I Am No King

I Am No King
Chapter 172 – Kepercayaan


__ADS_3

""Gin!""


Tiba-tiba saja sebuah bentakan terdengar. Sumber suara itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Inanna dan Emir. Bersama mereka, tampak Yuan dengan wajah pucat.


Apa yang sudah mereka lakukan pada Yuan?


"Apa kamu mau selingkuh?"


"Apa kamu mau ambil istri lagi?"


"Tidak?" aku menjawab cepat.


Sementara Emir menduga aku akan selingkuh, Inanna justru menduga aku mau menambah istri. Begitu mendengar jawabanku yang tegas dan tanpa jeda, Inanna dan Emir pun menghela nafas dengan senyuman.


"Maaf ya sudah mencurigaimu." Emir minta maaf.


"Iya, kami minta maaf." Inanna menambahkan.


"Ah, tidak apa-apa. Kalian tidak salah. Normal untuk berpikiran seperti itu. Sebagai tambahan, aku masuk ke sini atas rekomendasi Jin. Jadi, aku bersama Jin."


Wajah pucat Yuan sudah menghilang. Kini sebuah senyum menempel di wajahnya. Di lain pihak, sebuah pertanyaan justru muncul di benakku.


"Apa yang membuat kalian berpikir kalau aku mau selingkuh atau menambah istri?"


"Kamu bahkan tidur dengan gurumu!" Inanna menjawab.


Emir menambahkan, "Apa yang membuatmu tidak akan tidur dengan perempuan ini?"


Tunggu dulu, mereka menerima jawaban Yuan begitu saja tapi meragukan jawabanku?


"Ayolah," aku berusaha mempertahankan diri. "Saat itu aku single, tidak punya pacar, apalagi calon istri. Wajar kalau aku melakukannya, kan?"


""Tidak wajar!""


Emir dan Inanna berteriak. Mereka berdua meninggalkan Yuan di pintu dan mendatangiku. Aku sedikit memundurkan kursi, memberi ruang bagi Inanna dan Emir untuk berdiri di depanku.


Kenapa mereka tampak begitu marah saat ini tapi tampak normal bahkan iba ketika mendengar Tasha? Mereka bilang sayang padaku tidak peduli apa yang sudah kulakukan, tapi apa ini?


"Kami tahu gurumu menjadi korban juga karena kamu lengah semalam!" Inanna mengungkit kejadian semalam.


Emir menambahkan, "aku mulai mempertanyakan berapa banyak wanita yang kamu tiduri sebelum bertemu kami."


"Aku hanya melakukannya dengan Lacuna dan kalian. Tidak ada yang lain."


""Berapa kali kamu melakukannya dengan Lacuna?"" Emir dan Inanna bertanya bersamaan.


Aku terdiam, mengalihkan pandangan. Aku tidak menghitung berapa kali melakukannya dengan Lacuna.


Aku melirik ke Emir dan Inanna. Melihatku yang terdiam dan mengalihkan pandangan, muka mereka semakin merah. Emosi mereka sudah mencapai ubun-ubun.


Di lain pihak, tidak ada respons atau apapun dari yang lain. Shu En, Mulisu, dan Yuan hanya terdiam di tempat mereka masing-masing.


"Bisa tolong kalian pergi sebentar?"


"Tidak! Mereka tidak perlu pergi!" Inanna menyela.


"Lugalgin Alhold, jawab! Berapa kali?"


Kalau aku menjawab, mereka pasti marah. Kalau tidak menjawab, mereka juga akan marah. Saat ini, aku berada di posisi yang serba salah. Apa aku harus berbohong dan menjawab hanya beberapa? Namun, aku mengurungkan niat ini.


Aku melihat titik air di ujung kelopak mata Emir dan Inanna. Kedua tangan mereka pun mengepal dan bergetar. Tampaknya, mereka berdua marah untuk menyembunyikan kesedihan yang dirasakan. Tampaknya, secara tidak langsung, aku sudah mengkhianati kepercayaan mereka. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan mereka lebih jauh lagi.


"Hah...." Aku menghela nafas berat. "Maaf, aku tidak bisa menjawabnya. Aku sendiri tidak yakin sudah melakukannya berapa kali dengan Lacuna."


Emir dan Inanna tidak merespons lagi. Mereka hanya terdiam dengan mulut tertutup rapat.


Aku melihat ke arah Mulisu dan yang lain dan menggerakkan kepala, meminta mereka pergi. Kali ini, Emir dan Inanna tidak melarang. Kami pun ditinggalkan di ruangan ini dengan pintu tertutup rapat.

