
"...sebentar. Dari mana kamu tahu ada ujian masuk sekolah intelijen?"
"Itu..."
Ninlil tidak memberi respon. Dia hanya menundukkan wajah.
Di lain pihak, aku melihat ke arah Emir dan Inanna lagi. Mereka membuang wajah, tidak mau melihatku. Tampaknya sudah jelas dari mana Ninlil mendapatkan informasi ini.
"Hah...."
Aku menghela nafas. Kalau pun aku berusaha menolak Ninlil, dengan adanya Emir dan Inanna di belakangnya, besar kemungkinan dia tidak akan menurut. Bukan tidak mungkin Emir dan Inanna akan mendukung Ninlil kalau dia memutuskan bergabung dengan organisasi lain atau memilih jadi vigilante.
"Ninlil, pertama, ujian masuk sekolah intelijen hanyalah untuk siswa sedangkan Agade berada di tingkat instruktur. Kalau pun kamu lolos, kamu hanya bisa menjadi siswa. Kamu baru bisa aku izinkan bergabung dengan Agade kalau kamu sudah lulus dan kemampuanmu setara dengan instruktur."
"Apa ada cara untuk kakak mengakui kemampuanku?"
Ahh..... anak ini.... bersikeras sekali. Lugalgin, berpikir! Kamu adalah ahli strategi Agade. Bahkan kecerdikan dan kelicikanmu diakui oleh Lacuna. Kamu harus bisa berpikir dengan lancar.
"Sebentar..."
Aku menyandarkan punggung dan mencoba memikirkan opsi lain. Opsi pertama, aku berusaha mematahkan semangat Ninlil sekarang juga. Namun, opsi ini tampak sulit dilakukan. Antara Ninlil akan terus bersikeras atau dia malah mengambil jalur lain, yang sudah kupikirkan sebelumnya.
Opsi kedua, menerima Ninlil di Agade. Opsi ini terlalu banyak celah. Aku tidak yakin dengan kemampuan bertarung Ninlil. Selain itu, nyawanya pun juga akan terancam. Namun, setidaknya, opsi ini tampak lebih aman dari opsi pertama.
Opsi ketiga, menerima Ninlil di sekolah intelijen dan mendidiknya di sana sebelum memberi izin untuk bergabung dengan Agade. Aku baru terpikir opsi ini ketika Ninlil membahas ujian masuk sekolah intelijen. Tampaknya, opsi ini adalah yang paling aman.
Jadi, aku harus berusaha agar Ninlil mengambil opsi ketiga. Yah, aku hanya bisa berharap dia tidak terlalu kuat. Kalau dia lebih kuat dari dugaan, maka aku terpaksa menerimanya di Agade. Semoga tidak.
"Kak, bagaimana kalau begini," Ninlil mulai berbicara. "Aku akan mengambil tes yang diambil oleh Kak Emir dan Kak Inanna. Kalau aku memang tidak lolos, maka aku akan menuruti semua ucapan kakak."
Apa kamu akan benar-benar menurut? Maksudku, kamu sudah kelas 3 SMP. Kamu berada di fase berontak. Aku tidak akan kaget kalau kamu menurut di depan, tapi berontak di belakang.
Sebentar.... tampaknya penilaianku mulai bias. Entah kenapa, pikiranku selalu mengarah ke kemungkinan terburuk. Padahal, biasanya, aku bisa menimbang kemungkinan buruk dan baik secara baik.
Tampaknya, obyektivitasku goyah karena berhadapan dengan Ninlil.
Aku menghela nafas, lagi. Entah sudah berapa kali aku menghela nafas padahal masih pagi.
"Aku tidak akan memberimu tes yang sama dengan mereka. Tapi, aku ada tes lain untukmu." Aku berdiri. "Ayo, ikut!"
***
__ADS_1
"Jadi, sekarang, ini adalah ujianmu."
Aku mulai memberi penjelasan singkat pada Ninlil.
Saat ini, kami berada di lantai 10 basemen. Tempat ini memiliki luas 250 x 250 meter dengan ketinggian 15 meter. Menurut database intelijen kerajaan, semua gedung yang bisa dijadikan markas intelijen memiliki fasilitas ini. Tempat ini bisa digunakan untuk tes senjata, latih tanding, atau sekadar penyimpanan senjata. Bahkan, tempat ini didesain mampu bertahan dari bom. Dengan kata lain, tempat ini adalah selter.
