
~Unknown's POV~
"Aku tidak mendapatkan kabar lain dari orang yang kukirim. Tampaknya mereka gagal." Ucap laki-laki tua ini.
Saat ini, aku duduk bersama dua laki-laki dan satu perempuan mengelilingi meja bundar, memastikan tidak ada yang memiliki status lebih tinggi atau lebih rendah. Kami mengadakan pertemuan ini di sebuah ruangan dengan desain minimalis yang menunjukkan kalau tuan rumah bukanlah bangsawan.
Di kananku adalah tuan rumah, laki-laki tua tanpa rambut di kepala. Namun, dia memiliki janggut dan kumis putih panjang yang menjalar. Karena janggut dan kumisnya tidak tersambung, aku mengasumsikan dia memiliki darah dari barat. Walau tampak tua, badannya yang gempal seolah tidak setuju, seolah dia masih muda. Laki-laki tua ini adalah Enlil Alhold, kepala keluarga Alhold.
Di kanan Enlil, duduk seorang perempuan dengan rambut panjang dicat putih. Dari pengalaman, perempuan dengan rambut dicat putih memiliki pengendalian perak atau logam putih lain yang disembunyikan di antara rambut.
Perempuan itu membiarkan dua kancing paling atas kemejanya terbuka, menunjukkan dada yang berisi. Kemeja putihnya pun terlalu tipis, menunjukkan bra hitam di bawahnya. Perempuan ini dikenal sebagai petarung terkuat Apollo, Karla, yang tentu saja bukan nama aslinya.
Hingga saat ini, belum ada informasi pasti mengenai pengendalian utama Karla. Permasalahannya adalah dia adalah tipe lone wolf, selalu beraksi seorang diri. Dan, kalau dia beraksi, tidak ada satu pun lawannya yang mampu hidup untuk bercerita. Bahkan, asumsi rambutnya bagian dari pengendalian dibuat berdasar informasi mengenai Lacuna si mercenary.
Di kanan lagi, atau lebih tepatnya di depanku. Seorang laki-laki berambut dan mata hitam duduk. Ditambah dengan pakaian penuh ornamental tidak berguna, citra bangsawan begitu melekat pada laki-laki ini. Aku tidak peduli dengan agen dirumahkan atau bangsawan tidak jelas. Lewat.
Terakhir, aku. Aku dikenal dengan nama adalah Constel, pemimpin Orion generasi ketiga. Aku menggunakan lensa kontak coklat dan mengecat rambutku dengan warna yang sama, memberi kesan kalau aku rakyat jelata. Aku mengenakan setelan hitam dengan kaca mata, penampilan sekretaris.
Tentu saja, di belakang kami ada beberapa orang berdiri. Setiap dari kami membawa dua orang sebagai penjaga. Meski sebenarnya, untuk aku dan Karla, justru kami lah yang melindungi mereka. Orang yang berdiri di belakang kami hanyalah orang baru. Adalah tradisi bagi beberapa organisasi untuk membawa orang baru ke pertemuan.
Sebenarnya, masih ada satu kursi kosong di kiriku. Namun, orang yang diundang masih belum datang.
"Biar kutebak," Karla merespon cepat. "Kau berpikir membawa Lugalgin agar mendapat posisi yang menguntungkan di pertemuan ini, kan? Hahaha. Apa kau belum mendengar rumornya?"
"Rumor apa yang kau maksud?"
"Rumor kalau dia adalah guru Sarru tentu saja."
Enlil tidak merespon. Dia hanya menyipitkan kedua mata. Tampaknya, dia tidak mau menerima fakta kalau Lugalgin Alhold, orang yang selama ini dia sebut sebagai inkompeten, justru memiliki kompetensi sangat tinggi.
Aku sendiri belum sepenuhnya percaya pada rumor yang beredar. Namun, pertikaian di jalan beberapa hari yang lalu seolah menjadi konfirmasi kalau Lugalgin memang benar-benar guru dari Sarru.
Dia, seorang diri, bisa membunuh sepuluh orang dengan cepat dan mudah. Apalagi, kemampuan beradaptasinya di luar nalar. Maksudku, orang waras macam apa yang melepas pintu untuk dijadikan perisai? Belum lagi, senjata anehnya itu. Shotgun dan pedang jadi satu? Aku benar-benar tidak bisa memahami jalan pikirnya.
Jika yang saat itu bertarung adalah Sarru, dia pasti menggunakan entah berapa banyak senjata. Frekuensi Sarru mengganti senjata jauh lebih tinggi dibanding Lugalgin. Jadi, bisa dibilang Sarru adalah versi downgrade dari Lugalgin.
Sarru, seorang diri, dapat menghancurkan organisasi enam pilar. Kalau muridnya saja sudah sekuat itu, aku tidak bisa membayangkan kekuatan sang guru. Ditambah lagi, Akadia dan Agade sudah memihak padanya.
"Kalau seandainya Agade tidak menyerang bisnis kami di malam itu, aku yakin Leto sudah menerima tawaran Lugalgin."
__ADS_1
Seperti ucapan Karla. Kalau Agade tidak menyerang bisnis yang dilakukan oleh Apollo, Leto, pemimpin mereka, pasti sudah menerima tawaran Lugalgin. Atau, setidaknya, kalau rumor Sarru adalah murid Lugalgin tidak menyebar, masih ada kemungkinan.
