I Am No King

I Am No King
Chapter 174 – Urusan Yang Selalu Tertunda


__ADS_3

Aku memasang earphone di telinga. Tanpa menekan apapun, aku berbicara ke tiga orang yang tersambung yaitu Inanna, Emir, dan Yuan. Melalui mereka bertiga, informasi akan disebarkan pada semua orang yang terlibat.


"Cek, cek, kalian dengar?"


[Emir, ok.]


[Inanna, lancar,]


[Yuan, semuanya siap.]


"Bagus."


Yuan mengatur informasi yang disalurkan ke agen schneider sedangkan Emir dan Inanna mengatur informasi Agade. Selain itu, Inanna dan Emir memiliki peran penting lain.


[Yuan berbicara. Informasi dari Shu En sudah masuk. Warga sipil sejauh dua kilometer dari tempat ini telah diungsikan.]


"Bagus. Ada kabar dari Ufia dan Jeanne?"


[Ufia dan Jeanne membawa keluarga Ufia dengan paksa, diikat dan dimasukkan ke dalam mobil.]


Itu sama saja Ufia menculik keluarganya. Namun, aku penasaran bagaimana cara Ufia dan Jeanne bisa menculik orang-orang itu. Seharusnya, setelah serangan Ninlil pagi ini, keluarga Alhold berada pada siaga satu. Mereka tahu kalau ibu atau aku akan menyerang secepat mungkin. Namun, aku tidak akan memedulikannya untuk sekarang.


"Bagus, Inanna, apakah Agade sudah siap?"


[Agade sudah siap. Tapi, aku masih belum mendapat visual seluruh lokasi]


"Emir?"


[Sebentar, masih dalam perjalanan.]


Emir bertugas mengendalikan drone, yang dibuat dari Krat, dan menyebarkannya ke langit area permukiman keluarga Alhold. Pada masing-masing drone, dipasang kamera video yang akan diperhatikan baik-baik oleh Inanna. Misi ini lebih sederhana dari kemarin malam. Tugas Inanna hanyalah memastikan keberadaan Ninlil dan ayah,


Inanna, Emir, dan Yuan berada dalam satu trailer yang agak jauh dari tempat ini. Bersama mereka, ada Ninmar dan Umma yang berjaga, melindungi.


Sementara itu, aku bersiap di dalam bus umum yang dikemudikan oleh Ibla. Bus ini sudah berhenti di depan gerbang utama permukiman keluarga Alhold. Di sekitar gerbang, terlibat banyak noda darah berceceran. Menurut informasi, noda darah itu adalah milik keluarga Alhold yang diserang oleh Ninlil.


Jarak dari gerbang permukiman keluarga Alhold ke rumah utama sekitar 500 meter. Sepanjang itu, setidaknya, ada 50 rumah sepanjang jalan. Itu masih belum menghitung rumah yang tersebar di kanan kiri.


[Visual siap. Inframerah juga siap.] Inanna melaporkan. [Di setiap rumah, setidaknya ada 1 orang yang berjaga. Mungkin mereka akan menyerangmu diam-diam, mungkin juga secara frontal.]


"Oke. Inanna, aku ingin kamu fokus pada visual dan inframerah, tidak usah merasakan peluru timah yang ada di lokasi. Aku tidak mau tiba-tiba membunuh Ninlil dan ayah." Aku terhenti sejenak, "Kumohon."


[Jangan khawatir, Gin. Kamu sudah menyelamatkan ibu dan adikku. Aku akan memastiku ayah dan adikmu tidak tewas dalam serangan ini.]

__ADS_1


[Ya, aku juga akan membantu Inanna. Kamu tidak usah khawatir, gin!]


Mendengar konfirmasi dari Inanna dan Emir, aku bisa merasakan wajahku menjadi lemas. Saat ini, aku berani bertaruh sebuah senyum sudah terkembang di wajahku.


"Terima kasih, Inanna, Emir."


Sebuah momen tenang muncul untuk sejenak. Aku menarik nafas dan berdiri. Saat ini aku mengenakan pakaian militer tanpa jubah. Di kanan dan kiri pinggang, terikat peti arsenal. Di kedua bahu, selain perisai, telah bersiap sepasang bazoka. Sebagai catatan, bazoka ini diberi oleh Akadia.


"Gin, semoga berhasil,"


"Terima kasih, Ibla."


Aku turun dari samping bus, tepat di depan gerbang utama. Bus yang dikemudikan Ibla pun berjalan, meninggalkanku.


[Siap, Gin?]


Aku merespon Inanna, "siap!"


Blarr blarr blarr blarr


Ledakan demi ledakan terdengar. Siapa lagi yang akan melakukan penghancuran masal kalau bukan Inanna dan Emir. Inanna dan Emir bertugas meratakan lima rumah dari dinding permukiman keluarga Alhold. Selain itu, mereka juga meratakan dinding yang membatasi permukiman keluarga Alhold dengan rumah di luar.