Kali ini, aku menggunakannya untuk menguji Ninlil. Di kiriku, Ninlil. Di kananku, Shinar. Di ujung ruangan, terlihat Jeanne, Ufia, Emir, dan Inanna. Mereka, selain Inanna dan Emir, hanya tahu tes ini kulakukan untuk memasukkan Ninlil ke kelas A. Di lain pihak, Ninlil pun tidak membahas soal Agade sama sekali setelah keluar dari rumah.
"Persyaratannya mudah. Kamu hanya perlu mendaratkan 10 serangan ke Shinar. Dan, tentu saja, kalian berdua dilarang menggunakan pengendalian."
"Baik!"
Ninlil menjawab dengan lantang. Tampaknya dia begitu bersemangat.
"Shinar, aku ingin kamu tidak menahan diri. Kalau sampai aku melihat kamu menahan diri, siap-siap saja menerima menu latihan yang jauh lebih parah."
"Ba-baik...."
Aku bisa mendengar Shinar menelan ludah. Berbeda dengan Ninlil, Shinar justru gugup.
Hanya Ninlil yang bersiap dengan kuda-kuda. Shinar hanya berdiri tegak, tanpa kuda-kuda. Shinar sudah mulai mempraktikkan hasil latihan yang kuberi.
"Batas waktu adalah 5 menit. Kalian bisa mulai dari.... sekarang!"
Tubuh Shinar dan Ninlil tidak bergeming ketika menerima pancaran aura haus darah ini. Terlihat urat nadi di leher mereka menyeruak.
Beberapa detik berlalu, tapi belum ada satu pun pihak yang bergerak.
Aku tidak menghitung sudah berapa kali Shinar terpapar aura haus darah ini. Ketika berlatih, aku sering memunculkan aura haus darah secara tiba-tiba. Namun, meski demikian, tampaknya dia masih belum terbiasa.
"Gin!" Inanna memanggil. "Kalo kamu berpikir Shinar belum terbiasa dengan aura haus darahmu. Lebih baik kamu lupakan. Aku bahkan belum mampu bernafas dengan normal di bawah aura haus darah ini."
Oh, begitu ya. Ya, sudahlah.
Shinar dan Ninlil masih belum bergerak. Sudah setengah menit berlalu tapi mereka belum bergerak. Shinar tidak perlu bergerak karena dia hanya perlu menghalau serangan Ninlil. Bahkan, kalau aku menjadi Shinar, aku sudah kabur, menjauh dari Ninlil.
"Sudah hampir satu menit berlalu. Kalau begini terus, Ninlil, kamu akan gagal tanpa melakukan apa pun."
Ninlil membelalakkan mata ketika mendengar ucapanku. Dia pun menggertakkan gigi.
"HAAHHH!!!!"
__ADS_1
Ninlil berteriak dan menyerang Shinar. Dia melepaskan beberapa pukulan ke kepala Shinar. Namun, tidak satu pun serangan dapat mendarat. Semua serangannya dihindari oleh Shinar.
"Hiat! Hyah! Hah!"
Teriakan demi teriakan terdengar dari Ninlil.
Seingatku, Ninlil berlatih CQC, Close Quarter Combat. Namun, aku tidak ingat CQC mengajarkan untuk berteriak setiap kamu melancarkan serangan. Bela diri yang biasanya mengajarkan untuk berteriak saat menyerang adalah bela diri barat seperti Kara atau Taewon. Apa ini berarti Ninlil, diam-diam, mencoba bela diri lain?
Perlahan, Shinar berjalan mundur. Sementara kaki Shinar berjalan mundur, badan bagian atas miring ke kanan dan kiri, menghindari serangan Ninlil. Tiba-tiba, Shinar berhenti. Dia merendahkan tubuh, mencengkeram tangan Ninlil, dan melemparnya. Sebuah lemparan yang rapi menghempaskan tubuh Ninlil hingga beberapa meter.
"Kyaa...."
Harus aku akui, aku benci mendengar teriakan Ninlil. Namun, aku tidak bisa memberikan kemudahan lain untuknya.
Shinar melihat ke arahku. Mulutnya bergetar.
"Tidak apa. Kamu tidak salah. Aku ingin kamu serius."
Setelah mendengar balasanku, sebuah senyuman terkembang di wajah Shinar. Tampaknya, dia merasa lega.
"Hiat!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1