I Am No King

I Am No King
Chapter 324 – Melambat


__ADS_3

"Terima kasih atas kedatangannya, Tuan Putri Rina. Kami benar-benar merasa terhormat dengan kedatangan Tuan Putri Rina."


"Tidak. Saya lah yang merasa terhormat karena Bapak Banesh telah bersedia menjemput saya."


"Tidak. Sudah selayaknya saya datang. Istri saya, Lord Susa, sebagai Feodal Lord meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa menjemput Anda langsung malam ini. Putri kami tidak mau ditinggalkan oleh ibunya kalau malam. Dan Lord Susa tidak ingin meninggalkannya."


"Tidak apa. Saya paham."


Kerajaan Nina, yang dipimpin oleh Ratu, memiliki tradisi dimana perempuan memiliki peran yang lebih dominan daripada laki-laki. Terkadang ada beberapa wilayah yang dipimpin oleh laki-laki. Namun, tampaknya, wilayah ini bukan minoritas.


Ketika tiba di sisi Kerajaan Nina, kami disambut oleh suami Feodal lord, Banesh. Dia telah menyiapkan beberapa kendaraan grade militer, anti peluru, anti ledakan. Dan, ya, tentu saja kendaraan yang disiapkan adalah minibus. Ini daerah pegunungan. Limosin tidak akan bisa bergerak dengan mudah.


Dan, yang penting¸ kami berempat, beserta senjata, bisa berada di satu kendaraan. Anggota Agade dan pakaian di kendaraan sebelum kami.


"Dan, saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaannya mengantarkan Tuan Putri Rina ke wilayah kami, Tuan Lugalgin Alhold beserta Tuan–"


"Eits!" Emir menyela. "Kami bukan Tuan Putri."


Banesh tetap tersenyum, tidak terganggu dengan Emir yang menyela.


"Biar saya revisi. Terima kasih Tuan Lugalgin, Ibu Emir, dan Ibu Inanna."


Emir dan Inanna tersenyum ketika mendengar ucapan Banesh.


Di lain pihak, aku merasa terganggu dengan pemilihan kata Banesh. Dia bilang mengantarkan, bukan menemani. Umumnya, orang tidak akan mempermasalahkan antara pemilihan kata menemani dan mengantarkan. Namun, untuk urusan diplomasi seperti ini, tidak demikian. Kalau menggunakan kata mengantar, seolah Banesh mengatakan kalau Rina adalah paket yang diantar.


Aku melempar pandangan ke Rina. Dia tersenyum, tapi bibir kanannya lebih tinggi. Tampaknya, dia juga sadar pada keanehan ucapan Banesh. Hal ini, tentu saja, memperkuat dugaan kami kalau undangan ini adalah jebakan.


Di lain pihak, Emir dan Inanna bisa menemani Banesh ngobrol dengan lancar dan mudah. Ini adalah pemandangan yang sudah lama sekali tidak kulihat. Pemandangan ketika Emir dan Inanna menggunakan mode diplomatis, mode Tuan Putri. Wajah mereka terlihat begitu lemas dan bahagia, seolah tidak siaga.


Inanna dan Emir mengatakan, sebenarnya, mereka justru paling siaga ketika berada di mode diplomasi. Mereka harus memilih kata yang muncul dari mulut baik-baik. Di lain pihak, mereka juga harus mendengarkan ucapan lawan bicara dengan saksama. Bahkan, kedua pasang mata mereka lekat pada setiap gestur yang dilakukan oleh Banesh. Hal ini dilakukan untuk mengetahui lawan bicara dengan baik. Apakah mereka jujur, menyembunyikan sesuatu, percaya diri, panik, atau yang lain?

__ADS_1


Terakhir kali aku melihat Emir dengan mode ini adalah ketika di zaman SMA, ketika dia masih menjadi klienku. Untuk Inanna, aku melihat mode ini ketika dia mencari informasi mengenai penghilang pengendalian.


Sejak menjadi calon istri, Inanna dan Emir tidak pernah bertemu dengan bangsawan untuk bernegosiasi. Aku kira, mode diplomasi yang mereka miliki sudah hilang. Namun, ternyata, dugaanku salah. Emir dan Inanna bisa melakukannya dengan begitu mudah dan lugas, seolah sisi itu memang bagian dari diri mereka yang selalu siap sedia.


Kalau orang bodoh, mungkin akan mengira Inanna dan Emir selingkuh dengan bangsawan atau pangeran. Namun, Emir dan Inanna selingkuh? Yang benar saja. Pandangan mereka terus melekat ke aku. Sejenak saja aku menunjukkan ketertarikan pada perempuan lain, aura haus darah langsung muncul. Contoh nyatanya adalah tadi saat aku memeriksa tubuh Permaisuri Shara.


Tidak lama, akhirnya, kami tiba di hotel. Kami masih berada di daerah pegunungan, tapi tidak di puncak. Jika dibandingkan dengan hotel yang tersambung dengan Kerajaan Agrab, kami 1.000 meter lebih rendah. Oleh karenanya, di tempat ini, gedung belasan lantai adalah hal yang lumrah.


Sama seperti sebelumnya, kami diberi ruang paling elite. Di Kerajaan Nina, ruang paling elite bukanlah King's Suite, tapi Queen Suite. Well, hanya ganti nama, intinya paling elite. Kalau di Republik Dominia, namanya mungkin President's Suite. Ya, tidak penting.


Banesh langsung pergi setelah mengantar kami ke hotel. Saat tiba di kamar, langit tidak lagi gelap, aku sudah bisa membedakan benang hitam dan putih.


Begitu suhu tidak sedingin sebelumnya, keloid mulai bermunculan di wajah dan leherku. Aku beruntung kami tidak terlalu lama di dalam mobil. Jadi, Banesh tidak sempat melihat wajah dan leherku yang seperti makhluk percobaan.


"Kalian tidur saja dulu. Lord Susa baru akan menemui kita jam 11 siang. Kita akan dijemput sekitar jam setengah 11, masih ada 6 jam lebih."


Aku langsung masuk kamar mandi, melihat kondisi wajah dan leher. Sudah mau pagi, tapi keloid di kepala dan leherku masih seperti jam 8 malam. Normalnya, keloid mulai memenuhi wajah dan leherku di jam 7 atau 8 malam. Puncaknya adalah jam setengah 4 pagi. Namun, karena suhu dingin sebelumnya, tampaknya terjadi kemunduran, tujuh setengah jam.


"Ternyata benar. Tampaknya, keloid di wajahmu melambat ketika suhu dingin."


"... Rina?"


Aku menoleh ke pintu kamar mandi, melihat Rina bersandar.


"Apa kamu tahu kalau hal ini akan terjadi?"


Rina menggeleng. "Tidak ada catatan mengenai pertumbuhan keloid yang melambat. Aku bisa menyimpulkannya tadi saat melihat wajah dan lehermu yang masih mulus, tanpa keloid. Dan, satu-satunya hal yang berbeda, dibanding biasanya, adalah suhu dingin. AC di rumahmu tidak sedingin jajaran pegunungan Hamurina, jadi kita tidak pernah menyadarinya."


Rina mampu menarik kesimpulan dengan begitu cepat dan tepat. Dia pun menarik kesimpulan yang sama denganku. Kami, dia dan aku, benar-benar mirip. Walaupun Rina adalah orang lain, aku seperti berbicara sendiri.


"Jadi, Rina, ada ide? Keloidku akan berada di puncaknya pada jam 10 atau jam 11. Padahal, di jam itu, kita ada pertemuan. Tidak mungkin kan aku tidak menampakkan wajah?"

__ADS_1


Rina menyipitkan mata kanan. Dia tidak memberi jawaban, hanya berbalik dan meninggalkanku.


Hahaha. Sebagai orang dengan jalan pikiran sama, Rina pasti tahu kalau sebenarnya aku sudah punya solusi untuk masalah ini. Jadi, baru saja, aku hanya mengerjainya.


Solusinya? Mudah saja.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2