__ADS_1


Aku mendorong kursi ke belakang dan berdiri, mendatangi Emir dan Inanna. Emir dan Inanna sempat melangkah mundur, tapi aku terus maju dan meraih tangan mereka. Aku meraih Emir dengan tangan kanan dan Inanna dengan tangan kiri, menggenggam tangan mereka erat-erat. Tidak kusangka, tangan mereka bergetar begitu kuat.


Inanna dan Emir pasti sudah memendam perasaan ini cukup lama. Mungkin sejak pertama kali kami melakukannya. Aku mengaku bersalah karena mengabaikan pertanyaan mereka di pagi itu. Kalau aku menjawabnya saat itu juga, atau bercerita sebelum keceplosan semalam, mungkin mereka tidak akan sesedih ini.


Bahkan, Inanna yang seharusnya kalem menjadi seagresif ini menandakan kalau hal ini sudah membuatnya stres.


Ya, aku mengaku bersalah.


"Maafkan aku, Emir, Inanna."


Aku meletakkan tangan Emir dan Inanna di wajahku.


"Aku menyayangi kalian."


"Bohong!"


Hanya Emir yang menjawab. Inanna hanya terdiam, tapi air matanya mengalir semakin deras.


"Aku menyayangi kalian. Itu tidaklah bohong. Itu adalah sebuah fakta." Aku mencoba menenangkan Emir dan Inanna. "Aku minta maaf karena tidak menceritakan ini lebih awal. Aku benar-benar minta maaf."


Tidak terdengar respons sama sekali. Tangan mereka masih bergetar. Tampaknya kekecewaan mereka padaku sudah terlalu besar.


"Kalau kalian tidak sudi dengan laki-laki yang sudah meniduri wanita lain, aku tidak akan memaksa. Kalian bisa membatalkan rencana pernikahan kita sekarang juga. Aku tidak akan prot–"


"Tidak adil!" Inanna berteriak. "Kamu tidak adil Gin! Kamu yang memberi pilihan untuk membatalkan pernikahan kita, ketika aku sudah sangat menyayangimu, sangat tidak adil. Kamu tidak adil, gin."


Inanna terjatuh, berlutut. Dia pun menangis kencang. Akhirnya, sifatnya yang lunak kembali muncul. Karena tangan kirinya masih kupegang, dia berusaha mengusap air matanya hanya dengan tangan kanan. Aku bisa merasakan tangan Inanna yang menggenggamku semakin erat.


Ya. Aku tahu kalau aku sedang berlaku tidak adil. Seharusnya, aku mengatakan ini semua di awal, sebelum rasa sayang itu timbul.


"Gin," Emir memanggil.


"Ya?"


Meski tidak sederas Inanna, Emir juga menitikkan air mata.


"Apa kamu benar-benar menyayangi kami?"


"Lalu Lacuna?"


Jujur, aku tidak tahu harus menyebut hubunganku dengan Lacuna apa. Kalau aku mengatakan hanya sebatas guru dan murid, tidak mungkin. Tidak ada hubungan guru dan murid normal yang sampai melakukan hal itu. Apa aku menyayangi Lacuna? Kalau aku jawab tidak, juga sulit karena Lacuna bukan PSK. Kami melakukannya bukan atas dasar uang. Sayang? Entahlah.


"Apa kamu menyayangi Lacuna?"


"Jujur, aku bingung mau menjawab apa. Mungkin, istilah yang tepat adalah friends with benefits? Entahlah, aku tidak yakin. Saat itu hanya dia yang bisa menenangkanku. Maaf. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Aku–"


Belum sempat aku menjawab lebih lanjut, Emir melepaskan pegangan tanganku dan menerjang. Tanpa aba-aba, Emir mempertemukan bibirnya dengan bibirku. Dia menutup kedua matanya, membiarkan insting mengambil alih. Sebuah perasaan hangat dan lembut menjalar dengan halus melalui bibir kami. Nafasnya terasa lemah, lemas, sama sekali tidak menggebu-gebu. Perlahan, nafas kami seolah menjadi satu, seirama. Samar-samar, aku bisa merasakan bibir Emir yang manis.


Aku bisa merasakan kesedihan, kemarahan, kekecewaan, dan semua emosi lain yang dirasakan oleh Emir. Tanpa perlu berbicara, aku bisa memahami semua yang Emir rasakan.


Setelah beberapa waktu berlalu, Emir memisahkan bibirnya dariku. Sebuah benang perak menghubungkan bibir kami.


