
Lacuna POV
"Jadi, ini tempatnya?"
Dengan menggunakan smartphone sebagai pemandu, aku mencapai lokasi yang telah ditentukan. Wow! Teknologi jaman sekarang benar-benar memudahkan segalanya. Di zamanku dulu, aku harus mengumpulkan informasi dan bertanya ke sana-sini kalau ingin mencapai suatu lokasi. Ya, sudahlah.
Aku terdiam sejenak, berdiri di depan bangunan yang tampak usang ini. Tidak. Kata usang terlalu halus. Daripada usang, lebih tepatnya, bangunan yang seharusnya gedung tiga lantai ini sudah setengah hancur.
Yah, aku tidak peduli juga sih. Aku pun masuk melalui pintu setengah hancur.
"Selamat datang."
Seorang laki-laki dengan tuxedo dan fedora sudah berdiri di antara reruntuhan. Dia mengangkat tangan kanan, membuat reruntuhan yang ada melayang, menunjukkan sebuah pintu. Dengan sebuah gerakan pada tangan kiri, pintu itu terbuka.
"Silakan masuk."
Heeh, laki-laki ini penjaganya ya.
"Terima kasih."
Aku berjalan memasuki pintu yang terbuka, menuruni tangga yang entah berapa panjang. Aku menggunakan pengendalian di sepatu dan baju, membuat badanku melayang, dan menuruni tangga.
Dalam waktu singkat, aku sudah berada di sebuah ruangan besar. Ruangan ini tidak memiliki perabotan apapun. Hanya aula berwarna putih.
Aku berkonsentrasi, mencoba merasakan semua material atau mineral yang ada. Beberapa material memberi respon, seperti sebuah gelombang sonar, memberi gambaran dari beberapa arah. Ada perak, besi, tembaga, krom, aluminium, dan sebagainya. Namun, kehadiran masing-masing material sangat lemah. Tampaknya ruangan ini dibuat dengan mencampur berbagai macam material untuk mencegah pengendalian.
Selain aku, ada empat orang lain berdiri di ruangan ini. Dan, sama sepertiku, mereka semua mengenakan jaket atau jubah yang terbuat dari material tertentu. Namun, yang jelas, pakaianku adalah yang paling tebal, berlapis-lapis, dan berat.
Dari kanan, satu perempuan dengan mata coklat dan rambut pirang sebahu mengenakan singlet putih dan rok mini hijau. Di bawah rok mini, sebuah stoking semi transparan melilit. Di kulit putihnya, sebuah jubah musim dingin dengan campuran aluminium dan besi menutupi.
Di sebelah perempuan itu, dua laki-laki mengenakan setelan dengan jaket pilot. Tidak ada yang menarik dari dua laki-laki ini. Aku hanya merasakan kuarsa dari tubuh mereka. Dari bentuknya, pistol.
Laki-laki yang terakhir mengenakan setelan tanpa jas, hanya rompi. Jubah musim dingin yang dia kenakan memiliki beberapa material yang bervariasi di dalamnya, ada besi, aluminium, dan kuarsa. Dia memiliki rambut merah, bukan karena cat atau sejak lahir, tapi lebih seperti terbakar, yang cukup serasi dengan kulit gelapnya. Matanya mengenakan lensa kontak berwarna merah juga. Aku tidak tahu apakah lensa itu adalah alat atau hanya sekedar lensa kontak.
Kesimpulan sementara, di ruangan ini, dua orang adalah spesialis dan tiga orang adalah generalis. Tidak banyak spesialis yang bisa bertahan hidup di dunia mercenary. Mungkin mereka hebat.
Aku berjalan masuk, menjauh dari tangga. Kami semua saling melempar pandangan untuk sesaat, lalu membuang pandangan.
"Tampaknya kalian semua sudah datang."
Seorang perempuan muncul dari tangga. Perempuan itu memiliki rambut pirang dan mata biru yang berbalikan dengan kulit kuning langsat orientalnya. Dia mengenakan sebuah jaket pilot dengan celana kargo. Aku tidak yakin apa yang ada di balik jaket pilotnya.
Namun, yang jelas adalah, perempuan ini tidak bisa dianggap enteng. Aku merasakan seluruh pakaiannya terbuat dari benang perak. Kalau kami bertarung, dia bisa saja mengendalikan perak yang ada di pakaianku, menggunakannya sebagai senjata untuk melawanku.
Aku cukup percaya diri dengan kekuatan pengendalianku, tapi aku tidak yakin bisa mengalahkan perempuan ini. Auranya begitu mendominasi, seolah-olah bajuku bisa saja terlepas saat ini juga, menuruti perintahnya.
Ini adalah yang terjadi ketika dua orang dengan pengendalian utama yang sama berada pada satu ruangan. Kami, dia dan aku, dapat merasakan kekuatan pengendalian orang lain dengan cepat, dan mengetahui siapa yang lebih kuat dan lebih lemah. Dan saat ini, aku lebih lemah.
