I Am No King

I Am No King
Epilog 3 – Keluarga Kerajaan


__ADS_3

"Ibu!"


"Selamat datang, Bemmel sayang."


"Ibu di kursi saja, tidak apa-apa. Aku cuma mau pamit."


Bemmel berteriak sebelum aku sempat berdiri.


Aku menatap laki-laki yang berjalan masuk. Rambut merah keputihan yang menuruni permaisuri Rahayu benar-benar memberi kesan feminin. Bahkan, wajahnya yang begitu halus hampir tanpa garis, seolah ingin menunjukkan kalau dia memang perempuan. Namun, anak ini adalah laki-laki! Yah, meski aku bilang anak, Bemmel sudah berusia 21 tahun.


Di lain pihak, dua tahun setelah menjadi permaisuri, tepat setelah perdana menteri dipilih, aku berhasil mengenakan rangka eksoskeleton normal. Rencana Lugalgin sangat mudah. Aku hanya melakukan latih tanding dengan Emir. Di tengah pertandingan, Emir mendorongku terlalu kuat hingga menghantam dinding. Di luar dugaan, ada bagian dinding yang menyembul, menghantam tulang ekor.


Aku pun dilarikan ke rumah sakit, yang diurus oleh ayah Lugalgin. Om Barun memberi vonis kalau aku membutuhkan eksoskeleton untuk bisa berjalan. Karena yang membuatku lumpuh adalah Emir, tidak ada satu pun orang di kerajaan yang berani protes. Jadi, aku tidak perlu lagi mengendalikan kabel baja di balik stoking!


Kejadian aku menjadi lumpuh menjadi berita internasional. Hal ini mengundang simpati dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar kerajaan. Pihak yang paling prihatin adalah Bemmel, putra terakhir Permaisuri Rahayu.


"Pamit? Mau kemana?"


"Mau belajar kelompok, mengerjakan tugas kuliah. Kafina sudah ada di lobi, menungguku."


"Belajar kelompok?"


Aku menatap Bemmel dengan saksama. Memahami pandanganku, Bemmel memberi jawaban cepat.


"Aku tidak bohong. Kami benar-benar hanya belajar kelompok. Aku juga sudah mengajaknya untuk menemui ibu, agar bisa meyakinkan ibu. Tapi dia masih sungkan masuk ke sini walaupun aku sudah bilang status keluarga kerajaan kita, saat ini, hanyalah hiasan, tidak berarti apa-apa. Sayangnya, dia tetap tidak berani."


Tiba-tiba saja Bemmel membawa masalah lain. Apa dia ingin mengalihkan topik pembicaraan? Bisa saja. Yah, aku ikut saja lah.


"Bemmel, untuk kamu status keluarga kerajaan memang hanya hiasan. Sayangnya, untuk ibu, tidak. Ibu masih harus bekerja dengan perdana menteri."


"Ah! payah ah!"


Aku tertawa kecil melihat Bemmel yang menggerutu.


"Sudah. Kita tidak bisa terlalu protes juga. Dibanding dulu, beban kita sudah jauh berkurang, kan?"


"Iya sih ...."


Meskipun perdana menteri sudah ditunjuk, aku tidak bisa turun dari posisi permaisuri. Perdana menteri masih harus mengonsultasikan kebijakan yang akan diterapkan. Kalau ada masalah, aku akan memberi beberapa masukan. Kalau tidak ada masalah lagi, baru setelah itu aku sahkan.


"Sudah. Cepat pergi sana. Kafina sudah menunggu, kan?"


"Ah, iya! Aku pamit dulu Bu."


"Hati-hati ya, sayang."


Bemmel bangkit dan memelukku. Setelah memberi pelukan hangat, dia pun pergi.


"Oh, mau kemana Bemmel?"


"Belajar kelompok. Aku berangkat ya, Om Zage!"

__ADS_1


"Hati-hati!"


Terdengar suara Bemmel yang menyapa Zage di luar ruangan. Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk smartphone. Setelah membaca pesan, aku menjalankan aplikasi di smartphone dan mematikan keamanan di ruangan ini.


"Kamu bisa masuk, Zage!"


"Aku masuk."


Di belakang laki-laki botak, Zage, terlihat dua laki-laki masuk. Begitu pintu tertutup, dua laki-laki di belakang Zage menarik wajah dan rambut, melepaskan topeng silikon dan wig. Rambut coklat cerah dan merah muda muncul dari balik topeng dan wig. Setelah, orang akan menyadari kalau dua orang ini bukanlah laki-laki, tapi perempuan.


Setelah wajah terekspos, dua perempuan ini menekan tombol di jam tangan dan dada mereka mengembang. Oke, aku penasaran. Bagaimana cara mereka menyembunyikan buah dada sebesar itu? Teknologi apa yang mereka gunakan?


"Ah, akhirnya aku bisa melepas penyamaran."


"Silakan, Tuan Putri Yurika."


Zage memberi sebotol air mineral yang dia ambil dari kulkas.


"Aku sudah bukan tuan putri, Zage."


"Bagi saya, Anda masih tuan putri."


Sebuah loyalitas yang tinggi. Tidak heran dia menjadi regal knight.


Di lain pihak, perempuan yang satunya, Jeanne, minum air mineral dari mejaku dengan wajah ketus.


"Kamu iri, Jeanne?"


"Tentu saja! Uhh ... Ufia, dimana kamu? Aku kangen. Padahal aku ke sini karena ingin bertemu."


