I Am No King

I Am No King
Chapter 74 – Permintaan


__ADS_3

~Lacuna POV~


 


Namun, dari semua itu, aku memiliki satu pertanyaan.


 


"Kenapa kamu menceritakan semua ini padaku?"


 


"Jawabanku belum berubah dari saat kita bertemu di taman. Jujur, aku tidak tahu kenapa. Namun, aku merasa, menceritakan semua ini padamu adalah hal yang benar. Mungkin..."


 


Aku menahan nafas ketika Mila berhenti. Mungkin....


 


"Mungkin, aku melihat sosok putriku yang sebelumnya padamu."


 


"...hah?"


 


"Kamu memiliki pengendalian perak dan umurmu hampir sama dengannya, dengan putriku kalau seandainya dia masih hidup. Dua hal ini, mungkin, membuatku berharap kalau kamu adalah putriku. Maafkan aku kalau omonganku memang tidak masuk akal."


 


Aku tidak pernah mengatakan umurku secara blak-blakan. Apa dia memperkirakannya dari penampilanku? Ya, mungkin. Namun, ini tidak penting.


 


Di saat ini, dadaku terasa sesak. Bukan karena tekanan dari pengendalian Mila, tapi entahlah, mungkin karena aku mendengar ini semua? Mendengar bagaimana ibuku sendiri menyesal atas kematianku dan ayah.


 


Sebagian dari diriku ingin berkata jujur kalau aku adalah putrinya. Namun, sebagian lain dari diriku tidak ingin mengatakannya. Entahlah.


 


"Ah, begitu ya. Kalau berkata seperti itu, apa kamu mau aku memanggilmu ibu? Anggap ini sebagai bonus dariku."


 


"Eh?"


 


Eh? Apa ini? Kenapa mulutku tiba-tiba mengatakan ini? Apa ini adalah keinginanku yang sebenarnya? Atau apa?


 


"Kamu mau melakukannya?"


 


Ah, sudahlah. Biar aku mengikuti arus saja.


 


"Kurasa tidak ada ruginya untukku."


 


"A, apa kamu mengizinkanku untuk memelukmu? Kumohon?"


 


"Tolong kenakan cincin penghilang pengendalian itu dulu. Aku tidak mau terbunuh."


 


"Ah, ya, maaf. Aku hampir lupa."


 


Mila mengambil cincin dari dalam saku dan mengenakannya. Di saat itu, aku sama sekali tidak mampu merasakan tekanan dari tubuhnya lagi.


 

__ADS_1


Kami berdiri, berhadapan. Tanpa memberiku kesempatan menerimanya dengan tepat, tiba-tiba saja Mila memelukku dengan erat, seolah tak ingin membiarkanku lepas dari pelukannya.


 


"Tsarina, maafkan ibu karena selama ini ibu tidak mampu memberimu kasih sayang yang seharusnya kamu dapatkan. Maafkan ibu karena ibu harus pergi meninggalkanmu. Maafkan ibu karena ibu tidak bisa melindungimu. Maafkan ibu karena ibu tidak bisa hadir di kehidupanmu sampai akhir. Maafkan ibu. Maaf."


 


Aku bisa mendengar suaranya yang sesenggukan.


 


Tanpa berpikir apapun, secara refleks, aku memeluk Mila, ibuku, dan mengusap punggungnya.


 


"Tidak apa, ibu. Aku paham kok. Maafkan Tsarina juga, bu, karena Tsarina tidak mampu menemui ibu."


 


Ibu, maafkan aku. Meski sebenarnya aku memang adalah putrimu, aku lah Tsarina, aku tidak mampu mengatakannya. Pada akhirnya, aku belum siap untuk mengatakan itu semua. Semoga, dengan ini, kamu bisa sedikit lebih lega.


 


"Maafkan ibu, Tsarina. Maafkan ibu."


 


"Tidak apa, ibu. Tidak apa."


 


Posisi kami tidak berubah untuk beberapa saat. Di saat yang pendek ini, aku sedikit berharap waktu tidak akan berlalu. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh ibu lebih lama, mendengar suara ibu yang berbisik pelan, dan juga hal lain.


 


Namun, hal itu tidak akan terjadi. Setidaknya hingga aku bisa mempersiapkan batin dan mentalku.


 


Seolah bisa membaca pikiranku, Mila melepaskan pelukannya dariku.


 


 


Suaranya sudah kembali normal, tidak lagi sesenggukan. Meski demikian, matanya masih merah dan pipinya basah.


 


Aku, refleks, menyeka air mata Mila.


 


"Tidak apa. Kalau kamu membutuhkan orang untuk melampiaskan semua perasaan itu, kamu bisa memanggilku lagi. Tampaknya, aku masih akan berada di negara ini lebih lama."


 


Mila terdiam sejenak, lalu menjawab, "Terima kasih."


 


Saat ini, mungkin, senyum Mila adalah senyum paling indah dan menenangkan yang pernah kulihat sejak bertemu dengannya.


 


"Kalau kamu mau, kami bisa menyiapkan ruangan untukmu dan Sonya menginap malam ini."


 


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada agenda setelah ini. Aku harus memberi evaluasi terhadap performa perempuan itu malam ini. Dan hal lainnya."


 


"Ah, benarkah demikian? Kalau begitu, maafkan aku karena sudah menahanmu di sini terlalu lama."


 


"Tidak masalah."


 


Aku berbalik dan mengambil senjataku.

__ADS_1


 


Di saat itu, pelayan dan Sonya kembali masuk. Ketika melihatku mengambil senjata, Sonya melakukan hal yang sama dan mendekat padaku.


 


"Kalau kamu ada pekerjaan lain, tidak usah ragu untuk menghubungiku."


 


Dengan kalimat itu, aku pun pergi dari ruangan ini bersama Sonya. Seperti sebelumnya, sang pelayan mengantarkan kami.


 


Rencana awal, aku ingin berjalan saja pulang. Namun, aku berubah pikiran dan memanggil sebuah taksi. Kami pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Anastasia.


 


Akhirnya, aku sudah pergi dari rumah itu.


 


"Eh? Lacuna? Kamu kenapa?"


 


Aku segera pergi karena aku tidak mau menangis di depan Mila. Pada akhirnya, begitu aku berada di dalam taksi, dan memastikan kami cukup jauh dari kediaman Anatasia, air mataku tidak lagi terbendung. Dadaku terasa sesak. Sulit sekali bagiku untuk dapat menahan perasaan ini.


 


Aku menggumam pelan, "maafkan aku, ibu."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Seperti yang dibahas pada minggu lalu, minggu ini akan menjadi penutup arc 4. Jadi, minggu depan, POV akan kembali ke Lugalgin, tidak lagi di Lacuna.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 

__ADS_1



__ADS_2