I Am No King

I Am No King
Chapter 342 – Dijemput


__ADS_3

"IRA! BERHENTI!"


Sebuah teriakan terdengar dari lantai atas. Tampaknya, Ibu Amana memiliki perasaan kalau Ira akan menceritakan semua ini.


Instingku mengatakan Ira tidak segan untuk menceritakan semua masalah ini. Namun, aku yakin Ibu Amana tidak menginginkan hal ini. Dia pasti akan mengerahkan segala usaha untuk mencegah Ira mengatakannya. Oleh karena itu, aku hanya ingin memastikan satu hal.


"Ira, aku hanya butuh konfirmasi. Apakah Ibu Amana mengambil peran penjahat dengan harapan menebus kematian Tera? Dia berharap Rina membunuhnya?"


Ira mengangguk.


Oke! Masalah ini semakin runyam.


"Dulu," Ira mulai memberi cerita. "Yang Mulia Paduka Ratu tidak pernah mabuk. Dia menjalani hidup yang sehat dan normal. Namun, sejak rencana ini berjalan, Yang Mulia Paduka Ratu mabuk setiap malam. Bahkan, beliau membuat dirinya ketagihan ****. Dia akan mengerahkan seluruh tenaganya di ranjang, berusaha melepaskan frustrasi dan perasaan bersalahnya."


Ibu Amana melampiaskan seluruh frustrasinya di ranjang? Aku jadi teringat pada Rina yang juga melakukan hal yang sama. Seperti ibu, seperti anak. Di lain pihak, aku terkejut pada Bapak Bilad yang mampu melayani Ibu Amana setiap malam padahal bukan seorang inkompeten. Dia pasti menjalani latihan yang begitu berat untuk memiliki stamina itu.


Ira menoleh ke kanan. "Tampaknya, pembicaraan kita harus diakhiri, Lugalgin."


Aku menghela napas. "Tampaknya demikian."


Sesaat setelah kami bertukar kata, beberapa ledakan muncul di sebelah kami. Tentu saja kami tiarap sebelum ledakan itu muncul, memastikan diri aman.


"Uhuk, uhuk."


Belum selesai aku terbatuk-batuk karena debu yang beterbangan, sebuah kain sudah melilit perutku dari dalam asap. Daripada melilit, lebih tepatnya mengikat. Ikatan ini selalu dilakukan untuk mengantisipasi pengendalian yang hilang. Dengan kata lain, benda yang melilitku sebenarnya bukan kain, tapi material non organik lain yang lentur, seperti silikon.


Seketika itu juga tubuhku ditarik dengan kasar keluar.


"EMIR!"


"Jangan khawatir Lugalgin, kami sudah mengamankanmu! Dan helikopter ini adalah barang antik!"


Emir menjawabku enteng, seolah menarikku dengan kasar adalah hal yang wajar. Di lain pihak, dia sudah mengantisipasi penghilang pengendali Ibu Amana. Ngomong-ngomong, aku penasaran dari mana dia mendapat helikopter antik.


Tergantung di selendang, aku memandang dinding istana yang berlubang, menunjukkan sosok perempuan berpakaian pelayan berkibar. Satu lantai di atasnya, terlihat dua sosok berdampingan yang melihat ke luar jendela, Ibu Amana dan Bapak Bilad.

__ADS_1


"Cepat pergi! Sabotase jaringan militer yang kita lakukan hanya bertahan beberapa menit lagi."


Helikopter yang menyelamatkanku langsung pergi, menjauh dari tempat ini. Entah bagaimana caranya, mereka bisa meretas dan mengakali jaringan pertahanan militer dan menerbangkan helikopter ini. Tanpa melakukan hal itu, mungkin helikopter ini sudah ditembak jatuh ketika keluar dari wilayah Anshan.


Dalam waktu singkat, istana sudah tidak terlihat dan aku sudah ditarik masuk ke helikopter. Karena helikopter ini barang antik, aku tidak khawatir memegang lantainya ketika sampai di dalam.


"Terima kasih, Inanna, Emir, Rina."


