I Am No King

I Am No King
Chapter 91 – Serangan Agade pt 2


__ADS_3

"Baiklah, sudah cukup melihat ke Ninmar." Aku memberi aba-aba. "Sekarang, arahkan teropong ke bawah tempat Ninmar. Kita lihat Umma."


 


Di tempat itu, terlihat sebuah sosok berdiri dengan puluhan senjata api melayang. Serangannya cukup sederhana. Dia hanya menembakkan puluhan senjata api secara bergantian dari ketinggian, membuat hujan peluru, secara harfiah.


 


Ketika ada senjata yang pelurunya habis, dia menggantinya dengan senjata lain. Sebagai pengendali generik, tembaga, metode yang dia anut cukup efektif dan memberi efek teror yang juga cukup kuat. Meskipun dia membawa dua buah saber militer, dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menggunakannya.


 


Namun, akhirnya, semua peluru yang dia bawa habis. Sayangnya, ada beberapa orang yang masih hidup. Mereka pun maju menyerang Umma. Di saat itu, tiba-tiba saja senjata yang baru dikendalikan Umma melesat menuju penyerang. Ketika mencapai tanah, senjata-senjata itu pun meledak. Ledakan demi ledakan pun bermunculan.


 


"Dia memasang bom pada masing-masing senjata?"


 


"Ya, benar," Ibla menjawab. "Sebagai tambahan, ya, dia menghabiskan uang paling banyak di antara kami semua. Dan, ya, aku sudah mengingatkannya berkali-kali tapi dia tetap tidak peduli. Mungkin, Gin, kalau kamu yang mengingatkan, dia akan mau mempertimbangkannya."


 


Ibla berhasil membaca pikiranku.


 


"Ya, nanti akan aku ingatkan dia setelah kita selesai."


 


"Selanjutnya, bagaimana kalau kita lihat Elam? Dia berada di kiri." Ibla mengarahkan pandangan kami.


 


Di ujung teropong, terlihat sebuah sosok yang ditutupi sosok lain. Elam menggunakan konsep yang mirip dengan Mulisu, serangan raksasa. Bedanya adalah, raksasa yang dikendalikan Elam hanya memiliki badan, tangan dan kepala manusia. Sementara itu, Elam berada di dalam rusuk raksasa itu.


 


Dengan cara itu, Elam membiarkan raksasa itu mengamuk, menghancurkan apapun di sekitar. Sambil berjalan, dia menyapu semua yang ada di hadapannya. Tangan raksasa itu pun bisa berubah-ubah. Ketika ada bazoka atau roket datang, tangan raksasa tersebut berubah menjadi perisai. Ketika ingin menyerang, tangannya bisa berubah menjadi kapak atau pedang.


 


Di satu titik, satu tangannya berubah menjadi sebuah lilitan logam. Dari lilitan logam itu, muncul sebuah sengatan listrik. Bahkan, aku hampir bisa mengatakan kalau itu adalah petir.


 


"Wah, keren sekali!"


 


Aku, dan yang lain, terpancing oleh suara Emir. Kami semua melihat ke Emir, yang menggenggam teropong kuat-kuat. Karena dia mengenakan topeng serigala, seperti kami semua, aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Tapi dari nadanya, aku bisa bilang dia begitu terkesima dengan serangan Elam.


 


Sekarang aku paham kenapa Mulisu berpendapat Elam adalah guru yang cocok untuk Emir. Selera mereka tampaknya sama, jadi, Elam pasti dapat memberi arahan untuk Emir.


 


Pengendalian Elam adalah aluminium. Aku jadi penasaran, apakah ayah dan Ninlil bisa melakukan teknik itu juga? Ya, biar aku pikir lain kali.


 


"Emir, lanjut," aku menghentikan kesenangan Emir. "Sekarang lihat ke atas, ke tempat Mari."


 


Ketika aku melihat Mari, aku tersadar kalau dia sama saja seperti Ur. Inferior kompleksnya terhadap tinggi badan belum terobati. Tidak, daripada Ur, aku bisa bilang inferior kompleks Mari jauh lebih parah.


 


Jika Ur menggunakan tombak guan dao sepanjang dua setengah meter, Mari menebaskan pedang raksasa sepanjang enam meter. Seorang perempuan, dengan tinggi kurang dari 150 cm, mengayunkan pedang sepanjang tiga pintu. Pemandangan macam apa itu? Dan bukan hanya satu, tapi dua pedang.


 


Meskipun pedangnya sebesar itu, karena menggunakan pengendalian, dia bisa menebaskan dan mengayunkannya dengan mudah. Dan, justru karena ukurannya besar, dia bisa menggunakannya sebagai perisai juga. Bahkan aku melihat Mari melemparkan pedangnya beberapa kali dan menariknya kembali, seperti bumerang.


 


Dengan pedang sebesar itu, orang akan berpikir Mari tidak akan mampu mengatasi serangan jarak pendek. Namun, itu setengah salah. Ketika lawan berhasil mendekat, Mari akan menggunakan senjata api yang terpasang di bagian pegangan pedang.


 


Benar-benar, anak ini. Senjata jarak jauh jadi senjata jarak dekat, begitu juga sebaliknya.


 

__ADS_1


"Jadi, Ibla, tinggal tiga orang lagi kan yang cara bertarungnya belum kami lihat?" Nada kasar Inanna menyapa Ibla.


 


"Ya, benar. Tinggal Simurrum, Uru'a, dan Yarmuti. Untuk Simurrum dan Uru'a, kita bisa melihat mereka di bagian paling utara."


 


Ibla menjawab dengan enteng, seolah tidak memedulikan nada kasar Inanna.


