dimana kalian bisa menghangatkan Lugalgin dan menenangkannya. Cepat pergi! Dan, jangan lupa, menangislah. Tangisanmu adalah senjata ampuh!]
"Siap Tante!"
"Baik. Terima kasih ya, bu."
[Semangat, Inanna, Emir!]
Kami pun mengakhiri panggilan.
Sebelum berbicara dengan ibu, kami bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, sekarang, entah kenapa keraguan dan kebimbangan itu telah hilang. Yang ada di pikiran kami justru mencari kesempatan lain ketika Lugalgin bersedih. Seperti ucapan ibu, ketika Lugalgin berada dalam kondisi paling rapuhnya, akan sangat mudah untuk masuk ke hatinya.
Aku dan Emir pergi ke kamar masing-masing. Meskipun tidak ada niatan bertarung, tidak ada salahnya berjaga-jaga. Kami sedang di tengah perang. Jadi, kami pun mengenakan pakaian igni di bawah pakaian kasual. Bahkan, meski model pakaian ini kasual, Lugalgin sudah memberi lapisan kevlar dan benang baja, membuat pakaian kami tahan senjata tajam dan peluru.
Eh?
"Emir, tiarap!"
"Hah?"
Melihat Emir yang terlambat bergerak, aku langsung melompat dan menekan tubuh Emir.
Blar Blar Blarr
Getaran terasa begitu kuat. Bukan hanya getaran, suara benda berjatuhan pun terdengar.
Emir tidak memiliki timah sebagai pengendalian utama. Dan Emir juga tidak mempelajari timah secara mendalam, jadi tadi dia tidak sadar kalau ada puluhan peluru ledakan mendatangi rumah ini.
Rumah ini, seharusnya, bisa menahan artileri. Jadi, sebenarnya kami tidak perlu tiarap. Namun, tidak ada salahnya jaga-jaga. Dan, hal ini pun terbayar.
__ADS_1
Pintu di depan kami melayang, masuk ke dalam rumah. Di dinding, terlihat engsel pintu yang hancur dan lepas. Walaupun pintunya tahan terhadap ledakan, sayangnya, engselnya tidak. Kalau seandainya tadi kami masih bangkit, pintu itu sudah menghantam kami dengan cepat.
Aku mengangkat tangan ke depan, ke arah lorong. Seketika itu juga, di depanku, tampak ratusan peluru kecil yang melayang di udara. Dengan pengendalian, aku menghentikan semua peluru itu.
"Emir! Cepat ke dapur dan aktifkan sistem pertahanan penuh!"
"Baik!"
Emir bangkit dan berlari ke dapur sementara aku menahan semua peluru.
Ah, sial! Tidak mungkin!
Tiba-tiba saja aku merasakan sebuah gumpalan timah besar melaju dengan cepat. Gumpalan timah besar ini adalah roket.
Aku harus bangkit dan masuk ke dalam, mencari perlindungan. Namun, kalau aku lengah sedikit saja, puluhan atau ratusan peluru lain akan datang dan menembus tubuhku. Namun, kalau aku mempertahankan status quo, roket itu akan menghantam peluru-peluru kecil ini dan meledak di depanku. Sama saja!
Dari atas pintu, aku melihat sebuah baja mulai turun. Baja ini turun dengan cepat, tidak seperti jembatan. Namun, sayangnya, tidak cukup cepat. Roket yang diluncurkan masuk terlebih dahulu dan menghantam peluru yang kutahan, meledak beberapa meter di depanku.
Tubuhku terhempas oleh ledakan itu. Rasanya seolah truk baru saja menabrakku. Selain itu, sekujur tubuh ini terasa begitu panas, membara. Sayangnya, efeknya belum berakhir. Bersamaan dengan ledakan itu, aku tidak mampu lagi mengendalikan peluru yang kuhentikan. Peluru-peluru itu pun terhempas oleh ledakan roket, melesat ke semua arah.
Dengan sisa-sisa kesadaran, aku berhasil membelokkan arah beberapa peluru. Namun, aku tetap tidak mampu mencegah semua peluru. Tidak pelak, puluhan peluru pun menerjang, bersarang di tubuhku,
"INANNA! INANNA!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya