
Hai Haiii…… Ren Igad desuyoo…..
Halo semuanya. Seperti biasa, author akan memberi pengumuman di jeda beberapa chapter mengenai GA dan Promo. Dan, melanjutkan minggu lalu, akan ada tips dan trik menulis juga. Selain pengumuman mengenai GA dan Promo, author akan memberi sedikit tips dan trik untuk membuat kalimat efisien dan rapi.
Sebelum itu, mungkin kalian penasaran dengan kemunculan tiba-tiba si Ami. Namun, sebenarnya, keberadaan Ami sudah sempat disinggung di chapter sebelumnya. Apakah ada yang memperhatikan? Mungkin tidak karena itu termasuk chapter awal. wkwkwkwk
Oke, yang pertama, berikut adalah pengumuman GA buku fisik I am No King. Berikut adalah pengumumannya......
Selamat kepada Angel Syahfitri Fitri. Akhirnya menjadi pemenang setelah bulan lalu ditikung. Hehehe. Untuk detail, mohon kirim info sosial media yang digunakan ke author ya. Bisa ke FB author atau IG author. Dengan pengumuman ini ini, Give away ketiga resmi berakhir.
Bersamaan dengan ditutupnya periode ketiga, Give away keempat resmi dimulai. Give away buku fisik akan diberikan pada 1 user dengan vote terbanyak. Periode Give away ketiga adalah 14 Juni sampai 19 Juli (5 minggu). 1 user dengan akumulasi vote terbanyak pada rentang waktu tersebut akan mendapatkan buku fisik "I am No King" volume 1 dan volume 2 secara gratis! Tidak perlu bayar ongkir juga. Ongkir akan ditanggung ama author.
Dan, sama seperti sebelumnya, ada 1 syarat lain. Give away akan diberikan pada user yang memberi vote lebih dari 2000 point dalam rentang waktu 4 minggu itu. Jadi, kalau kebetulan Nomor 1 tidak mencapai 2000 point, sayang sekali, Give Away akan di cancel. Dan, ternyata, masa Give away keempat sudah dimulai.....
Wkwkwkwk.
Sekali lagi, author tekankan kalau give away tidak memberi keuntungan untuk author. Untuk user yang telah mendapat buku, kalau baca di bagian depan, kata pengantar, dan kata penutup, kalian akan membaca bahwa hasil penjualan buku fisik I am No King akan disumbangkan ke panti asuhan. Tapi, karena tidak dijual, jadinya per Give away akan memberi tambahan donasi author ke panti asuhan.
Berapa banyak donasi per buku? Hehehe, rahasia.....
Mungkin ada yang komen kenapa mau donasi saja harus give away. Seperti yang telah ditulis di pengumuman sebelumnya, author menulis sebagai hobi, just an author for fun, bukan sebagai pendapatan utama. Tanpa buku fisik I am No King pun Author sendiri sudah menjadi donatur rutin panti asuhan. Jadi, buku fisik = tambahan donasi, hanyalah menambah jumlah donasi, hanya satu cara untuk menambah kesenangan dalam author menulis cerita, tidak lebih.
Sekali lagi, author ucapkan selamat kepada Angel Syahfitri. Dan untuk GA periode empat, author akan memilih 1 user dengan vote terbanyak pada periode 14 Juni -19 Juli untuk mendapatkan give away buku fisik I am No King Volume 1 dan Volume 2! Free total. Free ongkir.
Lalu, setelah Give Away, author kembali menekankan prosedur kalau mau promo di I am No King. Silakan dibaca. Dan, kalau masih ada yang promo di kolom komentar, siap-siap dapet komentar “F**K OFF!”. wkwkwkwkwk
Dan, akhirnya, lanjutan dari minggu lalu, tips dan trik membuat kalimat rapi dan efisien. Langsung saja, berikut tips dan trik yang bisa author berikan.
1. Pelajari kembali kapan kata “di-“ dipisah atau digabung.
Mungkin bagi beberapa author, hal ini dianggap basic, dasar. Namun, percayalah, ada penulis di luar sana yang belum bisa membedakan kapan menggabungkan kata “di-“ dan kapan harus dipisah. Dan, bagi yang belum bisa membedakan, percayalah kalau kalian tidak sendiri. Namun, hanya karena tidak sendiri, bukan berarti menjadi alasan tidak berkembang atau belajar.
Pada dasarnya, ketika kata di- bertemu dengan kata kerja, maka digabung. Namun. Jika bertemu dengan kata tempat, dipisah. Contoh:
Diberi, dipukul, dimakan, ditendang, dipisah, digabung
Di mana, di atas, di bawah, di Surabaya, di sana, di sini, di hadapan
__ADS_1
Ini simpel, tapi impact nya cukup besar. Kenapa? Karena kesalahan penulisan minor seperti ini bisa memecahkan ritme pembaca. Pembaca akan berpikir “kok disambung? Kok dipisah?”. Secara tidak langsung, ini akan menjadi intervensi. Kalau kebanyakan intervensi, pembaca akan bosan. Bosan = less reader.
2. Jangan memulai 3 kalimat dengan kata yang sama.
Saran ini mirip dengan saran minggu lalu, mengenai kesamaan kata. Meski sudah berbeda kalimat, masih ada batasan. Dan, 3 sudah dianggap terlalu banyak. Bahkan, beberapa editor top menganggap dua kalimat dimulai dengan kata yang sama sudah cukup annoying.
Yang paling bagus adalah tiap kalimat dimulai dengan kata yang berbeda. Berikut contohnya.
Saria berlari menuju laboratorium. Saria mengabaikan ucapan Silence. Saria tidak ingin memercayainya.
Vs
Saria berlari menuju laboratorium. Dia mengabaikan ucapan Silence. Saria tidak ingin memercayainya.
Di atas adalah dua contoh yang sedikit berbeda. Yang berbeda hanya pada kalimat kedua, yang pertama tetap menggunakan Saria, yang kedua diganti Dia. Contoh kedua memberi kesan lebih positif karena ada variasi pemilihan kata.
Pada dasarnya, pengulangan kata di awal kalimat adalah sebuah tongue twister. Hal ini membuat pembaca tidak yakin apakah dia sudah gerak ke kalimat selanjutnya atau masih membaca di kalimat yang sama. Efeknya juga sama, membuat pembaca berhenti sejenak, memastikan posisinya, merusak ritme membaca. Variasi kata di awal kalimat meyakinkan pembaca kalau mereka memang sudah bergerak dari kalimat sebelumnya, tidak berjalan di tempat.
Meski contoh di atas bagus, kalau boleh jujur, author merasa kalimat itu kurang optimal. Untuk versi optimal versi author akan memiliki hubungan dengan saran berikutnya.
3. Koma\, bermain dengan api.
Pada penulisan, menurut author, koma bisa diumpamakan seperti api. Kalau salah menggunakannya, kalimat kalian akan berantakan, canggung, dan tidak enak dibaca. Namun, kalau tepat, kalian akan menemukan cara meramu kalimat baru yang indah dan enak dibaca. Dan, seperti halnya api, ada 1.001 cara berbeda untuk menggunakannya.
Sebagian penulis menggunakan koma hanya untuk menyebutkan beberapa hal seperti ini, itu, dan lainnya. Namun, sebagian lagi, menggunakan koma untuk memberi sedikit jeda di awal atau tengah kalimat. Penulis lain menggunakan koma untuk menggabungkan dua kalimat dengan subyek yang sama. Ada juga yang menggunakannya untuk penegasan, seperti ini.
Ada banyak sekali cara penggunaan koma. Kalian bisa mencarinya di google. Bahkan, secara tidak langsung, koma seperti mencerminkan gaya penulisan seseorang. Namun, seperti yang ditulis di awal, kalau salah menggunakannya kalimat kalian akan canggung dan berantakan. Koma ini bisa membakar kalian hidup-hidup. Tidak sedikit kenalan editorku protes gara-gara penulis yang asal taruh koma.
Untuk koma, author tidak bisa memberi saran yang banyak selain kalian belajar dan mencoba. Namun, setidaknya, ada satu aturan dasar dalam penulisan tanda baca ini. Koma harus muncul jika kata penghubung diletakkan di awal kalimat.
Kata penghubung yang author maksud seperti namun, meskipun, bahkan, dsb. Kalau sadar, kalian akan melihat bahwa koma akan muncul di belakang kata sambung yang diletakkan pada awal kalimat.
Dan, tambahan, author ingin mengoptimalkan kalimat contoh sebelumnya dengan koma. Namun, seperti yang author tulis, koma bisa digunakan dalam berbagai bentuk, misal
Saria berlari menuju laboratorium. Dia mengabaikan ucapan Silence, tidak ingin memercayainya.
Saria berlari menuju laboratorium, mengabaikan ucapan Silence. Dia tidak ingin memercayainya.
Dua contoh di atas memiliki inti kejadian yang sama, tapi memiliki kesan yang berbeda untuk pembaca dan penulis. Kenapa kesannya berbeda? Karena secara tidak langsung, kronologi kejadiannya berbeda.
Yang pertama, penggabungan kalimat digabungkan di bagian belakang. Penulisan ini memberi kronologi kejadian seperti ini: Sebelum berlari, Saria sudah mendengar ucapan Silence. Namun, dia mengabaikan ucapan tersebut karena tidak ingin memercayainya.
Contoh kedua menggabungkan dua kalimat di awal dan memisahkannya di akhir. Kalau menggunakan contoh ini, kronologi kejadiannya adalah: Saria berlari ketika Silence berbicara, mengabaikan ucapannya. Saria melakukan hal ini karena dia tidak ingin memercayai ucapan Silence.
__ADS_1
Mana yang benar? Dua-duanya benar. Mana yang lebih baik? Tergantung kalimat sebelum dan sesudahnya. Seperti yang sudah author jelaskan, koma adalah api. Kalau tepat, kalian bisa mendapatnya sesuatu yang hebat. Kalau salah? Kalian terbakar. Kalian benar-benar harus sering-sering berlatih.
4. Kurangi menggunakan kata “sangat” atau “benar-benar”
Author bilang kurangi, bukan hindari sepenuhnya. Pada dasarnya, kata “sangat” digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang lebih. Namun, pada penulisan, hal ini memaksa kita menghabiskan kuota 1 kata. Padahal, seperti yang telah dijelaskan minggu lalu, kuota kata dalam kalimat terbatas. Ketika hal ini terjadi, waktunya mencari kata sinonim. Dan lagi, seringkali, kata sangat terkesan lebay. Padahal, kalaupun kata “sangat” dihilangkan, inti kalimat juga sama. Langsung saja ke contoh.
Saria sangat marah ketika melihat putrinya tergeletak lemas.
Saria marah ketika melihat putrinya tergeletak lemas.
Saria murka ketika melihat putrinya tergeletak lemas.
Contoh pertama adalah yang umum digunakan, sangat marah. Apakah penulisan ini salah? Tidak, karena memang Saria marah. Namun, kalau kata sangatnya dihilangkan, menjadi contoh kedua, apakah intinya berbeda? Tidak, karena Saria masih marah.
Namun, penambahan kata sangat menambah jumlah kata. Semakin banyak jumlah kata, semakin lama pembaca menahan nafas. Ini membuat pace membaca melambat. Kesan “marah” yang didapat jadi berkurang. Hanya dengan kata “marah” tanpa “sangat” saja sudah bisa menyampaikan maksud ke pembaca. Hal ini membuat kalimat kedua lebih efektif atau optimal.
Namun, pasti, ada penulis yang berdalih “kalau hanya marah, kurang feelnya,”. Karena itu, author menambah alternatif ketiga yang merupakan next level dari marah, murka. Dengan kata “murka” penulis sudah bisa menyampaikan pesan ke pembaca kalau kemarahan Saria lebih dari yang biasa.
Satu kata “murka” setara dengan dua kata “sangat marah” atau bahkan lebih. Bahkan, ada beberapa orang menganggap “murka” adalah puncak kata marah, levelnya sudah “amat sangat marah sekali”, empat kata.
Contoh lain
Silence sangat sedih ketika melihat putrinya tidak bergerak.
Silence sedih ketika melihat putrinya tidak bergerak.
Silence merana ketika melihat putrinya tidak bergerak.
Di sini, kata “sedih” sudah cukup bagi beberapa editor. Namun, bagi penulis, ini kurang memberi kesan mendalam bagi membaca, jadi butuh kata “sangat”. Namun, ada next level dari penulisan “sangat sedih”, yaitu merana. Tentu saja ada alternatif dari merana seperti “hancur” atau yang lainnya. Namun, intinya, satu kata yang merupakan perpaduan dari dua kata atau lebih memiliki efek dan kesan yang lebih kuat dari kata “sangat ....”
Dan, hal ini juga berlaku untuk kata “benar-benar”.
Meski demikian, author sendiri masih menggunakan kata “sangat” dan “benar-benar”. Namun, author menggunakan kata “sangat” dan “benar-benar” bukan untuk memberi kesan kuat. Author menggunakan dua kata ini untuk mendramatisir, penekanan, dan membuat pembaca menahan nafas lebih lama.
Lho, lho, lho. Kok membuat menahan nafas lebih lama? Katanya minggu lalu buruk. Well, untuk pengaturan panjang dan pendek kalimat, bisa dibilang adalah teknik penulisan tingkat lanjut. Dan, karena tips minggu ini sudah cukup banyak, author sudahi dulu ya. Untuk tips lain, terutama soal pengaturan panjang pendek kalimat, nantikan minggu depan.
Dan, bagi para penulis, ingat!
“Tulis, Edit, Publish”
__ADS_1