"Hari ini dia cuti. Dia dan calon suaminya sedang mencari gaun pernikahan."


"Gaun pernikahan? Uhh ... hatiku semakin sakit. Regal knightku sudah akan menikah, tapi aku belum mendapatkan pacar."


"Kamu sendiri yang menjaga jarak dari laki-laki."


Jeanne mengatakan dia menjaga jarak demi menjaga identitasnya. Dia tidak mau orang lain tahu kalau Tuan Putri Jeanne masih hidup. Namun, menurutku, kalau khawatir pada identitasnya, dia tinggal mencari sesama intelijen Bana'an. Sebagian intelijen Bana'an, yang terlihat dalam pembunuhan keluarga kerajaan, tahu kalau Jeanne masih hidup.


Di lain pihak, Yurika, menurut informasi yang kuhimpun, tidak ingin menikah. Entah apa yang mendasari keputusannya. Dia juga tidak menjawab pertanyaanku kenapa tidak ingin menikah. Aku hanya berharap dia tidak mengincar Lugalgin seperti ibunya. Yah, aku hanya bisa berharap.


"Daripada itu, Mulisu, kamu tidak ada rencana menikah?"


"Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau seorang permaisuri menikah lagi?"


"... oke. Aku paham." Jeanne menurut tanpa mencari tahu lebih lanjut.


Memang tidak ada larangan tertulis untuk permaisuri menikah lagi. Namun, kalau permaisuri menikah lagi, dikhawatirkan akan ada gejolak politik. Kerajaan ini baru stabil. Aku tidak mau hancur lagi gara-gara sebuah pernikahan!


"Dan lagi, aku tidak melihat pentingnya fungsi laki-laki di hidupku."


"Apa kamu tidak kesepian?"

__ADS_1


"Aku sudah merasa cukup dengan melihat Bemmel yang bahagia. Dan lagi, anggota Elite Agade juga masih mengunjungiku rutin."


"Memang siapa sih yang rutin ke sini? Kali cuma Umma, kan? Dan, kalau Bemmel menikah. Kamu akan sendirian lho ...."


"Justru aku berharap Bemmel segera menikah. Aku ingin dia bahagia dengan wanita lain."


Aku menjawab Jeanne simpel. Di lain pihak, entah sejak kapan, Yurika sudah memandangku sengit.


"Kamu sudah menganggap Bemmel sebagai anakmu sendiri, ya, Mulisu?"


"Ya, begitulah."


"Menurutmu bagaimana reaksi Bemmel kalau dia tahu kamu bukanlah ibunya."


Aku menarik napas dalam. "Yurika, Jujur, tampaknya Bemmel sudah menyadari kalau aku bukanlah ibunya."


"Hah?"


Bukan hanya Yurika, Jeanne dan Zage pun terentak ketika mendengar jawabanku.


Aku pun menceritakan kejadian yang membuatku yakin akan hal ini. Kejadian pertama adalah beberapa bulan pertama ketika aku menggantikan permaisuri Rahayu. Entah kenapa Bemmel mengatakan, "aku tidak keberatan dengan ibu yang sekarang. Aku sayang ibu,". Saat itu aku berpikir yang dimaksud Bemmel adalah perubahan sikap Rahayu.


Ketika Bemmel mulai menginjak remaja, entah kenapa, pandangannya berubah. Dia melihatku tidak seperti anak melihat ke ibunya, tapi lebih kepada laki-laki melihat sosok perempuan.


Namun, yang paling meyakinkanku adalah kejadian beberapa bulan lalu. Secara resmi, kamar mandi dan kamar tidur tidak dipasang kamera atau perekam suara. Namun, aku meminta Yuan melakukannya secara diam-diam.


Di luar dugaanku, pada salah satu rekaman, aku melihat Bemmel yang memeluk bantal tampak kasmaran. Dia melakukannya sambil memanggil namaku. Dia mengatakan, "karena dia bukan ibu, berarti kalau aku berhubungan dengannya, hubungan kami legal, kan? Ah, aku jadi penasaran wajah aslinya. Tidak! Tidak perlu wajah aslinya. Nama aslinya saja sudah cukup. Tapi aku juga penasaran dengan wajah asilnya,".


Ketika aku selesai bercerita, semua orang diam dengan mulut menganga. Mereka tampak tidak memercayai ceritaku.


"Ada alasan kenapa aku terus mendorong agar Bemmel mendekati Kafina, teman perempuannya."


"Kamu, apa yang sudah kamu lakukan ke Bemmel dengan wajah ibu?"


"Aku hanya memberinya perhatian. Aku sudah melakukan hal yang sama pada anak-anak panti asuhan dan aku bilang itu adalah normal. Daripada perlakuanku, aku lebih penasaran apakah Bemmel mendapat perhatian yang cukup dari Rahayu? Laki-laki hanya akan jatuh hati ketika dia mendapat perhatian yang belum pernah didapat."


"Lalu," Jeanne masuk. "Apa yang akan kamu lakukan?"


"Jujur, aku ingin Lugalgin mencari tubuh pengganti dan membuat permaisuri meninggal, seperti yang dia lakukan pada Ratu Amana. Dengan demikian, aku bisa pergi dari istana, meninggalkan Bemmel."


"Hei! Kamu sudah merenggut hati Bemmel dan kini mau kabur? Enak saja!"


"Sebenarnya apa yang kamu mau, Yurika? Kamu mau aku menjauhi adikmu atau menikahinya?"


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2