Aku terdiam, bergeming, mendengar suara ledakan yang saling bersahutan, di antara bola api dan bahan bangunan yang beterbangan.


[Emir melapor, pembersihan bangunan dan dinding selesai.]


[Inanna melapor, orang-orang di tiga rumah, di kanan kirimu, muncul di jendela. Ninlil dan Om Barun belum terlihat.]


Sebenarnya, tanpa perlu diberi peringatan mengenai keberadaan lawan, instingku sudah menendang.


Kalau lawan keluar dari jendela, kemungkinan mereka menggunakan senjata api. Aku tidak akan membiarkannya.


Aku melepaskan beberapa tembakan dari bazoka. Rumah demi rumah hancur, meledak. Bazoka ini adalah tipe auto reload, jadi aku hanya perlu menekan, melepas, dan menekan pelatuk lagi untuk melepas tembakan. Tanpa bergerak, aku terus melepaskan peluru bazoka.


Kali ini, bukan hanya rumah dan material bangunan yang melayang. Aku beberapa kali melihat anggota tubuh yang melayang. Beberapa orang berlari dengan tubuh membara.


Orang-orang membara itu berlari, melewatiku. Saat itu juga, mereka disiram oleh air atau pemadam kebakaran. Begitu tidak sadarkan diri, anggota Agade membawa orang-orang itu.


Bagus, beberapa kelinci percobaan sudah diamankan.


Kapasitas peluru masing-masing bazoka tidak terlalu banyak, hanya 10 buah. Dalam waktu singkat, aku sudah tidak bisa meledakkan rumah lain. Kedua bazoka ini pun kubuang ke tanah. Seolah menungguku membuang bazoka, sebuah niat membunuh langsung memenuhi udara.


[Ninlil tidak berada di antara orang-orang yang melayang!]

__ADS_1


Orang-orang keluarga Alhold ini tidak lagi main-main seperti semalam. Puluhan orang muncul. Mereka semua menggunakan pengendalian untuk melayang dan melepaskan tembakan dari langit, menghujaniku dengan peluru. Aku merendahkan tubuh dan mengangkat peti arsenal di pinggang kanan dengan tangan kanan, menggunakannya sebagai perisai.


Hujan peluru belum selesai tapi serangan lain sudah datang. Bola raksasa menghampiri dari kiri. Aku menggunakan peti arsenal kiri sebagai perlindungan. Untuk memastikan aku tidak menerima efek penuh dari hantaman bola raksasa, aku melompat, membiarkan tubuhku terlempar.


[Ninlil masih belum tampak!]


Aku cukup beruntung. Serangan bola yang barusan mengeluarkanku dari hujan peluru dari langit. Sementara tubuhku meluncur di atas tanah, aku mengambil sebuah minigun dari peti arsenal kanan.


Minigun ini berbeda dengan yang dulu kugunakan saat melawan Eliot. Minigun ini tidak meletakkan beban hanya pada telapak tangan, tapi juga di lengan sebelum bahu. Dengan kata lain minigun ini didesain untuk bisa dibawa dengan satu tangan. Di bagian luar masih terpasang perisai. Di antara perisai dan minigun, terpasang kotak peluru yang mampu menampung 200 peluru.


Seorang laki-laki, di kejauhan, membuat sebuah gerakan dan bola besar itu kembali meluncur ke arahku.


Aku menekan pelatuk, meluncurkan beberapa peluru ke bola besar dan pengendalinya. Beberapa peluru mendarat di tubuh pengendalinya dan bola besar. Begitu peluruku mendarat, bola itu tidak lagi melayang, langsung terjatuh ke tanah. Karena terlalu berat, bola tersebut menancap di tanah, tidak menggelinding.


Tanpa melepaskan jari dari pelatuk, aku mengarahkan minigun ke langit, melepaskan tembakan ke orang-orang yang melayang. Mereka menghindar. Memastikan peluruku tidak mendarat di organ vital. Namun, usaha mereka sia-sia.


Begitu peluru yang kulepaskan mendarat di tubuh, mereka kehilangan pengendalian dan terjatuh. Karena melayang terlalu tinggi, besar kemungkinan mereka akan tewas ketika mendarat di tanah.


Semua amunisi yang kini kubawa sudah diolesi dengan darahku. Jadi, ketika peluru ini mendarat di benda apapun atau siapa pun, pengendalian tidak akan bisa digunakan lagi. Hanya peluru bazoka yang tidak kuolesi dengan darah.


Selain itu, sama seperti dulu, kekuatan dan kapasitas minigun ini juga sudah dikurangi sedemikian rupa. Pelurunya tidak akan menembus tubuh sasaran, tapi bersarang. Sayangnya, hal ini menjadikan jangkauan tembakannya berkurang drastis.


[Gin, Ninlil dan Om Barun sudah menampakkan diri!]


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2