
"Lugalgin. Kenapa kamu selalu hadir di hidupku? Kamu merebut Tasha, cinta pertamaku. Setelah itu, kamu tidur dengan Lacuna, cinta keduaku. Kamu bahkan menghancurkan keluarga Cleinhad, yang seharusnya kuhancurkan sebagai pelampiasan amarah. Tidak berhenti sampai situ. Kini, kamu mau menghancurkan hidup Maila? Aku tidak akan membiarkanmu!"
Sebuah ledakan kembali muncul dari belakang. Namun, kali ini berbeda. Ledakan ini hanya mengeluarkan asap.
Ukin melompat. Entah dari mana, sebuah pedang sepanjang 20 meter datang dan mendarat di tangannya.
Aku membuat lipan di belakangku melilit tanganku dan menahan tebasan Ukin. Kalau terus berusaha menahannya, tanganku bisa hancur. Aku pun membiarkan tubuhku terdorong ke bawah. Tebasan Ukin sukses membuatku dan lipan besar terjebab di atas tanah.
Begitu melihat ke langit, aku membenci mataku. Jadi ini, ya alasan dia tiba-tiba berbicara banyak. Dia ingin mengalihkan perhatianku.
"Sial!"
Terlihat puluhan gedung sudah melayang di langit, tidak memiliki celah. Kalau ini siang hari, pasti aku sudah menyadarinya karena gedung-gedung itu akan menghalangi sinar matahari. Namun, karena malam, aku menyadarinya terlambat.
"Begitu kamu tewas, Lugalgin selanjutnya."
Ukin terbang ke atas. Dia bisa menggeser gedung itu sedikit dan melewatinya.
Seketika itu juga, gedung-gedung itu turun, berusaha melumatkanku. Aku tidak bisa bergerak dengan leluasa karena di bawah gedung-gedung masih ada ribuan senjata api menghujani peluru dan senjata tajam siap menusuk.
Gedungnya terlalu banyak. Walaupun bergerak ke samping, aku tidak akan bisa menghindarinya. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan tatanannya yang dijejer ke samping. Aku hanya bisa berharap dari cakupannya yang luas, Ukin tidak meletakkan gedung lain di atasnya, membuatnya berlapis.
Aku membuat lipan raksasa mengelilingiku. Sekarang, daripada lipan raksasa, kumpulan logam ini lebih mirip kaki seribu yang melingkar.
Aku melepaskan tembakan, melontarkan granat, dan meluncurkan senjata tajam ke atas, berusaha menghancurkan gedung yang datang. Terus dan terus, tanpa henti, aku melancarkan serangan. Dinding semen dan beton terlihat hancur dan berlubang karena peluru. Namun, sayangnya, hanya sebagian dinding yang hancur. Bahkan, aku tidak yakin tembakanku menghancurkan tiga perempat gedung.
Akhirnya gedung-gedung itu mencapai tanah, berusaha melumatku.
"AAAHHHH!!!!!!"
Aku berusaha menahan beban gedung ini dengan lipan yang menggulung. Namun, bukan hanya bobot gedung, aku bisa merasakan tekanan lain, pengendalian Ukin. Aku terus mengendalikan lipan ini. Karena bukan satu lipan besar, melainkan tersusun atas ribuan senjata, lipan ini bisa hancur dan membuatku terlumat oleh gedung.
Semakin memperburuk keadaan, aku bisa mendengar ledakan dan tembakan yang masih muncul dari luar lipan. Bahkan, aku merasakan beberapa ledakan yang mungkin berasal dari luar gedung.
Sial. Kekuatanku semakin habis. Aku bisa merasakan sebagian dari lipan ini mulai terburai, mempersempit jarakku dengan gedung. Dan, akhirnya, gedung ini sepenuhnya jatuh dengan posisi aku di bawahnya, menguburku hidup-hidup.
"Uhuk, uhuk,"
Aku terbatuk pelan. Tubuhku terasa begitu berat, dan sakit. Bukan hanya gedung yang berada di atasku, bahkan, senjata tajam yang menyusun lipan ini pun menusukku seluruh tubuhku, tidak terkecuali rangka besi yang membuat kakiku bisa bergerak. Nafasku terasa berat. Bukan hanya karena luka, tapi juga karena semua gedung dan senjata yang menguburku.
Karena tidak ada satu pun senjata yang menusuk organ vital, aku cukup beruntung, atau tidak. Meski tidak menusuk organ vital, terlalu banyak senjata menusuk tubuhku. Tidak hanya luka tusuk. Beberapa bagian tubuhku sudah mengalami luka bakar karena ledakan yang tadi. Ditambah tempat ini berada di pegunungan. Dengan darah terus mengalir, aku akan mati karena kehabisan darah. Dalam prosesnya, aku akan kesulitan bernafas, tercekik oleh udara yang tipis. Dengan kata lain, aku akan mati tersiksa.
[Halo, Mulisu, apa kamu masih hidup?]
Tiba-tiba saja terdengar suara dari earphone.
__ADS_1
"Lugalgin, mungkin aku–"
Sebelum menyelesaikan kalimat, aku tiba-tiba terhenti. Awalnya, aku ingin mengatakan, "mungkin aku tidak akan bertahan hidup lebih lama,". Namun, aku mengurungkan niatku. Aku belum mau mati.
