I Am No King

I Am No King
Chapter 364 – Fall of Muir pt 7


__ADS_3

"Tidak, kami tidak memiliki niat untuk menjebak Tuan Putri Rina. Sebelum memerintahkan kami evakuasi, Yang Mulia Paduka Ratu memberi pesan, 'kalau bertemu dengan Rina, katakan aku menunggu di ruang audiensi,'."


Rina dan Emir saling melempar pandangan. Tidak mendapat jawaban yang diinginkan, mereka melihatku. Aku hanya mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu.


Kebingungan Rina dan Emir adalah normal. Tidak mungkin orang yang diincar memberi tahu lokasinya kepada sang pembunuh. Di lain pihak, orang yang sudah tahu kejadian di balik layar, tidak akan terkejut.


Yang berada di ruang audiensi dan menunggu Rina adalah Ratu Amana palsu. Karena sudah menjalani proses cuci otak, Ratu Amana tetap menjalankan rencana Ibu Amana, yaitu menanti Rina.


"Lalu, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"


"Kepala Pelayan telah memerintahkan kami untuk pergi ke bunker utara."


"Apakah pelayan lain juga pergi ke bunker itu?"


"Ya, benar. Kami adalah yang terakhir."


Sampai sini, rencanaku berjalan dengan lancar. Pelayan tersebut memang mengatakan bunker, tapi faktanya lain. Di lokasi yang dituju, Ibla bersama agen selundupan sudah menanti. Para pelayan akan dibawa keluar dai lingkungan istana demi keamanan. Dimana mereka diamankan? Aku tidak tahu. Aku telah memberi wewenang penuh pada Ibla dan Ira untuk membuat keputusan.


"Kenapa kalian tidak menghentikanku? Kalian adalah pelayan ibu, kan?"


"Tuan Putri Rina, kami melayani keluarga kerajaan, tidak peduli siapa. Jika ada masalah internal Keluarga kerajaan, kami tidak berhak untuk ikut campur. Posisi kami adalah netral. Namun, meski demikian, kami juga harus siap menerima hukuman jika netralitas tersebut diragukan."


Uwah. Keras sekali kode etik pelayan istana di sini.


"Apakah ada pertanyaan lain, Tuan Putri Rina?"


"Ke–"


"Tidak ada," aku menyela. "Kalian sudah boleh pergi. Semoga kalian selamat hingga akhir."


Meski aku mengatakan mereka boleh pergi, tidak ada satu pun aura keberadaan yang bergerak. Mereka semua masih diam di balik dinding.


"Rina, biarkan mereka pergi."


"Tapi Gin–"


"Semakin lama kita mencegah mereka pergi, nyawa mereka semakin terancam. Ingat, di luar, militer Kerajaan Bana'an dan Nina masih berperang. Kalau militer Kerajaan Nina lebih fokus untuk masuk ke dalam istana, keberhasilan mereka hanya menunggu waktu."


"Tapi–"

__ADS_1


"Ini demi kita juga, Rina. Kita sudah mengetahui lokasi ibumu, apa lagi yang kamu mau? Kalau terlalu berlama-lama, ada kemungkinan militer kerajaan Nina yang akan membunuh ibumu. Apa kamu mau hal itu terjadi?"


"Tidak!"


Begitu aku mengalihkan topik, Rina langsung menurut. Tampaknya dia benar-benar telah dibutakan oleh dendam. Saat ini, di mata Rina, nyawa para pelayan ini sama sekali tidak penting.


"Berikan perintahmu."


Rina menggertakkan gigi, mulutnya tampak sulit terbuka. Namun, akhirnya, mulutnya bisa memberi perintah seperti yang kumau.


"Aku izinkan kalian untuk pergi."


"Terima kasih, Tuan Putri Rina."


Setelah mengucap terima kasih, aku merasakan keberadaan mereka menjauh.


Saat ini, aku kembali diingatkan bahwa yang memiliki kuasa adalah Rina. Aku hanyalah rakyat jelata yang menikahi calon Ratu, tidak lebih. Kekuasaan masih di tangan Rina, bukan di tanganku. Ira dan Lord Susa yang senantiasa mendengarkan dan menurut membuatku lupa akan fakta ini.


"Mereka sudah pergi."


"Sekarang kita yang pergi!"


Setelah melewati anak tangga, kami menuju ke belakang kastel. Dari denah yang kuingat, dari depan sampai tengah adalah ruang pengurusan surat semacam perkantoran. Ruang audiensi diletakkan di belakang karena menyangkut keamanan Ratu. Jadi, kalau ada percobaan penyerangan, pelaku tidak bisa kabur dengan mudah.


Selama menyusuri lorong ini juga kami beberapa kali berhenti, berlindung di balik dinding, dan melepas tembakan. Sesekali aku mendobrak pintu dan membunuh semua tentara di dalam ruangan. Kastel ini memiliki desain jendela menghadap luar bangunan, bukan ke dalam lorong. Oleh karena itu, susah mengetahui ada apa di balik dinding. Tanpa insting yang terasah, kami tidak akan berani mendobrak pintu ruangan.


Dibandingkan bagian depan kastel yang kami lalui, jumlah mayat di lorong penghubung ke ruang audiensi jauh lebih tinggi. Karpet yang kami injak telah basah oleh darah. Tidak! revisi! Bukan hanya basah, tapi becek oleh darah.


"Ira!" teriak Rina.


Di ujung lorong, di depan sebuah pintu ganda, tampak Ira berdiri. Meski kedua tangannya memegang assault rifle dan pisau, dia masih setia dengan seragam pelayan. Namun, yang membuat pemandangan di sekitar Ira jauh lebih horor adalah jumlah badan yang tergeletak. Mayat sudah memenuhi lantai. Bahkan, akan normal kalau aku bilang mayat sudah menggantikan karpet.


Rina mengabaikan mayat y di lantai. Dia menginjak mayat-mayat seolah semua itu memang bagian dari lantai. Di lain pihak, Emir dan Inanna memilih untuk melayang, tidak menyentuh satu pun mayat. Aku? Aku melakukan hal yang sama dengan Rina, menginjak mayat yang kebetulan di bawah kaki.


Ketika melihat sosok Rina, Ira membungkuk. Di saat itu juga aku meningkatkan kecepatan dan berdiri di depan Ira. Dengan bayonet pistol, aku menghentikan bayonet senapan Rina. Ya, Rina berusaha membunuh Ira. Di lain pihak, Ira, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghindar, siap menerima serangan Rina.


Oi! Kalau kamu mati, aku yang repot!


"Gin, kenapa kamu menghentikanku?"

__ADS_1


Aku mengabaikan Rina. "Ira, apa kamu akan menghentikan Rina?"


Bersambung


 


 


 


 


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


 


__ADS_1


__ADS_2