
"Kenapa laki-laki?"
"Karena, aku sendiri tidak tahu benar alasannya, dan aku tidak peduli, jika inkompeten yang terlahir adalah perempuan seperti aku, maka inkompeten yang terlahir dari rahimku juga perempuan. Pasti. Dan, karena dari 1 rahim hanya 1 inkompeten terlahir, jumlah inkompeten tiap generasi tidak ada perubahan. Namun, jika inkompeten yang lahir laki-laki, maka inkompeten generasi selanjutnya bisa laki-laki atau perempuan. Ada alasan kenapa seorang Raja harus memiliki banyak istri. Dan, karena inilah keluargaku hanya keluarga cabang, bukan keluarga utama Alhold."
Alasan Raja harus memiliki banyak istri adalah hal yang umum, agar ditemukan anak laki-laki dan menghindari perebutan takhta dengan keponakan atau adik. Aku tidak peduli.
Yang lebih menarik perhatianku adalah fakta 1 rahim hanya bisa melahirkan 1 inkompeten. Kenapa bisa seperti itu? Kalau seandainya inkompeten go public, mungkin bisa diteliti penyebabnya. Namun, karena kami sendiri tidak suka go public, jadi semua itu hanya sekedar pengetahuan keluarga inkompeten.
"Ngomong-ngomong, kalau kamu ingin bertanya lebih lanjut, mungkin ibu tahu lebih banyak. Setidaknya, apa kamu mau melakukan panggilan video?"
Panggilan video dengan Ratu Kerajaan Nina. Apa aku perlu berpikir?
"Maaf, tapi aku tidak ada niatan untuk menjalin komunikasi dengan ibumu."
"...."
"Dan lagi, anggap, aku bilang anggap, aku mau menemui Ratu bahkan datang ke Kerajaan Nina, bagaimana caranya ibumu akan mengalihkan hak takhta yang sebelumnya milik Kakakmu ke aku?"
"Wah, itu...." Tera menggaruk-garuk kepala. "Maaf, aku sama sekali tidak tahu."
Ah, selain Rina, ada satu lagi yang mengganjal, yaitu kelakuan Tera. Tera tidak tampak bodoh, tidak seperti Rina. Dia lebih seperti polos, seperti anak kecil yang masih percaya dengan keadilan.
Jujur, aku sama sekali tidak merasa nyaman berbicara dengan dua orang ini. Sama sekali tidak. Dan, aku ingin mencoba sesuatu.
"Rina," aku menoleh ke kanan. "Aku tidak akan mempertanyakan soal inkompeten. Yang ingin aku tanyakan adalah undangan Ratu agar aku mengambil takhtanya darimu. Namun, benar seperti ini adanya? Apa benar ibumu mengundangku?"
Rina, dengan mata masih tertutup, menjawab, "Menurutmu?"
"Aku tidak merasakan adanya kebohongan dari kata-kata dan gerak-gerik adikmu. Namun, aku merasa ada hal lain yang mengganjal."
"Dan, kenapa itu?"
"Kalau aku bilang, adikmu tidak terlihat seperti keluarga Alhold."
"Eh?" Tera terkejut dengan pernyataanku.
"Dia mengatakan itu semua tanpa ada permintaan, tanpa negosiasi. Padahal, sejauh yang aku alami, bahkan dengan keluargaku, kami masih memikirkan keuntungan dan kerugian dari semua hal, walaupun hanya keinginan pribadi. Di sini, aku tidak melihatnya di adikmu."
__ADS_1
"Benarkah demikian?" Rina balik bertanya. "Aku rasa dia sudah mempertimbangkan keuntungannya, yaitu mencegah peperangan Bana'an dan Nina. Iya, kan?"
"Apakah benar demikian?"
"...."
"Mungkin, dari segi umum, ini cukup menguntungkan. Namun, kalau dilihat dari kaca mata Alhold, tidak, kan?"
Tiba-tiba saja sebuah seringai terkembang di wajah Rina. Di saat ini, aku bisa merasakan sebuah topeng seolah dilepas.
"Apa kau sudi mengatakan apa yang ada di pikiranmu, Lugalgin Alhold?"
"Baiklah, menurutku, sejak awal tujuanmu dan Ratu adalah perang dengan Bana'an. Kenapa? Dengan perang, kalian memiliki posisi yang lebih menguntungkan dariku."
"Eh?"