Well, sebenarnya, aku ingin menghabiskan sedikit waktu lebih lama dengan Ira, mencari informasi. Namun, sangat tidak bijak aku menyalahkan istriku di saat ini. Wajah mereka terlihat begitu berseri. Bahkan, aku bisa melihat titik air mata di ujung kelopak.


Emir dan Inanna memelukku erat. Aku membelai rambut dan punggung mereka dengan lembut, menerima semua kekhawatiran dan kesedihan mereka. Well, lebih tepatnya, aku merasa kekhawatiran mereka lebih mendominasi daripada kesedihan. Di lain pihak, Rina duduk di ujung. Dia tidak bereaksi sama seperti Emir dan Inanna.


Tidak lama, Emir dan Inanna melepas pelukan dan memberi jarak. Mereka tidak melihatku lagi, tapi melihat ke arah Rina.


"Kenapa?"


"Rina, dari kami bertiga, jelas-jelas kamu yang paling khawatir."


"Emir benar, Rina. Sudah dipertemukan dengan Lugalgin, kenapa kamu masih jual mahal?"


Aku mengabaikan pertukaran pembicaraan antara ketiga istriku dan langsung memeluk Rina.


"Gin, apa yang kamu–"


"Aku masih di sini, Rina. Aku masih di sini. Aku belum pergi."


Pergi yang aku maksud bukanlah berpindah ke lokasi lain, tapi tewas. Dan, tampaknya, pesanku tersampaikan ke Rina. Perlahan, aku bisa merasakan Rina yang mulai runtuh. Dia pun menangis dan memelukku erat.


"Gin, untunglah ... untunglah ...."


Aku menoleh ke belakang sejenak, melihat Emir dan Inanna yang menangguk pelan.


"Aku khawatir ibu akan ... ibu akan ...."


Rina tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Tampaknya, Rina benar-benar khawatir ibunya akan melakukan suatu hal buruk padaku.

__ADS_1


Sebelum berpisah, aku sudah meminta Emir dan Inanna untuk mendukung dan terus bersama Rina. Ini bukan soal istri mana yang paling istimewa, tapi soal peran siapa yang paling penting. Saat ini, kami berada di kerajaan Nina. Kami berempat di sini untuk mengumpulkan massa dan dukungan terhadap Rina, tuan putri kerajaan. Jadi, Rina harus berada di garis depan, menunjukkan wajahnya.


Di satu sisi, aku bisa memahami perasaan Rina sebagai Alhold. Dia pasti takut semua yang kini dimiliki, seperti rumah, rekan berbicara, dan juga perlindungannya hilang ketika aku tewas. Dia pasti takut Emir dan Inanna tidak akan bersamanya lagi. Rina juga takut rumahku yang selama ini menjadi tempat bernaung hilang. Selain itu, pasti ada banyak ketakutan lain.


Namun, di balik itu semua, tampaknya Rina lebih takut kehilanganku, seperti bagaimana dia kehilangan adiknya. Apakah mungkin aku yang diculik ibunya mengingatkannya pada Tera yang juga diculik oleh ibunya? Bisa jadi.


Kalau ditanya, Rina pasti takut dukungan Bana'an padanya akan hilang kalau aku mati. Sebelumnya, aku menganggap ucapan Rina setengah benar. Namun, setelah mendengar ucapan Ira mengenai inkompeten suka mengambil peran orang jahat, aku jadi menyadari hal lain. Rina pasti memiliki pemikiran yang lebih tulus dibanding itu semua. Tanpa ucapan Ira, mungkin hal ini akan luput dariku.


Melihat bagaimana Rina tampak begitu sedih, rasanya sangat tidak mungkin aku mengatakan kalau ada hal lain dibalik kematian Tera. Saat ini, mungkin, dendam pada Ibu Amana adalah satu hal yang membuat Rina tetap bertahan. Kalau alasan itu dicabut dari Rina, aku tidak yakin kondisinya akan baik-baik saja. Aku khawatir.


"Apa yang harus kulakukan?"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Karena masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Lalu seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2