 


Kami semua mengarahkan teropong ke utara, ke atas. Di saat itu, kami melihat sepasang orang yang mengamuk tanpa arah. Bukan hanya itu, cara bertarung mereka pun absurd. Di kedua tangan mereka, terpasang sebuah kepala dinosaurus yang terbuat dari logam. Seluruh giginya terbuat dari pisau dan pedang. Ketika mulut dinosaurus itu terbuka, menunjukkan tangan mereka yang menggenggam senapan mesin, memberondong target.


 


Ketika melihat mereka berdua, orang pasti akan berpikir mereka hanya bermain-main. Namun, sebenarnya tidak. Meski mereka tampak mengamuk tanpa arah dan menyerang membabi buta, sebenarnya, serangan mereka sangat terkoordinasi dengan baik. Mereka akan saling menjaga satu sama lain, menjebak lawan, menggiring lawan mencapai satu titik dan membunuhnya.


 


"Maaf ya Gin, aku tidak bisa memaksa mereka untuk serius. Mereka bilang mereka tidak sudi serius hanya untuk melawan kroco."


 


"Aku tidak bilang kalian harus serius. Kalau aku bilang kalian harus serius, kalian pasti sudah menggunakan teknik menyerang efisien sedari tadi. Kalau itu terjadi, aku tidak bisa menunjukkan kekuatan kalian pada Emir dan Inanna."


 


Emir dan Inanna tidak memberi respon terhadap ucapanku. Aku penasaran, reaksi apa yang sekarang mereka buat di balik topeng itu.


 


"Sekarang, tinggal Yarmuti.... mengingat dia, aku ragu kalian bisa melihat sesuatu."


 


"Eh? Kenapa?" Emir mempertanyakan pernyataanku.


 


"Itu karena," Ibla mengambil alih penjelasan. "Yarmuti mengambil Lugalgin sebagai contoh. Jadi, dengan kata lain, dia adalah tipe silent killer, efisien tanpa serangan mencolok. Sedari dulu, dia tidak mau tampil mencolok. Dia menganggap, delapan orang dengan serangan mencolok sudah lebih dari cukup."


 


"Delapan orang? Selain Lugalgin dan dia, apa itu berarti kamu juga tidak memiliki serangan mencolok."


 


 


Sementara mereka berbincang-bincang, aku mengganti teropong yang kugunakan menjadi teropong termal. Dengan begini, aku bisa memperhatikan pergerakan Yarmuti di kegelapan.


 


Pada tempat paling gelap, aku melihat satu tubuh bergerak sangat cepat. Dia bergerak cepat, dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin, saat ini, dia menggunakan pedang atau pisau sebagai senjata.


 


Yarmuti adalah tipe pembunuh gerakan cepat, seperti Jeanne. Tapi, kalau aku menyamakan gerakannya dengan Jeanne, sama saja aku merendahkan Yarmuti. Gerakannya tidak manusiawi. Apa dia secepat Lacuna? Tidak! Dia jauh lebih cepat. Satu-satunya cara agar dia bisa bergerak secepat itu adalah dia memodifikasi pakaian igni yang dia gunakan.


 


Dia adalah pengguna kuarsa, sebuah pengendalian yang bisa dibilang generik. Kalau dia memasukkan butiran kuarsa di beberapa bagian pakaian igni, itu akan dapat membuat gerakannya secepat sekarang.


 


"Ibla, apa Yarmuti memodifikasi pakaian igninya dengan kuarsa?"


 


Saat aku menanyakan itu, perbincangan antara Ibla dan kedua calon istriku terhenti.


 


"Ya, benar. Dia meletakkan taburan kuarsa pada beberapa bagian pakaian igni."


 


Ketika melihat serangan ini, aku jadi teringat ketika Mulisu dan aku pertama kali beroperasi sebagai Agade setelah Lacuna pergi. Karena aku tidak memiliki teknik menyerang yang mencolok, Mulisu menggunakan empat teknik serangan paling mencolok yang dia miliki, mengukuhkan posisi Agade sebagai salah satu dari enam pilar.


 


[Hey, Sarru. Aku membiarkan perempuan ini hidup.]


 


Sebuah suara terdengar dari sepiker. Suara itu adalah suara Mulisu.

__ADS_1


 


"Untuk menjawabnya, kamu cukup menekan moncong topeng serigala itu."


 


Aku mengikuti arahan Ibla dan menekan moncong di topeng ini.


 


"Kenapa kamu melakukannya? Aku tidak ada niatan untuk menginterogasinya."


 


[Dia mengatakan sesuatu yang menarik. Dia bilang, 'Sarru akan datang dan membuat kalian beserta pengendalian kalian tidak berdaya'.]


 


Sarru palsu akan datang? Jadi, ada sosok yang memalsukan Sarru juga ya. Namun, yang menarik bagiku adalah pada bagian 'pengendalian kalian'.


 


[Semuanya, peringatan, baru saja ada sosok yang baru saja melewatiku!] Suara Ur terdengar.


 


[Dia juga mampu melewatiku.] Ninmar menambahkan. [Dan, ketika dia dekat, aku tidak mampu mengendalikan nitrogen di sekitarku.]


 


[Sama, aku juga tidak bisa mengendalikan apapun.]


 


"Gin, sosok itu berlari lurus menuju ke Mulisu," Ibla melapor.


 


Tanpa basa-basi, aku langsung mengambil peti arsenal dan turun dari bak mobil.


 


"Emir, kirim aku ke tempat Mulisu sekarang juga!"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Untuk chapter ini, tidak ada post note. Jadi, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2