
~Lacuna POV~
Ugh, sudah pagi lagi ya.
Hal itu adalah hal pertama yang terlintas ketika matahari menyentuh pandanganku.
Rasanya, sudah lama sekali sejak hal itu adalah hal pertama yang terlintas ketika aku bangun. Pekerjaan ini benar-benar membebani pikiranku. Bukan pekerjaannya sih sebenarnya, tapi hal yang lain. Dan, keluarga Adams memperparahnya semalam.
Normalnya, aku sudah bangun sebelum matahari terbit dan sedikit berolahraga, pemanasan. Namun, kalau sedang banyak pikiran seperti ini, aku memilih bangun lebih siang.
"Ung...."
"...ha?"
Aku sedikit terkejut ketika mendengar suara ini. Ketika aku sadar, aku sudah melihat Pirang tertidur di samping, satu ranjang denganku.
Ah, uh, oke, aku memiliki beberapa pertanyaan, mulai bagaimana dia bisa pindah dari sofa ke sini tanpa memicu satu pun jebakan, lalu bagaimana bisa aku tidak menyadarinya, dan kenapa dia ada di sini.
Ah, kalau aku pikir-pikir, untuk pertanyaan yang kedua, aku agak ingat, samar-samar. Semalam, entah jam berapa, aku merasakan pergerakan Pirang yang masuk ke kamar dan menyelinap ke kasur. Namun, tampaknya, karena aku tidak merasakan ancaman dari gerakan Pirang, aku membiarkannya begitu saja. Ya, pikiran orang tidur, biasa lah.
Tiba-tiba saja, tanpa meminta izin, perempuan ini merangkul perutku dan mengusap-usap pipinya.
"Hei bangun."
"Awawawa."
Aku mencubit pipi Pirang, menariknya hingga melar. Berkat cubitanku, dia melepaskan rangkulannya, dan bangun.
"Siapa yang memberimu izin tidur di sini?"
"Hahu Huha–"
__ADS_1
"Ulangi," Ucapku sambil melepaskan cubitan.
"Sakit..." Pirang mengelus pipinya. "Aku juga mau tidur di kasur. Apartemenku sudah tidak memiliki pintu, dan kamar tamumu penuh dengan senjata. Pilihanku hanya kasur ini."
Oke, alasan bisa diterima. Aku juga tidak memiliki masalah berbagi ranjang dengan cewek. Pertanyaan yang selanjutnya adalah,
"Bagaimana kamu bisa tiba di sini tanpa memicu satu pun jebakanku? Dari sofa ke sini, setidaknya, sudah kupasang empat jebakan yang akan langsung memotong atau membakar tubuhmu."
"Uh, aku awalnya juga agak ragu. Namun, setelah berusaha, aku akhirnya menemukan benang pemicu yang kamu pasang di seluruh penjuru rumah."
Aku mendudukkan pirang di depanku. Kini, kami berdua duduk berhadapan, di atas kasur, dengan pandangan saling menatap. Namun, Pirang tidak mampu menerima pandanganku. Dia membuang pandangan dengan segera.
"Bisa tolong jelaskan secara detail apa yang kamu lakukan?"
"Um, baiklah, tapi," Pirang berhenti sejenak. "Bisa tolong jangan melihatku seperti itu. Aku merasa malu sendiri."
"I-iya."
Akhirnya, Pirang pun mulai memberi penjelasan. Dia sama sekali tidak berani melihat ke mataku, pandangannya berkeliaran ke semua tempat.
"Aku hanya mencoba merasakan semua material yang ada di ruangan ini. Kamu tahu, seperti ketika kita mencoba mendeteksi semua material saat memasuki rumah baru atau berhadapan dengan orang lain."
"Ya, lalu?"
"Aku melakukan hal yang sama, hanya lebih berkonsentrasi. Dari situ, aku tidak tahu apa, tapi aku merasakan ada material yang melintang di seluruh penjuru apartemen ini. Kehadiran material ini tipis sekali, kusimpulkan benang logam atau semacamnya. Tentu saja, membutuhkan waktu cukup lama untukku bisa menemukannya."
"Berapa lama?"
"Eh? Ah, mungkin setengah jam."
__ADS_1
Cukup lama. Namun, jika dibandingkan orang normal, dia cukup cepat. Tidak. Bahkan, aku harus memujinya karena dia bisa menghindari semua jebakan itu. Seumur-umur, baru satu orang yang bisa menghindari semua jebakan yang kupasang, dan orang itu sama sekali tidak normal. Di lain pihak, Pirang adalah orang yang bisa dibilang normal.
Pirang adalah orang normal, tapi aku harus mengacungi jempol pada kesabaran dan kemampuannya untuk berkonsentrasi. Tidak semua orang dapat bersabar dan berkonsentrasi hingga setengah jam hanya untuk menemukan benang logam, yang pada kasus ini adalah benang perak yang tersebar.
Kalau aku ingat-ingat, semalam, dia mampu menggerakkan pisau di sekitar tubuh untuk menghalau peluru yang datang. Dengan kata lain, meski dia tidak bisa mengendalikan timah dengan piawai, seperti Merah, dia bisa merasakan kemana timah tersebut datang dan menangkisnya. Kalau dia tidak memiliki kekuatan konsentrasi yang sangat tinggi, dia tidak akan mampu melakukannya.
Hehe. Mungkin, aku menemukan diamond in the rough lain.
"Pirang, aku memiliki penawaran untukmu. Apa kamu mau menjadi muridku?"
"Eh..... ha?" Pirang memiringkan kepala.
Bersambung
\============================================================
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1