Semua orang di ruangan ini terkejut mendengar dugaanku. Hanya Rina yang tidak terkejut. Wajahnya masih menyeringai.
"Jika terjadi perang, ada dua kemungkinan, dan ini sangat tergantung pada partisipasiku." Aku mulai memberi penjelasan. "Jika aku tidak berpartisipasi, hampir bisa dipastikan Bana'an kalah. Kenapa? Karena kerajaan Nina pasti memiliki senjata penghilang pengendalian. Dan karena kendaraan militer terbuat dari logam yang saling terhubung, satu peluru sudah cukup untuk mematikan mesin rotasi tank dan membuatnya tidak berfungsi.
"Namun, jika aku berpartisipasi, Bana'an bisa menang, bisa juga kalah. Semuanya bergantung pada sejauh mana aku bisa memasang alat anti penghilang pengendalian atau menyuplai senjata penghilang pengendalian. Jika sukses, Bana'an bisa menanggulangi senjata penghilang pengendalian yang dimiliki oleh Kerajaan Nina. Dan, tentu saja, bisa memenangkan peperangan."
Meski tampak bertanya, nada dan katanya lebih kepada mengetes. Dan, aku menerima tes itu. Aku pun mulai memberi jawaban.
"Ya. Sayangnya, mau tidak mau, aku harus berpartisipasi. Kenapa? Karena jika Bana'an kalah, kerajaan Nina bisa mengeksekusi seluruh keluarga Kerajaan, yang hanya tersisa Permaisuri Rahayu dan Emir, dan juga orang-orang yang mereka anggap berbahaya. Dengan kata lain nyawaku, Inanna, dan keluarga kami ikut terancam.
"Namun, kalau aku turun tangan dan menang, kontribusiku terhadap kemenangan Bana'an tidak bisa dipungkiri lagi. Dan, secara tidak langsung, warga, mungkin militer dan bangsawan juga, akan mendorong agar Emir mengambil gelar putri kerajaan kembali dan menjadikanku Raja.
"Dan karena Kerajaan Nina kalah, sangat besar kemungkinan militer akan terus mendorong dan bahkan meleburkan kerajaan Nina menjadi salah satu bagian dari Bana'an. Dengan kata lain, pilihannya adalah, kalah dan keluargaku dieksekusi atau menang tapi aku menjari Raja dari Kerajaan Bana'an dan Nina."
Tidak ada yang memberi respon. Semua orang terdiam. Bahkan, Tera membelalakkan mata dan mulutnya terbuka lebar.
"Gin," Emir masuk. "Apa kamu tidak berlebihan? Apa kamu berpikir Ratu kerajaan Nina, dan Tuan Putri Nina, akan mengorbankan rakyatnya hanya untuk keinginan pribadi?"
"Emir, apa kamu ingat ucapanku ketika kamu mengancam akan menyebarkan rekaman percakapan kita di mobil itu? Saat kamu memintaku menjadi regal knight."
"Ahh......"
__ADS_1
Emir tidak memberi respon lanjutan. Dia hanya terdiam.
Agar semakin meyakinkan, aku menambahkan pendapat.
"Dan ingat, aku sudah membersihkan keluarga Cleinhad dan juga para pengkhianat hanya karena keinginan pribadiku. Padahal, kalau dipikir, keluarga Cleinhad adalah yang membuat Kerajaan ini stabil. Dan para pengkhianat itu hanya menuruti atasan. Lalu, apa menurutmu Ratu itu, dan juga tuan Putri ini, tidak akan melakukan hal yang sama denganku? Apalagi, mengingat darah yang sama mengalir dalam tubuh kami."
"Itu....."
Aku kembali mengingatkan Emir kalau aku lah yang menyebabkan pasar gelap di Bana'an menjadi liar gara-gara keluarga Cleinhad menghilang. Dan aku juga mengingatkan padanya bagaimana nasib agen schneider yang berkhianat walaupun hanya menuruti perintah Fahren. Mereka semua tewas hanya karena kepentingan dan keinginan pribadiku, tidak lebih.
Apa aku peduli dengan kerajaan ini? jawabannya adalah tidak.
"Jadi, tampaknya, aktingku sebagai tuan putri bodoh sudah tidak dibutuhkan, ya?"
Ya, kalau kelakuannya sebagai tuan putri bodoh adalah akting, semuanya jadi masuk akal. Namun, entah kenapa, aku merasa masih ada yang mengganjal ketika melihat tuan putri ini.
"Kalau begitu, Asura."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya