I Am No King

I Am No King
Chapter 325 – Cikal Bakal


__ADS_3

Dan, selesai.


Sebelum dijemput, aku menghabiskan waktu di kamar mandi, membersihkan keloid. Solusi dari keloid yang muncul tidak berubah, dipotong. Bedanya, kali ini, aku tidak menunggu keloid ini membesar dulu baru potong. Aku langsung memotongnya begitu benjolan mulai keluar.


Hahaha. Untukku, keloid ini memang bukan masalah besar. Kalau tumbuh, tinggal dipotong. Namun, tentu saja, aku harus hati-hati ketika melakukannya. Aku tidak boleh memotong terlalu dalam atau melukai kulit di sekitar keloid. Kalau salah, titik keloid baru akan muncul.


Namun, dijemput dengan helikopter, huh?


Meski tidak takut, jujur, aku benci bepergian dengan transportasi udara. Bayangkan ketika terbang lalu misil datang. Kami tidak akan bisa bertahan, kan? Bagi orang normal, mereka bisa melayang selama ada material non organik. Namun, untuk inkompeten sepertiku? Tidak! Langit adalah mimpi buruk. Aku tidak mau mati tanpa perlawanan.


Bukan hanya aku. Selama perjalanan, Rina juga pucat. Bahkan, kondisi Rina, bisa dibilang lebih parah dariku. Penghilang pengendalianku, atau yang disebut Rina pengendalian absolut, hanya aktif jika orang menyentuh bagian tubuh secara langsung. Jadi, Emir atau Inanna bisa menolongku dengan mudah selama mereka tidak menyentuh kulit atau rambutku.


Di lain pihak, kemampuan Rina langsung aktif jika kontak lensanya terlepas. Dan, tidak ada jaminan kontak lensanya akan tetap menempel ketika Rina terlempar dari helikopter.


Akhirnya, ketika 3 helikopter mendarat, aku dan Rina bisa bernapas lega. Kami tidak di atas tanah, tapi helipad di atas gedung. Dengan ini kami resmi memijakkan kaki di kota Meridian, pusat pemerintahan Wilayah Anshan. Ya. Kaki bisa berpijak adalah hal yang patut disyukuri.


Sementara aku masih mensyukuri keadaan, Rina sudah berdiri tegak dan berjalan. Dia menyambut seorang perempuan paruh baya berambut hitam panjang, dikepang seperti film-film oriental, Lord Susa. Warna kulit sawo matang tampak sesuai karena dia mengenakan setelan abu-abu cerah. Meski mengenakan setelan, Lord Susa tidak mengenakan jas. Dia mengenakan vest dan celana panjang.


Yang menarik perhatianku bukanlah Lord Susa, tapi sosok lain di belakang kakinya. Sosok itu adalah perempuan kecil, mirip Lord Susa, yang mengenakan gaun terusan dan rambut twintail. Dia memegang celana Lord Susa dengan erat. Perempuan kecil itu adalah putri Lord Susa, Maru.


Aku sempat siaga ketika melihat Lord Susa datang, berpikir dia akan langsung menyergap kami. Namun, kecurigaanku hilang ketika melihat Maru, putrinya. Tadi, Banesh mengatakan putri mereka, Maru, tidak bisa ditinggal kalau sudah malam, ingin menempel dengan ibunya terus. Jadi, kemungkinan, Lord Susa adalah ibu normal. Dia tidak akan membawa anak-anak hanya untuk membuat lawan lengah. Semoga.


Oke, tampaknya aku bias ketika berhadapan dengan anak-anak. Ya, sudahlah.


Sementara Rina menyapa Lord Susa, Aku, Inanna, dan Emir menurunkan senjata dan peti arsenal. Anggota Agade tidak ikut di helikopter ini. Mereka pergi melalui jalur darat bersama pakaian kami. Tidak. Aku tidak melarang mereka untuk naik helikopter. Mereka ikut pergi ke Kerajaan Nina bukan hanya sebagai pemandu dan porter. Ibla dan Mulisu memiliki rencana lain.


"Terima kasih telah mengirim undangan, Lord Susa."


"Tidak. Kami lah yang harus merasa terhormat karena Tuan Putri Rina bersedia memenuhi undangan kami. Atau aku harus memanggil Anda Ratu Rina?"


Rina tersenyum masam ketika dipanggil Ratu. Sebagai Alhold, adalah hal yang lumrah untuk Rina menolak posisi Kepala Kerajaan seperti Ratu. Namun, dia terpaksa mengesampingkan genetik demi membalas kematian adiknya, Tera.

__ADS_1


Sebenarnya, aku sangat bersemangat ketika melihat Lord Susa, penasaran arah negosiasi. Namun, sayangnya, hal itu tidak mungkin terjadi.


"Gin, aku merasakan ratusan timah, ukuran besar, melaju dengan cepat. Tujuan, tempat ini."


Aku hanya melihat titik-titik gelap di langit. Namun, karena posisinya relatif stagnan, aku menyimpulkan titik gelap di langit bukanlah pesawat atau sejenisnya. Karena posisinya stagnan, kemungkinan, titik gelap itu hanya diam di udara atau mendatangi kami. Dan, berdasar ucapan Inanna, kemungkinan kedua adalah yang benar.


"Emir, buat dinding. Jaga-jaga kalau ada peluru yang tidak terbuat dari timah."


"SIAP!"


"RINA!"


"AKU TAHU!"


Tanpa instruksi, Rina sudah menarik Lord Susa dan putrinya.


Saat melihat perlakuan Rina, orang-orang di belakang Lord Susa siaga. Mereka pasti mengira kami akan menyakiti Lord Susa. Namun, tampaknya, tidak semua penjaga berpikir sama.


Ledakan demi ledakan terdengar. Namun, tidak satu pun ledakan mencapai kami. Semua ledakan terjadi di udara, di dinding yang dikendalikan oleh Emir. Jadi, sebenarnya, tindakan penjaga Lord Susa yang tiarap adalah sia-sia. Ah, revisi. Para penjaga tiarap tidak sia-sia. Tindakan tersebut, tiarap di saat terakhir, memberi indikasi kalau mereka tidak tahu mengenai serangan ini.


Kalau tahu, para penjaga tidak akan tiarap. Mereka akan kabur. Tidak ada gunanya tiarap kalau gedung atau lantainya hancur. Dengan kata lain, tiarap adalah refleks, tidak terencana.


Inanna, seperti biasa, menahan semua amunisi timah yang datang. Jumlahnya tidak sedikit, mencapai angka ratusan. Melihat ukuran, bentuk, dan sudut jatuh, aku bisa menduga kalau peluru-peluru ini berasal dari artileri. Dan, sepertinya lawan juga sudah mengantisipasi pengendalian timah Inanna. Mereka menyelipkan beberapa peluru non timah yang berhasil ditahan Emir.


"UWAA ..."


Rina dan Lord Susa sama-sama panik. Mereka panik bukan karena serangan ini, tapi karena tangisan putri kecil yang dibawa Lord Susa.


Aku bergerak cepat. Tanpa meminta izin Lord Susa, aku langsung menggendong Maru. Maru tidak langsung berhenti menangis, tentu saja. Aku harus melakukan usaha lebih untuk menenangkannya. Aku memeluk Maru lembut, membiarkan tangan kecilnya menggenggam pakaianku erat.


Di saat seperti ini, normal bagi anak-anak untuk menangis atau ketakutan. Hell. Jangankan anak-anak. Orang dewasa saja bisa menangis kalau tiba-tiba diserbu ledakan. Namun, di saat seperti ini, menenangkan anak-anak lebih mudah.

__ADS_1


Pada dasarnya, anak-anak akan ketularan emosi orang terdekat. Dengan membiarkan Maru menggenggam pakaianku, aku membiarkan Maru sadar kalau tubuhku tidak gemetaran, tenang. Begitu merasakan tubuhku yang tenang, tanpa rasa takut, tangisan Maru perlahan reda.


Aku bisa melakukan hal ini karena sudah pernah berurusan dengan anak-anak panti asuhan Sargon. Orang yang pertama kali mencoba menenangkan anak-anak pasti akan gagal. Mereka sendiri, umumnya, panik dan takut. Si anak pun ketularan emosi panik dan takut yang dipancarkan.


Sebenarnya, Lord Susa tidak panik atau pun takut. Meski ingin menenangkan putrinya, Lord Susa tidak bisa membiarkan tamunya terluka begitu saja. Sebagai Feodal Lord, integritasnya diuji. Dan, tampaknya, rasa tanggung jawab sebagai Feodal Lord mengalahkan instingnya sebagai ibu.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2