Sederhananya, Apollo menolak tawaran Lugalgin hanya karena urusan pribadi. Karla sendiri tampak bahagia karena hal ini. Selama ini, Karla tidak memiliki alasan untuk menyerang Sarru. Namun, sejak serangan beberapa bulan lalu, Karla bisa melakukannya.
Meski Karla suka bertarung sendirian, tapi dia tidak bodoh. Kalau dia menyerang Sarru seorang diri, dia pasti kalah jumlah. Hal yang sama juga terjadi dengan Apollo. Apollo tidak mungkin maju menyerang sendirian sementara Agade memiliki bantuan dari Akadia dan intelijen negara. Jadi, mereka membutuhkan aliansi ini sebagai bantuan tambahan.
Untuk keluarga Alhold dan bangsawan, sudah jelas alasan mereka bergabung dalam aliansi ini.
Untuk kami, Orion.... entahlah. Aku hanya iseng. Tidak seru saja menerima tawaran Lugalgin dengan mudah. Selain itu, sebenarnya, aku punya alasan personal sebagai seorang ibu.
"Hah! Ternya dua organisasi enam pilar adalah pengecut!"
Tiba-tiba saja, sebuah pernyataan yang berpotensi memantik muncul dari mulut bangsawan tidak jelas ini.
Tampaknya, dia ingin memancing emosi kami agar langsung melancarkan serangan ke Lugalgin. Namun, sayangnya, Karla dan aku sama-sama tidak memedulikannya. Biarlah anjing menggonggong.
"Jujur, daripada Lugalgin, menurutku, akan lebih mudah kalau kita menyerang Agade atau Akadia terlebih dahulu." Aku memberi pendapat. "Agade dan Akadia bekerja sama hanya karena Lugalgin. Kalau kita menyerang Lugalgin, keduanya akan bergerak, baik Akadia maupun Agade.
"Namun, anggap, kalau kita menyerang Agade, hanya Lugalgin dan intelijen yang bergerak. Akadia pasti ogah-ogahan. Walaupun Lugalgin memberi perintah untuk membantu Agade, aku ragu anggota Akadia akan menerima perintah itu. Maksudku, hancurnya Agade, secara tidak langsung, akan menguntungkan Akadia."
"Kami tidak peduli dengan Akadia atau Agade! Yang kami pedulikan adalah inkompeten itu hilang dari dunia ini."
Anjing ini terus menggonggong. Mengganggu sekali. Terkadang aku malu ketika bangsawan diwakilkan oleh orang seperti ini.
Tiba-tiba suara pintu dibuka terdengar. Kami semua refleks mengalihkan pandangan ke ujung ruangan, ke arah pintu.
"Halo semuanya! Maaf aku terlambat. Tadi ada urusan kecil."
Laki-laki dengan rambut pirang dan mata biru setajam silet muncul. Senyumnya bukanlah senyum yang bisa dibilang ramah. Ujung bibirnya tampak begitu tajam dan panjang, memberi kesan mengancam. Dia mengenakan celana kargo dan kaos yang dibalut dengan jaket pilot.
Jadi ini ya Ukin, laki-laki paling liar di Bana'an, salah satu murid Lacuna.
Di belakang Ukin terlihat seorang perempuan yang mengenakan setelan dan kaca mata sekretaris, sepertiku.
Ukin duduk di sebelah kiriku. Meski dia sudah mengatakan maaf, aku tidak melihat ada satu pun gestur yang menyatakan dia benar-benar minta maaf. Dia duduk begitu saja tanpa keraguan.
Aku dan Karla tidak peduli kalau Ukin datang terlambat. Enlil juga tampaknya sama. Namun, bangsawan tidak jelas ini tampak marah. Kedua matanya membelalak dan tangannya pun mengepal erat.
__ADS_1
Kami semua mengabaikan bangsawan tidak jelas ini.
"Jadi, bisa tolong beri aku sedikit ringkasan apa yang sudah kalian bicarakan?"
"Kamu hanya terlambat seperempat jam. Jadi kami belum jauh juga." Aku merespon. "Kami berpikir kalau menyerang Agade atau Akadia akan lebih efektif daripada menyerang Lugalgin."
Aku mulai memberi penjelasan singkat mengenai progres pertemuan, yang belum terlalu jauh. Meski kelakuannya tampak berantakan, tapi aku bisa melihat mata lebarnya melihat ke arahku sepenuh hati. Sebuah senyum pun terlihat dan dia sesekali mengangguk kecil. Dia benar-benar memperhatikan dan mendengarkan ucapanku dengan saksama.
"Baiklah, kalau seperti itu, aku sarankan kita menyerang Agade terlebih dahulu. Kalau kita menyerang Akadia, Agade akan bergerak dengan cepat untuk membantu Akadia. Namun, kalau kita menyerang Agade, Akadia akan ogah-ogahan."
Ukin langsung memberi saran. Dari nadanya, dia tampak begitu yakin. Apakah dia memiliki informasi yang tidak kami miliki? Atau...
"Ah, karena Lugalgin adalah guru Sarru, maka Agade yang dipimpin oleh Sarru pun secara tidak langsung adalah milik Lugalgin menurut, ya."
"Lugalgin guru Sarru? Ah, rumor itu ya." Ukin merespon dengan enteng. "Biar aku koreksi. Lugalgin bukanlah guru Sarru. Lugalgin adalah Sarru."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1