__ADS_1
"Hooh, ternyata ada orang lain yang pengendalian utamanya sama denganku." Perempuan itu melihat ke arahku sesaat, lalu kembali ke semua orang. "Selamat datang semuanya. Aku adalah orang yang menyewa kalian semua, Mila Hofmeijer. Tidak usah pedulikan nama belakangku karena itu bukan nama keluarga, hanya nama tanpa arti. Kalian, para mercenary, sudah tahu lah."
Tidak seorang pun memberi respon, menunjukkan betapa tidak pentingnya basa-basi yang dilakukan oleh perempuan ini.
Mila pun menghela nafas. Dengan sebuah jentikan, beberapa titik di langit-langit terbuka. Beberapa kotak melayang ke semua orang yang hadir di ruangan ini.
Setelah kotak ini menyentuh tanganku, aku baru bisa memastikan komposisinya. Kotak ini adalah campuran antara baja yang sudutnya diberi perak. Aku tidak merasakan getaran atau apapun pada bagian perak, menunjukkan perak ini tidak dikendalikan, tapi pada bagian baja. Jadi, Mila menggunakan pengendalian pada baja.
Aku membuang muka sejenak, membuka kotak dengan pengendalian. Di dalamnya, terdapat sebuah flash drive.
"Di dalam flash drive itu, terdapat data-data yang berhubungan dengan target kalian, Mafia Keluarga Ibrahim. Dan,"
Aku membuang kotak ini ke sudut ruangan. Dua orang juga melakukan hal yang sama.
"Eh?"
Blarr
Beberapa ledakan muncul di sudut ruangan, di tempat kami melempar kotak itu. Namun, sayangnya, tidak semua orang selamat. Dua orang dengan pengendalian kuarsa tewas karena terlambat melempar kotak di tangan mereka.
Aku tarik pernyataanku yang mengatakan kalau dua spesialis itu kuat. Mereka hanyalah amatir.
"Selamat, kalian bertiga lolos tes dan berhak menerima pekerjaan ini. Aku tunggu kabar bahagia dari kalian. Sampai jumpa."
Dengan kalimat penutup itu, Mila melayang ke belakang, kembali ke tangga, meninggalkan kami bertiga.
"Nama?" aku bertanya.
"Sebelum bertanya, sebutkan namamu." Perempuan berambut pirang membalas.
"Dia benar." Laki-laki berambut merah merespon.
Aku tidak melanjutkan ucapan. Karena mereka tidak menjawab, aku sebut saja Merah dan Pirang.
Saat itu juga, kami bertiga terdiam. Tidak seorang pun bergerak menuju tangga. Bukannya kami tidak mau pergi dari ruangan ini, tapi kami tidak mau diserang ketika berada di tangga.
Pekerjaan pembersihan kali ini tidak spesifik untuk satu orang, melainkan untuk beberapa orang. Dengan kata lain, hanya satu orang yang akan mendapat bayaran, yang bertahan hidup hingga akhir.
"Lalu, mau sampai kapan kita berdiam diri di sini? Kita ada pekerjaan, kan?" Merah bertanya.
"Silakan," aku merespon.
"Kami tidak akan mencegahmu pergi," Pirang menambahkan.
Merah terdiam. Dia melemparkan pandangan pada kami berdua.
"Ladies first?"
__ADS_1
"Tidak, terima kasih." Pirang merespon cepat.
Aku menambahkan, "aku adalah pendukung kesetaraan gender."
Merah terdiam sejenak, lalu berucap "ya sudah, aku akan mengalah dan pergi duluan."
Merah berjalan. Setelah beberapa langkah, dia berbalik, melihat ke arah kami.
Aturan ketiga dalam pekerjaan pembersihan tidak spesifik adalah, jangan tunjukkan punggungmu pada orang yang tidak kamu percaya. Kamu tidak akan tahu apa yang akan mereka lakukan di belakangmu, literally.
Begitu mencapai tangga, dia pun melayang, pergi meninggalkan kami berdua. Tentu saja masih melihat ke arah kami.
Sekarang tinggal kami berdua, aku dan Pirang.
"Jadi, Pirang, apa kau mau duluan?"
"Tidak terima kasih. Bagaimana kalau kau duluan saja?"
Tidak ada yang mau mengalah, kami berdua masih saling melempar pandangan. Tidak seorang pun mengalihkan pandangan atau berkedip. Dalam momen seperti ini, orang pertama yang mengalihkan pandangan atau berkedip akan kalah. Dan, tampaknya, aku bukanlah pihak yang kalah.
"Baiklah, aku akan duluan."
Sama seperti Merah, Pirang berjalan mundur tanpa melepaskan pandangan dariku.
Tidak lama kemudian, hanya tinggal aku yang ada di ruangan ini.
Bersambung
\============================================================
Chapter ini satu dari 6 chapter yang diupload secara bersamaan (53-58)
Akhirnya sudah bisa pulang dari rawat inap. Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya. Author sangat berterima kasih bagi reader yang masih kembali setelah sempat kosong gara-gara rawat inap.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1