
"Emir dan Inanna dalam proses merobohkan gerbang istana. Aku juga sudah meruntuhkan terowongan di gedung percetakan, tenggara Istana. Tinggal tunggu waktu sebelum Rina meruntuhkan terowongan di gedung anggur, barat daya istana."
[Terima kasih banyak, Tuan Lugalgin.]
Aku memilih gedung ini bukan karena jaraknya yang dekat dari istana. Alasan utama adalah pada basemen gedung ini terdapat sebuah terowongan yang terhubung ke istana. Terowongan yang sama juga bisa ditemukan di gedung barat daya, tempat Rina dan Emir berada.
Sebelum menyerang, aku memberi arahan pada Zortac agar serangan militer fokus pada beberapa bangunan khusus. Setiap gedung yang menjadi target memiliki terowongan yang terhubung dengan istana. Rina, sebagai keluarga kerajaan, mengonfirmasi ucapanku. Terowongan-terowongan ini adalah saluran bawah tanah yang bisa digunakan keluarga kerajaan untuk kabur.
Lalu, kenapa kami meledakkan terowongan ini? Selain memastikan Ratu tidak kabur, alasan lain adalah mencegah militer Kerajaan Nina masuk ke istana. Saat ini, militer juga sedang berusaha membunuh Ratu. Dengan membunuh Ratu, mereka akan mendapat pencapaian dan juga citra positif di mata rakyat. Secara tidak langsung, militer ingin mendapatkan kekuatan di Muir. Kami menghindari hal ini.
Namun, alasan itu bukan alasan satu-satunya. Rina tidak memiliki rencana untuk membunuh Ratu melalui terowongan, tapi masuk dari gerbang depan. Dengan demikian, Dia bisa mendeklarasikan kemenangan pada seluruh Feodal Lord dengan bangga. Kalau Rina membunuh Ratu melalui jalur terowongan, ada kemungkinan sebagian Feodal Lord akan menolak deklarasi kemenangan. Mereka akan mengatakan Rina pengecut dan sejenisnya.
Ketika mendengar alasan Rina, aku hanya menghela napas. Tidak peduli di Bana'an maupun Nina, ternyata bangsawan yang bodoh dan mementingkan citra, menyerang dari depan, masih ada.
"Bagaimana keadaan di dalam istana? Apakah para petinggi militer sudah meluncurkan sergapan?"
[Seperti ucapan Tuan Lugalgin, para petinggi militer telah meluncurkan sergapan. Daripada militer Bana'an, kami lebih direpotkan oleh militer Nina. Bahkan, saat ini, kami sedang menghalau beberapa tentara dan militer yang memberontak di dalam istana.]
Di balik suara Ira, aku bisa mendengar ledakan dan suara dentingan logam. Ira, meski sedang menghalau tentara dan militer, suaranya terdengar begitu tenang, seolah tidak ada masalah sama sekali. Setelah mendengar kondisi ini, aku benar-benar tidak mau menjadikan Ira sebagai musuh.
[Maaf, saya tidak bisa berbincang-bincang lebih lama. Ada gelombang tentara baru datang.]
Tepat setelah mengatakan itu, Ira memutus telepon.
Seperti ucapan Ira, pihak yang paling merepotkan adalah Militer Nina. Selain berencana membunuh Ratu, mereka juga sengaja tidak mengevakuasi warga sipil. Dengan demikian, Militer Bana'an tidak bisa menggunakan senjata berat dengan leluasa.
Namun, berkat manuver di belakang layar, oleh Ira dan Aku, warga sipil berhasil dikumpulkan ke bangunan-bangunan umum yang memang tidak boleh diserang seperti tempat ibadah, tempat perkumpulan, dsb.
Aku sampai di lantai 1 dan mendatangi Inanna.
"Berapa lama lagi?"
__ADS_1
"Sebentar lagi."
Ledakan masih terus bermunculan di gerbang istana. Namun, kali ini, ledakan tidak muncul tepat di gerbang, tapi di engselnya. Tampaknya Emir dan Inanna sudah menyadari kalau baja yang menjadi gerbang istana tidak bisa dihancurkan dengan mudah.
"Rina, masuk." Aku berbicara melalui radio.
[Ya, Gin?]
"Apakah pintu masuk terowongan di tempatmu sudah hancur?"
[Sudah! Kini kami hanya menanti gerbang roboh.]
"Baguslah."
Aku mengakhiri komunikasi dengan Rina dan mengembalikan pandangan ke gerbang. Sambil menanti gerbang istana hancur, aku mengikat dua peti arsenal ke pinggang kanan dan kiri.
Akhirnya, waktu yang dinanti telah tiba. Engsel di bagian samping gerbang telah hancur. Sebuah ledakan tambahan berhasil merobohkan gerbang istana.
"Zortac, masuk! Gerbang istana sudah roboh. Kami berempat akan masuk. Tolong jaga gerbang istana! Pastikan militer Nina tidak mendekat! Ganti."
Aku mengambil sebuah granat asap dan melemparnya ke tengah jalan. Granat asap ini adalah sebuah kode, aba-aba, pada Rina dan Emir kalau rencana dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
"Pegangan yang erat, Lugalgin!"
Aku memegang tangan Inanna Erat. Kini, Inanna membawaku terbang rendah, menuju jalanan, menuju ke istana. Di sisi lain, terlihat Emir dan Rina melakukan hal yang sama. Tentu saja kami tidak terbang lurus, tapi zig-zag penuh manuver.
"Sekarang, Emir!"
Begitu kami melewati gerbang, Emir menggunakan pengendalian untuk membuat gerbang baru. Gerbang baru ini tidak sekuat yang tadi dirobohkan. Kami hanya berusaha mengulur waktu kalau kebetulan ada tentara Kerajaan Nina di dekat sini.
Emir sudah menggunakan sebagian besar Krat untuk membuat gerbang. Saat ini, Krat yang ada di tubuh emir hanyalah selendang yang terikat ke lengan dan kakinya. Namun, mulai dari sini, medan pertarungan adalah ruang sempit. Yang akan lebih aktif adalah aku dan Rina.
__ADS_1
Sebenarnya, kalau mau, kami bisa saja langsung terbang di atas gerbang dan dinding istana. Namun, sekali lagi, ada tuntutan dari sebagian Feodal Lord. Bagi Feodal Lord kerajaan Nina, meruntuhkan gerbang istana adalah sebuah simbol dimana penguasa sebelumnya dirobohkan oleh penguasa baru. Seriously?
Begitu kami melewati dinding dan gerbang istana, kekacauan medan perang di luar seolah hanya ilusi. Suara ledakan dan tembakan masih terdengar, tapi semua itu terasa tidak nyata. Di balik dinding, situasi relatif jauh lebih tenang. Atau tidak.
Baru saja aku memikirkan hal itu, sebuah ledakan terdengar. Sumber ledakan adalah salah satu jendela bangunan utama. Tampaknya, militer Nina sudah tidak sabar.
Aku, Emir, dan Inanna melepas masker. Namun, kami masih mengenakan helm. Hanya Rina yang masih mengenakan helm dan masker. Karena sedang hamil, indra penciuman Rina sensitif. Kalau melepas masker, kami khawatir bau bubuk mesiu dan darah di medan perang akan membuatnya mual, membuatnya tidak fokus.
"Ibu, tunggu aku. Aku akan membunuhmu."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1