Tidak! Bukan belum mau! Aku belum boleh mati!
Aku mengerahkan seluruh stamina dan pengendalianku yang tersisa, mengangkat lipan ini dari dalam reruntuhan. Sayang sekali, aku tidak bisa mengangkat seluruh lipan. Saat ini, aku hanya bisa mengendalikan lipan sepanjang 20 meter. Dengan sekuat tenaga, aku dan lipan 20 meter akhirnya keluar dari dalam timbunan gedung dan senjata.
"Ternyata kamu masih hidup ya."
Aku memandang ke langit, melihat Ukin yang melayang. Tidak terlihat ada pedang atau senjata api atau apapun yang melayang di dekatnya. Senjata yang ada di dekat Ukin hanyalah tombak di tangan dan pedang yang dia jadikan sebagai pijakan.
Ukin melempar tombak ke langit. "Namun, tidak akan lama."
Dengan pandangan setengah kabur dan tertutup darah, aku melihat tombak di tangan Ukin hancur menjadi kepingan-kepingan tajam kecil. Dia akan menggunakan serangan efektifnya, membunuhku dengan kepingan logam, hujan meteor. Lipan 20 meter ini tidak akan bisa melindungiku. Serangan Ukin tetap akan melubanginya.
"Apa kamu mau aku menyebut nama seranganku seperti dulu? Sama seperti Lugalgin?"
"Tidak, terima kasih."
"Baiklah."
Tanpa mengatakan apa pun, aku bisa melihat beberapa titik pantulan cahaya menerjangku dengan cepat.
Tadi, aku berpikir pisau lipan menusuk tubuhku adalah senjata makan tuan. Namun, saat ini, aku sangat bersyukur. Aku melepas pengendalian pada lipan dan fokus pada semua senjata tajam yang menusukku.
Dengan mengendalikan senjata tajam yang menancap di tubuhku, sama halnya dengan aku mengendalikan tubuh ini. Karena menggunakan pengendalian, aku bisa menggerakkan badanku lebih cepat. Namun, teknik ini bukan tanpa efek samping. Karena aku menggerakkan senjata tajam ini dengan cepat, terjadi sedikit perubahan lokasi. Sebagian senjata menusuk semakin dalam, sebagian hampir terlepas. Rasa sakit pun muncul ketika aku bergerak.
Setelah menghindar, aku langsung menuju ke Ukin, menabraknya. Normalnya, tabrakan saja tidak akan cukup untuk membunuh Ukin. Namun, aku memastikan agar yang menabrak Ukin adalah senjata tajam yang telah menembus tubuh dan tanganku. Dengan kata lain, senjata tajam yang ujungnya siap menusuk.
"Agh..."
Beberapa bilah pedang menusuk dada Ukin. Aku kehabisan stamina sepenuhnya dan kami berdua terjatuh ke atas reruntuhan. Meskipun Ukin jatuh di bawah, sedikit meredam jatuhku, sebagian senjata tajam masuk semakin dalam ke tubuhku.
Kalau tubuh Ukin tidak mengalami luka sedikit pun, dia akan mampu menghindar atau setidaknya memutar tubuh, membuat pedang ini menusuk hanya di tangan atau kaki. Namun, luka yang dialami Ukin selama pertarungan ini tidak sedikit. Walaupun tidak mengancam nyawa, dia tetap kehilangan stamina dan konsentrasi. Dan, semua itu berakhir dengan serangan terakhirku.
"Aku tidak mengira kamu akan senekat ini, Mulisu."
"Hehehe, kita sama-sama murid Lacuna. Apa yang membuatmu, berpikir aku tidak akan nekat?"
"Benar juga. Haha."
Aku yang terjebab di atas tubuh Ukin bisa merasakan dadanya yang bergerak saat dia bicara. Aku bisa mendengar detak jantung Ukin yang semakin melambat.
Kami tidak bisa berbicara normal. Ucapan kami sama-sama putus-putus.
__ADS_1
"Mulisu, sebelum tewas, bolehkah, aku mengetahui namamu, yang sebenarnya?"
"Aku kira, kamu, sudah mengetahuinya,"
"Belum. Sampai sekarang, aku tidak tahu namamu. Aku hanya tahu, kamu keluaran panti asuhan Sargon."
Kenapa? Apa dia masih menghormati privasiku? Atau dia hanya merasa informasi mengenai namaku tidak penting? Sudahlah. Tidak ada gunanya memikirkan hal itu.
"Melinda. Namaku, Melinda."
"Ah, Kak Melinda ya. Begitu ya......"
Aku tidak lagi merasakan dada Ukin yang naik turun. Tidak lagi terdengar suara detak jantung. Apakah ini berarti Ukin sudah tewas?
Dan, melihat keadaanku, tidak lama aku akan menjemputnya. Perlahan, dingin semakin merayap ke seluruh tubuhku. Nafasku pun semakin pendek, semakin sulit untukku bisa bernafas. Mataku terasa begitu berat. Tanpa bisa dicegah, mataku pun terpejam.
Lugalgin, tampaknya, setelah ini kamu yang harus mengurus Agade.
Maafkan aku, Lugalgin.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1