Aku tidak yakin berapa lama waktu berlalu. Dan aku tidak peduli.


"Maafkan aku," aku kembali meminta maaf.


"Tidak apa, aku memaafkan–"


Belum sempat Emir menyelesaikan kalimatnya, Inanna bangkit, melepas tanganku, dan mempertemukan bibir kami. Sama seperti Emir, Inanna juga memejamkan mata. Sebuah kehangatan dan kelembutan kembali menjalar ke seluruh tubuhku dari bibir. Bibir Inanna terasa lebih manis dan kenyal dari Emir.


Namun, perasaan yang kurasakan dari bibir Inanna cukup berbeda. Ciumannya terasa berat, seperti dipaksakan, seolah-olah Inanna ingin menguburkan semua rasa tidak percaya dan kesedihan yang muncul di benaknya. Inanna menekan bibirnya dengan kuat, memberi kesan putus asa.


Aku tidak melawan. Perlahan, bibir Inanna terasa semakin lemas dan lemah, tidak lagi menekan dengan kuat. Akhirnya, nafas kami menjadi serasi. Setelah beberapa saat, Inanna pun memisahkan bibir kami, membuatku dapat melihat ke wajahnya dengan jelas.


"Maafkan aku," Aku meminta maaf, lagi.


"Tidak apa. Aku memaafkanmu." Inanna menjawab dengan senyuman.

__ADS_1


Emir dan Inanna memang sudah berhenti menangis, tapi air mata mereka masih menempel di wajah. Aku sangat ingin mengangkat tangan dan mengusap air mata mereka berdua. Namun, tanganku tidak mampu bergerak. Aku adalah sosok yang membuat mereka menangis. Aku merasa tangan ini tidak pantas mengusap air mata mereka.


""Gin,""


Inanna dan Emir mengangkat kedua tanganku dan meletakkannya di wajah mereka.


"Kami tahu kamu juga bingung. Ciuman yang barusan mengatakan semuanya." Emir menjelaskan.


"Kamu berhak mengusap air mata ini. Tidak," Inanna mengoreksi ucapannya. "Hanya kamu yang berhak mengusap air mata ini."


Aku menurut dan mengusap air mata Emir dan Inanna. Meski susah, mengusap air mata dengan satu tangan, aku berusaha sebaik mungkin.


Saat ini, entah mengapa, aku merasa sama sekali tidak ingin memisahkan tanganku dari wajah Inanna dan Emir walaupun hanya untuk mengusap air mata dengan lebih mudah. Kalau melakukannya, aku merasa tanganku tidak akan pernah bisa menyentuh wajah mereka yang lembut dan licin ini.


Akhirnya, dengan susah payah, aku berhasil mengusap air mata Inanna dan Emir. Mereka pun tersenyum dan memisahkan diri dari tanganku.


"Kamu tahu Gin, aku tahu kalau kami sudah memaafkanmu, tapi," Inanna terhenti.


Emir melanjutkan. "Apakah kami boleh melakukan satu hal lagi? Hanya agar lebih lega. Kamu tidak keberatan, kan?"


"Tentu saja tidak."


Bahkan kalau kalian ingin melakukan banyak hal, aku tidak akan menolak.


"Terima kasih." Emir tersenyum.


"Gertakkan gigimu dengan rapat."


Ah, sial.


Dua buah kepalan melayang tepat menuju wajahku. Kalau mau, sebenarnya, aku bisa saja menghindari tinju ini. Namun, aku tidak melakukannya. Aku menerima kepalan tangan Emir dan Inanna dengan sepenuh hati.


Tinju Emir dan Inanna sukses mengirimku melayang, terpelanting ke belakang. Aku pun terjebab di lantai. Pukulan Emir mendarat di mata kanan sedangkan Inanna di pipi kiri. Pukulan mereka keras sekali. Selain itu, aku menerima pukulan mereka dengan telak. Aku cukup yakin wajahku akan bengkak.


"Maaf ya Gin,"


"Kami hanya butuh sedikit pelampiasan."


Inanna dan Emir kembali meminta maaf.


Aku bangkit, duduk di atas lantai. "Tidak usah dipikirkan. Aku juga yang salah."


Tok tok


"Masuk...."


Emir menjawab dengan nada ceria. Tidak lagi terdengar nada marah atau kesedihan dari suaranya.


Aku mendengar suara pintu terbuka. Namun, aku tidak bisa melihat apakah Mulisu dan yang lain masuk atau hanya mengintip dari pintu.


"Maaf kalau mengganggu, aku ada berita dari Jin."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2